Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Makin Kacau


__ADS_3

Nampak seorang pria paruh baya terlihat merah wajahnya, kemarahan jelas terpampang disana.


"Kurang ajar...!, kelompok baru saja..!, berani bertingkah..!."


Rupanya pria itu adalah tetua Satu dari kelompok Tinju Baja yang bernama Baroto Sarkawi,terkenal dengan julukan Balung Wesi.


Kini kedua tangannya yang terlihat hitam legam sebatas lengan akibat dari pengaruh jurus Tinju Baja yang menjadi andalan kelompok tersebut, terlihat terkepal begitu mendapat laporan anak buahnya.


"Iya...benar benar berani bertingkah itu kelompok, tak memandang keberadaan kita..," sahut tetua Dua berkomentar, seakan makin menambah panas suasana saja.


"Memangnya kurang ajar..!." yang lain nampak bersahut sahutan saling mengumpat.


"Kita datangi saja kelompok itu, dan kita hancurkan saja mereka..!," kata tetua Empat mengusulkan.


"Benaar...!!."


"Setujuu...!!.''


Teriak orang orang itu bersahut sahutan.


Tetua satu terdiam sejenak, mungkin sedang berfikir dan menimbang usulan anggota yang lainnya.


**


"Bagaimana dengan berita putriku guru Benowo ? guru Jayeng Rono..?."


"Mereka dalam keadaan baik baik saja Yang Mulia, bahkan kini sang Putri sudah menjadi murid dari tokoh sakti itu, dan tak ada yang berani mengusik nya." jawab guru Benowo, Jayeng Rono hanya mengangguk angguk saja di samping Kakak seperguruannya tersebut.


"Semoga anakku dalam lindungan pemilik jagat..," sahut ibu ratu Arumi Wiramerta dengan raut wajah yang sedih.


"Kita bersyukur kedua tokoh sakti itu mau menolong." kata sang Prabu Danar Kencono lagi.


Semua menganggukkan kepalanya membenarkan hal itu, apa jadi nya jika tak ada Sepasang suami istri sakti tersebut, pasti hingga kini akan selalu di recoki oleh orang orang jahat pemburu pusaka.


"Aku sebenarnya ingin mengunjungi anakku tapi melihat situasi saat ini yang makin memanas, aku sangsi jika keinginan ku akan memberi dampak baik."


"Bisa bisa malah akan membahayakan kita semua."


"Benar Yang Mulia.., keadaan makin memanas, semua serba menggila," sahut Patih Ngarsopuro.


"Sekarang bukan hanya orang orang persilatan tapi juga kerajaan kerajaan mulai makin bernafsu menunjukan kekuatan." kata sang Patih lagi.


Memang semua kini berada dalam situasi menegangkan, bagi api dalam sekam yang bisa saja tiba tiba terjadi kebakaran, dengan hanya di picu oleh masalah kecil saja ujung ujungnya pasti peperangan, apalagi yang merasa memiliki kekuatan.


"Iya aku tau makanya aku tak memaksa mengunjungi putri ku."


**


Nampak beberapa orang berkelebat melesat berlari dan sebagian berkuda menuju ke suatu tempat.


"Ayo cepat..!, kita beri pelajaran kelompok itu..!.'' teriak seseorang yang menjadi pemimpin kelompok tersebut.


Nampaknya beberapa tetua kelompok dari Tinju Baja yang kini memimpin anggota nya untuk menyambangi rombongan Jaya.


Terlihat tetua Dua dan tetua Empat nampak berkuda diiringi beberapa orang yang juga berkuda dan berlari menuju ke arah hutan Lirboyo dimana tempat lokasi markas Awan Putih berada.


Beberapa orang itu kembali melesat menggenjot lari nya dan memacu kuda nya menuju ke arah hutan Lirboyo.

__ADS_1


"Masih jauh kah tempat nya..?."


Sebentar lagi tetua, satu kali belokan kita sampai di lokasi mereka.


Ya saat ini tempat itu masih berupa hutan yang lebat, sepanjang jalan masih penuh dengan pepohonan yang liar, hanya saja jalur tersebut sudah merupakan jalur utama lintas Kerjaan Agung.


Rombongan itu melewati belokan jalanan dengan pepohonan yang lebat, dari sana sudah terlihat jauh di depan ada hamparan rerumputan yang tak di tumbuhi pohon besar dan nampak sedang di bangun beberapa hunian.


"Itukah markas kelompok itu..?." tanya tetua Dua dengan tatapan meremehkan.


"Benar tetua...itu markas kelompok yang menamakan dirinya Awan Putih.."


"Ayo cepat...!, tak sabar aku ingin menghajar mereka..," kata tetua Empat.


Mereka makin bergegas menuju markas Awan Putih.


**


"Aku belum bisa membawa pulang Pusaka itu .," kata Ratu Dewi Mata Iblis pelan, jelas sekali ada beban di sana saat dia melaporkan misi gagal nya.


Pemimpin Agung Mata Iblis hanya memandang sang permaisuri dengan tatapan yang sulit di artikan.


Meskipun mereka suami istri namun jelas sekali tak ada keharmonisan di sana.


Semua memerankan karakter nya masing masing sebagai pemimpin kelompok tersebut dengan baik.


Hanya formalitas sebagi seorang Raja dan Ratu di kelompok itu yang menyatukan keduanya.


"Ya..aku pasti tau itu.."


"Apa maksud mu..?." tanya Ratu Dewi Mata Iblis menatap laki laki yang selama ini di nobatkan sebagai Pemimpin Agung di kelompok itu.


"Jaga ucapan mu..jangan meremehkan ku..!, aku bisa saja membuka kedok mu jika aku mau.. Pemimpin Agung..!." teriak Ratu Dewi Mata Iblis mulai berang.


"Aku rasa kau tak akan mau, karena itu sama dengan membuat diri mu terusir dari kelompok ini..!."


"Dan aku yakin kau tak mau tersingkir dari jabatan mu sebagai sosok Ratu di kelompok ini kan..?."


"Begitu juga dengan dirimu..kau pasti juga tak mau menjadi buronan kelompok ini jika aku ungkap semua kelakuanmu saat merebut posisi pemimpin Agung kan..?," ancam sang Ratu dengan tatapan tajam dan sinis.


Keduanya kembali terdiam saling melempar pandangan, saat ini hanya ada dua orang tersebut di ruangan itu, mereka tak perlu bersikap menjadi sosok lain dengan menjaga wibawa nya.


"Aku akan mencoba mencari pusaka lainnya, dan ingat jika aku membawa pusaka itu maka kau akan menjadi bawahan ku..!," kata sang Ratu pelan namun penuh penekanan.


"Hmm..begitu juga aku, jika aku berhasil mendapatkan nya kau akan kehilangan posisimu sebagai Ratu di tempat ini."


"Ya kita buktikan siapa yang akan tersingkir disini."


**


"Aku ingin bertemu pemimpin tempat ini...!!," sebuah teriakan menggelegar, dengan di lambari kekuatan tenaga dalam yang tinggi.


Orang orang dari Tinju Baja tersebut sudah berdiri di depan markas Awan Putih yang kini sudah berdiri beberapa bangunan meskipun masih belum sempurna.


Jaya Sanjaya dan Sepasang Raja Pedang langsung melesat ke depan diikuti oleh Sumanjaya.


beberapa pekerja kini sudah menghentikan pekerjaannya, begitu ada ribut ribut di depan, namun semua kembali mundur kebelakang setelah tau jika yang datang adalah orang orang Tinju Baja, mereka ketakutan terkena imbas nya.

__ADS_1


Oleh Narimo mereka tetap di suruh bekerja seperti biasa, "Kalian bekerja lah seperti biasa, aku yakin Nakmas Bendoro bersama para tetua bisa menyelesaikan masalah ini." kata Narimo menenangkan orang orang awam dunia persilatan tersebut.


Semua mengangguk dan kembali bekerja.


"Ada apa..?, dari mana kalian tak punya sopan santun berteriak teriak di wilayah orang..!," balas Singo Dimejo sudah maju lebih dulu.


"Apa kau Pemimpin tempat ini..?," tanya tetua Dua dari Tinju Baja.


"Bukan..tapi kami yang menjaga tempat ini..!," kali ini Karpo dipolo sudah menjawab dan berdiri di samping saudara nya.


"Kalau begitu kau bukan levelku..!," ledek tetua Dua sambil mendengus meremehkan.


"Cuiih...!, kau tak tau siapa kami..!, memangnya siapa kau berbicara masalah level kepada kami.."


"Aku tetua Dua dari Tinju Baja, dan ini rekanku tetua Empat..kami ingin bertemu pemimpinan di sini mau meminta pertanggung jawaban nya atas mati nya kelompok kami..!," sahut tetua Empat sembari berkacak pinggang dan menatap tajam dua ahli pedang di depannya.


"Pertanggung jawaban apa..?, kalian yang memulai, kami hanya melayani mau kalian."


"Keparat..! kau ingin aku pecahkan kepala mu..!," teriak tetua Dua melotot kearah Singo Dimejo yang tadi berkata.


"Coba saja kepalaku atau kepalamu yang akan terlepas lebih dulu dari badan..," balas Singo Dimejo sudah mencabut dua pedangnya.


"Ayo kita buktikan..!!," teriak tetua Dua melesat menghantam kan pukulannya kearah Singo Dimejo.


Wuuusss...!!


Hantaman jarak jauh yang mengandung kekuatan mengarah ke badan Singo Dimejo.


Duaaaar...!!


Dengan menyilang kan kedua pedang nya, Singo Dimejo menangkis pukulan Jarak jauh lawannya.


Ledakan terdengar saat dua kekuatan itu berbenturan, keduanya lalu meloncat memisahkan diri untuk memulai pertarungan sendiri.


Sementara itu tetua Empat Tinju Baja sudah berhadapan dengan Karpo Dipolo.


Sementara belasan anak buah Tinju Baja bersiap menunggu perintah dari dua pemimpin nya.


Traang...!!


Sambaran pedang dari salah satu pedang Singo Dimejo di tangkis dengan pedang di tangan kiri Tetua Dua, bersama dengan itu dia memukulkan pukulan nya yang gantian di tangkis dengan pedang Singo Dimejo.


Meskipun Tinju Baja merupakan perguruan yang mengutamakan pertarungan tangan kosong, namun mereka juga mengkombinasikan jurus tangan kosong dengan pedang dan senjata lain.


Duaar...!!


Kembali dua kekuatan bertemu dan terdengar lah ledakan, kali ini dari pertarungan Karpo Dipolo melawan Tetua Empat Tinju Baja.


Keduanya sedikit terdorong kebelakang, namun salah satu Raja Pedang itu kembali mengayunkan pedang nya menciptakan gelombang sabetan yang mampu menyobek kulit lawan jika tak di tepis tangan Baja sang tetua.


Claaang...!!


Gelombang angin pedang itu buyar begitu di tepis dengan tangan yang kuat bagai baja tersebut.


Pertarungan tersebut masih berlangsung dengan seru.


____________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya....


__ADS_2