
"Hmm, jadi menurutmu siapa yang kuat dia yang berkuasa..?, Benar demikian?." ulang Jaya kepada Ki Ronggeng yang sudah mengepungnya bersama Tohpati salah satu penyusun Akar Jiwa dari kelompok Angsa Emas yang terkenal memiliki banyak usaha di sana salah satunya penginapan Angsa Emas.
"Tepat sekali anak muda, jadi jika kau hanya memiliki kemampuan cetek tak usah bertingkah disini, sana pergi jauh jauh..hush...hush..!," ledek Ki Ronggeng sembari mengibaskan tangannya seakan mengusir binatang.
"Bagitu ya..?, tapi bagaimana jika aku memiliki kemampuan cetek tapi nekat ada di sini..?," sahut Jaya sambil cengar-cengir balas meledek Ki Ronggeng.
"Berarti kau siap kepalamu berpisah dengan badan mu..!," bentak Tohpati dengan garang.
"Aku merasa tertantang..!," Jaya kembali bersikap arogan, memancing kemarahan lawan dengan sikapnya.
"Keparaat..bocah tak tahu di untung, di kasih kesempatan malah ngelunjak, ngadi ngadi..!," bentak Tohpati lagi dengan murka yang membuncah.
Bahkan kini Tohpati sudah melesat maju menyambarkan pedang tombaknya kearah Jaya yang masih santai bersidekap.
WUUUUSSSS.....
Sambaran senjata itu menebas ke arah badan Jaya, Tohpati sudah bersorak dalam hatinya karena serangannya pasti berhasil membelah badan lawannya.
Jaya masih tenang, menunggu serangan tersebut mendekati nya, dan dalam jarak beberapa jengkal tiba tiba badan Jaya melesat melayang dengan kecepatan yang tak di duga Tohpati.
Laaap...!
Tebasan pedang tombak itu melesat namun hanya mengenai tempat kosong karena Jaya sudah berpindah tempat.
"Aaah, berisi juga kau ..rupanya," seru Tohpati sedikit tercekat, dengan kecepatan lawan yang tak di duganya.
Ki Ronggeng yang melihat serangan rekannya dengan mudah di hindari sang lawan langsung meloncat memburu sang pemuda.
Dua pedang nya langsung bergerak menyambar dan menebas ke arah Jaya.
Sriiing ...! sriiing....!!
Dua senjata itu saling menebas bersilangan mencoba mencincang badan Jaya.
Jaya meloncat kembali mundur, dengan mengibaskan pedang Angin Puyuh menangkis hawa serangan Ki Ronggeng.
JDUAARRT....!!
Benturan dua gelombang kekuatan itu meledak saat saling bertubrukan.
Ki Ronggeng terdorong kebelakang, dadanya sesaat terasa ampeg namun segera di netralkan dengan aliran kekuatan tenaga dalam nya.
Kini Ki Ronggeng dan Tohpati mengepung Jaya, mencoba menyerang dari dua sisi.
"Hiaaaaa..!"
"Hiaaaaaa!!."
Kedua tokoh tersebut berteriak, melakukan serangan secara "Spartan" mencoba mendesak Jaya dengan kecepatan serangan yang terus mereka hantamkan.
Traaang ....! traaaang....!!
Dengan sigap Jaya menangkis semua serangan yang di arahkan kepadanya.
Merasa serangan keduanya belum mampu mendesak Jaya, Ki Ronggeng tiba tiba bersuit.
"Suuiiiiiiutttt....!!."
Suitan keras tersebut rupanya sebuah kode bagi para tetua penyokong Akar Jiwa.
Kini sudah turut mengepung Gambir Anom dari Pisau Terbang, Wirogo dari kelompok Hati Singa, Padmo Sumingkir dari kelompok Tiga Tombak dan Bargolo dari kelompok Ular Kembang.
Kini enam tetua tersebut tengah mengepung dan mengeroyok Jaya Sanjaya.
**
Kiwari dari Pedang Seribu yang mengahadapi Pitu Geni, masih bertarung dengan seru.
Putaran pedang dari kelompok Pedang Seribu tersebut sangat luar biasa cepat, akibat gerakan nya yang demikian cepat hingga membuatnya seakan memiliki banyak pedang.
