
Semua kelompok tengah memperkuat perguruan atau kelompok masing masing dengan caranya sendiri-sendiri.
Ada yang bergabung dengan kelompok lain yang menurutnya bisa membawa keuntungan, namun ada juga yang memilih mendatangkan kembali para jagoan nya untuk memperkuat kedudukan kelompok tersebut.
Bukan hanya kelompok Api Suci dan partai Es Abadi, kelompok kelompok seperti Mata Iblis pun mulai bergerak memperkuat diri.
Perseteruan pribadi, perang dingin antara Pemimpin Agung dan sang permaisuri atau yang biasa di kenal Ratu Mata Iblis, mulai di kesamping kan meski juga tak bisa dibilang "seiya-sekata" sebagaimana pasangan harmonis lainnya.
Di kelompok markas Mata Iblis tersebut tengah berlangsung perbincangan dan pertemuan para petinggi kelompok itu.
Mereka membahas pergolakan dunia persilatan.
"Jujur..., aku belum pernah bertemu dengan kelompok ini, tapi saat ini semua membicarakan nya, mereka menjadi perbincangan di dunia persilatan berkat kehebatan anggota nya." kata salah satu legenda Mata Iblis yang ada di sana, bernama Lindu Braja.
Lindu Braja adakah tokoh Mata Iblis yang kehebatannya hampir setara dengan Betorokolo Koloireng guru Kumala.
"Bukan anggota nya tapi pemimpin nya." sahut legenda yang lain, bernama Topan Surya, seorang Legenda Mata Iblis yang masih malang melintang di Panca Buana.
"Memangnya kelompok apa? mereka?.'' tanya sosok Legenda yang lain lagi, yang bernama Rogo Sakti.
"Awan Putih." sahut Topan Surya.
"Awan Putih??."
"Ya...Awan Putih." kata Topan Surya kembali menegaskan.
Para Legenda Mata Iblis itu masih berbincang bincang membahas Awan Putih yang kini naik daun, menjadi perbincangan di dunia persilatan.
"Bukan hanya kelompok baru itu saja, tapi Jiwa Abadi juga makin mengerikan. Entah benar apa tidak, mereka memiliki pasukan yang tak bisa mati." balas Lindu Braja.
"Pasukan yang tak bisa mati??, yang benar saja, siapa yang mampu melakukan hal seperti itu?." Rogo Sakti berkata seakan tak percaya.
Semua saling menatap meminta kejelasan berita tersebut.
**
Di markas Api Suci.
Tampak Dewa Api atau Nambi Tosa tengah menerima dua tokoh hebat yang selama ini menjadi legenda kelompok tersebut.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara, sedangkan Agni Mahesa Suro belum berhasil di ketahui keberandaan nya karena selalu berpindah mengembara.
Dua legenda itu duduk dengan gagah di hadapan Nambi Tosa sang Dewa Api.
"Ada masalah apa kami di datangkan kemari?.'' tanya Raja Api dari Utara, menatap kearah Nambi Tosa.
"Ya benar, meski aku sebenarnya juga ingin kemari melihat perkembangan kelompok ini, namun aku terkejut utusanmu mendatangiku.," sahut Moncong Putih menimpali perkataan Raja Api dari Utara.
"Mohon maaf sesepuh sekalian, terpaksa saya mengganggu panjenengan berdua yang tengah bersantai menikmati hidup."
"Hal ini terpaksa saya lakukan kerena ada beberapa peristiwa yang mungkin akan mengancam kelompok ini secara khusus dan umat manusia secara umum nya."
Kedua legenda tersebut saling menatap tak paham akan pembicaraan itu.
"Maksud Pemimpin Agung apa?."
"Ada sekelompok orang yang bisa mengancam Api Suci." kata Nambi Tosa.
"Sekelompok orang..?."
"Benar sesepuh, kelompok baru bernama Awan Putih."
__ADS_1
"Kelompok Baru berani menganggu Api Suci? apa tak salah dengar aku?.'' seru Raja Api dari Utara dengan wajah kaget, karena terkejut.
Begitu juga dengan Moncong Putih yang ternganga mendengar kelompok baru.
"Bukan Jiwa Abadi kan?," kata Moncong Putih meyakinkan kembali.
"Bukan Sesepuh, Awan Putih namanya," kata Nambi Tosa lagi.
"Beberapa kali anggota kita yang setingkat tetua Ring lingkaran bahkan di kalahkan nya ."
"Tetua Ring kalah sama orang orang itu?." gumam Moncong Putih.
"Benar, Sesepuh."
"Waah...waah...ini berita luar biasa, kelompok baru yang menakjubkan."
"Apakah tetuanya tokoh tua yang mumpuni?." potong Raja Api dari Utara.
Dengan sedikit menunduk Tapak Setan berkata, "Tetuanya masih muda usianya sekitar dua puluhan Sesepuh."
"Apa??!!, dua puluhan tahun?, tak salah lihat kau..!."
Tapak Setan menggeleng, lalu mengangguk, menandakan dia tak salah dengan perkiraan usia Tetua Awan Putih.
"Saya dua kali bertemu Sesepuh."
"Hanya ketemu??."
"Maksudnya bertarung sesepuh." sahut Tapak Setan makin menunduk.
Moncong Putih dan Raja Api dari Utara menatap Tapak Setan tak percaya, "Jadi yang di kalahkan itu kau??." seru keduanya.
"Juga tetua Ring lingkaran lainnya sesepuh," sahut Nambi Tosa sang Dewa Api.
"Aku jadi penasaran dengan bocah sialan ini, akan aku sambangi markasnya jika perlu." sahut Raja Api dari Utara dengan geram.
