
"Cuiih..!, aku tak percaya bualan mu..saudara Suwono..!," teriak pimpinan Gagak Hitam di kelompok itu.
Pimpinan Gagak Hitam di kelompok tersebut tetap melesat maju menantang Jaya bersama sebagian anak buah yang mempercayainya.
Orang orang tersebut langsung meloncat tetap menyerang Jaya Sanjaya.
"Hiaaaaaa...!."
"Hiaaaaaa...!!."
Teriak beberapa anak buah Gagak Hitam, meloncat menyabetkan pedang di tangan nya menyerang Jaya yang sudah bersiap dengan tombak kyai Seto Ludiro.
Wuuusss....
Jleeeebb....!!
Jleeeebb....!!
Dengan cepat tombak Jaya melesat menusuk langsung ke dada orang orang tersebut, tepatnya ke arah jantungnya, hingga racun DasaLaksa bisa langsung mengenai cacing darah Sarma Pala.
"Aaaaarrcchh...!."
"Uuuughhh..!."
Teriakan orang orang Gagak Hitam yang tertancap dadanya oleh tombak kyai Seto Ludiro.
Bruuuk...!
Bruuukkk..!!
Tak berapa lama anggota Gagak Hitam tersebut langsung bertumbangan dan tewas seketika tak bangkit lagi.
Anggota Gagak Hitam yang lain langsung tercekat, mundur beberapa langkah termasuk pimpinan di kelompok tersebut.
**
Kelompok Ratu Dewi Mata Iblis sudah berada di wilayah Kerajaan Agung Jongka Lengkong.
Kelompok tersebut masih mengawasi situasi keadaan disana.
"Ratu..kita sudah sampai di wilayah pusaka tersebut berada."
"Hmm."
"Namun karena ini siang hari maka kita belum bisa mendeteksi keberadaan nya."
"Maksud nya bagaimana paman..?."
Anak buah Mata Iblis pimpinan Ratu Dewi Mata Iblis tersebut menarik nafasnya.
"Pusaka tersebut berpendar jelas jika malam hari, dan kita bisa mendeteksi keberadaan nya lebih jelas saat malam tiba."
__ADS_1
"Ooh.." Sang Ratu nampak mengangguk angguk kan kepalanya, memahami apa yang di katakan anak buahnya dari informasi mata mata mereka.
"Baiklah.. kalau begitu kita cari tempat istirahat, dan untuk perburuan Pusaka akan kita lakukan nanti malam," perintah Ratu Mata Iblis.
Rombongan tersebut kemudian mencari tempat untuk makan sambil mencari informasi semua yang berhubungan dengan benda yang akan di buru nya tersebut.
**
Jaya dan rombongan nya sudah berada di markas utama Gagak Hitam.
Tampak tetua Agung Lodaya sudah duduk di kursinya di dampingi para tetua lainnya, mereka menyambut Jaya dengan berbagai perasaan, sedikit takut namun juga ada berbagai pengharapan, berbagai rasa yang sulit di jabarkan.
Kini mereka merasa bukan lagi makhluk Abadi, karena ternyata kini mereka bisa juga benar benar mati.
Bagaimana pun juga sebagai manusia terkadang memiliki rasa bosan, jika hidup selama ratusan tahun bahkan mungkin ada yang ribuan tahun di kelompok tersebut, tanpa mengenal kematian dan terkadang itu merupakan siksaan tersendiri bagi orang orang itu.
Bagi mereka yang masih senang dengan keabadian, melihat kehadiran seorang Jaya seakan melihat Malaikat Kematian yang sangat mengerikan yang sewaktu waktu bisa mencabut nyawanya.
Namun bagi yang sudah berusia ratusan tahun disana, atau bahkan ribuan tahun, kematian terkadang adalah jalan terbaik meninggalkan segala keruwetan alam ini.
"Selamat datang tuan pendekar yang Agung..," sambut Lodaya dengan sopan kepada Jaya dan rombongan.
Lodaya dan tetua lainnya berdiri untuk menyambut kedatangan Jaya Sanjaya dan rombongan.
Banyak rakyat Gagak Hitam yang terpana dengan peristiwa tersebut, karena selama ini mereka tak pernah melihat pimpinan tertinggi mereka begitu menghormati kelompok lain.
Namun mereka menyadari siapa sosok pemuda di depan tersebut.
Setelah duduk jaya kemudian berkata.
"Aku tau kelompok ini adalah kelompok yang hebat, kuat dan tak mudah untuk di taklukkan, namun aku mempunyai sesuatu yang mampu membuat kalian tak lebih dari manusia biasa lainnya yang bisa mati.''
Semua terdiam mendengar perkataan Jaya Sanjaya, karena memang kenyataannya demikian.
