
Baroto masih bertarung dengan Muna si Pendekar Bayangan.
Kecepatan dan senjata yang unik membuat lawan dari Baroto sedikit di untungkan.
Tongkat rantai dengan ujung pisau itu meliuk liuk saat menyerang badan Baroto, namun semua serangan itu juga tak mudah menembus tokoh Awan Putih dari perguruan Tinju Baja tersebut, Baroto selalu berhasil menepis di saat terakhir.
"Gunakan Jurus Gelombang Awan Menerjang...!," teriak Jaya yang sudah selesai memberi pengobatan kepada Lumiran, memberi arahan kepada Baroto, yang tengah bertarung tanpa ada kemajuan.
Tokoh dengan lengan Baja tersebut segera melakukan apa yang di perintahkan oleh tetua nya, mulai mengerahkan jurus Gelombang Awan Menerjang.
Sedikit gerakan dari ritual jurus Gelombang Awan Menerjang membuat lengan Baroto mulai di selimuti kabut.
"Lemparkan kabut yang paman ciptakan ke arah lawan...!," teriak Jaya lagi begitu melihat dua lengan Baroto sudah terselimuti kabut tipis.
Baroto hanya menurut saja, mengibaskan kedua lengannya melepas selimut kabut di dua lengannya ke arah lawan yang bergerak maju sangat cepat.
Wwuuutt...
Blaaass...
Gumpalan asap tipis menabrak badan Manu si Pendekar Bayangan, membuat tokoh tersebut tercekat sejenak, karena merasa ada yang menyedot kekuatanya saat dirinya menerjang kabut tersebut.
"Aahh.."
Tokoh pendukung Bajul Petak itu sejenak terkesiap hingga gerakannya tak lagi secepat semula.
Blaaang...!
Tiba tiba Baroto mendekat dan menghantamkan pukulan nya, beruntung masih di tahannya, hingga hanya terjadi benturan.
Manu si Pendekar Bayangan sedikit terdorong saat badannya menangkis serangan lawan.
"Keparat... bajingan..!, rupanya pemuda itu tokoh utama dari kelompok ini, dengan arahannya lawanku jadi berhasil menyulitkan ku."
Kembali Baroto melesat maju mulai menyadari apa yang harus di lakukannya.
Sreett...
Wuuuutt...
Sebuah lesatan rantai dengan ujung pisau itu sedikit melambat begitu terkena lemparan kabut yang di cipatakan oleh Baroto, membuat serangan itu mudah di gagalkan dengan tepisan Cakar Rajawali.
CRAAK..!
Serangan Muna si Pendekar Bayangan kini tak istimewa lagi saat Baroto mampu meredam dengan cara itu.
Muna makin meradang, lawan kini seakan menemukan cara meredam keganasan dari tiap serangan nya.
__ADS_1
"Bajingan...keparat..!!, gara gara bocah mulut rombeng seranganku kau mentahkan..!," teriak Muna dengan sangat geram, memutar tongkatnya membuat rantai itu berputar putar.
"Setan..alaas..!, kurang ajar..! jaga mulutmu.. keparat..!, yang kau umpati tetua ku..!," seru Baroto kini merangsek maju makin mendekat ke arah lawannya dengan penuh percaya diri.
**
Sambilangu yang mempimpin puluhan anak buah partai Pengemis Tongkat Kuning menyerang lawan setelah Bajul Petak menghadapi Anuso Birowo, kini tengah bertarung melawan Pitu Geni dan anggota Awan Putih lainnya.
Dirinya kaget lawan mengeluarkan golok yang membara, menandakan bahwa lawannya berasal dari kelompok besar Api Suci.
"Apa kau berasal dari Api Suci..!.''
"Apa perduli mu? darimana aku berasal?, kau mulai ketakutan..?." balas Pitu Geni mencibir lawannya.
Sambilangu terdiam, jujur dirinya mulai jerih, apalagi melihat kehebatan lawan lawan yang mereka hadapi makin menunjukkan kemampuan yang mumpuni.
Anak buah partai Pengemis itu juga masih kesulitan membongkar pertahanan pasukan lawan, padahal jumlah mereka hampir empat kali banyaknya.
**
Anuso Birowo yang tengah berhadapan dengan Tetua sembilan dari partai Pengemis Tongkat Kuning kini sedang bertarung dengan seru.
Keduanya mengayunkan senjata masing masing dengan cepat menghatam lawan.
