Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Keputusan para Dewa


__ADS_3

Di Alam Dewa lebih tepatnya di wilayah istana Dewa Kebijaksanaan, tengah terjadi pertemuan yang di hadiri oleh para dewa Senior, dewa yang akan memutuskan segala sesuatu.


"Ingsun ingin agar ulah si perusuh di hentikan..!," dengan lantang Kaisar Dewa berkata.


"Maaf Yang Mulia Kaisar, apakah tak cukup hanya dengan dewa utusan? memangnya sekuat apa dia..?," tanya Dewa senior yang lain, membuat Kaisar Dewa hampir keceplosan bahwa dia pernah mengutus beberapa Dewa dan gagal.


"Ingsun merasa sosok ini sangat kuat, takutnya permasalahan mereka (alam manusia) merembet ke Alam ini."


"Ha..ha..ha..Yang Mulia terlalu khawatir, mana ada manusia yang mampu mengusik Dewa?."


Kaisar Dewa menatap lawan bicaranya, "Maaf Dewa Wilarang, apakah anda tak pernah mendengar jika jutaan tahun yang lalu ada sosok Dewa yang berasal dari manusia?."


Perkataan Kaisar Dewa tentu saja membuat para dewa tercekat, mereka pernah mendengar tentang itu semua.


"Kita jangan meremehkan umat manusia, mereka memang tidak di anugerahi fisik sekuat kita, tapi ingat mereka memiliki otak cerdas yang bahkan tak kita miliki, dalam arti mereka mampu berpikir apa yang tak di pikirkan para Dewata." Dewa Kebijaksanaan meredam perdebatan di sana dengan pendapatnya yang memang benar adanya.


Dewa memang memiliki kekuatan fisik melebihi manusia, bahkan di anugerahi Raga Abadi yang membuat mereka tak mudah mati. Bisa terbang, meregenerasi tubuhnya dengan hebat serta bisa melakukan apapun yang di inginkannya sesuai kekuatan fisiknya, hal inilah yang membuat sebagian dewa menjadi pemalas.


Saat manusia menemukan senjata pelontar ( nenek moyang senapan) bahkan para Dewa terkagum kagum tak terkira.


"Benar kan apa kata Ingsun? jangan memandang remeh manusia, mereka bisa melakukan apapun." kata Kaisar Dewa lagi dengan menegaskan.


Pertemuan tersebut akhirnya memutuskan bahwa para dewa akan mengirimkan pasukan Dewa Pemusnah, yang nantinya akan bekerja sehati hati mungkin, agar umat manusia dan alam manusia tak rusak parah.


Tentang keberangkatan Dewa Pemusnah masih akan menunggu situasi dari hasil penyelidikan, padahal para dewa penyelidik tersebut berasal dari dewa utusan yang ada di bawah naungan Kaisar Dewa, jadi bisa di pastikan bahwa hasil penyelidikan tersebut tentu saja akan memastikan Dewa Pemusnah tetap di kirim ke alam manusia.


"Hmm, kali ini kau tak akan lolos dan selamat." Kaisar Dewa tersenyum dalam diamnya.


**


Kedatangan Jaya ke markas bersama yang lain di sambut suka cita oleh seluruh anggota Awan Putih.


Apalagi memang kelompok tersebut akan menyelenggarakan hajatan Sumpah Janji langit (nikah..wk.wk) yang rencananya masih akan di langsungkan kurang lebih satu purnama lagi dari sekarang.

__ADS_1


"Kami sempat cemas Nakmas, begitu tersiar kabar ada kekacauan di pesta Panen Bumi." kata Koloireng begitu mereka tengah duduk, setelah rombongan Jaya tiba di pendopo depan untuk ngaso.


"Benar kata Sesepuh Koloireng, bahkan kita sudah menyiapkan pasukan," Sumanjaya menimpali perkataan Koloireng, "Meski kami seharusnya tak usah melakukan itu, karena Nakmas Junjungan pasti mampu dengan mudah mengatasinya."


Jaya tersenyum, mendengar perkataan dua sesepuh yang ada di sana.


"Memang pertarungannya sangat dahsyat, bahkan lebih dahsyat daripada saat melawan Iblis." Baroto berkata, sedikit menceritakan peristiwa di alun alun MulyaBhumi.


"Benar, sangat luar biasa Tetua kita ini," timpal Pitu Geni, mendukung apa yang di ceritakan Baroto.


"Tentu saja dahsyat, mereka bukan manusia," Kumala keceplosan berkata demikian.


"Maksud Den Ayu?." Pitu Geni, Baroto dan yang lainnya terkejut penasaran.


Kumala menutup mulutnya, merasa bersalah telah sembarangan berkata.


"Mereka monster," kata Jaya pelan, tak ingin semua menduga duga dan makin penasaran.


"Ooh, kami kira mereka moyang iblis yang mau balas dendam." kata Baroto akhirnya.


"Ngomong omong kapan Kakang akan mengirim utusan kepada Romo prabu di Ngarsopuro? dan paman Jambumangli?." tanya Pelangi mengalihkan perhatian semuanya.


"Tentang tepatnya hari Sumpah Janji Langit?." kata Jaya.


"Hu'um."


Jaya langsung menatap Narimo dan para tetua.


"Dalam pekan pekan ini kami rencanakan Nakmas," jawab Narimo setelah terdiam sejenak.


"Ya benar Nakmas, nanti pasukan kurir yang akan menjalankan tugas ini."


Semua bahasan kini beralih ke arah hajatan Pesta Sumpah Janji Langit, mulai dari berapa hari waktu pasti pestanya, terus undanganny siapa saja, bahkan menu makanannya juga di bahas di sana.

__ADS_1


"Kira kira mau pakai adat apa ya?." tanya Sugara, sebab selama Sugara di perguruan Cemoro Sewu tak pernah ada acara seperti ini di sana. kawin ya tinggal kawin jika keduanya cocok, di saksikan dan di sah-kan Tetua Agung, habis itu langsung masuk kamar (ngapain ya..?)


"Karena kita rata rata dari Ngarsopuro, termasuk Ndoro Ayu Pelangi dan Den ayu Kumala maka kita memakai adat acara Ngarsopuran," kata Narimo menjelaskan.


Kumala, Pelangi dan Jaya malah saling pandang, tak tahu menahu akan masalah tersebut. "Loh ada acara adat istiadatnya juga toh?." tanya Jaya terlihat kaget. " Aku kira seperti yang pernah di ceritakan paman Sugara dahulu, cukup mengatakan janji janji langsung masuk kamar." kata Jaya lagi dengan polos, membuat Kumala dan Pelangi jadi tersipu malu.


Semua tergelak mendengar perkataan sang Tetua, membuat dua gadis tersebut makin tersipu malu.


**


Sesosok bayangan melesat keluar dari sebuah portal pemindah, lalu dalam waktu singkat portal itu menutup begitu sosok tersebut bergerak terbang menjauhinya.


"Hmm, alam yang indah tak pernah berubah, kecil namun penuh kedamaian."


"Sayang, ada beberapa perusuh yang mungkin bisa membuat alam ini rusak dan hancur."


"Ingsun ingin memastikan sesuatu," kata sosok tersebut lalu bergerak sangat cepat mengitari angkasa berkeliling mencari apa yang di inginkannya.


Gerakannya yang sangat cepat menandakan bahwa sosok itu pastilah sangat hebat, bahkan kecepatan gerakannya melebihi dari para dewa utusan yang pernah datang ke Alam Manusia.


**


Jaya terdiam duduk di beranda yang ada di depan kamarnya, instingnya mengatakan ada sebuah kekuatan masuk di alam ini.


Jika harus jujur, bukan dirinya pribadi yang di khawatirkannya saat ada lawan yang berat, tapi manusia yang ada di sekitarnya terlebih dua wanita yang sangat di sayanginya.


Dia tak ingin orang orang yang di kasihi terkena celaka, mereka hanya memiliki satu nyawa dan jika hilang berakhir sudah hidupnya.


"Hmm, aku harus mencari Air Suci Kehidupan, agar dinda Kumala dan dinda Pelangi bisa abadi, meski tak memiliki Raga Abadi," pikir Jaya, masih termenung.


Banyaknya kejadian yang bisa mengancam nyawa orang orang terkasihnya memaksa dirinya harus memikirkan Air Suci Kehidupan yang di miliki Dewa Kemakmuran, dewa yang mampu menumbuhkan kehidupan membawa kemakmuran.


"Ya aku harus mendapatkan air itu bagaimanapun cara nya demi orang orang terkasihku."

__ADS_1


________


Jejaknya...


__ADS_2