Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung dengan Tiga Dewa Prajurit.


__ADS_3

Kelima Tetua Jubah Perak itu terlempar, terbakar dada dan terutama lengannya.


Paling parah tentu saja Sonosumar, bahkan Tetua Agung itu hampir meregang nyawa.


Melihat tetuanya bergelimpangan tak berdaya, sontak anak buah Jubah Perak yang masih waras ketakutan, bahkan ada yang sudah mulai kabur meninggalkan lokasi tersebut.


Jaya menoleh kearah para Prajurit Kawedanan, "Kenapa kalian diam saja?, mereka sudah tak berdaya, tangkap dan jebloskan ke dalam penjara, jika pihak istana Bhumi Cempaka datang biar di bawa ke penjara pusat."


Dengan tergopoh gopoh para prajurit Kawedanan itu bergegas, merangket tetua dan anggota Jubah Perak yang masih tak berdaya, untuk di jebloskan ke penjara.


Semua kini perhatiannya tertuju kepada ratusan anggota kelompok Jubah Perak yang sudah tak berdaya, termasuk para Tetuanya, bahkan para penduduk juga ikut mengikat tangan dan kaki anggota begundal tersebut.


Tanpa semua orang sadari, tiga sosok terlihat sudah berdiri jauh di belakang Jaya, dan mulai mendekat ke arah Jaya, bertepuk tangan sambil tersenyum penuh makna.


Plok..plok...plok...


"Hmm, hebat sekali kau anak muda?, siapa kau sebenarnya?."


Jaya menatap ketiganya, aura nya jelas mampu dia tangkap, siapa ketiga sosok yang menghampirinya, ya Dewa prajurit.


"Hmm, mungkinkah ketiga sosok ini yang aku tangkap keberadaannya beberapa waktu yang lalu?."


"Kalian siapa?." balas Jaya, balik bertanya kepada ketiga sosok di depannya.


Alam Dewa adalah salah satu alam yang sangat luas, bahkan lebih luas dari Alam Iblis, padahal luas Alam Iblis sudah lima kali lipat luas Alam manusia, jadi hanya dewa dewa tertentu dan termasyur yang bisa saling mengenal.


Aura Dewa Perang, adalah aura yang terlihat lain daripada yang lain, bahkan seorang dewa biasa tak bisa mengetahui itu aura apa karena berbeda dengan aura dewa biasa.


"Kau ingin tahu siapa kami?," sahut Loraka, tersenyum sinis dan meremehkan.


Reksan dan Dawung hanya berpencar seakan mengurung Jaya.


"Kau akan kaget jika mengetahui siapa kami, atau mungkin kau akan sangat berbahagia karena memiliki kesempatan berbincang dengan kami." sahut Reksan.


Jaya hanya tersenyum simpul, "Kenapa aku harus berbahagia bertemu dengan kalian? memangnya kalian Dewa? ada ada saja," pancing Jaya dengan menyeringai.


"Tepat sekali ucapanmu anak muda, kami memang seperti yang kau katakan." dengan sikap lagak somong Dawung, berkata sembari bersidekap.


"Sekarang katakan siapa kau sesungguhnya?, apakah kau anak keturunan dari golongan kami yang melakukan tindakan "mesum" di alam ini? sehingga melahirkan makhluk sepertimu?." sindir Reksan.

__ADS_1


"Tutup mulutmu..!, jika kau memang Dewa harusnya kau membantu umat manusia, bukan hanya menjadi penonton seakan kau makhluk lebih tinggi."


Kini mereka sudah bergeser jauh dari banyak orang yang tengah sibuk mengikat ratusan anggota Jubah Perak, mereka bergeser dengan cara yang sangat menakjubkan, yakni tetap berdiri dengan badan seakan menapak di bumi, padahal melayang beberapa jari dari tempatnya berpijak dan perlahan bergeser menjauh dari kerumunan.


"Ha.ha..ha..., kami memang makhkuk yang lebih mulia dari kalian manusia," Loraka tertawa, lalu bergerak makin merapat mencoba mengurung Jaya lebih dekat lagi.


"Jangan di sini jika kita mau bertarung...!," Jaya menggerakkan tangannya, memberi tanda dan isyarat kepada ketiganya yang mulai mengerahkan kekuatannya. Semua itu mampu Jaya tangkap dari perubahan aura mereka yang makin menggelap bertanda meningkatkan tenaganya.


"Jangan mencoba mencari alasan untuk lolos dan kabur, aku harus menagkapmu untuk kami serahkan kepada pimpinanku, karena aneh manusia seperti mu mampu menumpas Iblis di alam ini.''


"Cuiih...!, kau pikir aku pengecut..!," Jaya langsung melesat sangat cepat meninggalkan tempat tersebut, membuat ketiganya kaget dengan kemampuan itu.


Jaya melesat ke padang Selayang Pandang, karena disanalah tempat yang aman untuk bertarung bersama ketiga Dewa Prajurit tersebut.


