
Koloireng masih mengawasi pertandingan persahabatan dari dua kelompok tersebut.
Mulai dari pertandingan petarung tingkat sayur hingga yang lebih berbobot lagi.
Kali ini terlihat dua tetua dari dua kelompok itu yang akan bertanding.
Nampak terlihat salah satu tetua dari Tiga Pedang Surgawi yang bernama Gajah Suro tengah berhadapan dengan tetua dari Naga Hijau bernama Kamarunto.
Keduanya sudah berada di arena pertandingan.
Masih saling tatap, seakan mengawasi lawannya, mencari celah kelemahan dari masing masing.
Setelah menjura sebelum bertanding, kini keduanya sudah beraksi memainkan jurus jurus pembukaan.
"Hiaaa...!."
"Hiaaa...!!."
Keduanya sama sama melesat, maju melayangkan pukulannya.
DAAARR...!
Terdengar ledakan saat dua pukulan tangan kosong itu beradu.
"Hmm, lumayan..," sahut pelan Koloireng dari atas pohon di luar tembok pembatas, semakin intens menatap dua petarung tersebut.
Kakek itu sedikit tersenyum seakan mendapat hiburan tontonan gratis.
Makin lama pertarungan dua tetua itu makin cepat, memperagakan jurus andalan masing masih, hingga akhirnya keduanya mundur dan mulai mencabut senjatanya.
Gajah Suro dari kelompok Tiga Pedang Surgawi sudah mencabut dua pedang senjatanya, demikian juga dengan Kamarunto dari Naga Hijau sudah memegang tombak nya.
"Bisa kita mulai?," tanya Gajah Suro.
"Silahkan..," balas Kamarunto, sambil mengacungkan tombak kedepan.
Keduanya kembali bertarung dengan seru, Koloireng hanya melihat dengan sedikit mengangguk, "Memangnya ada apa kenapa semua orang nampak sibuk bekerjasama? dan memperkuat kelompok?.''
Merasa sudah cukup Koloireng meloncat turun melesat meninggalkan tempat tersebut.
**
Sementara itu kunjungan Prabu Wiramerta di markas Awan Putih sudah usai.
Rasa kangen dan penasaran terhadap cucu dan juga kelompok nya terbayar sudah.
Rasa senang dan bangga merasuki dada nya, begitu mendengar kehebatan kelompok Awan Putih dari cerita cerita perbincangan itu, meski dengan rendah hati Jaya mengingkari itu.
"Berkunjung lah ke istana Karang Doplang, bukan sebagi kelompok Awan Putih tapi sebagai cucu Kakek Prabu," kata Prabu Wiramerta sebelum berpamitan.
Pelangi dan Jaya mengangguk saja, "Kami pasti akan sowan ke istana Karang Doplang Yang Mulia Prabu," sahut Jaya sembari mengantar rombongan tersebut meninggalkan markas Awan Putih.
Prabu Wiramerta menghampiri Jaya, menepuk pundak nya, "Tetaplah menjadi sosok yang sekarang, suka membela kebenaran dan memberantas keangkaramurkaan," pesan prabu Wiramerta.
"Bantu kakek prabu membawa Karang Doplang menjadi kerajaan yang "gemah Ripah loh jinawi", agar rakyat kita merasa manfaat dari kehebatan mu," kata prabu Wiramerta kembali sebelum memasuki kereta kuda nya.
Jaya kembali mengangguk, mendapatkan pesan dari sang prabu.
"Kami pasti akan membantu negeri ini menuju ke sana." Jaya berkata menanggapi pesan prabu Wiramerta.
**
__ADS_1
Padang Selayang pandang adalah sebuah tempat lapang yang sangat luas, yang berada di wilayah Utara dari Kerajaan Agung Karang Kadempel, tepatnya di kerajaan kecil Bulak Sumur.
Hampir berbatasan dengan Kerajaan Agung Jongka Lengkong yang ada di Utara, tepatnya kerajaan Muara Padas yang ada di bawah naungan Kerajaan Agung di Utara tersebut.