Sesaat Pitu Geni tersudut ke belakang, serangan serangan lawannya membuatnya kewalahan, namun berkata jurus Api nya yang membentengi dirinya membuat lawan tak berani gegabah mendekat.
"Ayo maju biar aku panggang tubuhmu..!," ledek Pitu Geni, memanas manasi lawannya.
Meskipun sabetan pedang Kiwari sangat cepat namun dirinya tetap tak berani menerabas gumpalan Api yang di ciptakan oleh Pitu Geni.
"Pengecut...beraninya pakai obor," umpatnya.
"He.. he..he...aku pingin makan daging monyet..!," balas Pitu Geni, terkekeh meledek lawannya yang tak juga maju.
"Bedebah.. kunyuk...kau..!." Kiwari memutar pedangnya menimbulkan angin yang lumayan untuk mengusir hawa panas yang di ciptakan Pitu Geni.
"Saatnya....!," teriak Kiwari meloncat membabatkan pedang yang serasa ada di beberapa ujung tangannya.
Traaang...! DUAAAR....!!
Pitu Geni nekat menghantamkan pukulan jarak jauhnya, menghentikan sabetan pedang Kiwari yang bertransformasi menjadi banyak terdapat.
"Aaarch...!."
"Aaaaaaahh..!"
Keduanya berteriak tercekat, dan terdorong kebelakang akibat benturan tersebut.
**
Mereka adakah Aryo Suwito dari kelompok Kuda Terbang, Ki Karto Darso dari Rajawali Sakti, serta Citro Bawono dari kelompok Banteng Hitam.
Aryo Suwito sudah melesat kearah Kumala, sedangkan Ki Karto Darso melesat ke arah Pelangi dan Citro Bawono menghadapi Baroto Sarkawi.
Aryo Suwito yang bersenjata semacam tongkat dengan ujung seperti kebutan atau ekor kuda itu sudah memapag serangan pedang hitam legam Kumala.
"Kau lawanku anak manis," seru Aryo Suwito dengan mata jelalatan menatap badan Kumala yang aduhai.
Sangat jarang baginya melihat ada pendekar muda dengan badan montok menggoda seperti ini.
"Dasar tua bangka..cabul..!," bentak Kumala, jengkel mendapatkan tatapan mesum seperti itu.
Tetua yang berada di tingkat Raja Perak akhir itu mulai melakukan serangan tanpa banyak cakap lagi, dan itu awalnya cukup merepotkan Kumala.
Sreeet...!!
Ujung tongkat senjatanya yang berujut kebutan semacam ekor kuda itu membelit pedang hitam milik Kumala.
Ujung kebutan yang entah terbuat dari bahan apa tersebut ternyata sangatlah kuat, sudah di coba oleh Kumala untuk menebasnya namun tak juga berhasil.
Bahkan belitan tersebut sangat kuat seakan ingin membetot pedang Kumala.
"Serahkan pedang mu, jika perlu bersama tubuhmu cah ayu..!!." ledek Aryo Suwito sambil menjilat bibirnya sediri, dan Kumala menatap hal tersebut dengan jijik.
Keduanya masih beradu kekuatan saling tarik menarik.
CLAAAAPP...!
__ADS_1
Seberkas sinar melesat dari mata Kumala menghantam ke arah Aryo Suwito yang dengan kaget melepaskan belitan senjata nya lalu mengibaskan kebutan tersebut menghalau sinar ciptaan Kumala.
JDAAAAARRT..!!
Aryo Suwito terlempar ketika menepis sambaran sinar yang di ciptakan oleh Kumala.
"Siaaal...!!, apa itu tadi...!!," gumam Aryo Suwito dengan keheranan melihat jurus tersebut. karena memang masih jarang di ketahui Jurus Mata Iblis di dunia persilatan yang mulai menampakkan diri.
Aryo Suwito berjumpalitan, sebelum akhirnya bisa mendarat dengan tegak berdiri, namun kini rasa percaya diri nya mulai terkikis.
Ki Karto Darso dari Rajawali Sakti sudah meloncat loncat dengan lincah mencoba menyerang Pelangi.
Tangan kanannya yang memegang pedang selayaknya paruh seekor burung mematuk matuk mengancam Pelangi.
Traaang....! taaaang....!!
Dengan tangkas Pelangi menghadapi serangan lawan dengan jurus Manggar Pecah.