**


Koloireng, Pitu Geni dan Baroto sudah tiba di perguruan Tiga Batu Jajar.


Mereka di sambut dengan antusias oleh para Tetua dan seluruh anggota, karena sudah mau bersusah payah menjadi penengah dan membantu kelompok itu menghadapi kelompok Bayangan Kegelapan.


"Selamat datang tuan tuan dari Awan Putih, kami merasa bersyukur atas kedatangan tuan tuan semua." Tetua Sarino, berkata menyambut kedatangan seratusan anggota Awan Putih, "Berarti tidak sia sia kami mengutus kurir kesana, meminta bantuan kepada kelompok yang sudah menjadi legenda."


Koloireng hanya terdiam melangkah sesuai arahan orang orang, sedang Pitu Geni mengangguk. Baroto yang maju kemudian berbincang dengan para pimpinan Tiga Batu Jajar sambil berjalan.


Mereka di arahkan ke pusat bangunan dari perguruan tersebut, sebuah perguruan yang tak terlalu besar dengan jumlah anggota tak lebih dari tujuh ratusan orang.


Di pendopo itu mereka duduk di lantai yang sudah ada beberapa meja pendek dengan hidangan di atasnya.


"Silahkan istirahat sebelum kita berbincang lebih serius lagi." kata Tetua Sarino, mempersilahkan tamunya duduk menikmati hidangan yang sudah di siapkan.


**


"Apa yang kalian inginkan sebenarnya?.'' Jaya sudah berhenti, berdiri di tengah padang Selayang Pandang, menatap tajam tiga sosok di depannya.


"Siapa sebenarnya kau..?!, apakah keturunan dewa yang tersesat di sini?, atau iblis yang menyaru menyamar dengan wujud manusia?."


"Jika aku bukan kedua jenis makhluk yang kau sebut itu, kalian mau apa?."


"Apapun itu dirimu aku tetap harus membawamu sebagai tahanan untuk ku serahkan kepada Kaisar Dewa, nanti Yang Mulia Pukulun sendiri yang akan memutuskan nasibmu." Dawung berucap sambil merapatkan kepungannya.

__ADS_1


"Hmm, begitu rupanya maksud kalian..ha..ha..ha..," Jaya tertawa geli mendengarnya, karena aslinya Jaya tahu bagaimana sifat para Dewa yang tak mau kalah dan tak mau mengakui ada makhluk lain yang kuat, apalagi jika itu manusia.


"Aku tak akan menurut kepada kalian, karena aku bukan bawahan Kaisar kalian..!.'' seru Jaya.


"Kami sudah menduga hal itu, makanya kami akan merangketmu baik dengan cara halus maupun cara kasar.'' Ketiga Dewa Prajurit itu melesat maju, menyerang dengan senjata masing masing.


"HIAAA...! HIAAA...!!.''


Loraka, Reksan dan Dawung saling menghantamkan senjatanya.


Loraka bersenjata tombak trisula pendek, sedangkan Reksan bersenjata semacam dua tongkat sepanjang dua lengan dan Dawung bersenjata pedang.


WUUNG...


WUUUNG....


SRIIING..


Gempuran yang mengandung hawa kekuatan kuat terasa menyerang ke arah Jaya. Kekuatan yang luar biasa dari ketiganya tak membuat Jaya takut, Dengan bersatunya kyai RojoMolo membuat kekuatan Jaya meningkat berpuluh kali lipat dari sebelumnya.


Memang kekuatan seorang Dewa Prajurit tersebut serasa kekuatan dua sosok Legenda yang di gabung, namun itu tak menakutkan bagi Jaya.


Dengan tongkat Wesi kuning di tangan kiri dan pedang Angin Puyuh di tangan kanan Jaya meladeni serangan ketiga Dewa Prajurit tersebut.


BLERGAAAAARRTTT......!!!


Jaya menghentikan serangan mereka dengan menghantamkan pukulan Selaksa Ombak Menerjang dan menyerap kekuatan gempuran lawannya itu dengan kabut ciptaan dari jurus Gelombang Awan.


Tiga Dewa Prajurit terpental beberapa langkah, sedangkan Jaya terperosok kakinya hingga satu jengkal.


Sebuah ledakan yang sangat dahsyat terjadi, lebih kuat dan menggelegar dari pada saat Jaya melawan para Iblis, bahkan gelombang kekuatan mampu mendorong Awan di angkasa yang ada di atas padang Selayang Pandang ikut tersibak menyingkir.


"Aargh..!, gila ada manusia sekuat ini..!." Loraka berjumpalitan terpental.


Reksan juga terlempar berputar di udara, sebelum akhirnya mendarat di tanah kembali.


Dawung bahkan harus menancapkan pedangnya di tanah agar tak terseret makin jauh, bekas tancapan pedangnya seakan menjadi parit kecil di padang tersebut.


"Kekuatan luar biasa...!."

__ADS_1


_________


Jejaknya kaka....


__ADS_2