
Rombongan Jaya sudah berkuda seharian ini, mereka hanya beristirahat sesaat hanya untuk makan siang tadi, itupun tak berlangsung lama.
Meskipun perjalanan ini tak memerlukan kecepatan, namun Jaya tak ingin berlama lama berada di perjalanan, jadi dia hanya mengijinkan istirahat sesaat sebelum melanjutkan perjalanan kembali, lebih baik beristirahat tenang jika di penginapan atau jika sudah sampai di tujuan.
"Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Ibukota Kota raja Karang Pandan," kata Narimo memberitahu kan kepada seluruh rombongan, sambil memacu kuda nya.
Selain Narimo yang memang sering menjelajah di sepanjang hidupnya, di wilayah tersebut yang tahu medannya adalah Sugara yang notabene adalah kelompok di wilayah itu.
"Benar.. saudara Narimo," sahut Sugara yang berkuda sedikit di belakang nya.
Wilayah Ibukota Kotaraja luasnya setara dengan Kerajaan lainnya di Kerajaan Agung tersebut, karena pada dasarnya sebelum menjadi sebuah Kekaisaran atau istilah nya Kerajaan Agung yang kini menjadi naungan kerajaan kecil lain, dulu mereka juga merupakan kerajaan kecil, makin lama makin berkembang menjadi besar dan kuat hingga di jadikan naungan kerajaan kecil lainnya.
"Ya..pusat Kotaraja bisa kita lihat nanti saat melewati bukit itu," kata Sugara ikut menerangkan, sambil menunjuk ke arah depan dimana terdapat bukit yang menjulang menghalangi pandangan orang orang tersebut.
"Kaka pernah melewati tempat ini?"
Tanya Pelangi kepada Kumala yang ikut menatap arah yang di tunjukan Sugara.
"Belum," jawab Kumala sambil menggelengkan kepalanya, "Atau mungkin waktu kecil pernah, tapi aku tak ingat apapun," katanya lagi.
"Tapi Kaka tau jika di Kotaraja ada kota kota yang ramai?"
"Tahu lah, kan pusat pemerintahan, pusat Kerajaan Agung, masak kalah sama daerah," sahut Kumala lagi.
"Sama kota Bukit Emas, ramai mana?"
"Aku juga tak tahu adik, tapi harusnya lebih ramai dan lebih luas serta indah Kota raja."
"Hmm, semoga saja....aku tak sabar ingin segera melihatnya." seru Pelangi dengan wajah berbinar binar.
Kumala juga tersenyum membayangkan akan menghabiskan uang dan berbelanja di kota tujuan.
**
Sekelompok orang berjumlah sekitar limapuluhan nampak bergerak dengan cara aneh, berlari setengah merunduk dan meloncat loncat dari satu tempat ke tempat yang lain, meloncat diantara pepohonan yang di lewatinya.
Dengan pakaian berupa bulu bulu binatang yang mereka kenakan dan meskipun hanya berupa secarik kain itu sudah menunjukan siapa mereka.
Ya... mereka adakah kelompok Srigala Merah pimpinan Karsh.
__ADS_1
Cara bergerak dan berlari yang aneh dari kelompok tersebut seperti seekor anjing atau Srigala dengan mengendus aroma yang di lewatinya cukup membuat yang melihatnya begidik ngeri.
"Gggggh...lewat sini..!," teriak Karsh dengan melambaikan tangan kearah yang akan di laluinya.
Dengan ajian Asu Panglimunan yang di gunakan membuat kelompok itu bertingkah laku seperti hewan golongan anjing tersebut.
Berjalan menggunakan kedua kaki dan tangan setengah merunduk dan melompat lompat dengan lidah menjulur dan tatapan tajam seperti binatang Srigala yang buas.
Kembali Karsh melesat meloncat dengan gesit, nafasnya yang tersengal selayaknya anjing namun tak sedikitpun terlihat kelelahan.
Puluhan anak buah nya mengikuti di belakang nya, melompat berlari setengah merunduk dengan kecepatan tinggi tak kalah dari kecepatan seekor kuda pilihan.
Kembali kelompok itu berhenti sesaat, mengendus kesana sini, sebelum seorang anak buah Karsh memberikan kode, "Mereka lewat jalur ini.."
Karsh mengendus kemudian mengangguk, mereka kembali berlari dengan cara yang sama seperti tadi.
**
"Bagaimana? apakah ada berita tentang anakku Putri Pelangi?" tanya Baginda raja Ngarsopuro, Prabu Danar Kencono.
