Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Membasmi para Pemberontak.


__ADS_3

Begitu Saripan memberikan komando penyerangan, para pasukan adipati Sentono langsung membentangkan busur panahnya dan mulai membidik.


"Lepaskaaan....!!," teriak Saripan yang berkoordinasi dengan Branjangan, memimpin pasukan tersebut.


Zriiing....!


Zriiiing....!!


Ratusan anak panah melesat menyasar ke arah prajurit istana Karang Doplang.


"Niakkan perisai...!," teriak senopati Parijoko, senopati yang memimpin pasukan istana di bantu Jaya dan Prono Cipto, memberikan aba aba.


Perisai dari kayu tebal itu di bentangkan, di angkat dari posisi rebah tadi.


Jleeb..!. Jleeebbb...! jleeebbb....!


Hujan anak panah itu langsung di hadang perisai yang berfungsi sebagai payung kokoh dan kuat.


Anak panah-anak panah itu tertangkis oleh perisai tersebut, sementara para prajurit di bawahnya aman.


Memang keuntungan bertarung di wilayahnya adalah menguasai medan pertempuran, semua seakan sudah di siapkan untuk menghadapi serangan semacam itu.


"Tembak lagiii....!," teriak Saripan memberikan perintah, sementara Branjangan sudah memimpin anak buah yang lainnya untuk menjebol gerbang istana tersebut.


Zriiing...!


Zriing...!!


Ratusan anak panah kembali melesat, namun kembali semua mentah di hadang perisai kayu tebal dan lebar tersebut.


"Sialaaan...!, Keparaaat...!!, mereka ternyata sudah siap, " Siapa yang membocorkan ini, tak mungkin pergerakan kita di ketahui lawan..!," Branjangan terdengar mengumpat dengan kesal.


Lawan yang di perkirakan mampu dengan mudah di taklukan ternyata sudah sangat siap menghadapi pertempuran tersebut.


"Jalan satu satunya ya kita jebol gerbang istana, kita serbu dan perang secara terbuka..!," seru Branjangan lagi.


"Benar...!, segero fokuskan untuk menjebol gerbang istana.." balas Saripan.


**


BRAAAAK...! BRAAAKK...!!


Suara dentuman keras saat daun pintu gerbang yang tebal itu di gedor terdengar mengerikan.


Suara nya yang keras saat benturan membuat para prajurit khawatir.


"Bagaimana tuan, mereka berniat menjebol gerbang istana..!," Parijoko berkata kepada Jaya dan Prono Condro dengan wajah pias.


Jika perang secara terbuka, mereka pasti kalah, selain kalah persiapan juga kalah kwalitas prajurit.


"He..he..he...kenapa takut .., ada kami berdua..!," potong Prono Condro sambil terkekeh.


Parijoko yang belum mengetahui kemampuan langsung dua sosok di depanya, sangat wajar jika dirinya sangat khawatir.


Parijoko menatap Jaya dan kakek Prono Condro bergantian.


"Benar..., paman tenang saja, tetap terus arahkan para prajurit untuk membidik pasukan lawan, jika mereka berhasil menjebol gerbang sampai anak panah kalian habis, baru bertarung secara langsung." kata Jaya pelan.


Parijoko mengangguk meski hatinya terasa gamang.


BRAAAK....! BRUAAAALLL..!!


Akhirnya gerbang tebal itu jebol juga, di hantam kereta tombak kayu yang besar batangnya secakupan tiga lengan pria dewasa yang di rentangkan.


Ratusan prajurit lawan langsung berhamburan memasuki halaman istana tersebut.


Zrriing...!


Zriiing....!!


Anak panah langsung di lepaskan oleh prajurit Karang Doplang mengarah ke pasukan lawan yang berjejalan ingin memasuki halaman istana.


Traang...!!


Traang...!!


Jleeebb...! jleeeb...!!


Sebagian dari anak panah itu di tepis namun banyak juga yang mengenai sasaran.


"Aaarch....!."


"Aaarch....!!.''


Jerit teriakan kesakitan menggema di fajar yang baru menyingsing tersebut.


"Serbuuuu....!!."


"SERAAAANG...!.''


Aba aba penyerangan menggelegar di teriakan Branjangan dan Saripan.


Pasukan adipati Sentono itu menggila menyerang prajurit Karang Doplang.


Wuuuss...


Wuusss..

__ADS_1


Traang...! Craassssh...! craashh...!


"Aaaah....".


"Aaaarch....!!.''


Suara benturan senjata bersatu padu dengan suara desingan pedang dan jeritan kesakitan menggema di halaman istana tersebut.


