Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menertibkan Dunia


__ADS_3

Ketiga sosok prajurit Dewa yang merasai aura seperti yang pernah di ketahuinya langsung keluar dari balik awan cipataanya, mencoba mengendus dari mana sumbernya berasal.


Aura Dewa Perang yang sempat terpancar saat Jaya bertarung kini sudah hilang seiring berakhirnya pertarungan dan kepergian Pario Jatri.


"Sial...!," umpat salah satu prajurit Dewa tersebut, saat tak lagi merasakan aura yang tadi sempat di rasainya.


Ketiganya berusaha lebih berkonsentrasi lagi, mencoba menajamkan rasa untuk mengendus keberadaan sosok yang di cari.


"Kemana perginya?, kenapa aura itu hilang begitu saja?''


Meski sudah di coba dengan sekuat tenaga dan penuh rasa, namun aura yang di carinya tak muncul kembali.


Ketiganya tampak kecewa, lalu bergerak menjauh dari tempat tersebut, mencoba mencari ke wilayah lain.


**


Wedono Bunaran menyambut Jaya kembali di pendopo Kawedanan dengan perasaan campur aduk.


Ada rasa senang bisa memukul mundur lawan, namun juga ada rasa ketakutan jika lawan menyerang balik dengan kekuatan berkali lipat, karena tak mungkin jika kelompok Jubah Perak mau begitu saja mundur dari tujuannya.


"Kenapa dengan wajah tuan Wedono?.''


"Maaf tuan pendekar, bukan saya tak tau berterima kasih dan mengucap rasa syukur, tapi saya masih khawatir karena pasti masalahnya tak hanya cukup sampai di sini." sahut Wedono Bunaran dengan muka masih lesu.


"Bagaimana nasib kami jika tuan pendekar pergi?." katanya kembali.


"Tuan Wedono jangan kuatir, aku tetap akan di sini sampai masalah ini selesai, jika perlu aku akan ke markas Jubah Perak untuk menghentikan mereka," Jaya berkata dengan sungguh sungguh, namun Wedono Bunaran masih belum percaya sepenuhnya dengan kemampuan Jaya, apalagi sampai ke markas kelompok Jubah Perak segala. Tapi mendengar janji Jaya akan tetap di sana membuat sang Wedono terlihat lega.


**


"Kenapa dengan kalian?." terdengar Tetua bendera Hijau, Panji Gemilang bertanya dengan keheranan, melihat Pario Jatri dan anak buahnya kembali ke markas dengan sebagian anggota terluka.


"Ada sedikit masalah," sahut Sang tetua bendera Kuning, sambil memberikan isyarat agar tetua bendera Hijau mengikuti ke markas utama.


"Masalah?, masalah apa? aneh?"


Bergegas Panji Gemilang mengikuti Pario Jatri kembali ke bangunan utama, mencari tahu apa yang terjadi.


Mereka kini sudah masuk ke bangunan utama, di sana masih duduk Sonosumar sang Tetua Agung bersama, Tetua Jeliteng pemimpin dari bendera Merah, serta Rasimandar tetua bendera Putih.


Ketiganya terlihat kaget dengan kedatangan Pario Jatri yang di barengi oleh Panji Gemilang.


"Ada apa?." Sonosumar bertanya.


Pario Jatri menceritakan semua yang terjadi di Kawedanan, apa yang membuatnya gagal menarik upeti di sana.


"Kurang..ajaar...!, Wedono itu sudah bermain api..!," dengan geram Sonosumar berkata.

__ADS_1


"Siapa pemuda itu.?, berani sekali dia ikut campur..!," Jeliteng, berseru menanggapi cerita rekannya tersebut.


"Aku tak tau kakang, yang jelas kemampuannya di atas ku."


"Seorang pemuda bisa mengunggulimu?, salah satu tetua dari Jubah Perak?," potong Rasimandar, masih dengan rasa keterkejutannya.


Pario Jatri mengangguk, "Aku memang belum bertarung dengan seluruh tenagaku, tapi aku sudah merasa pasti kalah dan banyak korban dari pihak kita."


"Hmm, benar.., itu keputusan yang benar, lebih baik segera kembali daripada banyak anak buah menjadi korban, dan kita pikirkan langkah selanjutnya." Rupanya Sonosumar cukup bijaksana, tak melulu memaksa anak buahnya bertarung tanpa perhitungan.


"Sekarang apa yang musti kita lakukan, Tetua Agung?."


Sonosumar terdiam sejenak.


**


"Aku tadi merasa yakin jika aura itu bisa ku rasakan kehadirannya."


"Benar Loraka, aku juga merasakan itu." sahut prajurit Dewa lainnya bernama Reksan kepada Loraka.


Loraka menggaruk tengkuknya, merasa bingung karena kehilangan buruannya dengan begitu cepat.


"Mengapa aura itu bisa menghilang secepat itu?, apakah dia seorang ahli yang mampu menutupi kekuatannya?.'' sahut sosok prajurit dewa ketiga bernama Dawung.