Disana lah nantinya akan di adakah pertemuan Serikat Pendekar.
Letak Padang luas yang berada di ketinggian sebuah kawasan perbukitan tersebut menjadi tempat pertemuan yang sudah berlangsung berpuluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun lamanya.
Tanah lapang yang luasnya hingga beribu ribu tombak itu menjadi pilihan karena muat menampung ratusan bahkan ribuan orang yang nantinya pasti akan datang ke pertemuan itu.
Entah siapa yang menggagas pertama kali adanya pertemuan para pendekar dan berlangsung disana, semua seakan sudah seperti di takdirkan terjadi begitu saja, meski ada desas desus jika kelompok ini atau kelompok itu yang menggagas, namun kebenaran nya belum bisa di pastikan.
Semua kelompok biasanya akan berdatangan secara bersama atau sendiri sendiri di bulan kesembilan, dan pertemuan akan di adakah setelah purnama di bulan tersebut.
Hal ini terjadi begitu saja, tanpa adanya undangan dari siapa dan untuk siapa, karena semua menyadari jika dengan bertemu, berkumpul dan menunjukkan kekuatan yang dimiliki di pertemuan ini, maka kelompok nya akan mendapatkan pengakuan dan kedudukan yang kuat di mata dunia persilatan.
Jadi tanpa di paksa semua pasti akan melakukan untuk kebaikan dan keuntungan kelompok sendiri.
Biasanya setelah berkumpul disana ada pertarungan yang menentukan kelompok siapa yang akan menjadi penguasa dunia persilatan.
Dan di situlah akan terjadi trik dan intrik dari para kelompok yang ingin berkuasa di jagat persilatan.
Di pertemuan itu pihak pihak dari kerjaan juga akan datang dan mengawasi serta menyaksikan jalannya perebutan kuasa di dunia persilatan, agar mereka juga bisa bersikap bagaimana mengatur perpolitikan mereka.
**
Mentari bersinar cerah, meski hari masih pagi.
Di markas Awan Putih para tetua masih berlatih ilmu baru yaitu jurus Gelombang Awan Menerjang, gabungan dari berbagai ilmu yang di ajarkan Jaya kepada anggota Awan Putih.
"Kalian berlatihlah, aku akan melihat lihat lingkungan sekitar," pamit Jaya kepada para tetua yang masih berlatih.
"Baik Tetua Agung...!," sahut para tetua, sambil kembali berlatih.
Pemuda itu melesat tinggi ke awan hingga akhirnya menghilang tak lagi terlihat.
Dari ketinggian tersebut Jaya bisa lebih leluasa memetakan lokasi tempat markasnya berada, dan dari sana juga Jaya bisa melihat alam ini lebih luas lagi.
Berputar putar sesaat Jaya di angkasa melihat keseluruhan dari sekitar markasnya, mengitari hingga diameter ratusan tombak jauhnya, hingga akhirnya Jaya melihat sesosok bayangan hitam meloncat loncat menerabas lebatnya hutan, meski masih sangat jauh dari markasnya.
Jaya meluncur melesat turun saat sosok tersebut terlihat beristirahat di bawah pohon.
Sosok tersebut menarik perhatian Jaya, karena gerakannya sangat cepat jika di lihat dari udara, menandakan jika pasti bukan orang sembarangan.
Bagai seekor burung Jaya bertengger di atas pohon, menatap sosok yang terlihat tengah istirahat di bawah rindangnya dedaunan.
Awalnya sosok tersebut tak menyadari keberadaan Jaya yang diam duduk di dahan pohon, namun entah sejak kapan pria tua yang ternyata Koloireng itu menyadari ada seseorang yang tengah mengawasinya duduk di dahan pohon.
"Cck, sontoloyo...!, ada pengintai..!," gumam nya kesal, melirik kearah Jaya yang masih mengawasi nya dari ketinggian.
Ziiing...!
Merasa jengkel Koloireng melemparkan sebutir kerikil menyerang Jaya dengan gerakan asal asalan.
Wuuuus...!
Laaap...!!
Jaya meloncat menghindari lesatan kerikil yang meluncur secepat peluru tersebut.
Sedikit kaget Jaya mendapat serangan secepat itu, begitupun dengan Koloireng yang kaget, lawanya berhasil menghindari serangannya.
__ADS_1
"Heh, hebat juga kau..!, pantas berani mengintai ku kayak maling mengendap endap..!," seru Koloireng, bangkit dari duduknya.
Jaya hanya nyengir saja, merasa ketangkap basah mengintai Koloireng, meskipun sebenarnya dia penasaran siapa sosok tersebut yang memiliki kecepatan Luar biasa saat berlari.
"Maaf kek, aku tak berniat buruk, hanya penasaran dengan kehebatan kakek," balas Jaya meloncat turun dari atas pepohonan.
"Cuih, penasaran apanya..!?, itu perbuatan yang tidak sopan, mengintai dan mengawasi orang lain..!." bentak pria tua tersebut.
"Apalagi kau juga hebat, mampu menghindari serangan ku," sambung Koloireng, masih dengan kemarahan nya.
"Sekali lagi aku minta maaf kakek, jika telah mengganggu istirahat mu...!." seru Jaya berniat akan meninggalkan tempat tersebut.
"Heii..mau kemana ..! tak punya sopan santun..!," bentak Koloireng, meloncat mencegat Jaya yang akan meninggalkan tempat tersebut.
Jaya menghentikan langkahnya, menatap kakek tua tersebut.
"Apakah kau tidak penasaran bertukar beberapa jurus denganku ??." seru Koloireng kembali saat menyadari sosok pengintai nya berhenti.
"Begitu ya..??." sahut Jaya.
Koloireng mengangguk, berniat memberi pelajaran kepada pemuda kurang ajar di depannya.
"Baiklah jika itu mau mu kakek, tapi sepuluh jurus saja, setelah itu kita akhiri."
"Aku setuju, sepuluh jurus sudah cukup bagiku..!," sambut Koloireng, merasa yakin melumpuhkan pemuda di depannya.
"Kita mulai...!!," teriak Sang Betorokolo Koloireng langsung meloncat melepaskan serangnya.
Sebuah serangan yang sangat cepat menyambar ke arah badan Jaya.
"Heeh..!," Jaya terkesiap sesaat, membuang tubuhnya, kesamping menghindari sambaran tangan sang Kakek.
Serangan pertama lolos, membuat Koloireng kembali melesat dengan jurus yang sama menyerang Jaya kembali namun dengan kecepatan yang ditingkatkan.
Wuuuuss...!!!
Gerakannya sangat cepat, menyambar badan Jaya kembali.
Plaaakk...!!
Terpaksa Jaya menangkis hantaman tersebut, keduanya tersurut kebelakang.
Koloireng membelalakkan mata, hantaman nya mampu di tangkis oleh pemuda yang tak di duga nya.
"Sontoloyo...anak ini hebat sekali."
Kembali Koloireng menyerang bahkan kini makin bertubi tubi dan bernafsu menumbangkan Jaya.
"Delapan...!."
"Sembilan...!!."
"Sepuluh..!!," Jaya menghitung semua serangan dari Koloireng, dan saat serangan kesepuluh Jaya balas menyerang Koloireng dengan mengahantam dada sang kakek.
BLAAAAAARR...!!
Koloireng menangkis hantaman Jaya, dan terjadilah ledakan, badan Koloireng terpental beberapa langkah kebelakang, sedangkan Jaya sengaja meloncat mundur menghindar dan meninggalkan tempat tersebut, karena merasa tak punya permasalahan dengan pria tua tersebut.
"Selamat tinggal kakek, semoga kita bertemu lagi." teriak Jaya sambil melesat pergi.
"Kurang ajaar, bocah sedeng..!!," umpat Koloireng yang merasa sangat penasaran, dengan pertarungan itu.
__ADS_1
_________
Jejak nya....