"Hancurkan... semuanya....!!."


"HIAAA....!!."


Saripan meloncat maju menebaskan pedangnya, hatamannya yang kuat tersebut mampu melempar orang orang yang berhasil menangkisnya.


TRUAANG...!!


Para prajurit Karang Doplang terpental berserakan saat menghadang serangan tersebut.


Senopati Parijoko yang melihat itu, melompat menyongsong sosok yang membuat anak buahnya porak poranda tersebut.


"Aku lawanmu...!," teriak Parijoko, sambil menghunus pedangnya, menghampiri salah satu pemimpin lawan.


"Hmm, siapa kau...!," balas Saripan, menatap tajam ke arah pria yang baru saja datang tersebut.


"Aku senopati Parijoko...!."


Saripan tersenyum meremehkan lawannya tersebut, namanya memang tak sementereng senopati tersebut tapi tingkat kependekarannya lebih tinggi beberpa strip.


"Baik, hari ini aku Saripan si Pedang Melayang akan memberi pelajaran kepada mu..!.'' seru Saripan.


Parijoko terkesiap, nama Pedang Melayang sudah terkenal selama ini, namun dirinya belum pernah bertemu dan beradu kekuatan.


"Hmm, tak kusangka pendekar yang punya nama seperti mu..malah jadi seorang pemberontak, tak mengabdikan diri di istana yang nyata." ledek Parijoko, menutupi rasa gugupnya.


"Banyak Bacooot..!, urusi saja nyawa mu yang sebentar lagi lepas dari raga mu..!.'' hardik Saripan atau di kenal dengan julukan Pedang Melayang.


Setelah berkata demikian, Saripan terlihat meloncat mulai menyerang sang Senopati Karang Doplang tersebut.


"Hiaaaa...!!."


Pedang Saripan menyambar dengan sangat cepat, menebas lawan yang juga sudah bersiap.


Wuussss.. ..


Traaaaang....!!


Duaarrrrr.....!!


Pedang Saripan tertahan oleh senjata pedang Parijoko, ledakan kecil terjadi.


Dua orang tersebut sama sama meloncat mundur, mengikuti hawa ledakan yang mementalkan keduanya.


"Uugh, sabetan pedangnya sudah aku rasakan sangat kuat."


Parijoko mengeluh dalam hatinya, setelah benturan itu keduanya bisa menilai kekuatan lawan nya.


"Hmm, hanya sebegitu kah.? kekuatan senopati negeri ini..?.'' ledek Saripan, sambil menjejak tanah melesat maju menebaskan pedangnya.


"PEDANG MELAYAANG...!!," teriak Saripan mengeluarkan jurus andalannya.


Sriiing....! Wuuussss....!!


Sambaran kencang sangat terasa mengiringi sabetan pedang tersebut.


**


Ki Branjangan yang sudah memimpin pasukannya menjebol gerbang istana Karang Doplang nampak terlihat membantai prajurit dari prabu Wiramerta tersebut.


"MODAAR...KOWE..!!.'' seru tokoh dari Barat daya tersebut, menghantamkan senjata Kapaknya menebas ke segala arah.


CRAAAK....! CRAAAKK..!!


Hantaman Kapak itu membelah badan dan kepala dari prajurit Karang Doplang.


Wuuuung...


TRAAANG...!!


Sebuah pedang tumpul menghadang sabetan kapak dari Branjangan.


"Setaaan..! kau mengusik kesenanganku...!," maki ki Branjangan saat sabetannya di tangkis Prono Condro.


Tokoh rekanan dari adipati Sentono itu menatap ke arah kakek tua yang penuh rajah, tatto dan tindik di badan dan wajahnya.


"He..he..he...kurang seru kalau kau hanya bermain main dengan para kroco..!." ledek Sesepuh Gagak Hitam tersebut.


"Memangnya siapa kau..!, tua bangka..keparat...!!." ki Brajangan murka dan berteriak marah.


"He..he..he...tak usah ku sebut, nanti kau malah ngompol terkencing kencing di celana," balas Kakek Prono Condro, sambil mengerjap ngerjapkan matanya tanda meledek lawan.


"Dasaar ANJIING Kuraaapp...!!, berani kau menghina Branjangan sang pembasmi...!." seru ki Branjangan sudah meloncat menghantamkan senjata nya yang berupa Kapak cukup besar tersebut.


Wuuunggg...!!


Kapak tersebut terayun dengan kuat, menimbulkan suara dengungan yang memekakan telinga.


TAAANG....!!

__ADS_1


Hantaman kuat itu hanya di tangkis dengan santai oleh Prono Condro, menggunakan pedang tumpulnya.


