Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Bertarung dengan Sumantri


__ADS_3

Anak buah Pisau Terbang yang di hajar oleh rombongan gabungan kelompok Jaya dan pengawal saudagar Suryadi masih tergeletak di tanah, merintih kesakitan.


"Aduh."


"uugh., sakit pipiku."


Terdengar rintihan beberapa anak buah Pisau Terbang tersebut, sebagian masih mengusap usap bagian tubuhnya yang masih terasa sakit, namun yang mulai bugar sudah mengurusi mayat dari Dua Pisau Neraka.


Tanpa mereka sadari datanglah dua orang mendekat ke arah orang orang yang masih sibuk tersebut.


"Apakah yang terjadi..?."


Anak buah Pisau Terbang itu terdiam menatap dua orang asing yang bertanya kepada mereka.


"Apa semua orang menjadi bisu..?!." bentak Pyong Karund.


"Apa perlu kami bungkam mulutnya sekalian..??!!," kali ini Sumantri yang berkata dengan ancaman, membuat anak buah Pisau Terbang itu tergagap.


"M..m.maaf...... T...t.tuan, kami baru saja di hajar sekelompok orang."


"Kemana mereka pergi..??."


'Arah Kotaraja..," sahut anak buah Pisau Terbang tersebut sambil menunjuk ke arah tertentu.


Dua sosok tersebut langsung meloncat dan melesat dengan cepat, hingga mengagetkan anak buah Pisau Terbang yang masih berada di sana dan ternganga melihat kecepatan dari dua tokoh tersebut.


**


Sebuah kota yang tak terlalu ramai kini ada di hadapan rombongan gabungan kelompok Jaya dan para pedagang itu.


Kotaraja Jogonolo, atau banyak orang menyebutnya kota Banditan, walaupun sebenarnya bernama kota Banuran.


Sebutan Banditan karena memang kota itu terkenal akan banyaknya bandit yang berkumpul di sana.


Bandit bandit tersebut kebanyakan anak buah Akar Jiwa, kebanyakan berarti tak semuanya anak buah Akar Jiwa.


Jadi rata rata dari kelompok Akar Jiwa banyak bermarkas di sini.


Hanya saja pusat pimpinan akar Jiwa berada di kabupaten Jagalan di sebelah Utara dari Kotaraja Banditan ini.


"Ibukota Kotaraja kok kayak gini," Kumala cemberut sedikit kecewa, melihat kondisi situasi kota yang terlihat sepi, kotor dan seakan tak terurus.


Bagaimana mau bisa maju jika pemimpin kotanya selalu tertekan tak bisa mengembangkan diri sesuai dengan kehendaknya.


"Iya...mana bisa kita belanja kalau begini," Pelangi juga kecewa dengan apa yang di lihatnya.


"Cck," kedua gadis itu menggerutu dan berdecak kesal, membuat Jaya ingin tertawa terbahak melihat keduanya menekuk wajahnya namun makin terlihat menggemaskan baginya.


"Sudah tak usah cemberut seperti itu, masih banyak kota yang akan kita lalui, nanti kalian bisa belanja belanja lagi," hibur Jaya kepada keduanya, sambil tersenyum.


"Halaah..Kakang Jaya pasti senang, kita tak belanja di sini dan kita tak boros kan?." sahut Kumala dengan kesal, masih cemberut.


"Iya..pasti kakang malah senang jika semua kota sepi seperti ini, dan kita tak melakukan apapun" sahut Pelangi menimpali.

__ADS_1


"Eeh...siapa bilang?, memang berapa sih habisnya jika belanja belanja?, apa Dinda Pelangi lupa Jika aku memiliki banyak uang dan aku bisa memberikan uang seberapa pun yang kalian minta," sahut Jaya, tak mau di salahkan oleh kedua gadisnya.


"Benarkah? kakang enggak melarang kita belanja belanja nanti nya..?." Kumala menatap lelaki tampan yang ada di sebelah nya.


Jaya mengangguk saja, melajukan kuda dengan pelan mengimbangi kecepatan pedati.


"Kalau begitu kasih aku uang?," seru Pelangi tiba tiba, sambil menyodorkan tangan nya, meminta uang kepada Jaya, meski itu di lakukan Pelangi dengan tak serius.


Jaya terdiam, tangannya bergerak seakan melambai, tiba tiba di tangannya sudah ada sekantung uang emas yang jumlahnya bahkan dua kali lebih banyak dari kantung yang ada pada Kumala pemberian tuan kota Lembah Emas.


"Haaah....??, Yeeeiiiii...!!."


Dua gadis itu hanya terbelalak, lalu berteriak histeris, dan jika mereka tak berada di atas kuda masing masing, pasti keduanya sudah menghambur memeluk Jaya yang makin terlihat keren.


"Untuk mu..!," kata Jaya dengan entengnya menyerahkan sekantong uang Emas,...emas loh.. bukan perak... apalagi perunggu, membuat Pelangi terpekik kegirangan.


"Aaaaaa.... terimakasih Kakang," sahut Pelangi dengan wajah berbinar.


Kumala, cemberut, "Aku mana Kakang?'' serunya dengan wajah di tekuk, menyodorkan tangan nya.


"Itu buat kalian berdua, belum tentu juga habis selama perjalanan kita ," sahut Jaya dengan entengnya.