"Utusan telik sandi yang kita kirim belum memberikan kabar Yang Mulia," jawab sang Patih Aruno Kerto yang duduk di sebelah nya.
Selama ini prabu Danar Kencono memang mengirimkan mata mata untuk mengawasi sang putri, meskipun juga tak berani terlalu mencolok, karena takut jika keberandaan mata mata itu justru membuat sang putri Ndaru Kolocokro itu malah di ketahui keberandaan nya, oleh orang orang dunia persilatan yang makin gila.
Dan mereka juga bersiaga jika sewaktu waktu ada yang membahayakan di sana untuk memberi pertolongan dan bantuan begitu lah harapan nya, meski begitu terkadang para mata mata tersebut juga tidak selalu ada di sekitar padepokan karena akan terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan.
Kelompok telik sandi yang hanya berjumlah dua puluhan orang itu bahkan sempat kehilangan jejak sang putri beberapa kali karena tak selalu ada di sekitar padepokan, seperti saat sang putri meninggalkan padepokan ke kota Gunung Emas mereka tidak tahu.
"Ini sudah hampir satu pekan mereka tak mengirim berita apapun, apakah terjadi sesuatu..?"
"Hamba akan memastikan hal itu Yang Mulia," sahut Kidang Semeleh sang Senopati yang juga ada di ruangan itu, selain guru Benowo, Jayeng Rono dan tentu saja Prabu Danar Kencono dan Patih Aruno Kerto.
"Segera kirimkan orang orang kita lagi jika memang kelompok mata mata ini kurang cakap.." seru Sang Prabu Danar Kencono sedikit kesal, pasalnya sudah satu pekan kelompok tersebut tak mengabarkan berita apapun.
Sebenarnya yang terjadi hanya ketidak berutungan kelompok mata mata ini, saat mereka meninggalkan tempat pengintaian, rombongan Jaya meninggalkan padepokan Randu Sembrani tersebut tanpa sepengetahuan mereka dan kini mereka tengah kebingungan karena tak merasakan keberadaan sang putri, jadi mereka belum bisa melaporkan apapun berita dari sana.
**
Kelompok Karsh berhenti di jalan simpang yang mengarah ke arah kerajaan Sirih Putih di selatan dan pusat Kerajaan Agung Karang Pandan di Utara.
__ADS_1
Mereka mengendus, sesaat ragu dengan aroma yang di endusnya.
"Mereka mengarah ke Sirih Putih..," kata salah satu anak buah Srigala Merah masih mengendus riwayat bau musuhnya, memang beberapa waktu yang lalu mereka menuju ke Sirih Putih dari kota Gunung Emas.
"Tapi kini sudah mengarah ke kota raja," sahut yang lain.
"Gggrrrhhhh... !," Karsh menggeram, mengendus memastikan bau mana yang lebih kuat.
"Mereka menuju Kota raja," kata Karsh memutus kan perdebatan disana.
Semua mengendus untuk kembali memastikan kemudian mengangguk meyakinkan Karsh.
Kemudian Karsh meloncat kembali melesat meninggalkan tempat itu di susul oleh seluruh anak buahnya.
Rombongan itu kembali berlari meloncat dengan setengah merunduk selayaknya seekor binatang bergerak.
Mereka menuju ke arah Kotaraja Karang Pandan.
**
Setelah menaiki bukit, rombongan Jaya baru bisa melihat luasnya kota. nampak di kejauhan kotaraja Kerajaan Agung Karang Pandan terhampar dengan sangat luasnya.
"Waaah...luas sekali Kotaraja itu," seru Pelangi yang tak bisa menghilangkan rasa takjub nya.
"Benar Adik...kota itu benar benar besar dan luas." sahut Kumala, menatap dari atas ketinggian dan kejauhan dimana Kotaraja terhampar dengan sangat luasnya.
"Baru kali ini aku melihat kota seluas itu," tunjuk Pelangi kepada Jaya yang juga menatap pemandangan jauh di depan.
"Tapi kita harus tetap berhati hati, jangan sampai kejadian di kota Gunung Emas terulang kembali," pesan Jaya kepada seluruh rombongan nya.
"Ya semoga tak ada yang mengusik kita," sahut Kumala.
"Kaka benar," timpal Pelangi ikut berkata.
Rombongan itu kembali melajukan kuda tunggangan, ke arah kotaraja yang masih terlihat dari jarak cukup jauh itu.
"Semoga sebelum petang kita sudah tiba di sana," kata Jaya.
"He'em," Kumala dan Pelangi mengangguk setuju.
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....