
Malam itu dua rombongan yang kini bergabung menjadi satu terlihat sedang menikmati jamuan makan yang di adakan oleh saudagar yang bernama Suryadi.
Ternyata saudagar Suryadi berasal dari negeri Utara, tepatnya kerajaan Taliwang ada di bawah naungan Kerajaan Agung Jongka Lengkong.
"Jadi rombongan ini mau menuju kesana?"
"Benar pendekar, kita akan menuju kesana tepatnya kita akan kembali ke sana setelah mendapat kan barang dagangan, melewati kerajaan Ngarsopuro terus ke Utara."
"Kalau rombongan pendekar apakah juga searah dengan kita?," tanya saudagar Suryadi penuh harap.
"Ya kita memang akan ke Ngarsopuro namun setelah itu ke timur," balas Jaya sembari menikmati makanan yang di hidangkan nya.
Saudagar Suryadi sedikit kecewa, namun wajahnya kembali bersinar, setidaknya di kerajaan paling kacau ini masih bersama dengan rombongan pendekar ini.
"Hmm, aku akan menjamin kebutuhan makanan tuan pendekar beserta rombongan saat bersama kami dan selama perjalanan nanti," Suryadi berkata seakan rombongan Jaya terus bersama nya.
Kumala dan Pelangi tersenyum senang, menikmati makanan yang lezat lezat terhidang di sana, sedangkan Jaya hanya menarik nafas panjang.
**
"Haah..!, semudah itu kalian di kalahkan kelompok tersebut...!."
"Benar ..Tetua Agung..!, pasukan kita yang berjumlah limapuluh orang lebih hanya roboh dalam beberapa gebrakan."
Gambir Anom menarik nafasnya dalam dalam, "Memangnya mereka kelompok dari mana..?, sebegitu mudahkan mengalahkan Kliwon dan Gono Margo?."
Dua orang utusan yang melapor itu saling pandang, "Katanya dari negeri timur berasal dari kelompok Awan Putih.."
"Awan Putih??." gumam Gambir Anom.
"Benar Tetua."
Gambir Anom langsung menatap ke arah Dua Pisau Neraka, ke arah dua sosok kembar tersebut.
Keduanya langsung menggeleng menanggapi tatapan Tetua Agung, menandakan keduanya tak tahu akan kelompok tersebut.
"Aku jadi penasaran dengan kelompok ini, kelompok kecil tapi mampu menumbangkan Kliwon dan Gono Margo."
Dua Pisau Terbang juga mengangguk menandakan sangat penasaran dengan kelompok tersebut.
"Kita cegat mereka, aku penasaran seberapa kuat kelompok Awan Putih itu."
Kelompok Awan Putih kini mulai terkenal setidaknya di wilayah Kerajaan Agung Karang Pandan.
"Saya setuju Tetua Agung, kami juga penasaran dengan kelompok ini, aku harap pisau pisau ku akan menghajar mereka."
Mereka mengangguk bersama.
**
Pagi sudah menjelang, matahari sudah mulai bersinar semburat di ufuk timur. Burung burung terbang sambil berkicau menyambut hari baru tersebut.
Burung burung yang bergerombol terbang tiba tiba buyar, karena di kaget kan dengan sesosok pria yang terbang menyibak kerumunan itu.
Sambil mengangkat Pyong Karund, Sumantri terbang membelah angkasa.
"Kita istirahat di depan saudaraku.'
__ADS_1
"Aku ikut saja, karena kaulah yang terbang dan menggendongku..he..he..he..," sahut Pyong Karund sambil terkekeh.
Sosok tersebut melesat turun di sebuah hutan yang ada di bawahnya.
Dengan nafas sedikit cepat Sumantri duduk untuk memulihkan tenaganya, setelah mendarat di atas dahan pepohonan.
Sebenarnya Zirah pusaka sayap Garuda tersebut di gunakan berpasangan dengan zirah Tameng Jiwo, karena kedua baju perang itu saling melengkapi kegunaannya.
Zirah sayap Garuda bagi penggunanya akan sangat menguras tenaga, apalagi di gunakan secara terus menerus, apalagi penggunaanya hanya memiliki tenaga dalam setingkat Sumantri yang masih di tingkat Raja Emas, meskipun itu sudah merupakan tingkatan yang hebat, karena sangat jarang ada setingkat pendekar Dewa, apalagi pendekar Illahi.
Hanya dalam beberapa saat saja tenaga Sumantri sudah mulai pulih kembali, memang pendekar setingkat Raja apalagi sudah Raja Emas sangat hebat dalam pemulihan diri.
Pyong Karund yang duduk di sebelah Sumantri menjaga nya, tersenyum senang melihat rekannya sudah pulih dan mulai bergerak gerak melemaskan otot-otot nya kembali.
"Sebaiknya kita lewat darat saja, aku tak ingin menjadi beban untuk mu."
Sumantri mengangguk saja, "Baikah kita memang sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, saatnya kita lewat darat mencari berita kelompok tersebut."
Kini Pyong Karund yang gantian mengangguk mendengar perkataan Sumantri tersebut.
Keduanya kini meloncat turun dari atas pohon dan mulai berlari susul menyusul.
**
Pagi itu sebuah rombongan yang terdiri dari kelompok Jaya dan saudagar Suryadi kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka bergerak sedikit lambat karena kini harus mengimbangi kecepatan pedati yang sarat muatan.
Sebenarnya Kaya sudah malas jika harus seperjalanan dengan rombongan saudagar Suryadi, karena pasti akan lambat gerakannya.
"Lambat sedikit tak apa ya, Kakang?," Kumala berkata karena tahu Jaya sedikit keruh wajahnya.
"Kan enak.., kita bisa makan masakan juru masak saudagar, kakang," rengek Pelangi menimpali perkataan Kumala.
"Hmm," Jaya hanya mengangguk, dan wajahnya tak lagi di tekuk setelah dua gadis itu merajuk kepada nya.
Rombongan tersebut kini makin bergerak menuju ke kotaraja kerajaan Jogonolo.
Saudagar Suryadi kini menaiki kuda, beriringan dengan Jaya sekedar untuk mengakrabkan diri.
"Terimakasih pendekar, sudah sudi seperjalanan dengan kami."
"Sudahlah paman, tak usah di singgung masalah itu lagi, kita mungkin akan bersama hingga kerajaan Ngarsopuro."
Jaya berkata dengan wajah datar dan pandangan lurus ke depan.
"He..he..he..bagi kami, bisa bersama dengan pendekar seperti kelompok Nakmas ini suatu anugerah, bisa memberi rasa nyaman dan rasa aman," kata saudagar Suryadi kembali.
"Jangan begitu paman, sudah kewajiban kami selalu membuat lingkungan sekitar sesuai aturannya, tak perlu meninggikan kami, karena membuat kami menjadi sombong nantinya." Jaya berkata apa adanya.
Juragan Suryadi tersenyum, hal inilah yang membuat saudagar itu senang dengan kelompok Jaya atau Kelompok Awan Putih, meskipun hebat selalu merendah.
Mereka berbincang dengan santai sembari mengiringi rombongan tersebut menuju ke arah kotaraja Jogonolo.
**
Di belokan mendekati Kotaraja sekelompok orang nampak sudah bersiap seakan menunggu seseorang.
__ADS_1
Setiap yang datang dan mau masuk ke Kotaraja tersebut di periksa dengan seksama oleh orang orang tersebut.
"Jangan sampai lolos, aku penasaran dengan kelompok ini..!," teriak seseorang yang ternyata Gambir Anom.
Orang orang Pisau Terbang kini sudah memeriksa setiap orang dengan makin kasar, apalagi jika yang di periksa sedikit ngeyel malah tak jarang kena pukul.
Tiba tiba seseorang berlari dengan tergopoh gopoh, "Lapor Tetua..!!."
"Ada apa...??!!." teriak salah seorang yang terdekat dengannya muncul.
"Aku mau melapor kepada Tetua.."
"Melapor apa..?."
"Kelompok yang kita buru, Awan Putih."
"Ayoo..kalau begitu, Tetua Agung berada di sana," ajak anggota Awan Putih itu kepada temannya itu.
Dua orang itu langsung berlari kearah dimana para petinggi kelompok Pisau Terbang itu berada.
**
"Di depan ada sungai, setelah itu kita akan lebih dekat ke Kotaraja Jogonolo," kata Pyong Karund, memberitahukan kepada Sumantri.
Sumantri nampak diam hanya mengangguk saja.
Mereka berdua kini berjalan pelan sebagaimana orang biasa, karena akan mendekati sungai dimana sudah menunggu rakit yang menjadi penyebrangan orang orang.
"Hei...cepat kalian ingin menyebarang apa tidak..!," teriak penjaga rakit dengan galak.
Sumantri dan Pyong Karund hanya mendengus, dan mendekat ke arah rakit lalu naik ke atasnya bersama para penyebrang lainnya.
Mereka hanya terdiam tanpa berkata kata, mendengar setiap celotehan orang orang di sana.
"Aku dengar ada kelompok yang membuat Pisau Terbang meradang?." bisik seseorang yang masih berdiri di rakit sebelah kanan Sumantri dan Pyong Karund.
"Benar, mereka kini tengah di buru oleh tetua agung Pisau Terbang."
"Hah, berarti berita itu benar..?."
"Hmm." kata orang tersebut dengan menganggukkan kepalanya.
Sumantri dan Pyong Karund hanya manggut mangut mendengar informasi tersebut.
Setelah rakit merapat ke tepian, keduanya langsung menghampiri dua orang yang berbincang tentang kelompok yang di buru Pisau Terbang.
"Hei kisanak...apa benar yang kalian bicarakan tadi..?."
Kedua orang itu sedikit terkejut ada yang bertanya, namun mereka mengangguk membenarkan.
"Benar kisanak, ada kelompok yang bermasalah dengan Pisau Terbang, dan kini tengah di buru oleh tetua dari Pisau Terbang."
Pyong Karund mengangguk mendengar berita itu, "Terimakasih kisanak." kata Keduanya sebelum melesat pergi membuat dua orang yang memberi informasi itu ternganga melihat kecepatan kedua orang tersebut melesat pergi.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...
__ADS_1