Ki Karto Darso, makin mendekat mencoba mencengkeram lawan dengan tangan kiri yang entah sejak kapan sudah memakai sarung tangan cakar.
Craaaaakk..!!
Pelangi merubah gerakan pedang nya menepis sambaran Cakar yang terlihat sangat kuat tersebut.
"Uugh...!," Ki Karto Darso sedikit meringis saat Cakar nya berbenturan dengan pedang Pelangi.
Keduanya kembali bersiap untuk saling menyerang kembali.
Sementara itu Citro Bawono dari Banteng Hitam kini terlihat bertarung dengan Baroto Sarkawi.
Dua orang yang bertubuh kekar dan mengandalkan pertarungan tangan kosong terlihat saling serang.
Praak.... praaak...
Benturan dua tangan kosong yang penuh tenaga itu terdengar mengerikan.
"Kuat juga badanmu...!," puji Baroto Sarkawi kepada sang lawan.
Citro Bawono yang merasa berbenturan dengan lengan lawan juga memuji kekuatan lengan lawan, mesti tak di ucapkan nya, "Edan..kuat sekali lengan nya, bahkan mampu meredam hantaman jurus Banteng Gila ku.''
Dua orang tersebut masih saling tatap untuk memulai pertarungan kembali.
**
Di atas panggung prabu Danurwindo masih di bentengi dan di lindungi oleh pasukan kerajaan Jogonolo, menghadapi gempuran pasukan Kabupaten Jagalan.
Tumenggung Supono memimpin prajurit nya, meredam serangan lawan yang di pimpin oleh Panjalu, bekas prajurit hebat sewaktu di Jogonolo.
"Hancurkaaan...!!," teriak Panjalu dengan lantang.
"Musnahkan pemberontak...!!." balas sang Tumenggung memberikan perintah pada prajurit nya.
Dua pasukan itu saling serang untuk memusnahkan lawannya masing masing.
Mayat mayat sudah bergelimpangan, darah sudah berceceran dimana mana, bahkan potongan tubuh terlempar dan berserakan tak beraturan...perang memang menyedihkan dan mengerikan.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya, baca juga karya lainku yang masih on going .....
"Hmm, jadi menurutmu siapa yang kuat dia yang berkuasa..?, Benar demikian?." ulang Jaya kepada Ki Ronggeng yang sudah mengepungnya bersama Tohpati salah satu penyusun Akar Jiwa dari kelompok Angsa Emas yang terkenal memiliki banyak usaha di sana salah satunya penginapan Angsa Emas.
"Tepat sekali anak muda, jadi jika kau hanya memiliki kemampuan cetek tak usah bertingkah disini, sana pergi jauh jauh..hush...hush..!," ledek Ki Ronggeng sembari mengibaskan tangannya seakan mengusir binatang.
"Bagitu ya..?, tapi bagaimana jika aku memiliki kemampuan cetek tapi nekat ada di sini..?," sahut Jaya sambil cengar-cengir balas meledek Ki Ronggeng.
"Berarti kau siap kepalamu berpisah dengan badan mu..!," bentak Tohpati dengan garang.
"Aku merasa tertantang..!," Jaya kembali bersikap arogan, memancing kemarahan lawan dengan sikapnya.
"Keparaat..bocah tak tahu di untung, di kasih kesempatan malah ngelunjak, ngadi ngadi..!," bentak Tohpati lagi dengan murka yang membuncah.
Bahkan kini Tohpati sudah melesat maju menyambarkan pedang tombaknya kearah Jaya yang masih santai bersidekap.
WUUUUSSSS.....
Sambaran senjata itu menebas ke arah badan Jaya, Tohpati sudah bersorak dalam hatinya karena serangannya pasti berhasil membelah badan lawannya.
Jaya masih tenang, menunggu serangan tersebut mendekati nya, dan dalam jarak beberapa jengkal tiba tiba badan Jaya melesat melayang dengan kecepatan yang tak di duga Tohpati.
Laaap...!
Tebasan pedang tombak itu melesat namun hanya mengenai tempat kosong karena Jaya sudah berpindah tempat.
"Aaah, berisi juga kau ..rupanya," seru Tohpati sedikit tercekat, dengan kecepatan lawan yang tak di duganya.
Ki Ronggeng yang melihat serangan rekannya dengan mudah di hindari sang lawan langsung meloncat memburu sang pemuda.
