
Tubuh pangeran Ronggo terlempar jauh tak beraturan dan berguling gulingan.
Hebatnya hantaman pedang Angin Puyuh yang di lambari jurus Selaksa Ombak Menerjang itu, terbukti sangatlah dahsyat, hingga menghancurkan titik pusat tenaga dalam sang pangeran beserta saluran saluran nya, membuat sang pangeran terluka parah dan hilang tenaga dalamnya.
Sisa sisa pasukannya yang kini hanya tinggal berjumlah belasan orang saja itu, sudah menyatakan menyerah dan takluk, memohon pengampunan agar nyawanya tak di cabut dari raganya.
"A.ampuni ...k..k.kami," kata sisa para prajurit tersebut, melempar senjatanya sebagai tanda takluk kepada musuhnya.
Dengan adanya bantuan Pitu Geni, Kumala dan Baroto serta Narimo pasukan yang berjumlah tak lebih dari seratusan orang itu berhasil di taklukkan oleh anak buah Empu Cipta guna.
Belasan orang itu kini sudah bersimpuh dengan membawa raga pangeran Ronggo yang tergeletak tak berdaya di depannya, dengan sudah kehilangan kemampuan Kanuragan nya karena inti pusat tenaga dalam dan salurannya rusak parah, kini sang pangeran juga terluka parah.
"Bawalah kembali pemimpin kalian ini, aku bisa saja memenggal kepalanya disini, tapi itu tak ku lakukan," kata Jaya kepada orang tersebut yang sudah ketakutan tak berani menatap dan mengangkat wajahnya.
"Kemampuan kalian yang hanya seujung kuku tak patut di sombong kan dengan menyerang dan memaksakan kehendak."
Para prajurit Koro Wedana hanya mengangguk, tak berani berkata apapun, bagi tawanan perang seperti mereka diijinkan pulang sudah suatu hal yang luar biasa, karena biasanya tawanan akan menjadi budak dan di perjual belikan.
"Kami sangat berterimakasih kepada tuan tuan pendekar yang Sudi memberi kemurahan hati ini, mengijinkan kembali ke wilayah kami dengan membawa pemimpin kami."
"Sampaikan ini kepada pemimpin kalian dan jadikan sebagai pelajaran."
Kembali orang orang itu mengangguk sebelum membawa Pemimpin nya balik ke wilayah asal nya.
**
"Terimakasih atas kebaikan Nakmas pendekar." empu Cipta guna mengucap kan rasa terimakasih nya kepada Jaya dan rombongan nya.
"Tanpa adanya Nakmas dan rombongan, entah bagaimana masih kami."
"Ah..empu jangan sungkan, sudah kewajiban kita sesama manusia untuk saling menolong."
Jaya menanggapi perkataan Empu Cipta guna dengan tersenyum saja.
"Kejadian ini makin menyadarkan ku bahwa aku harus mengambil keputusan."
Jaya menatap sang empu, "Maksud nya apa Empu?."
"Aku harus meninggalkan tempat ini, karena sudah tidak satu kali dua kali kejadian seperti ini berulang."
"Aku tak ingin anak muridku terkena akibat nya."
"Terus rencana nya Empu mau kemana?" balas Jaya Sanjaya.
Empu Cipta guna tiba tiba menjura ke arah Jaya, pria sepuh yang masih terlihat gagah itu mengangsurkan pedang Angin Puyuh yang di pegang nya mengangkatnya ke atas kepala, "Ijinkan aku ikut Nakmas, menjadi bagian dari kelompok Nakmas, dan terimalah pedang ini sebagai persembahan ku," sahut empu Cipta guna, mengangkat pedang tersebut dengan kedua tangannya hingga melebihi kepalanya.
Jaya yang tak menyangka hal itu akan terjadi, sesaat terdiam sebelum kemudian menerima pedang Angin Puyuh dan tersenyum mengangguk.
"Terus bagaimana dengan tempat ini?"
"Aku bisa memasrahkan tempat ini kepada anak muridku, agar menjadikan tempat ini rumah produksi senjata yang biasa," kata empu Cipta guna.
**
Sementara itu di wilayah Utara, tengah terjadi pertempuran antara pasukan kerajaan Jongka Lengkong yang di pimpin guru Tohjaya dan Broto dento melawan pasukan Mata Iblis pimpinan sang Ratu.
__ADS_1
Entah bagaimana awal mulanya kedua kelompok itu bisa terlibat berseteru dan terjadi pertarungan.
"Serahkan pusaka itu..keparat..!." Teriak Broto dento si Singa Emas dengan garang kepada Ratu Dewi Mata Iblis, sembari menyabetkan dua golok besar di dua tangannya.
Sabaran dua golok itu saling silang menebas kearah Dewi Mata Iblis.
Wuuusss... wuuuuusss...
"Cuiih, dasar pengecut, justru akulah yang harusnya meminta kepada kalian yang telah menyembunyikan pusaka itu..!," bentak Ratu Dewi Mata Iblis, menahan sambaran itu dengan pedangnya.
Traaang....! traang...!!
Ratu Dewi Mata Iblis meliuk menerjang ke depan membalas serangan Broto dento yang cukup kuat itu.
Sriiing...!!
Sang Ratu menyambarkan senjatanya memotong ke arah perut Broto dento.
