Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda
Rontok nya perwakilan Partai Es Abadi


__ADS_3

Setelah Jaya menantang kakek tua tersebut, dirinya maju beberapa langkah, menoleh kearah anggota nya.


"Jangan kasih ampun..!, jangan ragu..!, hancurkan tanpa sisa...!," teriak Jaya kepada seluruh anggota Awan Putih yang ada belakangnya.


Semua anggota Awan Putih mengangguk, meng"iya"kan perintah sang Tetua.


Ronggoliwa yang mendengar perkataan Jaya, tergelak tertawa cukup keras, "Hua..ha..ha... memangnya kalian siapa ..!, lagak mu kaya pemilik kekuatan tanpa batas saja..!."


Ronggoliwa adalah salah satu legenda penguna elemen air, kekuatannya hampir setara dengan Dewa Es, dengan jurus andalannya Inti Es Semesta mampu mengguncang dunia persilatan kala itu.


"Tak perlu memiliki kekuatan tanpa batas untuk menaklukan kelompok seperti kalian..!," balas Jaya sambil tersenyum, tak terpancing dengan omongan kakek tua di depannya.


"Bocah tak tau adab, belum banyak makan asam garam, sudah bertingkah." geram Ronggoliwa, mendengar jawaban Jaya.


Keduanya kini sudah berhadapan, saling menatap seakan mencari kelemahan dari lawannya.


"Ayo kita mulai anak muda...!!," teriak Ronggoliwa, kakek itu sudah bergerak maju melesat menghantamkan pukulannya.


Wuuuuusss....!!


Pukulan kearah dada Jaya dengan mudah di hindari nya.


Sedikit menggeser kakinya, Jaya menghindari hantaman itu, bersama dengan itu Jaya balas menyerang kepala kakek tersebut.


Laaaap...


Mendapatkan serangan balasan Ronggoliwa sedikit merunduk, lalu melepaskan pukulan tangan tangan kiri susulan.


Hawa dingin mencekam saat tangan kiri menyerang makin terasa, rupanya Ronggoliwa sudah menaikkan tenaga dalam nya.


Untuk mengimbangi hawa dingin tersebut, Jaya mulai mengeluarkan hawa Badai Matahari dari sekujur tubuh nya, membuat alam sekitar yang semula makin dingin menusuk berangsur angsur menjadi netral kembali.


"Eeh...rupanya bocah ini pengguna element Api.." batin Ronggoliwa menatap anak muda yang menjadi lawan di depannya.


Pertarungan tangan kosong itu berlangsung hingga beberapa jurus, saling mengukur kekuatan masing masing.


"Bocah sialan ini hebat juga.." Ronggoliwa mulai mencabut senjatanya.


Jaya mengeluarkan pedang Angin Puyuh ketika lawannya mengeluarkan sebuah pedang.


"Akan aku jadinya kau sebongkah es.. ha..ha...ha..!."


**


Sugioprano yang bertingkah dengan lagak jumawa mengatur anak buahnya kini di sibukkan dengan Pitu Geni yang sudah meladeni permainan jurus jurus nya.


"Aku lawan mu..!," tantang Pitu Geni, mencabut golok Wiso Geni yang sudah berkobar, meredam hawa dingin yang di keluarkan lawannya.


Sugioprano sudah memutar senjata tongkat nya, menyeruak hawa dingin yang mengigit jika tak di redam panas golok Wiso Geni.


"Ku bunuh kau..!." teriak Sugioprano, namun sedikit tercekat saat mengetahui lawan mengeluarkan jurus Api.


"Kau anggota Api Suci?!."


Pitu Geni hanya menggeleng, "Pernah menjadi bagian mereka.."


"Hua..ha...ha..rupanya orang buangan..!," ledek Sugioprano mencibir ke arah lawan.


"Cuuiih..!, aku yang keluar karena memiliki kelompok yang jauh lebih hebat..!, jika kau tahu..!." balas Pitu Geni.


Keduanya sudah memainkan jurus masing masing, bersiap untuk melumpuhkan lawan di depannya.


"Hiiiiaaa..!!."


Sugioprano meloncat, menghantamkan pukulannya.


Tongkat yang sudah seputih salju itu melesak.


Traaang...!!

__ADS_1


Golok Wiso Geni menangkis hantaman tongkat tersebut, panasnya sesaat meluruhkan lapisan salju di tongkat itu.


Traaang....!!


