
"Begitulah Nakmas ceritanya," kata Narimo dan Sugara bersahut sahutan, menceritakan kejadian awal mula bertarung dengan kelompok Srigala Merah.
"Hmm, jadi mereka sudah menandai kita dan mengejar hingga sampai di sini?."
"Benar Nakmas Bendoro," sahut Narimo lagi.
Jaya mengangguk anggukan kepalanya.
"Sebenarnya siapa mereka ini..?" Baroto Sarkawi yang masih asing dengan lawannya, bertanya.
"Mereka adakah kelompok Srigala Merah," kata Sugara, berhenti sejenak untuk menelan ludah.
Semua nampak memperhatikan Sugara yang masih menata diri untuk bercerita, termasuk Jaya dan empu Cipta guna.
"Sebuah kelompok pemuja kegelapan dengan dasar ilmu kekuatan Iblis Srigala."
"Dan paling puncak dari kekuatan ajian mereka, mereka akan mampu merubah wujudnya menjadi seekor monster Srigala," sahut Sugara kembali.
"Haah??, memang ada kelompok seperti itu?" kali ini Pitu Geni sedikit terkejut.
"Selama ini setahu ku hanya ada dua kekuatan yang menguasai jagat ini yaitu kekuatan Api yang di pimpin oleh Api Suci dan kekuatan air atau es yang di pimpin partai Es Abadi." kata Pitu Geni lagi, masih keheranan dengan banyaknya kekuatan yang bermunculan kali ini.
"Di alam ini banyak sekali kekuatan yang belum muncul, karena masih menutup diri," sahut Empu Cipta guna yang berusia paling tua berkata, memberikan sedikit gambaran apa yang di ketahui nya di alam ini.
"Ya.. lawan ku juga sudah berubah setengah makhluk iblis itu tadi." Jaya menegaskan perkataan Sugara dan empu Cipta guna.
Semua menoleh menatap Jaya dengan rasa tak percaya dengan kejadian tadi, "Benarkah Nakmas?." karena mereka semua juga sibuk menghadapi anak buah Karsh jadi tak terlalu memperhatikan perubahan sang pemimpin kelompok tersebut.
Jaya mengangguk saja," Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati lagi."
**
Sumantri sudah sampai di markas Jiwa Abadi, membopong Karsh yang sudah terluka parah.
Kedatangannya cukup membuat para anggota Jiwa Abadi yang lain bertanya tanya, apalagi dengan menanggung sosok tinggi besar yang mereka tau itu Karsh.
"Apa yang terjadi tuan?." tanya salah satu petinggi di Jiwa Abadi, bernama Pyong Karund, seorang tokoh individu seperti Sumantri yang berhasil menjadi anggota Jiwa Abadi karena kehebatannya.
"Karsh terluka setelah bertarung dengan seseorang."
"Hah..??, benarkah??, tokoh dari mana yang bisa melukai Karsh sedemikian rupa..??"
"Aku belum tau pasti, nanti kita korek keterangan darinya jika sudah siuman."
Pyong Karund mengangguk mengikuti ke arah Sumantri melangkah lebih masuk ke bagian dalam markas Jiwa Abadi.
Membawa Karsh ke bagian ruang khusus untuk mengobati anggota kelompok tersebut.
Sebuah ruang yang cukup luas dengan bilik bilik dan berbagai sarana pengobatan.
"Rawatlah orang ini." kata Sumantri meletakkan Karsh yang masih lemah di tempat tidur yang tersedia disana.
__ADS_1
Tabib tersebut sedikit ternganga begitu melihat siapa sosok yang di letakkan di tempat tersebut.
"T..t.tuan K..Karsh??." serunya pelan sambil menutup mulutnya.
"Ya..dia terluka terkena hantaman lawan." sahut Sumantri, Pyong Karund juga menatap ke arah Karsh yang badannya sedikit terbakar akibat Badai Matahari.
Sang Tabib segera memeriksa badan Karsh, menatap tajam lalu menggeleng pelan.
"Aneh, sisa terbakar ini berbeda dengan jurus Api Suci," kata Tabib tersebut, setelah memeriksa dengan teliti.
"Ya...sangat aneh, memangnya siapa lawannya kali ini?hingga dia terluka seperti ini?," gumam Pyong Karund pelan sambil ikut mengawasi rekannya yang masih tergeletak tak berdaya tersebut.
Sumantri menggeleng," Aku hanya tau dia sangat kuat, itu terbukti saat dia mencoba mengejar ku waktu aku menolong Karsh."
"Hmm, menarik mungkinkah Tetua yang Agung tahu lawannya ini?."
"Mungkin saja, karena mereka sedang menjalankan misi." sahut Sumantri kembali.
**
"Cari kelompok itu, jika bisa kita bujuk agar menjadi pelindung wilayah kita, atau menjadi bagian dari pasukan khusus kita," seru Tumenggung Yudoyono dengan badan masih terasa lemas, dan kesakitan di mana mana.
"Baik ndoro Tumenggung, akan kita sebar anak buah kita seantero kota ini," sahut Ra Lewang sambil menghaturkan sembah.
"Sebenarnya mereka kelompok dari mana? hmm...Awan Putih?," kembali sang Tumenggung bergumam mengingat mereka menyebut nama sebuah kelompok.
"Selama ini kami belum pernah mendengar nama kelompok itu, mungkin memang kelompok hebat yang selama ini tertutup, karena tak ingin terlihat mencolok." sahut Kraeng Nambi dengan mengeluarkan pendapat nya.
"Benar apa yang anda katakan, Senopati Kraeng," sahut Senopati Taruno Wardoyo.
"Baik ndoro Tumenggung, kami undur diri jika memang begitu," sahut ketiga Senopati tersebut, segera bergegas dan menghaturkan sembah sebelum meninggalkan tempat tersebut.
**
Kumala dan Pelangi keluar dari kamarnya, sudah berganti dengan pakaian baru yang sudah mereka beli.
Dengan warna yang hampir sama yaitu merah muda dengan beberapa warna hitam di beberapa bagian membuat dua gadis itu terlihat makin menawan.
Jaya menatap keduanya dengan mulut sedikit terbuka, melihat dua gadis yang makin terlihat cantik dan mempesona.
"Kita berangkat sekarang kakang?," tanya Kumala kepada Jaya yang masih menatap keduanya tak berkedip.
"Cantik," gumam Jaya pelan, malah melantur tak jelas, sambil tersenyum tipis di bibir nya.
Kumala dan Pelangi saling berpandangan, melihat reaksi pemuda tampan itu masih terdiam menatap kedua nya sambil senyum senyum tak jelas.
"Kakaang...!!," teriak Kumala dan Pelangi, mengagetkan Jaya yang masih terpesona dengan pandangan kosong.
"Aah..Eeh...ya...?." Jawab Jaya tergagap, pemuda tampan itu terlihat sedikit salah tingkah.
"Bagaimana Kakang..??."
__ADS_1
"Ya... kalian terlihat makin cantik dengan pakaian itu..," sahut Jaya sepontan.
"Ish..apa sih Kakang ini.. ganjen..!," sahut kedua gadis itu dengan wajah memerah, namun terlihat berbinar binar.
"Apakah kita akan berangkat sekarang?, Itu yang kami tanyakan, bukan minta kakang berkomentar tentang baju kami." kata Pelangi menerangkan.
Jaya terlihat sedikit salah tingkah, "Ooh aku kira kalian minta pendapat tentang baju itu." sahutnya, lalu menoleh kearah Narimo yang masih bersiap dengan kuda kuda mereka.
"Kita berangkat setelah semua kuda siap Dinda," Jawab Jaya kepada kedua gadis itu akhirnya.
Keduanya lalu mengangguk dan berjalan mendekati Jaya sambil tersenyum, " Menurut Kakang apakah kami cantik dengan baju ini."
Jaya hanya menepuk jidatnya melihat keduanya, lalu bergumam pelan, "Cck, tadi di puji tadi enggak mau, sekarang minta pendapat."
**
"GAaaggrrh..!!."
Tampak dua iblis Wora dan Wari menggeram begitu mendapat laporan dari Sumantri tentang Karsh yang terluka.
"Sehebat itulah mereka...!!," umpat Iblis Wari, sambil melempar gelas dari potongan bambu yang menjadi alat minumnya.
Semua terlihat menunduk, ketakutan dengan reaksi sang Pemimpin Agung Jiwa Abadi tersebut.
"Di mana sekarang Karsh..?."
"Ada di ruang pengobatan Pemimpin Agung." sahut Pyong Karund, menjawab pertanyaan Tetuanya.
"Antarkan kami kesana, aku ingin bertanya sesuatu padanya."
"Maaf Tetua, Karsh masih belum sadar hingga sekarang," sahut Sumantri memotong niatan sang Tetua.
Wora dan Wari saling pandang, "Separah itu kah?."
"Benar Tetua, saat saya selamatkan hingga sekarang dia masih pingsan belum siuman."
Dua iblis itu langsung berdiri, berjalan menuju ruang pengobatan diikuti oleh anak buah yang ada di sana.
Memasuki sebuah bangunan yang terlihat menyeramkan dengan aroma menyengat dan anyir.
"Tunjukkan dimana Karsh berada...!."
Suara berat dengan sedikit serak itu mengangetkan sang tabib dan anak buahnya, yang masih melakukan pengobatan bagi anggota lainnya.
Dengan tergopoh gopoh, sang Tabib membimbing Tetua Agung Jiwa Abadi tersebut lebih masuk ke dalam lagi.
Rombongan itu memasuki ruang pengobatan khusus, dimana terlihat sosok Karsh masih tergeletak di salah satu bilik yang ada di sana.
Iblis Wora dan Iblis Wari menatap luka yang berada di tubuh Karsh dengan tatapan sedikit terkejut.
"Hmm, kekuatan apa ini, hingga membuat salah satu anak buah terkuat ku terluka sedemikian rupa..?."
__ADS_1
____________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....