Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Penyerangan di Tiga Batu Jajar


__ADS_3

Junara sang Tetua Agung Bayangan Kegelapan sudah berdiri tegak dengan dua pendampingnya di sisi kiri dan kanan.


Sementara Tetua lainnya berdiri di tiap tiap seratusan anggota yang di bawa nya.


"Tak ada ampun bagi kalian, agar kedepannya tak ada lagi kelompok yang menyepelekan Bayangan Kegelapan."


Tetua Sarino, pemimpin Tiga Batu Jajar sudah pucat pasi wajahnya, kemarin saja yang hanya kurang dari seratus anggota Bayangan Kegelapan sudah mampu untuk memporak porandakan perguruannya, apalagi kini lebih dari lima ratusan orang, bisa di pastikan perguruan Tiga Batu Jajar akan tinggal nama.


Koloireng sudah melesat maju ke depan berdampingan dengan tetua Sarino, demikian juga dengan Pitu Geni dan Baroto.


"Akan kami musnahkan kalian seakar akarnya." kata Junara, sambil menatap pongah ke arah lawannya.


"Tak akan semudah itu kalian menghancurkan kelompok ini..!," Koloireng menyahut perkataan Tetua Bayangan Kegelapan tersebut.


Junara hanya menyeringai, menatap ke arah Koloireng, seakan menelisik orang tua tersebut. "Hmm, berani sekali kau orang luar ikut campur masalah di sini..!, siapa kalian dan dari mana?."


"Kami dari kelompok Awan Putih, sengaja ikut campur untuk menghentikan para begundal macam kalian..!." kali ini Pitu Geni menyela percakapan itu.


Junara sedikit terkejut dengan pengakuan Pitu Geni, meski kelompok mereka tak mengikuti kegiatan di padang Selayang Pandang, namun semua tahu kiprah kelompok tersebut seperti apa, "Hmm, kelompok hebat namun sayang kini kehilangan Tetua Agungnya karena mati, " balas Junara, dengan tak ada ketakutan sama sekali, menurutnya kehebatan Awan Putih hanya ada pada sang Tetua Agung nya saja.


"Heeii..jaga mulutmu..!, Tetua kami tak mati dalam pertempuran itu..!, dan meski tanpa Tetua, kami tak takut padamu..!." Baroto sedikit marah ketika sang Tetua di katakan tewas dalam pertarungan, meski dirinya ragu kini dimana keberadaan nya.


Junara mendengus, mengedarkan pandangannya, setelah merasa semua berada dalam Posisi dia memerintahkan penyerangan, "HANCURKAAAN...!!."


Maka pertempuranpun tak dapat di hindari lagi, dengan teriakan perintah penyerangan itu, anggota kelompok Bayangan Kegelapan menghambur menyerang semua yang ada di perguruan Tiga Batu Jajar.


Koloireng maju meloncat kearah Junara, karena sosok itulah yang menentukan pertempuran itu terjadi, jika dia di kalahkan terlebih dahulu pasti pertarungan akan lekas selesai.


"Akan ku hentikan kau kisanak..!." seru Koloireng, maju mencoba menebas lawannya.


Sriiing...!


Pedang yang jarang di gunakan oleh tokoh legenda Mata Iblis itu kini berada di genggamannya, bergerak menebas ke arah Junara.

__ADS_1


Junara hanya terdiam, namun dua sosok yang berada di kanan dan kirinya maju menghadang gerakan sang Betorokolo.


Sreeett...!!


Sebuah serangan dari sebuah Jangkar dengan rantai dan mata tiga kail melesat meluncur menghadang laju gerakan Koloireng.


Traaang...!!


Koloireng yang berniat menyerang terlebih dahulu malah di sambut oleh serangan yang senjata aneh yang tiba tiba meluncur menghadangnya.


"Hua..ha..ha...hadapi dulu dua pengawalku..!," Junara tampak tergelak, melihat Koloireng tercekat sedikit kaget dengan terjangan dua pengawal Junara, yang langsung menyerang dengan lugas dengan senjata anehnya.


Koloireng, terdorong mundur begitu menepis serangan sosok berjubah yang menahan serangannya tadi.


"Kuat juga tenaga serangan sosok ini.''


Sreeett...!!


Sosok kedua langsung melepas serangan dengan senjata yang mirip, yaitu Jangkar berantai dengan tiga mata kail.


**


Namun banyak juga kelompok yang diam diam hadir di sana, sebagai kelompok gelap alias pengintai, salah satunya adalah kelompok Bayangan Kegelapan, yang saat itu di hadiri langsung oleh sang Tetua Agung bersama beberapa tetua.


Junara adalah salah satu sosok yang menghadiri pertemuan di Selayang Pandang sebagi pengintai atau kelompok gelap dan liar, dirinya hanya ingin memjadi pengintip berniat mengambil apa yang bisa di ambil dalam pertemuan tersebut, seperti pusaka maupun harta benda dari para korban.


Dan benar saja, saat terjadi Kli-maks dalam pertemuan yang berakhir ricuh itu dia mendapat harta sangat berharga, yaitu sepasang pengawal dari Rumbaka si mayat.


Saat itu Rumbaka yang tengah sekarat mencoba mengendalikan dua sosok Kiwo dan Tengen untuk membantunya melarikan diri dari palagan, namun saat itu Kiwo dan Tengen juga masih memulihkan diri badannya belum balik sempurna sehingga tak merespon dengan baik apa yang di perintahkan tuannya, dan itu semua berhasil di pelajari oleh Junara yang ada di dekat sana, hingga akhirnya Rumbaka mati terbakar oleh panasnya Badai Matahari yang terus menjalar menggerogoti badannya tak mampu di tahannya, akhirnya Junara berhasil mendapatkan mustika dari Rumbaka, yang mampu membuat dua sosok Kiwo dan Tengen menurut dan bisa di kendalikan nya.


**


Jaya sudah meninggalkan markas Awan Putih, setelah pagi tadi memberikan sepatah dua patah kata sambutannya setelah lama tak berada di markas itu.

__ADS_1


Semalam hanya ada beberapa orang saja yang bisa langsung bertemu di pendopo dalam dan itupun kebanyakan para petinggi hanya sedikit anggota, dan pagi tadi di halaman belakang (Lapangan belakang) Jaya bersama seluruh penghuni Awan Putih melakukan pertemuan semacam apel besar menyambut sang Tetua Agung tersebut.


Jaya tengah melayang di angkasa, dirinya selalu menyelimuti tubuhnya dengan kabut ciptaanya, agar tak terjadi kegemparan dengan adanya dirinya yang bisa terbang.


Pandangannya memutar ke seluruh jagat raya, seperti seekor elang mencari mangsa, hanya petunjuk dimana letak perguruan Tiga Batu Jajar yang di dapat dari orang Awan Putih yang menjadi acuan terbang Jaya kali ini.


"Apakah yang terlihat berasap itu markas perguruan Tiga Batu Jajar?.''


Dari jarak yang cukup jauh, Jaya bisa melihat asap membumbung tinggi ke awan, dengan banyak pertempuran terjadi di sana.


**


Baroto dan Pitu Geni membantu para Tetua dari Tiga Batu Jajar menghadapi gempuran petinggi Bayangan Kegelapan.


Serangan serangan yang sangat hebat di lancarkan oleh kelompok tersebut.


Keganasan kelompok golongan hitam itu tak di ragukan lagi, bahkan kelompok itu juga sudah membakar sebagian bangunan dari hunian perguruan Tiga Batu Jajar.


Asap tebal membumbung tinggi, banyak bangunan yang sudah di bakar membuat perguruan itu kini terlihat porak poranda.


"Meski kalian di tolong Awan Putih, tak akan membantu perguruan ini selamat..!," ledek salah satu tetua Bayangan Kegelapan yang tengah bertarung dengan Sarino.


"Lihatlah akibat keras kepalamu.. perguruan ini hancur..!."


Sarino hanya mendengus saja, baginya lebih mati daripada menjadi antek dari kelompok golongan hitam.


"Tak ada yang lebih membanggakan bagi kami, selain mati dalam mempertahankan harga diri..!." balas Sarino kepada lawannya.


Sementara itu Koloireng tengah di sibukkan oleh dua lawan yang ternyata tak bisa mati tersebut.


Setiap tebasan dan hantaman yang di lancarkan sang legenda itu selalu membuatnya kecewa karena lawan selalu pulih kembali seperti sedia kala.


"Sontoloyo, jika begini lama lama aku bisa mati konyol," gumam Koloireng sedikit meracau.

__ADS_1


__________


Jejaknya......


__ADS_2