Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Membangkitkan Pasukan Batu


__ADS_3

Cakra Tirta Sanjaya telah berada di istana Dewa Perang, hampir semua penghuni istana Ungu kini ikut berpindah ke wilayah tersebut karena di perkirakan di istana Dewa Perang akan lebih aman.


Hanya sebagian kecil penghuni istana Ungu yang masih bertahan di sana.


Saat ini Cakra Tirta tengah berada di ruang rahasia, tepatnya ruang bawah tanah istana Dewa Perang.


Sebuah ruang yang sangat luas dengan hawa cukup menenangkan.


Meski itu ruang bawah tanah namun udara segar terasa di sana, udara itu tercampur dengan aura aneh serta kabut tipis yang seperti menjaga tempat itu dari kerusakan.


Di tengah tengah ruangan yang sangat luas itu tertata ratusan bulatan batu yang berjajar.


Bulatan bulatan tersebut nampak rapi berjajar, di tata sedemikian rupa, hingga memenuhi hampir seluruh ruang yang luar biasa luas itu.


Jika orang biasa melihat perwujudan itu, mungkin menganggap itu hanya seonggok batu besar yang di tata sedemikian rupa untuk keindahan.


Namun itu salah, karena sesungguhnya ratusan bulatan batu itu adalah prajurit batu yang tengah tertidur.


Sebelum mencapai tengah ruangan dimana bulatan batu teronggok yang senantiasa terselimuti asap tipis aneh, di sekeliling area tengah terlihat samar garis pembatas, sebuah garis yang seakan membatasi tempat itu dengan wilayah lain.


"Hmm, tak kusangka warisan Dewa Perang sedemikian hebat." Cakra Tirta Sanjaya menatap keseluruhan itu dengan penuh ketakjuban.


Pasukan Batu adalah sebuah warisan keutamaan yang di miliki Dewa Perang, meski dirinya sebagai Dewa Perang menggantikan Dewa Perang terdahulu, belum sekalipun Dewa Cakra Tirta Sanjaya memanfaatkan pasukan tersebut, bahkan baru kali ini dirinya melihat dan berada di ruang tersebut.


Hanya dari naskah kuno yang ada di Roh kitab pusaka Dewa Perang yang memberi tahukan segala informasi itu, Roh kitab pusaka yang kini sudah menyatu di otaknya saat memulihkan ingatannya di lembah Kedungpuru.


Jaya Sanjaya atau Dewa Cakra Tirta Sanjaya kini menatap semua yang dilihatnya dengan beragam perasaan.


Dia menghela nafasnya dengan sedikit berat, bukan perkara mudah untuk membangkitkan Pasukan Batu Dewa Perang, ada ujian yang harus di tempuhnya agar pasukan tersebut mau tunduk kepada nya.


Menurut naskah kuno dari Roh Kitab Pusaka Dewa Perang yang ada di alam pikirnya, memberitahu kan bahwa tak semua Dewa Perang bisa menaklukan Pasukan Batu.


Tercatat dalam sejarah catatan Roh Kitab Pusaka, hanya Dewa Perang Pertama dan Dewa Perang Ke sembilan yang berhasil mengendalikan pasukan itu, dan saat ini dirinya yang akan kembali membangkitkan nya.


Cakra Tirta Sanjaya menatap garis batas yang memisahkan antara saat ini dia berdiri dengan area bulatan bulatan batu.

__ADS_1


"Jika Aku melangkah ke area itu, maka semua ujian baru akan di mulai," Cakra Tirta bergumam sambil masih mengawasi garis tipis tersebut.


**


Di wilayah istana Kekaisaran Dewa, perang makin ramai.


Ribuan mayat kini bergelimpangan di sana, mereka adalah mayat para Dewa dan mayat iblis.


Bisa di bayangkan bagaimana dahsyat nya Pertarungan dua Ras yang tak mudah mati itu.


Untuk membunuh sosok Dewa dibutuhkan ratusan kali bahkan mungkin ribuan kali serangan yang mematikan, demikian pula untuk membunuh sosok Iblis yang bisa meregenerasi anggota tubuh nya juga di butuhkan serangan ratusan hingga ribuan kali serangan mematikan.


Jika saat ini ada ribuan mayat bergelimpangan di sana bisa dibayangkan bagaimana cara mereka saling bunuh, untuk mematikan lawannya.


Tentu saja sangat menakutkan, bahkan mungkin teknik teknik pembunuhan tersebut berada di luar batas dari pemikiran.


Di angkasa masih terlihat duel duel antara Dewa dan Iblis.


Bukan hanya satu atau dua pertarungan, namun ada ratusan ajang pertarungan terlihat di langit, salah satunya yaitu Dewa Kebijaksanaan yang masih melawan Panglima Iblis iblis Merah Moyaka serta Pemimpin Dewa Pemusnah yang juga masih melawan Iblis Roku atau Panglima Iblis Hitam.


Pertarungan pertarungan itu sudah benar benar merusak Alam Dewa, untungnya alam Dewa lebih luas serta dimensi nya lebih kuat daripada alam manusia, meski demikian alam itu juga terlihat kacau.


Namun nampaknya Panglima Iblis Merah Moyaka juga memiliki senjata yang tak kalah menakutkannya, yaitu Rakasa Merah bernama Buto Kolo.


Bersama dengan Buto Kolo, Panglima Iblis Merah bahu membahu melawan Dewa Kebijaksanaan, keduanya mengeroyok sang Dewa dengan sangat ganas.


Berkali kali senjata Buto Kolo sebuah Gada yang sebesar apartemen itu menghantam dan menyerang Dewa Kebijaksanaan yang terlihat sangat kecil.


Pertarungan sudah berlangsung selama ratusan bahkan ribuan jurus, namun belum ada pemenang yang bisa di katakan.


Keduanya masih terus bertempur dengan sengit.


Demikian pula dengan Pemimpin Pasukan Dewa Pemusnah yang menghadapi Panglima Iblis Hitam Roku.


Kedua sosok itu masih bertarung dengan tak kalah sengit.

__ADS_1


Awan seperti tersibak, gunung gunung langsung luruh saat kedua bertarung di sekitar nya.


Jika keduanya bertarung di laut, maka lautan sekitar menjadi mendidih karena kekuatan yang menguar dari kedua sosok itu.


Bukan hanya mereka yang bertarung dengan luar biasa seru, di sebelah yang lain nampak Kaisar Dewa tengah bertarung dengan sang pemimpin serangan yaitu Raja Agung Iblis.


Pertempuran keduanya makin menakutkan.


Hempasan hempasan pukulan menyapu ke segala arah hingga puluhan kilometer jauhnya, saat mereka beradu serangan.


Dua sosok yang menjadi pemimpin dari Ras-nya tersebut terlihat sangat ingin memusnahkan kehidupan musuh nya.


**


Cakra Tirta sudah melangkah melewati garis batas area Pasukan Batu berada.


Alam tiba tiba berbalik, tiba tiba Cakra seperti di lempar ke sebuah alam yang sangat kuno.


Alam dengan aura sangat kuat yang seakan mengikat dan memaku nya.


Jangankan untuk melangkah untuk bernafas saja terasa susah.


"Ha..ha..ha...sosok seperti ini mau menaklukan anak buah ku?." sebuah suara terdengar menggelegar di alam tersebut.


Cakra Tirta sesaat terkejut, terdengar suara namun tak nampak wujud dari sosok nya.


"Hmm, nampaknya ini roh pemimpin Pasukan Batu."


Di sebutkan di dalam catatan naskah kuno, jika ingin menguasai Pasukan Batu harus mengalahkan pemimpin nya terlebih dahulu.


Dan dalam catatan pula, hanya ada dua Dewa Perang yang mampu melakukan itu yaitu Dewa Perang Pertama dan Dewa Perang Ke Sembilan, itu pun sudah terjadi milyaran tahun kehidupan yang lalu.


Umur Dewa memang bisa mencapai hingga ribuan tahun lamanya, sebelum akhirnya Moksa atau terbunuh lawannya.


"Apa kau cukup memiliki kemampuan hingga berani melakukan ini?."

__ADS_1


Suara meremehkan terdengar kembali, membuat darah Cakra Tirta mulai mendidih.


"Akan Ingsun buktikan jika ingsun layak memimpin dan menguasai kalian."


__ADS_2