Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Memenangkan peperangan melawan Pemberontak


__ADS_3

Badan Prono Condro yang teronggok di tanah, setelah dadanya terbelah kapak lawan terlihat bergerak sesaat.


Ki Branjangan menatap tak percaya, melihat lawannya yang pelan namun pasti pulih kembaki lukanya.


"Aah..Jagat Dewa Batara...!."


Lelaki paruh baya itu mengucek matanya, masih memastikan jika pandangannya tak salah.


"Setan Demit.., dada nya pulih kembali..?!," tanpa terasa mulutnya berucap.


Ki Branjangan kembali meloncat, menghantamkan Kapak yang di pegangnya, dia merasa harus bergerak menyerang sebelum lawannya benar benar pulih.


Wuuuuss..


CRAAAK..!.


CRAAAKK...!!


Dengan cepat ki Branjangan membabat badan Prono Condro hingga tercabik cabik.


Namun tak lama badan kakek tersebut pulih kembali seperti sedia kala.


Ki Branjangan makin pias wajahnya menyadari hal tersebut.


"Sekarang giliran ku...!," teriak Prono Condro, kini bergerak makin aktif tak seperti tadi yang hanya menunggu lawan menyerang.


"Hiaaa...!," kakek itu meloncat, menyambar kan pedang tumpulnya.


Wuuusss...!!


Serangan tanpa mengenal rasa takut itu membuat ki Branjangan begidik ngeri.


TAANG....!


Sabetan pedang tumpul senjata dari Prono Condro di tangkis dengan senjata kapak lawannya.


"Aaah...!."


Ki Branjangan terpekik pelan, hantaman tersebut ternyata sangat bertenaga, membuat lengan dari bekas begal itu tergetar kesakitan.


Wuuuuungg....!


Wuuunggg....!


Sabetan sabetan pedang tumpul tersebut bertubi tubi menyasar badan dari ki Branjangan.


BOUUUGH....!! DUAAAARRR....!!


Salah satu hantaman tersebut tepat mengenai dada dari ki Branjangan.


"Aaarcchh..!.''


Kali ini ki Branjangan menjerit keras, tubuhnya terlempar dadanya serasa hancur, terhantam benda keras tumpul tersebut.


"He..he..he...Rasakno...enak ora..!," ledek Prono Condro, dia terkekeh melihat lawannya sudah merah padam, meringis kesakitan.


"Ayo...bangun..!, aku tak mau menyerang orang yang lemah," teriak Prono Condro lagi.


Dengan badan gemetaran ki Branjangan memcoba bangkit.


Wuuusss....


PLAAKK...!!


Belum juga berdiri dengan benar, kakek sesepuh dari Gagak Hitam itu sudah menyepak wajah dari sang lawan.


"Aaauuuwww...!, sontoloyo..!, aku belum siap sudah kau jejak wajahku..!." jerit ki Branjangan sambil meracau tak jelas.

__ADS_1


"Salah sendiri lama bangunnya...., kaki ku sudah tak sabar menendang wajahmu..''


**


"Bajingaaan tengiik..!, siapa kau mengacau di sini..!," hardik Adipati Sentono yang belum menyadari kematian dari Saripan rekannya.


Adipati tersebut menatap Jaya yang tak memakai seragam layaknya prajurit, berarti bukan abdi istana.


"Tak perlu tau aku siapa..!, yang jelas aku akan menumpas orang orang sepertimu..!."


"Lihatlah sekelilingmu...jika kau belum menyadari itu..!," seru Jaya, tangannya menunjuk ke arah pasukan sang Adipati yang kini porak poranda.


Sang Adipati tercekat, apalagi saat melihat Saripan yang sudah tergeletak tak bernyawa, bahkan kini terinjak injak kaki orang orang yang lalu lalang.


"Itu orang bayaranmu..sudah aku bunuh..!, sekarang giliranmu aku tangkap untuk di gantung di alun alun."


Adipati Sentono terjingkat, wajahnya makin pucat, usaha pemberontakan nya terancam gagal.


"Tak semudah itu menangkapku..!," teriak adipati Sentono lalu maju melesat menyerang Jaya terlebih dahulu.


Wuuusss...


Sriiinggg.....!!


Dengan pedang terhunus, adipati Sentono mendekat dan menebaskan senjata nya.


"Hiaaaa...!.''


Traaang...!!


Jaya menangkis sabetan pedang tersebut, dengan pedang Angin Puyuh, gelombang kekuatan yang di hasilkan menghantam balik sang adipati.


DUAAARR.....!!


Sentono terdorong ke belakang, tekanan yang kuat menghantam dadanya.


**


Prabu Wiramerta yang sangat khawatir, menanyakan situasi terkini dari peperangan yang terjadi di halaman istana tersebut.


"Masih terjadi saling serang Yang Mulia, hanya saja kita bisa bernafas lega berkat bantuan Tetua Awan Putih dan kakek tersebut, kita dalam kondisi menekan lawan."


"Dengan adanya dua orang tersebut bisa menjadi pembeda dari pertempuran kali ini.?''


"Benar Yang Mulia.., kehebatan mereka bisa kita saksikan dari pendopo depan."


Raja sepuh itu bergegas menuju ke arah pendopo depan, begitu mendengar penjelasan tersebut.


Hari mulai pagi, sinar sang surya mulai menyebar menerangi jagat raya, menampakkan alam raya yang kian jelas dengan terangnya sang surya.


Raja Karang Doplang itu mulai tertatih, berjalan pelan menuju ke pendopo depan, mencoba menyaksikan apa yang terjadi.


Jarak yang masih cukup jauh dari gerbang dengan pendopo sedikit menyulitkan untuk melihat pertempuran tersebut dengan jelas, namun sekilas bisa di lihat dari pakaian yang di kenakan jika pasukan Karang Doplang memporak porandakan lawannya.


"Pasukan kita berhasil mendorong mundur lawan."


Prabu Wiramerta sedikit menyunggingkan senyumnya.


**


Ki Branjangan kini jadi bulan bulanan Prono Condro, sengaja memang kakek tua tersebut membuat lawannya sebagai mainan sebelum rencananya nanti di tangkap hidup hidup untuk di eksekusi.


Plaaaakkk..!!


BOUUUGH...!!


Hantaman tendangan berkali kali mendarat di tubuh ki Branjangan.

__ADS_1


Tenaga nya tak cukup untuk sekedar melawan, kini tokoh bandit itu hanya pasrah, jatuh bangun di hajar oleh lawannya.


"Rasakan ini..!, untuk para pemberontak macam kalian..!." seru Prono Condro sambil menghantam wajah ki Branjangan kembali.


Prooott...!!


**


Sama halnya lawan dari Prono Condro, Adipati Sentono juga jadi bulan bulanan Jaya.


Berkali kali sang adipati mencoba menyerang namun tak sekalipun mengenai sasaran, bahkan pukulan Jaya yang bersarang di badannya.


Tenaganya sudah terkuras habis namun sang lawan tak juga menghabisinya.


"Bunuh aku sekarang juga..!," teriak Sentono mulai putus asa.


Jaya hanya tertawa, memandang sinis lawannya tersebut.


"Hiaaa...!.'' pemuda itu melesat menghantamkan pukukannya.


DUAAARTT...


Jaya menghantam badan dari Sentono, di mana itu adalah titik pusat dari tenaga dalamnya.


"Aaaarrchh...!!."


Sentono menjerit sangat kencang, badannya langsung luruh ke tanah, semua kemampuannya lenyap begitu pusat tenaga yang menyokong kekuatannya menghilang.


**


Hari masih terhitung pagi, di alun alun kini di padati para prajurit Karang Doplang.


Mereka telah memenangkan pemberontakan berdarah itu, berkat bantuan dari Tetua Awan Putih.


Para pemberontak itu kini sudah di tangkap dan akan di eksekusi di alun alun tersebut.


Terlihat di sana ki Branjangan dan Sentono sudah menunduk lemas, keduanya di jadikan contoh buruk untuk seluruh warga Karang Doplang sebelum di penggal kepalanya.


"Inilah yang akan terjadi jika kalian berani makar dan menjadi pemberontak."


Prabu Wiramerta mulai berpidato memberikan sambutan sebelum di lakuakan eksekusi bagi para pemberontak.


Memang terkesan kejam, tapi memang seperti itulah hukuman bagi pemberontak, selain memberikan hukuaman secara individu juga memberikan peringatan agar jangan ada lagi pemberontakan di sana.


**


Semua telah kembali ke Istana Karang Doplang, prabu Wiramerta tak bisa menutupi kegembiraan hatinya atas terbebasnya kerajaan itu dari para pemberontak.


Pemberontakan yang menimbulkan jumlah korban yang tidak sedikit.


"Aku mengucapkan beribu terimakasih Nakmas atas bantuan nya, juga kepada Anda," kata prabu Wiramerta kepada Jaya dan sesepuh Prono Condro.


"Entah apa jadinya Karang Doplang jika tak ada kalian berdua."


Jaya tersenyum, mengangguk, "Prabu tak perlu sungkan, sudah kewajibanku melakukan itu."


"Selain kami (Awan Putih) bermarkas di sini, prabu juga masih kakek dari Pelangi."


Prabu Wiramerta kembali tersenyum bahkan kini makin lebar lagi, "Aku tak sabar menantikan hari itu, saat kalian mengikat janji suci, sehingga aku bisa mewariskan tanah ini kepada keturunanku."


Jaya hanya terdiam dan mengangguk anggukan kepalanya.


Banyak yang di fikirkannya sekarang, apalagi ingatannya semakin pulih, kini banyak yang di cita citakannya termasuk kembali ke Alam Dewa.


Juga rasa penasaran akan kekasih hatinya yang ada di sana, Krystal Nurmala.


Jaya kembali sedikit gundah gulana.

__ADS_1


___________


Jejaknya kaka.....


__ADS_2