Dua pedang nya langsung bergerak menyambar dan menebas ke arah Jaya.
Sriiing ...! sriiing....!!
Dua senjata itu saling menebas bersilangan mencoba mencincang badan Jaya.
Jaya meloncat kembali mundur, dengan mengibaskan pedang Angin Puyuh menangkis hawa serangan Ki Ronggeng.
JDUAARRT....!!
Benturan dua gelombang kekuatan itu meledak saat saling bertubrukan.
Ki Ronggeng terdorong kebelakang, dadanya sesaat terasa ampeg namun segera di netralkan dengan aliran kekuatan tenaga dalam nya.
Kini Ki Ronggeng dan Tohpati mengepung Jaya, mencoba menyerang dari dua sisi.
"Hiaaaaa..!"
"Hiaaaaaa!!."
Kedua tokoh tersebut berteriak, melakukan serangan secara "Spartan" mencoba mendesak Jaya dengan kecepatan serangan yang terus mereka hantamkan.
Traaang ....! traaaang....!!
Dengan sigap Jaya menangkis semua serangan yang di arahkan kepadanya.
Merasa serangan keduanya belum mampu mendesak Jaya, Ki Ronggeng tiba tiba bersuit.
"Suuiiiiiiutttt....!!."
Suitan keras tersebut rupanya sebuah kode bagi para tetua penyokong Akar Jiwa.
Kini sudah turut mengepung Gambir Anom dari Pisau Terbang, Wirogo dari kelompok Hati Singa, Padmo Sumingkir dari kelompok Tiga Tombak dan Bargolo dari kelompok Ular Kembang.
__ADS_1
Kini enam tetua tersebut tengah mengepung dan mengeroyok Jaya Sanjaya.
**
Kiwari dari Pedang Seribu yang mengahadapi Pitu Geni, masih bertarung dengan seru.
Putaran pedang dari kelompok Pedang Seribu tersebut sangat luar biasa cepat, akibat gerakan nya yang demikian cepat hingga membuatnya seakan memiliki banyak pedang.
Sesaat Pitu Geni tersudut ke belakang, serangan serangan lawannya membuatnya kewalahan, namun berkata jurus Api nya yang membentengi dirinya membuat lawan tak berani gegabah mendekat.
"Ayo maju biar aku panggang tubuhmu..!," ledek Pitu Geni, memanas manasi lawannya.
Meskipun sabetan pedang Kiwari sangat cepat namun dirinya tetap tak berani menerabas gumpalan Api yang di ciptakan oleh Pitu Geni.
"Pengecut...beraninya pakai obor," umpatnya.
"He.. he..he...aku pingin makan daging monyet..!," balas Pitu Geni, terkekeh meledek lawannya yang tak juga maju.
"Bedebah.. kunyuk...kau..!." Kiwari memutar pedangnya menimbulkan angin yang lumayan untuk mengusir hawa panas yang di ciptakan Pitu Geni.
"Saatnya....!," teriak Kiwari meloncat membabatkan pedang yang serasa ada di beberapa ujung tangannya.
Traaang...! DUAAAR....!!
Pitu Geni nekat menghantamkan pukulan jarak jauhnya, menghentikan sabetan pedang Kiwari yang bertransformasi menjadi banyak terdapat.
"Aaarch...!."
"Aaaaaaahh..!"
Keduanya berteriak tercekat, dan terdorong kebelakang akibat benturan tersebut.
**
Mereka adakah Aryo Suwito dari kelompok Kuda Terbang, Ki Karto Darso dari Rajawali Sakti, serta Citro Bawono dari kelompok Banteng Hitam.
Aryo Suwito sudah melesat kearah Kumala, sedangkan Ki Karto Darso melesat ke arah Pelangi dan Citro Bawono menghadapi Baroto Sarkawi.
Aryo Suwito yang bersenjata semacam tongkat dengan ujung seperti kebutan atau ekor kuda itu sudah memapag serangan pedang hitam legam Kumala.
"Kau lawanku anak manis," seru Aryo Suwito dengan mata jelalatan menatap badan Kumala yang aduhai.
Sangat jarang baginya melihat ada pendekar muda dengan badan montok menggoda seperti ini.