Golok Naga kyai Sapu Jagat menderu deru memutari badan Anuso Birowo sebelum menebas ke arah lawannya.
Sriiing...!
Golok besar itu membelah udara memotong lawan dengan kekuatan hebat.
Bajul Petak sang tetua sembilan dari partai Pengemis Tongkat Kuning, menyongsong gerakan lawan meloncat maju menghantamkan senjata pusaka nya.
TAAANG...!
Benturan keras terdengar nyaring, keduanya terdorong sesaat kebelakang menandakan kekuatan yang berimbang.
Bajul Petak terkejut menyadari itu, lawannya bukan kelompok lemah, diliriknya di luar arena masih ada satu laki laki yang sudah memberikan bantuan tenaga murni kepada Lumiran, lalu ada pria tua yang masih sangat gagah dan juga dua gadis yang terlihat juga seperti pendekar.
"Siaal..!. apa yang harus aku lakukan?, jika di teruskan pasti kelompokku yang babak belur, bisa bisa kehilangan nyawa dari anggota ini."
Bajul Petak tampak berpikir sejenak, lalu meloncat mundur menjauh dan meneriakkan sebuah isyarat yang membuat semua anak buahnya mundur mendekatinya, termasuk juga Muna.
"Kita cukupkan perseteruan kali ini..!, aku menganggap ini tak terjadi..!," teriak Bajul Petak dengan masih terlihat kesombongan di sana.
Anggota Awan Putih berniat kembali merangsek dan memyerang namun di cegah Jaya.
"Biarkan mereka pergi..!, jika itu yang di inginkan."
__ADS_1
"Tapi Nakmas.."
"Tak apa paman," sahut Jaya, menatap ke arah Narimo yang masih tak rela lawannya di lepas begitu mudah nya.
**
Alam makin memanas, apalagi dengan pergolakan di jagat persilatan yang kian terlihat bakal ada perselisihan.
Tiap tiap kelompok kini nampak jelas jika tengah menghimpun sebuah kekuatan.
"Sebenarnya ada masalah apa?, kenapa sesama kelompok pengemis kalian tak bisa bersatu?."
"Sebenarnya sudah sejak zaman dahulu kita tak pernah akur tuan, hanya saja kini semua itu makin meruncing, hingga akhirnya Raja Pengemis mengambil keputusan bergabung dengan Awan Putih, karena Tongkat Kuning juga mendekat ke arah salah satu kelompok."
"Kita bicarakan lagi masalah itu jika kita telah tiba di markas."
Lumiran mengangguk, dirinya memang berniat mengikuti sejenak ke markas Awan Putih.
Rombongan itu kini melanjutkan perjalanan membelah hutan makin ke barat menuju lokasi alas Lirboyo dimana markas Awan Putih berada.
**
Kelompok Jrabang Geni, mulai menertibkan kelompok kelompok di kota Batu Intan, di sesuaikan dengan kebijakan dari wilayah setempat.
Bagi pemimpin kota kedatangan pasukan tersebut sebenarnya juga membawa hal baik, karena memang tugas pasukan itu mengamankan seluruh wilayah Pati Sruni.
Meskipun Jrabang Geni sedikit di permalukan oleh kelompok misterius namun tetap saja banyak kelompok lain ketakutan dengan kedatangan pasukan khusus tersebut.
"Kapan kita meninggalkan kota ini Tetua?."
Samingun bertanya kepada Agni Mahesa Suro, saat keduanya tengah menikmati secangkir teh di beranda peristirahatan di kediaman salah satu Pemimpin kota.
"Setelah semua terlihat aman, besok sore kita bisa kembali meneruskan perjalanan." sahut pria tua yang masih sangat gagah itu.
Samingun menatap Pemimpin Agung Jrabang Geni yang masih saja terlihat gundah tersebut, "Apakah Tetua Agung masih memikirkan kelompok itu?.''
"Ya..aku masih penasaran dengan kemampuan anak itu, kekuatan yang menakutkan."
"Berasal dari mana mereka?, aku rasa bukan dari kelompok sesat."
"Benar Tetua, kehebatan tak tertandingi yang belum pernah aku lihat," kata Samingun sambil mengingat kembali kehebatan sosok lawan mereka.
"Kita harus hati hati sekarang, jangan mudah terpancing lagi dengan apapun itu, karena saat ini kita menjadi wakil Istana Agung."
Samingun mengangguk mendengar wejangan sang Tetua Agung, karena apa yang di katakan memang benar.
___________
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya....