Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Pertarungan di Selayang Pandang eps Partai Es Abadi


__ADS_3

Antareja kembali menggerakkan tangannya bersama itu sebongkah tanah kembali mencuat mengejar Prono Condro.


GRAATAAAKK..!


DUAAAR...!!


Sesepuh Gagak Hitam tersebut menghantam bongkahan tanah yang berujut seperti seekor ular dan menyerangnya sebagaimana sosok binatang ganas tersebut.


Begitu terhantam oleh Prono Condro ular ciptaan dari tanah itu langsung buyar.


Konon sosok legenda Bumi Langit, Jagat Mandhala Bawono mampu menciptakan seekor Naga dari tanah yang besar badannya tiga cakupan pria dewasa.


"Ciihh...!, kekuatan remeh..!." seru Prono Condro, mencibir serangan ciptaannya lawannya.


Antareja kembali mencoba memusatkan konsentrasinya mencoba akan membangun serangan lagi, namun sesepuh Gagak Hitam sudah meloncat menebaskan pedangnya kembali dengan kekuatan penuhnya.


"Hiaaaaa....!."


BLAAAAANG....!!


Hantaman itu di tangkis senjata Antareja, namun mengakibatkan ledakan yang cukup kuat.


Karena kekuatan yang berimbang,


keduanya sama sama terpental dan terluka dengan dada terasa sesak akibat benturan tersebut.


"Hoeek..!," Antareja memuntahkan darah dari mulutnya.


Dadanya serasa mau pecah, sedangkan Prono Condro yang semula terlempar sudah berdiri dan pulih kembali.


"Bagaimana..?, apakah kau masih ingin meneruskan pertarungan ini..?.'' tantang sosok tua tersebut sambil berkacak pinggang.


Eyang Wirabhumi langsung melesat maju, menatap Prono Condro dan menjura, "Maaf kisanak, aku rasa permasalahan ini tak usah di perpanjang, aku Sesepuh Bumi Langit meminta maaf atas kesalah pahaman yang telah terjadi."


Prono Condro mendengus, meski akhirnya mengangguk juga.


**


Kericuhan jelas terjadi, baik para peserta yang mengikuti seleksi calon Pemimpin Agung Serikat Pendekar maupun para kelompok yang menjadi penonton, semua terlihat panik namun penasaran


Orang orang dari berbagai kelompok itu kini bergerak mendatangi perkemahan Jiwa Abadi.


Entah siapa yang mengawalinya, yang jelas kini mereka bergerak ke sana.


Semua penasaran dan ingin membuktikan ucapan Tetua Agung Awan Putih, apakah benar tentang sang Tetua Agung Jiwa Abadi yang berujut sesosok Iblis?.


Rakumba yang menyaksikan pemandangan itu langsung bergerak, khawatir lalu membangkitkan 99 Layon yang sudah di siapkan nya.


Ribuan orang yang mengerubungi perkemahan Jiwa Abadi tersebut makin merangsek maju namun di hadang oleh anak buah kelompok tersebut.


"Keparaat...!, siapa yang mengajari kalian bertindak tak sopan kepada kelompok Kami...!," cegah Pyong Karund yang sudah berdiri gagah bersama Sumantri memimpin ribuan anak buah Jiwa Abadi.


Di sebelahnya sedikit jauh tampak sosok sosok 99 Layon yang di pimpin oleh si mayat Rakumba, tampak berdiri menunggu untuk di aktifkan menyerang.

__ADS_1


Ada juga pasukan Kalong Setan dan pasukan Semut Rangrang yang berjumlah ribuan sudah menghadang orang orang yang mendekat.


"Kami ingin melihat sosok iblis di Jiwa Abadi..!."


"Benar..!, kami mau melihat Iblis itu..!.''


Teriak teriakan orang bersahut sahutan, merangsek maju makin mendekati perkemahan Jiwa Abadi yang tampak di jaga ketat tersebut.


"Kalianlah yang iblis...!," teriak Pyong Karund dengan garang, menuding orang orang dari berbagai kelompok tersebut.


"Jika kalian mempersulit berarti berita adanya sosok iblis itu nyata di sini...!," seru Nambi Tosa.


"Benaaar..!."


"Ya..benaar...!!."


Keadaan makin kacau balau dan terjadi saling dorong mendorong untuk merangsek maju.


Saat itulah bermunculan pasukan Iblis yang sesungguhnya dari dalam perkemahan Jiwa Abadi, langsung meloncat dan menyerang ke arah kerumunan orang tersebut.


SRUAAAKK...!!


SRUAAAAKK..!!


Para Iblis berloncatan ke arah kerumunan orang orang tersebut, dalam sesaat terjadilah kericuhan yang amat sangat dahsyat.


Kini seluruh orang bisa menyaksikan bagaimana sosok iblis secara langsung, semua orang yang sempat meragukan perkataan Tetua Agung Awan Putih kini menyadari kekeliruannya, rasa sesal sudah terlambat, kini lawan ganas hadir di depan mata.


Malam yang di terangi oleh sinar rembulan dengan tampilan bulat penuh itu menjadi saksi atas terbantainya ribuan orang oleh para Iblis dan sekutu Iblis tersebut.


Jaya dan seluruh petinggi Awan Putih langsung bergerak melesat ke arah kelompok nya.


Begitu juga para Tetua dan Sesepuh kelompok lain langsung bergerak menuju kelompok masing masing untuk mengatur dan melindungi anggota nya.