Suara dentangan kuat terdengar nyaring.


Bagaikan menghatam karang kokoh Branjangan sangat terkejut, mengetahui kekuatan lawan.


Branjangan menarik nafasnya, makin meningkatkan kekuatan dari serangannya.


"HIAAAA...!!.''


Tokoh dari Barat daya tersebut berteriak keras, bergerak makin cepat menyerang Prono Condro.


Meskipun dirinya tak bisa di matikan oleh sembarang orang, namun tokoh itu tak bertindak gegabah.


Prono Condro tetap menangkis setiap serangan dari lawan nya.


Sambaran Kapak lawan makin bertubi tubi dan kuat, datangnya serangan dari Branjangan sang Pembasmi memang sangat hebat.


TRAANG..!


TRAANG...!!


CRAAAAAAKK...!


Sebuah sambaran Kapak berhasil menyambar dada kakek sesepuh tersebut, kini dada itu terbelah, menganga dengan darah mengucur deras dari sana.


"Mampuus kau...sudah tua masih bertingkah...!," ledek Branjangan, menatap luruhnya badan Prono Condro dengan dada terbelah ke tanah.


**


DUAAAARR....!


Hantaman tersebut membuat Parijoko terpental.


Jurus Pedang Melayang memang luar biasa, apalagi memang tingkat kependekaran Parijoko di bawah Saripan jadi bisa di tebak akan hasil hantaman serangan itu.


"Aaaarchh..!.''


Parijoko terlempar cukup jauh, wajahnya memucat seputih kapas menyadari lawannya berada di atas tingkatannya.


"Ha..ha...ha...sebentar lagi nyawamu pasti melayang..!!." teriak Saripan sambil tertawa terbahak bahak, melesat menghampiri badan sang senopati.


"HIAAA....!!.''


Tokoh itu kembali menebaskan pedang senjatanya dengan jurus yang sama yaitu Pedang Melayang.


WUUUUNNNG..


Gelombang serangan itu terdengar menggelegar, menebas ke arah Parijoko yang masih terkapar.


"Mati Akuu...!!."


Parijoko memejamkan matanya, pasrah akan nasibnya.


DUAAARR....!


Hantaman keras itu membentur sebuah pedang dengan aura daya tolak yang kuat.


Saripan terkesiap, hantamanya berbalik mental, terhadang oleh tembok tebal tak terlihat.


Pemimpin pasukan itu terpental, terlempar akibat ledakan kekuatan.


Parijoko yang semula pucat pasi kini tersenyum menyadari jika ada kekuatan yang melindunginya.


Jaya telah kokoh berdiri di depannya menghadang serangan jurus Pedang Melayang.


Saripan terbelalak matanya, menatap pemuda yang menangkis serangannya, dan berhasil membuatnya terpental.


"S..s-siapa... k.kau..!.'' dengan tergagap Saripan bertanya, mencoba bangkit dari terpentalnya.


"Tak perlu kau tau aku siapa, aku akan memberantasmu...!," seru Jaya sambil menuding Saripan dengan pedang Angin Puyuh.


Saripan mendengus kesal, "Kurang ajar...mau mengacau disini rupanya..!."


Kini tokoh itu sudah berdiri tegak sambil bersiap kembali, menyerang.


"Majulaaah...!," seru Jaya menantang.


Saripan menarik nafasnya, menghimpun tenaga berusaha mengeluarkan kekuatan terbaiknya di serangan kali ini.


"HIAAAAA....!." tokoh itu berteriak menggelegar mengayunkan pedang nya menebas Jaya degan jurus Pedang Melayang andalannya.


Jaya tak ingin membuang waktu, dirinya juga bergerak meloncat maju menghantamkan Selaksa Ombak Menerjang, dengan di padukan jurus Manggar Pecah.


BLEGAAAART...!!


Benturan itu terdengar cukup keras di banding beberapa benturan yang terjadi, hingga hampir semua menoleh memandang Saripan yang terpental.


"Aaarrchh...!," jerit Saripan melengking keras kemudian senyap, seiring badannya yang terlempar bergulingan dengan dada melesak dan nyawa ternyata sudah melayang.


Pasukan lawan kini sangat ketakutan apalagi Jaya langsung menerjang ratusan prajurit lawan dan membabat tanpa ampun, merangsek hingga mendekat ke arah Adipati Sentono.


Craaash...!


Craaash....!!


Sabetan pedang Angin Puyuh langsung memporak porandakan prajurit adipati Sentono, membuat sang Adipati meradang.

__ADS_1


___________


Jejaknya kaka....


__ADS_2