"Benar..aku juga penasaran dengan sosok bocah ini." balas Moncong Putih.
**
"Apa yang kakang pikirkan? kami lihat dari tadi Kakang nampak melamun saja.." kata Pelangi sambil mendekat membawa teh hangat yang di taruh di poci beserta tiga gelas untuk mereka, sedangkan Kumala membawa pisang rebus serta ketela dan ubi jalar.
Jaya tersenyum, menatap dua gadis yang mendekat kearahnya sambil membawa makanan dan minuman.
"Masalah kita apa masalah lain?," pancing Kumala.
Jaya kembali tersenyum, "Memang nya kita punya masalah? mengapa kakang harus memikirkan itu?."
Pelangi dan Kumala tersenyum, "Berarti masalah lain kah?."
Jaya mengangguk pelan, menarik nafasnya lalu mengambil pisang rebus dan mengupasnya sebelum memakannya.
"Kakang masih memikirkan alam ini."
Jaya lalu menceritakan sekilas apa yang akan di alami alam manusia menurut cerita Prono condro yang di gabungkan dengan pembicaraan dengan Respati, namun tak seluruh nya di ceritakan memang, takutnya malah membebani dua gadis di depannya.
Meski begitu sudah membuat dua gadis di depannya itu terkejut dan kaget.
"Begitu kah Kakang?."
"Iya.., menurut kakek Respati dan Kakek Prono condro akan seperti itu."
__ADS_1
"Jika benar begitu akan hancur alam ini, akibat manusia saling berperang," sahut Kumala.
Pelangi Kembali teringat masa kecilnya yang hidup dalam pengasingan, akibat ulah orang orang jahat itu, "Huuh..," dirinya menghela nafas.
Jaya menatap dua gadis yang duduk di sebelah kanan dan kirinya.
"Kalian jangan khawatir, Kakang akan menjaga kalian sekuat tenaga Kakang."
Keduanya mengangguk memeluk lengan kanan dan kiri Jaya.
**
Di Pati Sruni pemilihan kepala pasukan khusus sudah selesai.
Hasil pertarungan dari ribuan orang tersebut akhirnya memunculkan lima tokoh untuk menduduki lima kursi kepemimpinan disana.
Pasukan yang bernama Jrabang Geni itu di pimpin oleh Agni Mahesa Suro di kursi pimpinan dengan di bantu oleh empat orang (kursi) yaitu Kolobroto, Ki Dupa dan seorang tokoh sakti bernama Wirasoma seorang pendekar pengguna tombak, serta satu kelompok yang terdiri dari lima orang bernama Lima Kipas Dewa yang berhak atas satu kursi.
Jadi kelima kursi pucuk pimpinan pasukan Jrabang Geni sudah ada yang mendudukinya dan rencananya dalam waktu beberapa hari ini akan dilakukan pelantikan jabatan tersebut.
Pasukan tersebut nantinya akan menjadi pasukan khusus Kerajaan Agung Pati Sruni, yang selanjutnya bergabung dengan pasukan khusus Kerjaan Agung lainnya menjadi pasukan pengamanan di Panca Buana.
**
Dua sosok terlihat saling berkejaran meloncat loncat dari satu tempat ke tempat yang lain.
Hinggap di satu pohon ke pohon yang lain jika melewati banyak pepohonan.
"Kau yakin arah kita benar?." seru salah satu sosok tersebut.
"Jika memperhitungkan jawaban orang orang yang kita tanyai benar."
Keduanya berbincang dengan sambil meloncat loncat, suara angin yang berdesir saat mereka bergerak cepat tak menggangu percakapan itu yang begitu lancar karena terkirim dengan tenaga dalam tingkat tinggi sebagaimana percakapan jarak jauh para pendekar.
"Aku tak sabar membuktikan kehebatan bocah itu..!," seru Moncong Putih, memecah keheningan.
"Begitu juga aku," balas Raja Api dari Utara, masih meloncat menggenjot tubuh nya melesat membelah hutan menuju ke markas Awan Putih.
"Itu ada pohon tertinggi kita tentukan arah kembali dari sana, jangan sampai salah arah," Moncong Putih berkata sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang sudah terlihat tinggi menjulang dari jarak beberapa ratus tombak.
"Benar kita tentukan lagi arah kita dari pucuk pohon tersebut sembari kita rehat sejenak," balas Raja Api dari Utara.
Keduanya segera menuju arah dimana pohon itu berada.
Laaaap...
Wuuuuss...
Dengan beberapa kali genjotan saja dua sosok itu sudah tiba di pohon yang sangat tinggi.
Pohon yang besarnya secakupan sepuluh pria dewasa merentangkan tangannya itu, terlihat gagah diantara pepohonan yang lainnya.
"Ayo..kita naik di pucuknya."
Moncong Putih mengangguk lalu melesat meloncat naik, berlari keatas pohon tersebut, mungkin jika ada yang melihat akan berdecak kagum menyaksikan pemandangan tersebut.
Kini keduanya sudah berada di puncak tertinggi pohon tersebut.
"Sana arah Timur, sana arah Utara, jadi kita nanti ke arah sana sesuai dengan petunjuk yang kita dapatkan," kata Raja Api dari Utara.
"Benar..kita ke arah sana." balas Moncong Putih, sambil menatap arah yang akan di tuju, lalu mengangguk anggukan kepala nya berkali kali.
__ADS_1
______________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...ya...kakak...kakak.... ajak juga saudara, teman, Kaka, adik dan para tetangga tetangga lainnya dukung karya ini....biar makin semangat berkarya nya aku.... makasih.