Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Menunjukan Pamor Dewa


__ADS_3

Dua kuda berlari dengan cepat membelah gelapnya malam dengan tergesa gesa.


"Kita harus cepat .. saudara ku..!, menurut berita mereka menuju ke wilayah ini."


"Ya jangan sampai kita kehilangan jejaknya lagi."


Dua sosok berkuda yang berbincang bersahut sahutan ini nampaknya Sepasang Raja Pedang yang berusaha mengejar Jaya Sanjaya, karena menurutnya pusaka itu pasti ada padanya.


Mereka tengah menuju ke arah kerajaan Pandaegalang setelah dari kerajaan Bumi Asih.


"Kita istirahat dan mencari tahu keberadaan anak itu di sini," kata Singo Dimejo salah satu dari dua pendekar pedang itu memberikan usulannya, setelah memasuki wilayah perkotaan di kerajaan yang lumayan besar meski masih di bawah kerajaan Karang Pandan.


"Ya..aku setuju..," balas Karpo dipolo, mengangguk memacu kuda nya memasuki sebuah kota di kerajaan Pandaegalang.


Dua pendekar pedang itu lalu memasuki sebuah kota, mulai mencari tempat makan dan menggali informasi sambil menatap sekeliling mencari keberadaan sasarannya.


"Di depan ada tempat makan, kita bisa makan sembari mencari berita," kata Singo Dimejo.


"Aku setuju."


**


Jaya dan Narimo tengah makan di sebuah warung makan.


Sudah beberapa hari ini mereka tak makan seenak di warung tersebut, makanan yang terakhir di pesan paling paling nasi pecel, atau nasi urap meskipun ada lauknya berupa telur dadar.


Terdengar sayup sayup percakapan di meja sebelah mereka makan.


"Penemu pusaka sekarang tengah di buru oleh para pendekar," bisik seorang pembeli yang duduk di sebelah kedua nya kepada temannya.


"Iya to..?."


"Hmm."


"Bagaimana kau tau...?."


"Lah..berita nya santer terdengar seperti itu," kata orang yang pertama kali berbicara tadi.


Pembicaraan itu membuat Jaya dan Narimo sedikit menegang, selama ini keduanya menganggap kelompok Gagak Hitam hanya kebetulan saja bertemu mereka, namun tak mengira jika para pendekar lainnya juga mengejar keduanya.


"Bagaimana ini Nakmas...?," tanya Narimo tergagap penuh dengan kepanikan.


"Mau bagaimana lagi.., akan aku hadapi jika memang mereka berniat mencelakai kita paman." sahut Jaya pelan agar tak menarik perhatian yang lain.


Belum selesai mereka makan dan berbincang, tiba tiba nampak datang dua orang pendekar dengan dua pedang di punggung nya.


Mereka adalah Sepasang Raja Pedang, yang semenjak datang terus menatap ke arah Jaya dan Narimo.


Dua Raja Pedang itu menatap tajam ke arah Jaya Sanjaya yang masih santai saja menikmati makanan nya.


Bahkan hingga makanan mereka datang pun keduanya masih menatap tajam ke arah Jaya yang sudah menyelesaikan makanannya.


Jaya dan Narimo sudah membayar makanan dan berniat pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu ..kisanak...!!."


Tiba tiba seseorang dengan senjata bola baja berduri sudah berdiri tegak menghadang langkah Jaya dan Narimo yang sudah ada di halaman warung makan tersebut.


Orang dengan kepala plontos dan berkumis serta berewok lebat itu terlihat menyeringai.


"Ada apa ..? mengapa kisanak menghentikan langkah ku..?.''


"Apa benar kau anak muda yang membawa pusaka dari Jurang Kedungpuru..?." bentak orang tersebut tanpa basa basi.


Jaya menatap sosok di depannya.

__ADS_1


Kini semua orang menatap Jaya seakan menunggu jawaban, begitupun dengan pengunjung lain termasuk dua Raja Pedang


"Apa maksudmu kisanak..?, aku memang pernah kesana, tapi aku tak membawa pusaka yang kau katakan.."


"Hua.ha..ha ..Mana ada maling mengaku..!," sentak lelaki botak bersenjata bola baja berduri itu dengan galak.


"Terserah kamu percaya atau tidak, aku memang tak membawa apapun dari sana..," kata Jaya Sanjaya dengan sungguh sungguh.


"Apa aku harus menghajar mu..!, baru kau mengaku..!," teriak orang tersebut masih menatap Jaya sedikit meremehkan.


"Silahkan saja, kalau kau memang sudah bosan hidup..!," tantang Jaya sambil bersidekap di depan lawan, memprovokasi lawan nya.


Pria botak itu mulai murka mendapat jawaban Jaya, kemudian memutar rantai yang mengikat bola baja berduri, hingga terdengar suara berdengung, mulai akan menyerang.


Wuuung....wuuung....


Jaya mulai memerintahkan Narimo menghindar sambil membawa kuda kuda mereka, takut celaka.


Bola baja berduri itu sudah berputar menderu sebelum melesat ke arah Jaya Sanjaya.


Wuuusss.....


Dengan cepat Jaya meloncat menghindari hantaman benda berduri itu.


BRAAAKK...!


Bola Baja berduri menghantam sebuah Meja kayu jati yang langsung hancur berkeping keping.


"Keparaat...!!," teriak Pria botak itu dengan kesal, serangannya berhasil di hindari lawannya.


Wuuung ... wuuung....!!


Bola baja berduri itu kembali berputar putar melingkari pemiliknya sebelum kembali melesat menerjang ke arah Jaya Sanjaya.


Wuuussss....!!


Jaya mencoba menepis serangan tersebut dengan pedang yang sudah di cabut dari pinggang nya.


Akibat benturan tersebut pedang yang di gunakan Jaya langsung rusak seketika, terang saja karena pedang yang di gunakan Jaya hanyalah senjata biasa setingkat senjata bumi (lihat tingkatan senjata di chapter awal mula), sedangkan bola baja berduri senjata setingkat Langit.


"Hua..ha..ha..kau meremehkan senjataku keparat..!, sekarang rasakan akibat nya, pedangmu rusak..!." Pria botak itu tertawa terbahak bahak, merasa senjata biasa yang di gunakan Jaya kini sudah bengkok tak berbentuk.


Pria botak dengan kumis dan brewok itu kembali memutar rantainya, berniat kembali menyerang ke arah Jaya yang kini sudah tak bersenjata.


Wuuung...! wuuuuung....!!


Wuuusss...!!


Bola baja berduri itu kembali meluncur ke arah badan Jaya Sanjaya.


Tak ingin celaka Jaya meloncat menghindari senjata lawan sambil memanggil dan mengeluarkan dua senjata andalannya tombak Seto Ludiro dan perisai Wojo Digdoyo.


Buuummm...!!


Bola baja berduri menghantam sebuah pohon begitu Jaya menghindar, hingga menimbulkan ledakan keras sebelum pohon tersebut tumbang.


Ziing... siiing...!


Dua senjata andalan Jaya sudah melesat, muncul dari ruang hampa beberapa langkah di depan Jaya dan menghampirinya, seakan di lemparkan oleh seseorang.


Taaap... taaapp....!


Jaya menangkap senjata itu, aura kewibawaan langsung terpancar dari wajah hingga badan Jaya begitu bersatu dengan senjata tersebut.


"Aku tak akan mengampuni kalian para pengecut yang sukanya merampas hak orang lain..!," seru Jaya sembari memainkan jurus tombaknya, mengintimidasi lawan dan orang orang yang mengejarnya termasuk dua orang berpedang yang masih mengawasi Jaya dengan seksama.

__ADS_1


Wuuung...wuuung...


Pria botak mulai memutar rantai dengan pemberat bola duri tersebut.