Ketiganya masih kebingungan dengan aura aneh yang hilang timbul tersebut.


**


Sebuah wilayah yang berada di tenggara dari kerajaan Karang Doplang, sedikit mendekati selatan.


Ada Pitu Geni, Baroto serta di dampingi oleh Koloireng sebagai sesepuh, menuju ke perguruan kecil itu.


Ketiganya membawa anak buah Awan Putih yang berjumlah genap seratus orang, jadi bersama mereka menjadi seratus lebih sedikit.


Mereka sebagian berkuda dan sebagian menaiki gerobak kereta yang bisa muat sepuluhan orang dalam satu keretanya. Mengemban tugas membela kebenaran dan menegakkan keadilan dari tujuan awal terbentuknya Awan Putih.


Jika kelompok lain yang mengikuti pertemuan Serikat Pendekar, mendengar Awan Putih sudah pasti akan goyah hatinya, tapi karena Bayangan Kegelapan bukan kelompok yang ikut dalam kegiatan itu jadi belum di ketahui bagaimana reaksi nya.


"Semoga kita bisa sampai di sana dan mendamaikan suasana," Koloireng berkata sambil memandang ke arah jalanan.


"Apa yang sesepuh katakan semoga bisa terwujutkan," balas Pitu Geni yang berada di sisinya.


"Ya..., saya juga berharap demikian, kita bisa menjadi penengah dari yang bertikai, bisa menjadi jembatan perdamaian bagi yang bersitegang." Baroto menyahut perkataan dua orang tersebut.


"Apapun itu Awan Putih semoga menjadi kelompok yang berguna seperti cita cita Nakmas Junjungan."


"Kalian benar..," Koloireng kembali berkata.

__ADS_1


Kini semua terdiam, menikmati perjalanan menuju wilayah tenggara tersebut.


"Ngomong omong, sudah satu bulan lebih Nakmas menghilang, apakah kira kira selamat?." tanpa sadar Baroto bergumam, entah bertanya pada siapa?.


Koloireng menarik nafasnya, begitu juga dengan Pitu Geni.


"Pertarungan yang mengerikan jika aku teringat akan Purnama Berdarah, jujur aku berharap Nakmas selamat tapi aku tak bisa memastikan apapun." Koloireng menyahut dengan lesu sedikit ada keputusasaan di dalamnya.


"Semoga Sang Pencipta melindungi orang baik seperti Nakmas."


**


"Kita datangi Kawedanan, dan akan kita bawa seluruh kekuatan yang ada," Sonosumar berkata sedikit berapi api setelah berfikir sejenak.


Keempat tetua yakni Jeliteng, Pario Jatri, Panji Gemilang dan Rasimandar mengangguk setuju apa yang Tetua Agung katakan.


"Baik, aku akan bawa kekuatan terhebat dari Jubah Perak, biar mata semua orang terbuka.''


"Benar, saat inilah waktu yang tepat untuk membuka mata orang orang pemerintahan, agar kedepannya tak ada yang berkelit jika kita meminta sedikit pajak..he.he..he.."


Para Tetua itu saling sahut menyahut, mengeluarkan pendapatnya yang intinya meyetujui apa yang Sonosumar katakan, Menggempur Kawedanan Bojang yang di pimpin Wedono Bunaran.


Tak berapa lama setelah Sonosumar mengeluarkan perintah penyerangan ke Kawedanan Bojang, para anggota Jubah Perak kini sudah berkumpul di depan pendopo markas Utama kelompok tersebut.


Ratusan orang tersebut kini sudah bersiap dengan senjata yang paling di andalkan oleh mereka, berniat berperang menyerang wilayah terkecil dari kerajaan Bhumi Cempaka tersebut.


**


Berita rencana penyerangan kelompok Jubah Perak ke kawedanan Bojang entah bagaimana sudah di tangkap oleh Wedono Bunaran.


Kepanikan langsung terjadi di wilayah kecil tersebut, sang pimpinan langsung pucat pasi wajahnya.


Meski demikian sebagai pimpinan pantang baginya menunjukkan semua itu kepada seluruh warganya.


"Kita siapkan semua nya, aku sudah mengirim utusan ke pusat, semoga mereka bersedia membantu kita."


"Selain itu aku juga sudah meminta bantuan kepada perguruan persilatan yang ada di wilayah Kawedanan ini."


Dengan perasaan yang tak bisa di lukiskan, Wedono Bunaran tetap memimpin rakyatnya melawan serangan yang mungkin akan datang tersebut.


Sementara Jaya hanya menatap semua keriuhan itu dengan tenang, niatnya jika kelompok Jubah Perak datang dan tetap tak bisa di ajak berbicara baik baik tentu saja akan di musnahkan.


Jaya kini berdiri di menara pengawas yang ada di depan alun alun Kawedanan, menatap ke arah dimana nanti kelompok Jubah Perak akan datang.


___________


Jejaknya.....

__ADS_1


__ADS_2