"Dan mungkin bukan hanya aku seorang, yang memiliki penangkal dari keabadian kalian, namun hingga saat ini masih aku satu satunya orang yang bisa memusnahkan kelompok ini," kembali Jaya berkata dengan tegas, pandangan nya melihat sekeliling menatap para anggota Gagak Hitam yang hadir di sana.
"Untuk itu aku ingin mengajak kalian kelompok Gagak Hitam menjadi bagian dari anggota ku, menjadi bawahan ku di Awan Putih."
Jaya menghela nafas nya, kemudian melanjutkan perkataannya kembali.
"Kita bisa bersama memanfaatkan umur dan waktu yang ada ini, untuk bersama sama membela kebenaran, menegakkan keadilan dan memberantas kejahatan."
"Karena sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya," kata Jaya berturut turut.
Dalam sesaat saja suasana menjadi gaduh dengan perkataan dan tawaran Jaya tersebut.
Terang saja, karena tawaran itu membuat kelompok tersebut terpecah, ada yang setuju namun tak sedikit pula yang berniat menolak.
Bagi beberapa orang anggota Gagak Hitam mendapatkan tawaran tersebut akan memberi banyak akibat dan pengaruh, bagaikan memakan buah simalakama...serba salah.
Bagi yang setuju bergabung maka kelompok Gagak Hitam bukan lagi kelompok mandiri tapi kelompok bawahan yang mengabdi kepada kelompok lain.
__ADS_1
Namun bagi yang tidak setuju bergabung, maka mereka yang beranggapan selalu bebas bisa di pastikan jika kini ada seseorang yang mampu memusnahkan mereka.
"Aku tak akan memaksa kelompok ini bergabung dengan kami, namun jika aku menemukan kelompok ini berbuat kejahatan maka aku yang pertama akan memusnahkan kalian." kata Jaya dengan makin tegas.
Semua masih terdiam tak berkata kata, hingga Lodaya sang Pemimpin Gagak Hitam berkata, " Maaf Tuan Pendekar Yang Agung, aku mewakili kelompok ku untuk meminta waktu untuk berfikir, menimbang dan mengambil keputusan nantinya."
Jaya tersenyum mengangguk, " Aku akan menunggu keputusan kelompok ini, aku tunggu paling lama dua purnama di markas Awan Putih." kata Jaya.
Semua mengangguk setuju dan mulai memuji keputusan Jaya yang bijaksana menurut mereka itu.
**
"Kami pesan makanan untuk seratus orang."
Nampak kelompok Ratu Mata Iblis kini sudah berada di sebuah tempat makan yang cukup besar.
Hanya beberapa orang saja yang duduk di meja dan kursi, selebihnya duduk seenaknya di depan warung makan tersebut, nantinya makanannya akan di antarkan di sana.
Ratu Dewi Mata Iblis duduk di meja tersendiri bersama petinggi kelompok nya menikmati hidangan yang di pesan.
Mereka tengah berbincang dan mengatur strategi bagaimana cara untuk mengambil pusaka di sana nanti nya.
Sementara di sisi kanan kiri nya juga ada beberapa kelompok para pendekar yang juga berniat memburu pusaka.
"Kita mulai perburuan saat malam menjelang," kata seseorang yang berada di meja sebelah Kanan kelompok Mata Iblis tersebut.
"Ya...aku yakin bersama guru Tohjaya kita akan bisa mendapatkan nya," sahut lawan bicaranya.
"he.he..he.. bukan hanya aku, di sini juga ada Tuan Broto petinggi kelompok Singa Emas yang menjadi tangan kanan sang Maha Prabu Jongka Lengkong..," kata pria sepuh yang di panggil guru Tohjaya.
Tuan Broto hanya mengangguk dan tersenyum, pria dengan kumis dan jenggot tebal itu juga merasa yakin jika misi yang di bebankan Kerajaan Agung Jongka Lengkong akan terpenuhi.
**
Matahari mulai tenggelam, menyisakan sinar merah di arah barat.
Kini nampak beberapa gerombolan dan kerumunan melihat ke arah hutan yang ada di bawah kaki gunung tersebut.
Gerombolan dan kerumunan itu adalah kelompok kelompok para pemburu pusaka.
Mereka tengah mengawasi sinar yang berasal dari arah hutan tersebut.
Namun karena hari belum benar benar gelap maka sinar dari pusaka tersebut belum terlalu kelihatan.
"Hhuhh..!, menunggu selalu membosankan..," umpat Tino sambil menatap ke arah hutan.
"He.he..he.., Sabar saudara ku..pasti pusaka itu akan menunjukkan aura nya dan kita tinggal menghampiri nya,' sahut Lono.
Jino hanya diam mendengar perdebatan saudara saudara nya, matanya fokus menatap ke arah hutan yang di sinyalir tempat pusaka itu berada.
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya...