
Jaya menatap alam sekitar nya, hati nya merasa perih, meski sudah hampir separuh dari lawannya sudah berhasil di musnahkan nya tapi akibat nya alam tanah Utara juga rusak parah.
Tanah nya kini sudah rusak tercabik-cabik dan teraduk aduk, dengan ratusan jurang jurang baru terbentuk, parit parit tanpa aliran air membentang akibat lesakan, ledakan dan hantaman. Kini semua itu terlihat jelas terpampang. Gunung gunung banyak yang berguguran dengan banyak nya pohon yang tercerabut dari tempat nya.
Singkat kata alam disana benar benar hancur total.
Sangat mengerikan, jika terus begini bisa bisa membuat semesta ini musnah karena terjadi luapan air dari salju yang mencair akibat meleleh terkena dampak pertempuran.
Jaya masih menatap sekitar dengan sedih, miris jika memikirkan kerusakan alam.
KRATAAAAKKKK.....
BLEGAAAAARRTTT.......
Jaya kembali mengibaskan tangannya menangkis sebuah lesatan serangan yang tiba tiba kembali menyasar ke arahnya. serangan para Dewa masih terus terjadi seakan tak pernah ada habisnya.
"Seraaang terus jangan kasih kendooor...!." terdengar Aryo Baruno masih berteriak dengan berapi api, memberikan perintah kepada bawahan nya.
Para penyerang makin meningkatkan serangan meski kini jumlah mereka tinggal separuh dari jumlah awal, tapi gencarnya serangan tak sedikit pun berkurang.
Pertarungan itu sudah berlangsung selama beberapa hari lamanya, menandakan betapa kuatnya para petarung yang ada disana, terlebih Jaya Sanjaya yang posisi nya di keroyok oleh begitu banyak Dewa.
**
Di sebuah Alam yang lain, tepatnya di sebuah lereng sebuah gunung berapi yang yang sangat tinggi dan memiliki sebuah gua yang cukup besar, terlihat dua sosok bayangan hitam tengah berdiri tegap seakan menjaga pintu gua tersebut.
Sosok yang jika di perhatikan dengan seksama ternyata memiliki warna kulit merah dan hitam. Dengan badan yang tinggi besar dan badan penuh otot serta senjata yang ada di pinggang mereka, membuat makin menakutkan dengan aura yang terpancar dari keduanya.
Mereka adalah Jendral Iblis Merah dan Jendral Iblis Hitam yang tengah menjaga sosok Raja Agung Iblis yang tengah meningkatkan kekuatan nya.
Raja Agung Iblis adalah putra dari Raja Iblis yang merupakan sosok paling berpengaruh kedua di Ras Iblis.
Merupakan sosok paling hebat dalam generasi saat ini, apalagi jika nanti telah bangkit dari kultivaasinya pasti makin luar biasa kekuatan nya.
"Sudah berapa lama menurut mu kita berada disini Roku?." Iblis Merah nampak bertanya kepada teman sesama Jendral itu. mereka memang sudah bertahun tahun disana dan dengan setia menjaga Raja Agung Iblis meningkatkan kekuatan nya.
Roku alias Jendral Iblis Hitam tampak diam sesaat, mencoba menghitung keberadaan mereka disana.
"Jika tak salah hampir lima ratus pekan, bahkan kita telah melewatkan banyak peristiwa," sahut Roku si Jendral Iblis Hitam.
__ADS_1
Moyaka alias Jendral Iblis Merah hanya mengangguk, "Berarti jika perhitungan dan penerawangan ku tak salah, Yang Mulia Raja Agung akan segera mengakhiri kultivasinya."
"Hmm, benar apa yang kau katakan."
Belum selesai keduanya berbincang, tampak cahaya hitam melesat terpancar dengan liar ke segala arah, dari dalam gua dengan diiringi sebuah Ledakan kekuatan yang menyapu seluruh alam sekitar nya.
BOUUUUMMMMM....!
Ledakan kuat itu mampu menghancurkan bukit bukit dan gunung yang ada di wilayah tersebut, menghempaskan apapun yang ada dalam jarak beberapa ratus kilo meter.
Roku dan Moyaka sempat berjumpalitan beberapa kali sambil menghindar dari kuatnya gelombang ledakan yang membahayakan diri keduanya.
"Luar biasa kekuatan ini, apakah ini kekuatan Raja Agung telah bangkit dengan kekuatan yang menakutkan begini?."
Keduanya bertanya tanya sambil melompat menjauh, menghindar sesaat dari pusat ledakan kekuatan tersebut.
**
"Ini tak bisa di biarkan begini terus menerus, akan benar benar kiamat jika pertarungan ini masih di alam ini."
LAAPPP...
Jaya meloncat sedikit menjauh dan keluar dari kepungan lawan lawannya.
Jaya hanya mendengus mendengar perkataan Aryo Baruno karena melihat dirinya menjauhi para penyerang.
Sebenarnya siapa yang bertindak sebagai Pengecut, main keroyokan tanpa tahu rasa malu?
CLAAAPPP...
Setelah berdiri agak menjauh Jaya membuat sebuah portal dimensi pemindah, sengaja dia melakukan itu untuk memindahkan area pertempuran mereka.
Begitu melihat lawannya berniat kabur dengan portal dimensi pemindah mereka juga melesat mengejar dengan sebagian menahan portal tersebut agar tetap terbuka untuk mereka lewati.
Kini mereka sudah berpindah ke alam Ruang Hampa, sebuah alam dimana di sana tak ada batas dan waktu, tak ada awal dan akhir, sebuah alam yang tak berujung dan pastinya aman untuk pertarungan yang akan mereka lakukan.
**
Sesosok Iblis dengan aura keemasan tengah berdiri di depan reruntuhan, reruntuhan itu adalah bekas gua tempat nya bertapa yang kini telah hancur berantakan karena terkena ledakan kekuatannya.
__ADS_1
Raja Agung Iblis telah bangkit dari kultivasinya. dengan penampakan aura yang begitu kuat menekan ke segala arah menandakan jika dia berhasil meningkatkan kekuatan nya.
Jendral Iblis Hitam dan Jendral Iblis Merah tampak bersimpuh di depannya.
"Sembah kami Yang Mulia Raja Agung."
"Hmm, Roku ...Moyaka.....!, berapa lama aku telah bertapa?."
"Sekitar lima ratus pekan Yang Mulia." jawab Moyaka sambil melakukan sembah.
"Hmm, pasti sudah banyak peristiwa yang aku lewat kan."
"Benar Yang Mulia, banyak peristiwa yang telah anda lewatkan salah satunya serangan ke alam manusia."
"Ke Alam manusia?, mengapa menyerang makhluk lemah?, apa untungnya buat kita?."
Dua jendral itu lalu menceritakan peristiwa bulan berdarah dan kegagalan nya.
Raja Agung Iblis hanya mendengus dan tersenyum sinis, "Dasar lemah..!," umpat nya menyumpahi para pemimpin Iblis yang kala itu di tugaskan disana.
"Yang Mulia tak usah berkecil hati, saat ini Yang Mulia Raja Iblis tua tengah merencanakan menyerang Alam Dewa, Yang Mulia Raja Agung bisa memimpin penyerangan di sana." kata Roku mencoba mengurangi kegundahan hati sang pimpinan.
"Benar Yang Mulia apa yang dikatakan Roku Iblis Hitam." Moyaka Jendral Iblis Merah menegaskan.
**
Ledakan kekuatan terjadi di alam Ruang Hampa, bahkan lebih kuat dari saat pertarungan di tanah Utara.
Jaya tak lagi menahan kekuatan nya, dalam setiap kali serangan dia selalu menghantamkan pukulan yang mampu menghancurkan gunung dan membelah lautan.
SRAAATTT... CRAAAKKK...
Setiap tombaknya bergerak pasti ada saja lawan yang tertebas, tertembus tombak atau hancur badannya karena senjata Jaya.
Tombak kyai Seto Ludiro melesat lesat ke segala arah, mencari sasaran, kadang menusuk kadang menghantam dan terkadang memotong dengan sangat menakutkan.
Dari sekitar dua puluhan para penyerang kini hanya tinggal belasan saja, karena yang lain sudah mati setelah Raga Abadi nya rontok.
Aryo Baruno beserta dua Dewa kepercayaan kini wajahnya makin pias, lawannya ternyata sangat menakutkan.
__ADS_1
Rasa sesal dan ketakutan kini menyelimuti hati mereka yang masih tersisa.
Pertarungan yang sudah berlangsung selama berbulan bulan jika di konversi dalam waktu di luar alam Ruang Hampa itu kini terlihat mulai timpang dengan para pengeroyok yang makin terdesak.