
Para Pasukan Prajurit Batu sudah mengepung dan melingkupi reruntuhan istana Kekaisaran.
Semua penduduk yang ada di sana sedikit terkejut dengan semua itu.
"Ada apa ini?."
"Kenapa pasukan Dewa Perang mengepung tempat ini."
Semua terlihat ketakutan jika pasukan Prajurit Batu tersebut menyerang, melihat kekuatan mereka yang sangat mengerikan membuat para Dewa dan penduduk di sana bergetar hatinya.
Hanya Dewa Kebijaksanaan yang terlihat tenang saja, seakan tahu apa yang akan terjadi.
Semua masih terdiam, hanya pandangan mata yang berbicara.
"Ingsun Menantang Kaisar Dewa...!." teriak Cakra Tirta sang Dewa Perang, teriakannya cukup mengagetkan semuanya.
Kegaduhan pun terjadi di sana, bisik bisik sedikit keras mulai terdengar.
"Ada masalah apa?, mengapa sesama Dewa saling bertarung?."
"Ya..apakah semua ini ada hubungan nya dengan kepergian Dewa Perang?."
Semua yang tak tahu permasalahan akan bertanya tanya, namun bagi yang sudah sedikit faham hanya terdiam, tak ingin ikut campur urusan kedua petinggi Dewa tersebut.
Kaisar Dewa yang menyadari hal tersebut, langsung keluar dari reruntuhan Istana nya, semua ini mesti terjadi, dia melayang mulai mendekat kearah Dewa Perang.
Saat ini kedua sosok hebat di alam Dewa itu tengah berhadapan dalam jarak beberapa ratus meter, dan melayang di udara.
Tatapan kebencian jelas terlihat dari keduanya.
"Hmm, ingsun sudah menantikan saat saat seperti ini." sahut Kaisar Dewa dengan tenang, terlihat Pemimpin Dewa tersebut tak gentar untuk menghadapi Dewa Perang.
"Bagus, jika kau sudah tahu ini akan terjadi." Dewa Cakra Tirta mendengus pelan.
"Ha..ha..ha... Dewa yang terusir seperti mu berani menantang ingsun?." Kaisar Dewa, tertawa memancing kemarahan Dewa Cakra.
"Meski kau cukup hebat, namun Ingsun tak takut untuk menghadapi mu..," sahutnya lagi.
Dewa Cakra Tirta hanya menatap sinis, pandang nya terhadap Kaisar Dewa sudah jauh berubah tak seperti waktu dulu penuh segan dan penghormatan.
"Ingsun ingin merobek mulut dan mencopot Mahkota Kaisar Dewa mu sebelum nanti membuang mu."
"Baik..ayo kita buktikan siapa yang terhebat di antara kita...hanya kita berdua tanpa pasukan yang kau bawa itu," Kaisar Dewa menunjuk ke arah pasukan batu, kemudian mulai menggerakkan tangan.
Kedua tangannya kini diangkatnya perlahan, meski gerakan tersebut pelan namun membuat angin keras terasa mulai berputar.
"Meraut Badai Menyebar Murka...!."
Alam seperti bergolak, putaran angin makin terasa kencang, semua bongkahan dan puing puing mulai terangkat dan mengikuti putaran angin tersebut.
"Hantaaam...!!." teriaknya.
Seiring teriakan tersebut semua serpihan dan bongkahan bersama angin yang cukup keras melesat menghajar ke arah Dewa Cakra Tirta.
GRADAAAAK...
BLAAAAAAARR....!
Semua kekuatan itu menabrak ke depan, namun kemudian terjadi ledakan yang cukup kuat.
Gelombang kekuatan yang bergulung gulung menahan dan menghajar balik serangan Kaisar Dewa.
__ADS_1
Dewa Cakra Tirta sudah menghantamkan jurus 'Selaksa Ombak Menerjang' untuk mengimbangi serangan lawan.
Ledakan tersebut membuat material yang menghantam tadi terburai dan terlempar ke segala arah.
Kaisar Dewa mulai mengeluarkan sebuah pedang ungu dari ruang Dimensi nya, sebuah senjata yang sangat kuat terlihat disana.
Begitu senjata itu di keluarkan aura keunguan mulai menyebar di seluruh wilayah tersebut.
Awan mendung seketika tercipta dengan angin yang mulai berputar liar.
Nampaknya kekuatan petir angin mulai merasuki tempat tersebut.
"Akan ku hancurkan kau dengan kekuatan Petir Dewa Kesengsaraan ku..!."
Cakra Tirta hanya tersenyum acuh tak acuh, melambaikan tangannya.
"BADAI MATAHARI...!." teriaknya sambil mengeluarkan sepasang tombak dan tamengnya.
Kini Dewa Cakra Tirta sudah menghunus tombak kyai Seto Ludiro serta tameng Wojo Digdoyo di tangan kirinya.
Begitu kedua senjata tersebut muncul, cahaya keemasan matahari mulai menepis aura kabut ungu yang di ciptakan Kaisar Dewa.
Dua kekuatan tersebut saling menekan dan menghancurkan.
"PETIR KESENGSARAAN...!!."
Pedang Kaisar Dewa berkelebat seiring teriakan sang Kaisar Dewa, menebas kedepan.
Bayangan pedang raksasa yang tercipta di belakang sosok Kaisar Dewa, melesat dengan cepat ke arah Dewa Perang.
Bayangan pedang raksasa dengan kekuatan petir ungu yang terlihat dahsyat itu menyasar tubuh lawannya.
Alam kembali bergolak, udara terasa mendidih sepanjang lintasan serang itu seperti mengering terpanggang oleh panasnya petir kesengsaraan.
Melihat lawan menyerangnya Dewa Cakra langsung melawannya, sebuah sinar putih yang sangat menyilaukan keluar dari ujung tombak kyai Seto Ludiro.
Cahaya sangat panas yang merupakan esensi dari matahari itu melesat menghantam ke depan.
WWOOOOZZZZ...
BBOOOUUUUUUUMMMMMMMMM.......!!
Dua kekuatan maha dahsyat bertemu, menggetarkan Alam Dewa, menciptakan gelombang tsunami kekuatan yang melempar kan apapun sejauh puluhan kilometer.
Untungnya semua sudah menyingkir menjauh dari wilayah tersebut hingga ratusan kilometer dengan dipimpin para Dewa melalui portal dimensi pemindah.
Danau kering tercipta dari tubrukan dua kekuatan tersebut.
Sungguh kekuatan maha dahsyat yang mampu di ciptakan dalam sebuah pertarungn.
Kekuatan panas yang mampu membakar apapun dan meleleh senjata senjata lawan.
Kaisar Dewa terlempar beberapa kilometer, dari sudut bibirnya mengalir darah kental, hantaman tadi membuat beberapa Raga Abadi nya rontok berguguran.
"Dewa Perang memang sangat kuat."
Sosok Pemimpin Dewa tersebut mengusap darah di sudut bibirnya.
Dewa Perang terdorong beberapa ratus meter, benturan dua kekuatan tersebut sedikit menghempas kan dirinya.
"BADAI MATAHARI LEVEL TUJUH...!"
__ADS_1
Tak ingin membiarkan lawannya terlalu lama untuk memulihkan diri, Dewa Cakra sudah kembali melesat ke depan sambil menghantamkan serangan yang bahkan lebih kuat dari serangan pertama tadi.
Gelombang panas sejauh puluhan kilometer langsung menerjang ke arah Kaisar Dewa.
"Perisai Petir Kesengsaraan...!.'' Kaisar Dewa menjerit.
Kaisar Dewa menciptakan sebuah benteng pertahanan dari petir ungu setinggi ratusan meter dengan lebar beberapa kilometer.
gelombang cahaya ungu makin memadat dan menguat seiring berjalannya waktu.
ZOUUU... ZOUUU....
BOOOUUUUUUUUMMMMMMMMM....!!
Badai gelombang panas menghantam kearah benteng ungu petir kesengsaraan, menciptakan sebuah ledakan yang kembali menggelegar menyebabkan Alam Dewa kembali bergetar.
Langit dan bumi Alam Dewa seperti terbelah dengan benturan kekuatan maha dahsyat tadi.
"AARRGH..!." Kaisar Dewa kembali terlempar bersama rontoknya Raga Abadi disertai lolongan jeritan panjang.
"Ingsun musnahkan Raga Abadi mu... sebelum ingsun buang kau ke alam lain..!," ancam Dewa Cakra Tirta sambil kembali melesat.
"Keparaat..! ingsun bahkan tak sempat menyerang balik..," Kaisar Dewa nampak muram melihat seberkas cahaya yang kembali melesat dengan kecepatan sangat tinggi.
BLEEEGAAAAAAAAAAAAAAAART......!
Booomm...... SSRRAAAAKKKK.....
Ledakan kembali terdengar, di sertai dengan badan Kaisar Dewa yang terjatuh di daratan dan terseret hingga beberapa kilometer.
Parit panjang tercipta dari seretan badan Kaisar Dewa tersebut.
Nafasnya tersengal sengal, wajahnya kini sudah memucat, jurus andalan nya yaitu Petir Kesengsaraan ternyata kalah jauh dengan pancaran Badai Matahari lawan.
Panas Petir Kesengsaraan yang luar biasa masih bisa di telan oleh gelombang panas Badai Matahari, membuat Pemimpin para Dewa itu di ambang kehancuran.
Lapisan Raga Abadi nya kini makin menipis, jika itu benar benar terjadi maka dirinya tak ubahnya manusia biasa yang hanya memiliki satu nyawa, sangat riskan.
Dewa Perang kembali berturut turut menghajar Kaisar Dewa, membuat Kaisar Dewa makin lemah.
Hingga akhirnya kini hanya tinggal beberapa lembar saja Raga Abadi nya.
"Ingsun mengaku kalah.....," Kaisar Dewa terdengar berkata memelas dengan nafas tersengal sengal, raga abadi nya kini hanya kurang dari lima lembar, bagi dewa itu sudah menakutkan.
Dewa Cakra sudah menginjak dada sang Kaisar yang terbaring lemah.
PRAAKKK...!!
Dewa Cakra menghantam mahkota yang bertengger di kepala sang kaisar hingga terpental dari tempat nya, membuat Kaisar tersebut tak ubahnya anjing pesakitan.
"Ingsun masih berbelas kasih kepada mu, ingsun tak ingin mengotori tangan dengan mencabut nyawamu."
"Ingsun akan membuang mu sebagai mana kau pernah melakukan hal itu."
Dewa Cakra kemudian membuat portal dimensi, lalu melempar tubuh Kaisar Dewa yang sudah lemah ke dalam lorong cahaya tersebut.
Lorong cahaya yang akan mengantar sang Dewa ke alam Iblis.
Sebuah hukuman yang menakutkan, lebih baik di penjara di bawah tanah daripada di buang di alam iblis yang merupakan musuh alami para Dewa.
______________
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya..baca juga karya baruku