Sedikit meloncat Broto dento menghindari hantaman pedang Ratu mata iblis itu.
Wuuuss...
Sambaran itu mengenai tempat kosong, ketiga Broto dento meloncat berjumpalitan menghindar.
Sementara itu guru Tohjaya sudah berhadapan dengan sang pendamping, salah satu orang kepercayaan Ratu Mata Iblis.
Sang pendamping yang merupakan tokoh hebat di lingkaran Ring satu di bawah sang Ratu masih saling serang dengan guru Tohjaya.
Dua pedang yang menjadi senjata keduanya silih berganti saling serang dan saling hadang, untuk menjadi yang terhebat pada pertarungan keduanya.
Traaang...!
Suara beradu nya benda keras di hutan tersebut terdengar sangat nyaring, saat dua kelompok yang jumlahnya berimbang itu bertarung dengan sengit.
Anak buah Mata Iblis bertempur dengan para prajurit dari Jongka Lengkong.
"Seraaang..!."
"Hancurkan...!!."
Teriakan teriakan menggunggah semangat di kumandangkan oleh pemimpin masing masing kelompok.
Saling beradu strategi dan formasi baik saat menyerang maupun saat bertahan terjadi dalam pertempuran dua kekuatan tersebut.
Nampaknya permasalahan yang memicu pertarungan tersebut adalah adanya saling tuduh, kelompok mana yang menyimpan pusaka, dan salah satunya ingin merebut nya.
"Jangan kasih ampun sampai kita mendapatkannya pusaka itu..!."
Pertempuran kian lama kian makin seru, di barengi oleh jatuhnya para korban yang mulai berguguran di tanah.
**
Jaya bersama rombongan sudah meninggalkan kediaman Empu Cipta guna, setelah sebelumnya memasrahkan tempat penempaan senjata tersebut kepada anak buah yang di percayanya.
"Jika ada umur panjang aku pasti akan balik kemari suatu saat nanti," pamit sang empu kepada para anak buah dan juga anak muridnya tersebut.
__ADS_1
Para anak murid menjura, sambil mengantar kepergian sang empu yang kini sudah berjalan perlahan bersama rombongan Jaya meninggalkan tempat tersebut.
Hari sudah lewat tengah hari, bahkan matahari sudah menggelincir kearah barat, rombongan jaya yang kini bertambah dengan adanya Empu Cipta guna sudah jauh meninggalkan kota Bukit Emas.
"Setelah belokan di depan kita akan tiba di gerbang kota Gunung Emas Nakmas," kata Empu Cipta guna.
"Benar kayaknya kakang, menara menara bangunan kota itu bahkan bisa kita lihat dari sini," potong Kumala sambil mengarahkan tangannya tangannya, menujuk sebuah menara dari sela sela rimbunnya pepohonan.
"Hmm, benar juga Dinda."
"Kota yang lebih luas dari dua kota sebelumnya," Narimo berkata sambil memegang tali kekang kudanya.
Semua nampak tak semakin tak sabar untuk sampai di kota Gunung Emas.
"Ya kota yang besar dan menjadi salah satu pendapatan terbesar bagi istana Karang Pandan." kata empu Cipta guna.
"Ya..memang di luar dari kebiasaan, kota yang jauh dari pemerintahan pusat namun kekuasaan nya langsung dari pusat." balas Jaya Sanjaya.
Mereka masih berkuda menuju ke arah gerbang kota Gunung Emas.
**
Kota Gunung Emas memang menjadi magnet tersendiri bagi para manusia di sekitar nya.
Banyak orang yang menjadikan kota tersebut sebagai tujuan, balik dalam tujuan berbisnis, berdagang maupun tujuan berbelanja dan berwisata.
Kota yang sangat indah dan kaya tak kalah oleh ibukota kerajaan besar.
Maka dari itu, Pelangi yang mendengar tentang kemegahan kota tersebut ingin sekali berkunjung kesana.
Sejak pagi sudah berkuda dari kediaman kelompok Mata Dewa di bawah pimpinan Randu Sembrani.
Sebenarnya baik Randu Sembrani maupun Nyai Nilam Sari tak mengijinkannya, namun Pelangi yang terus merengek akhirnya diijinkan juga dengan syarat harus di dampingi oleh para abdi dari rumah Randu Sembrani.
Maka berangkatlah sejak pagi Pelangi bersama tiga orang abdi rumah Randu Sembrani.
Abdi rumah Randu Sembrani yang berusia paruh baya itu bernama Margono, Sukarjo dan Satinem.
Sukarjo dan Satinem suami istri, sedangkan Margono adik dari Satinem.
"Den ayu, kita hampir sampai," seru Satinem dengan gembira memandang dari kejauhan kota Gunung Emas itu.
"Waah..bibi indah sekali kota itu." Pelangi menatap dari celah celah jendela kereta kuda yang di naikinya.
"Ya...di dalam nanti lebih indah, tak kalah oleh kota raja."
"Auww.. tak sabar aku melihat keindahan kota."
Sukarjo dan Margono yang ada di depan juga tersenyum mendengar percakapan di dalam kereta.
"Tapi kita harus hati hati Den ayu, kota besar banyak copetnya juga," seru Margono dari arah bangku kusir kereta.
"Benarkah paman?"
"Ya..benar," sahut Sukarjo yang ada di sebelah adik iparnya tersebut.
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya..