Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Mendekati Purnama, Malam Pertemuan Serikat Pendekar.


__ADS_3

"Minggir Kalian...!!," bentak salah satu anak buah Jiwa Abadi begitu melihat tempat yang sudah di tandai oleh sang Pemimpin Agungnya di pakai kelompok lain.


"Mana bisa..!, kami tiba lebih dulu di sini..!," balas salah satu anak buah Kawah Welirang dengan ngotot tak mau kalah.


"Keparaaat...!, kalian ngeyel..!.."


Alhirnya perebutan tempat tersebut makin memanas, dengan makin kerasnya para anak buah itu bersilat lidah.


Pyong Karund maju mendekat, "Sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini, sebelum semuanya jadi kacau dan kalian sesali..!." menatap tajam orang orang Kawah Welirang.


"Kisanak mengancam kami..??," seru Notosuman, wakil dari Ruwandaru di Kawah Welirang yang juga sudah maju.


"Jika tak mau di ingatkan dengan kata kata..!, terpaksa kami menggunakan cara kekerasan, " balas Pyong Karund, tersenyum sinis.


Dua ratus lima puluhan orang itu sontak meradang, mendapati sikap tak menyenangkan dari orang orang Jiwa Abadi.


Mereka merasa berhak ada di sana karena tiba lebih dulu, namun kelompok Jiwa Abadi juga tak mau kalah karena sudah menanamkan pusaka Paku Jagat di sana.


"Kami tak takut mati...!, jika memang kami tak merasa salah," balas Notosuman, tanpa rasa takut, kepada orang orang Jiwa Abadi.


Kelompok Jiwa Abadi sudah mengurung anggota Kawah Welirang yang hanya berjumlah kurang dari sepersepuluhnya itu.


Melihat pemandangan tersebut, kelompok lain hanya menatap, bahkan menjadikan peristiwa tersebut sebagai tontonan.


Hampir saja pecah perang dan terjadi pembataian di sana jika saja tak di hentikan oleh Jaya Sanjaya.


Jaya melesat mendekat dengan sangat cepat, dirinya tahu Jiwa Abadi pasti berniat tak baik.


"TAHAAAN...!!."


"Ada apa ini...!, bukankah acara belum di mulai..!, kenapa sudah bersitegang..!." seru Jaya mendekat ke arah orang orang yang berseteru.


Ruwandaru dan Notosuman menatap pemuda yang pemberani di depannya.


Ada rasa kagum dengan pemuda tersebut, karena dari ribuan orang tak ada yang mau bertindak menghentikan tindakan dari ke-aroganan anggota Jiwa Abadi.


Sedangkan para Petinggi dari Jiwa Abadi masih tak memperdulikan masalah tersebut, karena sudah menugaskan seorang Pyong Karund menyingkirkan orang orang yang "menduduki" tempat tersebut.


"Jangan Ikut Campur kau...!, jika tak ingin terkena imbasnya...!," teriak Pyong Karund, menatap tajam pemuda di depannya, menelisik sesaat seperti merasa pernah melihat tapi dimana?


Jaya tak menggubris perkataan Pyong Karund pria dengan senjata sepadang Cincin Ring Baja tersebut.


"Ada permasalahan apakah Paman Tetua..?." Jaya menoleh ke arah Ruwandaru dan Notosuman, yang terlihat berbeda dengan dengan anak buahnya jadi langsung memanggil tetua.


Ruwandaru menceritakan duduk persoalannya kepada Jaya, sambil menatap tajam dan menelisiknya. Meskipun belum mengenal, namun sang tetua tersebut mampu merasakan adanya kekuatan hebat dalam diri Jaya.

__ADS_1


Jaya mengangguk, menurutnya itu adalah hal yang sepele, "Lebih baik paman mengalah saja, ikutlah bersama rombonganku dari pada kalian di serang habis habisan oleh mereka," kata Jaya sambil menunjuk ke arah orang orang Jiwa Abadi.


Sebenarnya memang sejak semula Ruwandaru dan Notosuman sudah tahu dan merasa bakal di bantai habis habisan, namun ego-nya tak mau mengalah begitu saja.


Dirinya merasa tak mau di remehkan begitu saja meski taruhannya nyawa, dan kini ada pihak lain yang memberikan jalan keluar seperti itu seakan tak masalah dirinya menuruti usulan itu.


Pria Tetua dari Kawah Welirang itu diam sejenak, seakan berfikir.


"Baiklah nakmas aku ikut rombonganmu..!," kata Ruwandaru, lalu memerintahkan anak buahnya berkemas.


"Memangnya Nakmas dari kelompok apa?." tanya tetua Kawah Welirang tersebut.


"Awan Putih.." kata Jaya sambil melintas meninggalkan tempat tersebut.


Pyong Karund yang mendengar nama tersebut langsung bergetar kakinya, dirinya kini ingat siapa sosok pemuda yang tadi di hadapannya, pemuda yang pernah menghajar nya bersama Sumantri si Mata Malaikat.


Ruwandaru langsung senang begitu mendengar nama Awan Putih, sebuah nama yang akhir akhir ini menggemparkan dunia persilatan.


Sementara ketegangan berhasil di redam dengan mau berpindahnya kelompok Kawah Welirang dari tempat yang di incar Jiwa Abadi tersebut.


**


"Mengapa Paman tetua tak mau meninggalkan tempat yang tadi di duduki..?."


Ruwandaru terdiam sesaat, mungkin masih menimbang apa yang akan di katakannya.


"Hmm, sebenarnya ini rahasia kelompok, namun saya lihat Nakmas tetua ini orang baik maka saya bersedia mengatakan hal ini."


"Rahasia..?."


"Benar Nakmas."


Ruwandaru menarik nafasnya lalu berkata, " Kelompok kami adalah kelompok yang bisa mengambil atau menyerap inti sari kekuatan alam."


"Dan sejak awal aku merasa ada yang berbeda dengan tempat tersebut."


"Seakan ada yang melindungi tempat tadi, membuat tenaga kita terjaga dan stabil, juga bisa menangkal kekuatan lawan yang akan merusak kekuatan kita."


Jaya tercekat, kaget dengan apa yang di katakan pria paruh baya di depannya.


"Uugh, sayang kekuatanku belum kembali pulih, bahkan aku tak bisa mendeteksi hal hal seperti ini, padahal dahulu aku mampu melakukan itu."


"Maksud paman di tempat itu ada suatu kekuatan yang tersembunyi?."


"Benar, Nakmas," sahut Ruwandu mengangguk pasti.

__ADS_1


"Hmm, pantas saja Jiwa Abadi bersikukuh menempati tempat itu. Ada apa ini?."


Jaya terpaku sejenak memikirkan banyak kemungkinan.


"Jadi di sana ada kekuatan yang bisa menstabilkan kekuatan kita?."


"Begitulah kira kira Nakmas."


Jaya mengangguk angguk, "Hmm, Aneh."


**


"Lapor Pemimpin Agung, saya sudah berhasil mengusir kelompok yang menempati tempat kita."


Pyong Karund dengan bangga melaporkan keberhasilannya.


Iblis Wora dan Iblis Wari yang berada di dalam kereta dan memakai jubah hingga menutupi kepala tampak mengangguk.


"Dirikan tenda yang paling besar di tempat yang sudah aku tandai..!."


"Jaga selalu tempat itu, jangan biarkan ada yang mendekat termasuk dari kelompok kita, kecuali pasukan khusus."


Dua ibkis itu memberikan perintah kepada para Petinggi Jiwa Abadi, agar benar benar menjaga tempat tersebut.


Tampak terjadi kesibukan di kelompok Jiwa Abadi setelah itu, para anggota kelompok itu mendirikan tenda yang sangat besar di tempat yang sudah di tunjuk.


Bahkan tenda tersebut tampak berlapis lapis seakan memang benar benar ingin menyembunyikan sesuatu.


Dua iblis tersebut menyaksikan pendirian tenda itu dengan memberikan beberapa instruksi kepada para anggota Jiwa Abadi.


**


"Masih ada satu hari sebelum purnama, artinya kita masih bisa bersiap siap menyambut acara itu." kata Pemimpin Agung kelompok Mata Iblis, yang juga sudah tiba di padang Selayang Pandang.


Terlihat para petinggi kelompok itu tengah duduk bersama dan berdiskusi tentang apa yang akan di lakukan.


"Benar, kita harus bersiap menghadapi semua lawan lawan yang mungkin akan menyerang kita." sambung Dewi Mata Iblis, menimpali perkataan Pemimpin Agung yang merupakan suaminya tersebut.


Para petinggi tersebut mengangguk anggukan kepalanya, mendengar wejangan dari sang Pemimpin Agung.


Terlihat sekali ketegangan di sana, menandakan semua kelompok menyambut pertemuan Serikat Pendekar itu dengan penuh rasa khawatir.


____________


Jejaknya......

__ADS_1


__ADS_2