"Saling Jaga...!, jangan sampai musuh masuk ke dalam kelompok..!." teriak Jaya mengingatkan seluruh anggota nya.


Prajurit iblis dan anggota Jiwa Abadi sudah menyebar, menyerang orang orang yang di sasarnya.


Hebatnya kekuatan prajurit iblis itu hingga satu sosok iblis harus di hadapi setidaknya oleh lima orang pendekar biasa, itu baru bisa dinilai imbang.


Badannya yang besar dan tenaganya yang kuat sangat menyulitkan bagi pendekar biasa.


Kekuatan hantamannya serta cara menghabisi lawan membuat ngeri yang melihat.


Sebenarnya jumlah pendekar dan pasukan Panca Buana berkali lipat, jika di bandingkan dengan jumlah pasukan iblis yang di gabung dengan anggota Jiwa Abadi, namun karena bertarung sendiri sendiri perkelompok tak terkoordinasi dengan baik membuat pertempuran itu jadi terlihat berimbang.


Dari beberapa kelompok pertempuran yang terlihat, hanya kelompok Awan Putih yang berhasil mengimbangi para penyerangnya, bahkan terlihat banyak anggota Jiwa Abadi yang telah menjadi mayat di area kelompok Awan Putih, selain tentu saja mayat para Iblis.


**


"Ggrrrhhh...!!."


Beberapa ratus sosok Iblis yang bergabung dengan tiga sosok Layon(mayat hidup) serta ratusan pasukan Jiwa Abadi dari berbagai pasukan (Kalong Setan dan Semut Rangrang) nampak tengah mengempur kelompok partai Es Abadi.

__ADS_1


Terlihat Sukat Jaladri sang Dewa Es tengah kerepotan mengatur kelompoknya, selain saat ini tengah menghadapi satu Pemimpin kelompok iblis pemakan daging itu.


"Keparaat..!, wajahmu sungguh jelek sekali.! menjijikkan..!," seru Sukat Jaladri menatap ngeri wajah lawannya.


Kepala Iblis yang besar dengan mata menyala serta gigi gigi yang panjang serta mulut yang masih meneteskan darah dari mangsanya membuat sosok tersebut makin menakutkan.


"Gggrrgghh...!."


Iblis itu menggeram entah apa artinya, sebelum menerjang ke arah Sukat Jaladri dengan cakar serta senjatanya yang seperti tombak pendek berujung pisau.


TRAAANG...!!


Tetua Agung Partai Es Abadi tersebut menangkis sambaran senjata Pemimpin pasukan iblis, dengan senjata pedang es nya, perasaan mendebarkan melebihi saat bertarung dengan manusia.


Benturan keras di sertai dengan lesatan hawa dingin mengagetkan sosok Iblis tersebut.


Tempat pertempuran dimana mereka bertarung kini sudah di selimuti gumpalan es, saat para anggota partai Es Abadi sudah mengeluarkan jurus andalan kelompok tersebut.


Sementara itu sesepuh partai Es Abadi seperti : Kaisar Dewa Air, Joko Baron( Dewa Salju), Landung Siturang (pedang Es Abadi) juga bertarung dengan ketiga Layon, yang memang di sebar oleh Rakumba dalam penyerangan itu.


Sedangkan Sesepuh Ronggoliwa dan sesepuh Dewi Racun Salju bersama para tetua Ring Lingkaran partai Es Abadi menghadapi anggota Jiwa Abadi dan pasukan iblis lainnya.


Pertempuran benar benar dahsyat, seru dan mengerikan.


Puluhan korban dari kedua belah pihak mulai berguguran, darah dan potongan tubuh mulai berceceran di mana mana, membuat tempat tersebut makin menakutkan.


Meski jumlah anggota partai Es Abadi lebih banyak namun keganasan pasukan Iblis yang bergabung dengan pasukan Jiwa Abadi mampu menandinginya.


Kaisar Dewa Air menatap sosok di depannya, sosok yang selalu tertutup oleh pakaian yang membelit sekujur tubuhnya hingga hanya matanya yang terlihat.


"Hmm, apa julukanmu? hingga kau berani melawanku..?." tanya Sesepuh itu, namun sosok lawannya hanya berdiri diam terpaku.


"Keparat..di tanya malah diam saja..!, kayak orang gagu ....!," pria tua itu mendengus meracau atas sikap lawannya.


"Baik..aku tak perlu basa basi lagi..kalau begitu..!," lalu sosok sesepuh pengguna element air/es itu mencabut pedang pusaka nya.


Sebuah pedang dengan tingkatan Dewa tersebut nampak memancarkan hawa dingin yang menggigit, membuat lingkungan di sana makin mencekam.


"Bersiaplah....HIAAAAA....!!."


Kaisar Dewa Air melesat menebaskan pedangnya ke arah sosok Layon tersebut.


Wuuuuss....


Srriing...Taaaang...!!


Sosok Layon itu menangkis sabetan senjata lawan dengan tombak yang sudah terhunus sejak tadi.


Hawa dingin menyeruak, namun hawa yang mencekam tersebut tak berpengaruh apapun kepada lawan nya, membuat Sesepuh partai Es Abadi sedikit tercekat.


"Weeh hebat juga dia tak terpengaruh hawa dingin pedangku...!."


_________

__ADS_1


Jejakanya.....


__ADS_2