
Pelangi memeluk Jaya dengan erat, tak memperdulikan apapun, bahkan saat sebuah serangan menebas kearah nya.
Sriiing....!!
Tebasan pedang lawan itu menyasar kearah Pelangi.
Wuuuss....!
Traaaang....!!
Kumala yang masih waras, menghalau tebasan tersebut dengan pedang nya.
"Heii...hadapi dulu lawan, baru kangen kangenan....!," bentak Kumala sedikit jengkel, memandang Pelangi yang masih memeluk erat Jaya.
Pelangi hanya tersenyum tipis melihatnya, sebelum akhirnya melepaskan pelukan itu dan kembali bertarung melawan gabungan Tupai Terbang dan pengawalan kota.
BLEGAAAART....!!
Jaya melepaskan pukulan jarak jauhnya dengan Selaksa Ombak Menerjang, membuat sesaat para penyerangnya terpental mundur.
"Apa yang terjadi..?." tanya Jaya kepada Pelangi.
"Mereka ingin mencopet dan merampok kami," jawab Pelangi sambil menunjuk ke arah para anggota Tupai Terbang.
"Lah terus kenapa para penjaga kota malah menyerang kalian?."
"Entahlah kakang, kayaknya mereka kerja sama, kong kalikong antara penjahat dan penjaga kota," kali ini Kumala yang menyahut.
Jaya menatap kedua perempuan cantik yang ada di depannya dengan lekat.
Kedua gadis yang di tatap Jaya sedemikian rupa, malah tersenyum manis, seakan menebar pesona dan menunjukkan siapa diantara mereka berdua yang paling cantik, meskipun kenyataanya sungguh berimbang.
"Kita lanjutkan obrolan ini nanti, kakang mau membereskan mereka," akhir nya Jaya berpaling dengan jengah, dari tatapan dua gadis cantik tersebut, menatap tajam ke arahnya.
Sebelum Jaya bertindak dan bergerak, segerombolan pasukan nampak mendekat kearah kerusuhan tak lama setelah terdengar ledakan pukulan Selaksa Ombak Menerjang yang di hantamkan Jaya barusan.
Rupanya kerusuhan tersebut menjadi perhatian dari Senopati penjaga tempat itu, yang datang bersama pemimpin kota Gunung Emas.
**
Senopati Rejo Sumitro yang tengah berpatroli keliling wilayah kota Gunung Emas, beserta pemimpin kota secara tiba tiba di kejutkan oleh suara ledakan yang cukup keras.
Ledakan yang terdengar dahsyat dengan gaung dan gelegar nya hingga jarak beberapa tombak itu, cukup menarik perhatian rombongan tersebut.
"Ledakan apa itu?," tanya pemimpin kota yang bernama Wardi Wijaya, menoleh kearah sumber suara.
"Entahlah tuan, aku juga penasaran, apakah ada kerusuhan?." balas Rejo Sumitro, sang Senopati.
__ADS_1
Rombongan petinggi wilayah tersebut akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah ledakan itu.
Di lihatnya beberapa orang nampak terlibat keributan dengan penjaga kota dan kelompok lokal.
"Ada apa ini...!!," teriak Rejo Sumitro garang, begitu mendekat di lokasi terjadinya keributan.
Sesaat pemimpin rombongan penjaga kota pucat wajahnya, dengan kedatangan sang Senopati.
"M..m.mereka ...mengacau tempat ini..T..Tuan Senopati," sahut kepala penjaga kota dengan terbata bata, melempar kebohongan kepada atasannya.
"Kuraang ajaar...!, keparaat..!!, siapa berani menjadi perusuh di tempat ini..!," bentak Rejo Sumitro menatap garang ke arah Jaya yang terlihat melindungi kelompok nya.
Jaya balas menatap pejabat kota di depannya.
"Mereka yang bekerjasama dengan penjahat untuk memeras kami," sahut Sukarjo menyela ketegangan di sana.
"Apa..!!, tak mungkin ada seperti itu..!," bentak pemimpin kota, Wardi Wijaya.
"Kau pasti bohong..!," sahut Rejo Sumitro sang Senopati, masih dengan muka garang.
"Kami tak bohong, aku melihat sendiri kelompok itu mau mencopet dan merampok kami," Pelangi yang menjadi saksi aksi pencopetan itu mengeluarkan perkataan nya.
"Benar, dan para penjaga ini malah membela dan ingin memeras kami," sahut Kumala, menunjuk para penjaga kota, mendukung perkataan Pelangi.
Pemimpin kota Wardi Wijaya saling tatap senang sang Senopati Rejo Sumitro.
"Apakah omongan kalian bisa kami percayai..??."
Kedua gadis itu membulatkan matanya, diakui sebagai kekasih dari Jaya Sanjaya serta dirangkulnya.