"Dasar tua bangka..cabul..!," bentak Kumala, jengkel mendapatkan tatapan mesum seperti itu.
Tetua yang berada di tingkat Raja Perak akhir itu mulai melakukan serangan tanpa banyak cakap lagi, dan itu awalnya cukup merepotkan Kumala.
Sreeet...!!
Ujung tongkat senjatanya yang berujut kebutan semacam ekor kuda itu membelit pedang hitam milik Kumala.
Ujung kebutan yang entah terbuat dari bahan apa tersebut ternyata sangatlah kuat, sudah di coba oleh Kumala untuk menebasnya namun tak juga berhasil.
Bahkan belitan tersebut sangat kuat seakan ingin membetot pedang Kumala.
"Serahkan pedang mu, jika perlu bersama tubuhmu cah ayu..!!." ledek Aryo Suwito sambil menjilat bibirnya sediri, dan Kumala menatap hal tersebut dengan jijik.
Keduanya masih beradu kekuatan saling tarik menarik.
CLAAAAPP...!
Seberkas sinar melesat dari mata Kumala menghantam ke arah Aryo Suwito yang dengan kaget melepaskan belitan senjata nya lalu mengibaskan kebutan tersebut menghalau sinar ciptaan Kumala.
JDAAAAARRT..!!
Aryo Suwito terlempar ketika menepis sambaran sinar yang di ciptakan oleh Kumala.
"Siaaal...!!, apa itu tadi...!!," gumam Aryo Suwito dengan keheranan melihat jurus tersebut. karena memang masih jarang di ketahui Jurus Mata Iblis di dunia persilatan yang mulai menampakkan diri.
Aryo Suwito berjumpalitan, sebelum akhirnya bisa mendarat dengan tegak berdiri, namun kini rasa percaya diri nya mulai terkikis.
Ki Karto Darso dari Rajawali Sakti sudah meloncat loncat dengan lincah mencoba menyerang Pelangi.
Tangan kanannya yang memegang pedang selayaknya paruh seekor burung mematuk matuk mengancam Pelangi.
Traaang....! taaaang....!!
Dengan tangkas Pelangi menghadapi serangan lawan dengan jurus Manggar Pecah.
Ki Karto Darso, makin mendekat mencoba mencengkeram lawan dengan tangan kiri yang entah sejak kapan sudah memakai sarung tangan cakar.
Craaaaakk..!!
Pelangi merubah gerakan pedang nya menepis sambaran Cakar yang terlihat sangat kuat tersebut.
"Uugh...!," Ki Karto Darso sedikit meringis saat Cakar nya berbenturan dengan pedang Pelangi.
Keduanya kembali bersiap untuk saling menyerang kembali.
Sementara itu Citro Bawono dari Banteng Hitam kini terlihat bertarung dengan Baroto Sarkawi.
Dua orang yang bertubuh kekar dan mengandalkan pertarungan tangan kosong terlihat saling serang.
Praak.... praaak...
Benturan dua tangan kosong yang penuh tenaga itu terdengar mengerikan.
"Kuat juga badanmu...!," puji Baroto Sarkawi kepada sang lawan.
Citro Bawono yang merasa berbenturan dengan lengan lawan juga memuji kekuatan lengan lawan, mesti tak di ucapkan nya, "Edan..kuat sekali lengan nya, bahkan mampu meredam hantaman jurus Banteng Gila ku.''
Dua orang tersebut masih saling tatap untuk memulai pertarungan kembali.
**
Di atas panggung prabu Danurwindo masih di bentengi dan di lindungi oleh pasukan kerajaan Jogonolo, menghadapi gempuran pasukan Kabupaten Jagalan.
Tumenggung Supono memimpin prajurit nya, meredam serangan lawan yang di pimpin oleh Panjalu, bekas prajurit hebat sewaktu di Jogonolo.
"Hancurkaaan...!!," teriak Panjalu dengan lantang.
"Musnahkan pemberontak...!!." balas sang Tumenggung memberikan perintah pada prajurit nya.
Dua pasukan itu saling serang untuk memusnahkan lawannya masing masing.
Mayat mayat sudah bergelimpangan, darah sudah berceceran dimana mana, bahkan potongan tubuh terlempar dan berserakan tak beraturan...perang memang menyedihkan dan mengerikan.
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya, baca juga karya lainku yang masih on going .....
__ADS_1