Wuusss..... wuuussss....


Sedangkan Jaya mulai memutar tombak dan memainkan jurus jurus nya.


"Hiaaaaaa...!!."


Jaya melesat, meloncat maju.. seiring dengan bola baja berduri yang juga bergerak menghantam ke arahnya.


JDUUAAAARRT...!!


Ledakan keras terjadi saat bola baja berduri itu menghantam perisai yang di pegang tangan kiri Jaya.


Sriiing... sriiing...


Craaassh..... Jleeebbb...!!


Dengan tangan kiri yang memegang perisai Jaya menangkis hantaman bola baja berduri itu, dan menebaskan tombak di tangan kanan ke arah leher lawan hingga tersayat lebar, menyemburkan darah dari bekas sayatan mata tombak itu, sebelum di akhiri dengan tusukan di dada lawan.


"Gggrrrrhh..."


Memutar tusukan tombak itu dan menariknya hingga jebol membawa serta jantung lawannya, yang langsung tumbang...mati.


Semua yang menyaksikan peristiwa itu menjadi begidik ngeri, melihat betapa hebatnya pemuda tersebut.


Sepasang Raja Pedang menatap pertarungan di malam gelap itu dengan seksama.


"Hmm...pantas dia berhasil keluar dari Jurang Kedungpuru..," kata Singo Dimejo dengan pelan dan di angguki oleh Karpo dipolo.


"Apa menurutmu anak ini memang tak membawa pusaka tersebut..?." tanya Karpo dipolo.


"Entahlah...mungkin iya mungkin juga tidak, tapi aku penasaran dengan kemampuan nya..," sahut Singo Dimejo dengan cepat.


"Kita ikuti saja dia, besok kita serang saat hari sudah terang," usul Karpo dipolo yang di angguki oleh Singo Dimejo.


Jaya meninggalkan tempat tersebut setelah meninggalkan sedikit uang kepada pemilik warung makan.


"Urus mayat ini untuk ku..!," kata Jaya sebelum pergi di susul Narimo di belakangnya.


**


"Kau sudah semakin hebat murid ku..!." kata Betoro Kolo Mata Iblis, menatap ke arah Kumala.


"Selain jurus Mata Iblis yang nanti akan menjadi jurus rahasia mu, kau juga sudah menguasai jurus Tujuh Langkah Pedang Bayangan, sebuah jurus yang menjadi andalan ku saat aku masih melanglang buana."


Tujuh Langkah Pedang Bayangan adalah ilmu pedang yang juga mengandalkan kekuatan dan kecepatan dari pengguna nya.


"Terimakasih guru, semua kebaikan mu tak akan mampu aku bayar dengan apapun," sahut Kumala dengan pandangan mulai berkaca kaca, jika mengingat betapa berjasa nya sang guru pada dirinya, dirinya pasti akan celaka jika tak di tolong dan di bimbing oleh sang guru.


"He.he..he.., aku tak mengharap apapun dari mu Kumala, hanya saja aku berpesan gunakan ilmu ilmu yang aku ajarkan untuk kebaikan, membela yang lemah dan menumpas angkara murka..," kata Betorokolo Mata Iblis.


"Apa rencana mu kedepan..?."


"Aku ingin mendirikan sebuah kelompok yang akan membela kebenaran, jika perlu aku ingin merebut kekuasaan di Mata Iblis, karena selama ini mereka sudah melakukan banyak kerusuhan dimana mana."


Betorokolo hanya mengangguk saja,


"Pasti akan berat langkahmu, tapi demi kebaikan pasti ada jalan menuju ke sana.."


"Benar guru..tapi itu cita citaku jangka panjang, jangka pendeknya aku ingin membalas dendam dan sakit hatiku.."


Betorokolo hanya terkekeh, "Jangan kau perturut kan hawa napsu murid ku."

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak dan dukungan nya.... makasih Kaka ...


__ADS_2