Pelangi juga mengangguk, "Iya Kaka ini buat kita berdua."


Kumala lalu tersenyum senang mendengar hal itu.


"Terimakasih Kakang...," seru keduanya, sambil tersenyum dengan sangat manis sekali.


**


Selama ini jarang yang mau mampir ke kota itu jika tak sangat terpaksa, semua memilih memutar dan menghindar.


Sebenarnya kemarin saudagar Suryadi awalnya juga ingin memutar rencana nya, namun karena bersama rombongan Jaya maka di urungkan niat tersebut karena rutenya jadi makin pendek dan cepat.


"Hmm, ada mangsa baru.."


"Ya...nampaknya orang kesasar he ..he..he...." sahut yang lainnya dengan tatapan tajam ke arah rombongan tersebut.


"Waah...banyak juga pedati nya, pasti akan banyak barang jarahannya." kata yang lainnya.


"Ayo kita hampiri," seru yang lainnya.


Puluhan orang itu hampir mendekati ketika tiba tiba dari angkasa ada yang melesat turun.


Booomm...!!


Nampak dua orang turun dari angkasa dengan menimbulkan bunyi berdebum cukup keras dan menyibakkan benda benda yang ada di sekitarnya mendarat.


Orang orang itu ternganga dan membatalkan niatnya, sedikit mundur malah dan mulai melihat apa yang akan terjadi.


Dua orang yang melesat turun dari angkasa itu adalah Sumantri dan Pyong Karund.


Keduanya langsung menatap ke arah rombongan Jaya terutama Pyong Karund yang memiliki Indra penglihatan, sementara Sumantri hanya menghadapkan wajahnya di balik topeng yang aneh yang di kenakan nya.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu kelompok yang sudah mengacau Jiwa Abadi..!." teriak Pyong Karund, tatapan nya tajam mencari siapa kira kira orang unggulan di kelompok yang di buru nya.


Saudagar Suryadi terkejut mendengar nama Jiwa Abadi, meskipun bukan orang persilatan namun semua tahu siapa kelompok itu.


Degan gemetaran Suryadi sedikit mundur, dan kini Jaya malah sedikit maju, tatapannya langsung memandang ke arah Sumantri.


Di lihatnya Zirah sayap Garuda miliknya berada pada sosok pria paruh baya dengan topeng aneh tersebut.


Pyong Karund yang merasa di sepelekan karena dialah yang bertanya tadi membentak kembali, "Heiii...! siapa pemimpin kelompok yang sudah mencoreng dan mengotori Jiwa Abadi, bahkan melukai anggota kami...!." teriaknya dengan makin lantang.


Jaya tak menggubrisnya, berjalan sedikit maju menatap tajam Sumantri, memastikan penglihatan nya, kemudian sedikit tersenyum setelah merasa yakin.


"Oaaalaaah...cah edaaan...!, malah cengengas-cengeges... koyo wong gemblung," umpat Pyong Karund dengan makin meradang.


Jaya baru menoleh kearahnya, " Aku pemimpin yang kau cari." jawab Jaya lalu menatap kearah Pyong Karund, membuat pria paruh baya itu terkejut.


"Haah..??, memangnya tak ada orang tua di kelompok mu..??, bocah ingusan di angkat jadi pemimpin..??." seru Pyong Karund tak percaya, dan menatap Jaya merendah kan.


"Heiii....Peyoot...jaga ucapanmu..!!," bentak Kumala yang langsung nyolot karena Jaya di hina orang tersebut.


Kumala dan Pelangi yang sudah turun dari kudanya, maju selangkah di belakang Jaya yang sudah turun lebih dulu dari kuda tunggangan nya.


Pyong Karund melihat para anak muda yang bahkan maju diantara orang orang tua di belakang nya tak bisa menahan tawanya.


"Hua..ha..ha... kelompok aneh, anak anak bau kencur malah di biarkan bertingkah.''


"Aneh ...Ndasmu..!!, Matamu piceek..!!," teriak Kumala lagi.


"Ish...Kaka...ngomongnya kok gitu, nanti di tiru para reader loh.." Pelangi sedikit menyenggol lengan Kumala yang kelepasan omong.


"Oopss...maaf...kasar ya, he.he.he," Kumala menutup mulutnya dengan gaya menggemaskan.


Pyong Karund melotot mendapat hinaan dari gadis muda di depannya.


"Setaan Alaaas...!!, bocah kurang didikan..!!, aku sobek sobek..mulutmu..!," bentak Pyong Karund dengan luapan amarah.


"He..he..he...kau yang Setan Alas, wajahmu jelek banget..!," kali ini Jaya yang berkata sambil tertawa mengejek.


Sumantri yang mendengar rekannya di ejek langsung meloncat melesat menyerang ketiga orang di depannya.


"Heaaaa...!!, keparaat...!!."


Sumantri menghantam kan tongkat hijau pusaka nya.


Wuuuuuusss....


Deru angin langsung menyasar ke arah Jaya dan kedua gadisnya.


Dengan kekuatan Sumantri yang merupakan pendekar tingkat Raja Emas akhir dan di tambah kekuatan zirah sayap Garuda membuat kekuatannya mendekati pendekar tingkat Dewa perunggu pertengahan membuat hawa pukulan itu terasa mengerikan.


___________


Maaf...terputus, jangan lupa tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


__ADS_2