
Ketika rombongan Jaya sampai di tempat kerusuhan suasana sudah porak poranda.
Tempat tersebut telah rusak dengan bekas bekas pertarungan.
Halaman rumah pemimpin kota itu sudah banjir darah, baik darah dari pengawal pemimpin kota, kelompok Kelelawar Hitam maupun para prajurit Gardakota.
Yang lebih mengagetkan lagi semua dalam posisi terdesak, di tekan dan di gempur habis habisan oleh kelompok Kelelawar Hitam.
"Hiaaaa...!!."
Traaang ..! traaang....!!
Sambaran sambaran senjata bertubi tubi di lakukan oleh kelompok Kelelawar Hitam menyerang ke arah sisa pasukan Gardakota yang tinggal separuh nya saja.
"Hua..ha..ha..lihatlah berapa sisa anak buah mu..!," ledek Bonaga kepada sang Senopati pemimpin Gardakota.
Senopati menoleh, memutar pandangan matanya melihat anak buahnya yang sudah banyak yang terkapar, dan yang masih bertarung dalam posisi tertekan.
"Menyerahlah mungkin akan aku ampuni nyawamu..!,"teriak Bonaga dengan pongah nya.
"Lebih baik mati daripada aku gagal melindungi kota ini.." Balas sang Senopati sambil mengayunkan pedang nya menyerang Bonaga.
"Baik jika itu mau mu..!"
Bonaga meloncat menangkis tebasan pedang lawan dengan pedang di tangan kiri, dan menebaskan pedang di tangan kanan menyerang sang Senopati.
Wuuuss
Traaang...!!
Tubuh sang Senopati terlempar begitu pedang lawan menghantam perisai yang di hadang-kan untuk melindungi tubuhnya.
"Huh, tamatlah riwayat mu..!" Kata Bonaga sambil meloncat mengayunkan pedang mencoba menebas badan lawan nya.
Sriiing..!!
Pucatlah wajah sang Senopati, rapalan doa permohonan kepada yang punya kehidupan sudah di ungkapkan nya, memohon di beri ampunan atas segala kesalahannya di alam dunia.
Traaang...!!
Sebuah tombak menghadang serangan dari Bonaga, membuat salah satu tetua Kelelawar Hitam itu sedikit terpental mundur.
"Keparaat...!, siapa berani ikut campur..!." Bentak Bonaga kepada penangkis serangan yang tak lain adalah Jaya.
"Huh..benar dugaan ku kalian kelompok perusuh..!," balas Jaya setelah memastikan bahwa pria ini yang tadi sempat bersitatap dengan nya.
"Hmm cari mati kau rupanya ikut campur..!," seru Bonaga setelah mengingat bahwa mereka pernah bertemu di penginapan batas kota.
"Mari kita lihat siapa yang mati di sini..!," tantang Jaya, kini sang Senopati sudah menyingkir untuk membantu yang lain atas isyarat tangan Jaya bersama rombongan Jaya lainnya.
Bonaga sedikit mundur menyilangkan kedua pedangnya sebelum melesat cepat menyerang Jaya Sanjaya.
Wuuss...
Sriiing....
Bonaga menebaskan dua pedangnya sekaligus ke arah Jaya.
Melihat dua serangan yang datang ke arahnya Jaya langsung menghadang kan perisai kyai Wojo Digdoyo di sebelah kirinya dan mengangkiskan tombak nya pada serangan yang datang di sebelah kanan.
Traang ...! taaang...!
__ADS_1
Dua serangan itu langsung mentah, tertahan oleh perisai dan tombak.
Dengan secepat kilat tak di duga oleh Bonaga, Jaya menendang perut sang lawan setelah lawan sedikit terkesiap dengan serangannya yang kandas.
Boough....!!
"Aarch..!."
Bonaga tak mengira akan mendapat serangan seperti itu dengan tiba tiba.
Dia menjerit terlempar dan perutnya serasa mau pecah, akibat tendangan keras tersebut.
"Bangsaaat..!, ku bunuh kau..!!," teriak Bonaga semakin marah setelah terkena serangan Jaya tersebut.
"Coba saja kalau mampu..!." Kata Jaya dengan posisi siap balas menyerang.
Begitu Bonaga berdiri Jaya langsung melesat maju menusukkan tombak yang berhawa kuat tersebut.
Wuuusss....
Sssiing...
Tombak kyai Seto Ludiro melesat membelah udara dengan cepat menusuk ke arah Bonaga.
Traaang...!!
Bonaga menangkis mencoba mengarahkan mata tombak menghindari tubuhnya.
Namun kuatnya tusukan tersebut malah membuat Bonaga terpental saat menangkisnya.
"Uugh..," keluh nya begitu dia merasakan hawa kuat dari gelombang tusukan lawannya.
BLAAANGG...!
Hantaman dahsyat itu melempar kan musuhnya hingga beberapa tombak jauhnya, dan berguling gulingan hingga menabrak tembok pembatas halaman rumah pemimpin kota.
Dengan kedatangan pasukan Jaya, kini pasukan Kelelawar Hitam mulai terdesak.
Pitu Geni, Baroto, Kumala bahkan Narimo menyerang orang orang Kelelawar Hitam yang entah datang dari mana tersebut hingga mereka kini balik terdesak.
Mendapat bala bantuan dari rombongan Jaya, membuat pasukan Gardakota kini bersemangat lagi menyerang kelompok Kelelawar Hitam.
"Kau ingin menyerah menjadi tawanan atau ingin aku tumpas mati..!?." Bentak Jaya kepada Bonaga yang masih mencoba bangkit dari jatuhnya.
"Huh..!, tak sudi aku menyerah..kalian pasti akan di buru kelompok ku..!." ancam Bonaga.
Jaya hanya tersenyum miring, " kau pikir aku juga takut dengan kelompok mu..?."
Lalu Jaya kembali meloncat melesat melakukan tusukan ke arah Bonaga.
Wuuuss..
Siiing...!!
Jleeeebb...!!
Tombak kyai Seto Ludiro langsung menancap dada Bonaga, yang langsung memekik kesakitan.
"Aaarch.." Jerit Bonaga dengan keras, darah menyembur dari dada nya yang ternganga karena tusukan tombak itu, lalu ambruk dan tewas di tempat.
**
__ADS_1
Kelompok Mata Iblis untuk sementara masih berdiam di hutan tersebut.
Setelah berhasil mengusir Tiga Bayangan Setan mereka masih terfokus untuk pemulihan diri.
"Awasi saja di mana pusaka itu kira kira berada," perintah sang Ratu kepada anak buahnya.
Orang orang Mata Iblis bantu membantu untuk memulihkan diri, sebagain tetap mengawasi gerakan zirah sayap Garuda di mana posisi bergerak nya.
"Apa rencana kita selanjutnya Ratu..?," tanya sang pendamping kepada Dewi Mata Iblis.
"Kita pulihkan saja dulu kondisi kita paman, setelah itu baru kita susun kembali rencanakan tujuan kita.''
"Baik Ratu."
"Bagaimana apakah ada yang terluka parah..?"
"Syukurlah tidak Ratu, dengan formasi Sarang laba bersih membuat kita bisa saling menjaga".
Sang Ratu nampak senang dengan kondisi anak buahnya.
**
Tiga Bayangan Setan meninggalkan tempat tersebut dengan cepat.
"Kita atur strategi lagi, jangan kita paksakan toh pusaka itu tak ada pada mereka," seru Jino melesat meninggalkan lokasi pertarungannya dengan kelompok Mata Iblis.
"Benar kakang Jino saudara ku, aku setuju pemikiran mu," jawab Lono yang berlari di belakang nya di ikuti oleh Tino.
Ketiga orang tersebut tetap berlari meninggalkan tempat tersebut hingga tiba di tempat yang di perkirakan aman.
"Kita istirahat di gua atas bukit itu sambil mengawasi situasi," seru Jino sambil menunjuk ke arah gua yang ada di sebuah bukit.
"Baik Kakang," sahut keduanya melesat mengikuti Jino yang telah lebih dulu mendekati gua di lereng bukit itu.
Sebuah bayangan hitam tetap mengikuti ketiga nya dalam jarak yang terjaga.
**
"Kami mengucapkan terima kasih kepada tuan pendekar, atas semua bantuannya," kata Senopati menjura ke arah Jaya Sanjaya.
Pemimpin kota juga menunduk sangat malu dengan rombongan Jaya.
"B..b.benar..T.ttuan saya mengucapkan terima kasih sedalam dalam nya."
"Secara pribadi saya juga mohon maaf atas semua sikap burukku selama ini terutama kepada tuan dan rombongan nya." kata pemimpin kota dengan menjura dan terlihat sangat tertekan.
"Makanya jadi...."
"Saat.."
Kumala yang sudah akan membuka mulut, di cegah Jaya.
"Aku terima maafnya tuan pemimpin kota, dan tak perlu berterima kasih yang berlebihan, sudah kewajiban kami sebagai kelompok golongan putih untuk saling menolong sesama yang membutuhkan," balas Jaya kepada Senopati dah juga pemimpin kota yang kini terlihat sangat menghargai Jaya dan rombongan nya yang ternyata adalah kumpulan pendekar hebat.
Malam itu rombongan jaya di jamu oleh pemimpin kota, bahkan rencana besok pagi pemimpin kota akan mengadakan jamuan untuk seluruh rakyatnya sebagai simbol pertaubatan nya sebagai individu yang selama ini selalu bersikap arogan.
Malam itu di lanjutkan dengan mengobrol saling beramah tamah, baik dari pemimpin kota maupun oleh sang Senopati, menemani Jaya beserta rombongan nya.
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya..
__ADS_1