Sekilas Pelangi melirik Kumala yang juga menatap ke arahnya, keduanya lalu membuang muka.
Jaya yang menyadari itu berbisik lirih kepada keduanya, "Kita bicarakan masalah kita nanti, yang penting kita bereskan masalah ini dahulu." katanya, meski pelan namun mengandung ketegasan di sana.
Wardi Wijaya sebagai pemimpin kota menatap plakat tersebut lalu tersenyum miring.
"Hmm, plakat itu tak guna di sini." katanya dengan senyum remeh.
Rejo Sumitro hanya mengangguk saja, mendengarkan ucapan pemimpin kota.
"Aku tau ini tak berguna disini, setidaknya aku hanya ingin menyatakan kepada kalian bahwa aku tak berbohong dengan kesaksian ku, karena aku juga orang yang di percaya di kota Lembah Emas," sahut Jaya mulai sedikit jengah.
"Dan jika kalian tetap tak mempercayai omongan kami, jangan salahkan aku ikut campur menumpas semua orang ini." seru Jaya sambil menunjuk kearah Tupai Terbang dan penjaga kota.
Senopati yang tak menyadari kekuatan pemuda di depan nya malah terkesan ikut meremehkan.
"Hmm, kau di anggap berjasa di Lembah Emas bukan berarti di sini juga akan begitu." ucap sang. Senopati, dengan sombong.
__ADS_1
"Dasar pemimpin dan yang di pimpin sama sama bebal pikiran nya..!." dengan keras Pitu Geni yang sudah tak sabaran, berkata mengumpat sambil menatap dua orang pemimpin kota tersebut.
Mendapat umpatan keras dua pemimpin kota tersebut langsung makin tersulut emosi nya.
"Keparaat..!, kalian memang tak bisa di kasih hati..!," bentak Senopati Rejo Sumitro, meloncat turun dari kudanya, di susul oleh Wardi Wijaya yang juga bekas pendekar itu turun dari kuda nya.
"Aku akan mencincang kalian yang berani membuat kerusuhan di sini..!," Wardi Wijaya sudah menyumpahi rombongan Jaya dan Pelangi.
**
Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi terlihat beberapa orang tengah berbincang dengan serius.
"Semoga nanti kita masih tetap bisa menguasai dunia persilatan dengan menjadi Pemimpin tertinggi di Serikat Pendekar." kata sosok tinggi besar dengan pakaian tertutup dan juga penutup kepala.
"Ya..aku juga berharap demikian, namun aku yakin tak ada yang mampu menandingi kelompok kita." sahut sosok di sebelahnya yang berpakaian sama dengan perawakan yang sama pula.
Di depan dua orang yang duduk di singgasana itu, terlihat beberapa orang dengan wajah tertunduk penuh hormat, seakan mereka memuja keduanya, salah satunya adalah sosok baju hijau dengan topeng aneh.
"Bagaimana keadaanmu Sumantri?." tanya salah satu sosok yang duduk di Singgasana mewah sebelah kanan tersebut.
"Hmm, sangat baik tuan Wari," sahut Sumantri dengan mengangguk dan tersenyum.
"Aku melihat kau sangat senang sekali, bukan begitu Wora..?." tanya sosok sebelah kanan tersebut lagi.
"Benar apa katamu Wari saudara ku," sahut sosok yang di panggil Wora tersebut.
"Bagaimana dengan yang lainnya..?." tanya Wari
"Baik, kami semua baik baik tuan...," sahut beberapa orang yang menghadiri pertemuan tersebut.
"Hmm, sepeti biasa beberapa bulan sebelum acara pemilihan Pemimpin Agung Serikat Pendekar, aku akan menugaskan kepada kalian mengawasi dan melihat adakah kelompok yang perlu kita waspadai."
"Kami menyadari itu tuan, dan akan kami pastikan tak ada kelompok sekuat Jiwa Abadi ini," sahut salah satu anak buah dari dua tokoh yang duduk bersama di singgasana depan tersebut.
"Bagus, jangan sampai ada yang akan merebut Kendali kita dari dunia persilatan, karena pasti akan kami singkirkan."
"Kelompok Jiwa Abadi harus menguasai dunia persilatan, mengawasi semua kelompok dan individu yang malang melintang di persilatan."
Rupanya yang sedang melakukan pertemuan adalah kelompok Jiwa Abadi yang dipimpin oleh Dua Iblis bernama Wora dan Wari.
Mereka terkenal dengan julukan Dua Iblis Wora Wari.
**
Pasukan Senopati Rejo Sumitro dan pasukan penjaga keamanan kota bergerak menyerang rombongan Jaya yang sudah bergabung dengan rombongan Pelangi.
"Hancurkan...!! kelompok pengacau..!!." teriak Rejo Sumitro
__ADS_1
___________
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....