Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Kembali menuju Awan Putih


__ADS_3

Setelah beberapa hari di kediaman Randu Sembrani Jaya pun akhirnya berniat kembali ke markas Awan Putih, karena niatnya di sana hanya akan menjemput Pelangi.


"Rencana besok pagi kami akan mohon pamit kepada kakek dan nenek, membawa Dinda Pelangi ke markas Awan Putih."


Randu Sembrani yang memang tau akan hal itu hanya mengangguk saja.


"Apakah kau akan langsung menuju Awan Putih di alas Lirboyo?"


Jaya tersenyum, "Tentu saja tidak kek, ada beberapa hal yang akan kami lakukan, pertama ke istana Ngarsopuro, meminta ijin Yang Mulia disana membawa Dinda Pelangi ke Awan Putih serta menghampiri kakek Jayeng Rono."


"Selanjutnya kami akan menuju ke tempat orang tua Dinda Kumala, sebelum menuju alas Lirboyo ke Awan putih, ada yang akan di lakukan Dinda Kumala disana," kata Jaya Sanjaya, sedangkan Pelangi dan Kumala yang duduk di sebelah Jaya hanya menganggukkan kepalanya mendengar Jaya menyampaikan semua rencana mereka tersebut.


"Berhati hati lah dalam perjalanan, suasana sekarang sangat genting, apa apa pasti berakhir dengan pertarungan dan perseteruan." sahut Nyai Nilam Sari, mengingatkan Jaya dan rombongan nya.


"Iya Nek, kami akan berhati hati dalam setiap bersikap."


"Bagus kalian pasti sudah tau situasi nya saat sekarang seperti apa."


"Iya kek."


Malam itu di pendopo rumah Randu Sembrani semua terlihat berkumpul, berbincang tentang semua hal, termasuk kejadian kejadian yang baru saja tersebar luas, dimana pusaka di wilayah Utara yang kini kemungkinan sudah berhasil di kuasai seseorang karena cahaya dari pamor pusaka itu sudah tak terlihat lagi.


"*Apa itu juga mungkin pusaka ku?" yang tercerai berai? seperti kitab pusaka ku yang kemarin di jurang Kedungpuru?"


"Jika benar pusaka ku itu zirah yang mana?, atau malah mungkin mahkota itu*?"


Berbagai pertanyaan hadir di benak Jaya Sanjaya.


Nasehat dan petuah di berikan oleh para tokoh tua itu terhadap Pelangi muridnya dan Jaya serta Kumala yang sudah di anggap seperti cucu nya.


"Pergunakan ilmu yang kalian miliki untuk menegakkan keadilan, dan melawan kejahatan, terutama kau Pelangi, jurus Mata Dewa dahulu kala adalah ilmu Kanuragan yang memang untuk membela kebenaran."


"Baik guru."


Pelangi mengangguk, hidup bersama selama hampir satu tahun, membuat ikatan batin mereka begitu terasa kuat.


Ada rasa kehilangan saat mereka besok harus berpisah, dan entah mengapa Pelangi menjadi gundah dan kapan bisa bertemu kembali, entah.


**


Pagi pagi sekali rombongan kelompok Jaya sudah terlihat bersiap.


Beberapa kuda tunggangan sudah di persiapkan beserta perbekalan yang sudah di sampirkan di punggung kuda bersama pelana nya.


Arjo salah satu murid paling senior di sana meminta para pekerja untuk mengatur dan menyiapkan semua kuda kuda itu.

__ADS_1


Kembali nasehat di berikan oleh Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari, baik kepada Jaya, Pelangi maupun Kumala.


Karena dengan usia yang di lihat muda dan potensi yang ada di diri mereka bertiga, akan sangat menakutkan dunia jika sampai ketiganya salah jalan.


"Ingat selalu pesan kami."


"Baik guru."


"Baik Kek, Nek."


Rombongan Jaya di antar hingga gerbang hunian dari Randu Sembrani.


"Jika ada waktu kami pasti akan menyusul ke sana," kata Nyai Nilam Sari yang di angguki oleh sang suami.


Setelah saling berpamitan dan melambaikan tangan akhirnya rombongan Jaya benar benar meninggalkan tempat hunian dari tokoh Mata Dewa tersebut.


**


"Bagaimana dengan tugas yang kalian emban?"


Tampak sosok dengan jubah menutup hingga kepala dengan wajah tertutup semacam topeng terlihat bertanya kepada seseorang yang bermuka pucat tanpa ekspresi.


"Semua sudah beres Tetua Agung, hanya saja masih ada satu yang berhasil lolos" sahut Rakumba Sang Mayat.


"Lolos?''


"Bagaimana bisa kalian membiarkan lawan berhasil lolos?"


"Ampun tetua, saya lah yang salah," pelan Burgundi menyela sambil menundukkan wajahnya karena ketakutan.


Dua sosok berjubah yang duduk di depan yang tak lain adalah Iblis Wora dan Iblis Wari langsung menoleh dan menatap tajam Burgundi.


Burgundi begidik ngeri melihat tatapan tajam dari balik penutup wajah.


"Apakah aku mengajarkan kalian membiarkan musuh lolos begitu saja?."


"Tidak tetua, tapi saat itu aku memang tak punya pilihan lain."


Burgundi lalu menceritakan bagaimana dan dimana dirinya mengalami kejadian pertarungan dengan kelompok Cemoro Sewu yang berada dalam pimpinan tetua Sugara saat itu.


"Keparaat..!, berani sekali orang itu mencampuri urusan Jiwa Abadi..!," teriak Iblis Wora, dengan suara keras hingga mampu menggetarkan gelas gelas bambu yang ada di atas meja di depan mereka.


"Itulah mengapa mereka bisa meloloskan diri karena kami tak berada satu lokasi," sahut Rakumba sang Mayat.


Dua Iblis tersebut mengangguk mendengar penuturan orang orangnya.

__ADS_1


"Apalah kira kira kalian tahu mereka dari kelompok mana?"


Semua anak buah Sang Mayat nampak menggelengkan kepalanya.


"Kami tak tau, karena kemampuan mereka berbeda satu dengan yang lain, nampaknya mereka gabungan orang orang yang memiliki beberapa keahlian berbeda." sahut Rakumba menegaskan.


"Hmm, selidiki orang orang itu, jangan sampai menjadi penghalang kita nantinya."


**


Rombongan Jaya sudah jauh meninggalkan tempat hunian Randu Sembrani, memasuki hutan mendaki bukit dan menuruni lembah.


Rombongn yang terdiri dari delapan orang itu susul menyusul menaiki kuda masing masing.


Jaya, Pelangi dan Kumala selalu berkuda di belakang sementara Narimo, Baroto dan Pitu Geni berada di depan.


Empu Cipta guna dan Sugara berada di tengah tengah rombongan.


Sepanjang perjalanan Pelangi masih tak henti henti mengagumi semua keindahan alam ciptaan Sang Maha Tunggal.


"Waah...luar biasa indahnya pemandangan itu Kaka," kata Pelangi sambil menunjuk deretan bukit yang jauh dan terlihat seperti punggung ular yang meliuk liuk.


"Ya apalagi cuaca secerah ini, semua terlihat sangat indah."


Meskipun hari masih pagi karena mereka berangkat sejak dini hari tadi dari hunian Randu Sembrani, udara terlihat cerah tanpa adanya mendung dan awan yang menutupi pemandangan membuat semua terlihat lebih indah.


"Jika kita terus melewati jalur lurus ini kita nanti akan melalui Ibukota dari Kotaraja Karang Pandan," kata Narimo yang sedikit memperlambat kudanya hingga mendekati kuda Jaya dan dua gadis nya.


"Waah..benarkah paman?" sorak Kumala nampak kegirangan.


Pelangi yang tak tau kenapa Kumala berteriak kesenangan bertanya, "Memang kenapa kakak senang sekali lewat Kotaraja Kerajaan Agung Karang Pandan?"


Kumala tersenyum, "Karena di kota itu banyak pasar besar, kita bisa berbelanja adik"


"Berbelanja?"


"He'em."


"Huuh..," Pelangi membuang nafas, terlihat tak bersemangat, meskipun dirinya anak Raja namun belum sekalipun mendapatkan kemewahan selayaknya putri Raja, bahkan uang sepeser pun tak punya.


"Kenapa adik malah lesu?" tanya Kumala yang melihat perubahan di wajah Pelangi.


"Aku tak punya uang, apa asyiknya lewat banyak pasar besar jika tak bisa membeli apapun," sahutnya lesu.


_____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2