Kembali terjadi benturan, saat sabetan golok Pitu Geni menebas ke arah badan lawannya.


**


Sementara itu anggota Awan Putih lainnya yang di kepung ratusan anggota partai Es Abadi tidak nampak tertekan.


Bahkan terlihat mengobrak abrik anak buah dari lawannya tersebut.


Baroto, Kumala, Pelangi serta empu Cipta guna sudah menghajar lawan dengan jurus masing masing, belum lagi Anuso Birowo, Suroloyo serta Mata Elang menebas lawan, dengan beringas sesuai perintah sang Tetua "Tanpa ampun".


Narimo dan Sugara serta lurah Sungkono dan anak buahnya menebas lawan, di celah celah serangan rekan rekannya.


Craaaash....!


Craaaash....!!


Sambaran senjata berkelebat membuat anak buah partai Es Abadi tersebut, tercerai berai.


Mereka yang semula mengepung membentuk sebuah formasi kini sudah tak berwujud bentuknya, semua mencoba bertahan menyelamatkan nyawanya sendiri sendiri.


CLAAAAPP..!


CLAAAAPP...!!


CLAAAAPP.....!!


Lesatan sinar jurus kekuatan Mata itu menjebak anak buah partai Es Abadi di sela sela, sambaran senjata anggota Awan Putih.


Golok Naga sudah berkelebat dengan ganas, sekali tebas bahkan terkadang memotong tiga hingga empat sasaran.


Suroloyo juga bergerak ganas dengan dua goloknya, menyambar nyambar merobek, membelah dan menebas badan lawan nya.


Singkat kata tak ada yang mengira jika kelompok partai Es Abadi akan di bantai sedemikan rupa oleh lawan yang di perkirakan mudah.


**


Lengan Tapak Setan sudah membara terutama di kedua telapak tangan nya.


Sementara Kidang Semeleh dan Jayeng Rono menjaga jarak namun tetap melakukan gempuran serangan.


"Hiaaa...!!."


Jayeng Rono melepaskan pukulan jarak jauh dari Manggar Pecah, gelombang kekuatan menerpa kearah Tapak Setan, namun dengan benteng api yang di buatnya pukulan lawan berhasil di redamnya.


Begitu juga dengan Juraimo yang tengah bertarung dengan guru Benowo, keduanya saling serang dengan jurus jurus hebat yang mereka miliki.


Bertukar serangan hingga beberapa ratus jurus, namun masih terlihat imbang belum ada yang mau menyerah.


Ribuan prajurit juga masih bertempur melawan penyusup yang memasuki halaman istana tersebut.


Para pendekar pemburu pusaka yang telah di gelapkan matanya tersebut terlihat saling serang dengan para prajurit.


Suasana benteng selatan benar benar dalam keadaan yang mengkhawatirkan.


**


Ronggoliwa sudah mengerahkan tenaga dalam yang lebih kuat lagi.


Kedua lengannya memutih mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat.


Bukan cuma hal itu, kedua matanya juga sudah memutih seakan sewaktu waktu siap melesatkan jurus titik beku nya.


BLEGAAAAAART....!


Dua serangan dari dua orang tersebut menghasilkan ledakan yang lumayan kuat.

__ADS_1


Hawa campuran menguar saat tabrakan dua kekuatan beda element itu bertemu.


"Sontoloyo..tenan, bocah Iki...jan kuat sekali."


Ronggoliwa terlempar, pedangnya yang berwarna putih hampir saja terlepas jika tak di erat kan lagi genggamannya.


"Bajingaan....!!, kau memang tak bisa di kasih hati bocah...!!," racau Ronggoliwa, begitu berhasil mendarat dengan tegak setelah sebelumnya berjumpalitan beberapa kali akibat terpaan kekuatan lawannya.


Dilihatnya lawan masih berdiri tegak, hanya bergeser beberapa langkah saja, hal itu membuat Ronggoliwa makin meradang.


"Kita adu jiwa bocah...!."


Ronggoliwa kembali menghirup nafasnya dalam dalam, setelah itu suasana makin terlihat berkabut, udara terasa makin pekat.


"Huh, dasar orang tua keras kepala..!, tak bisa berpikir jernih menghadapi keadaan..!," gumam pelan Jaya melihat kenekatan lawannya.


Jaya juga sudah mengeluarkan Tongkat Wesi kuning, menggantikan pedang Angin Puyuh yang sudah di simpannya.


Menarik nafasnya, mengeluarkan kekuatan jurus Badai Matahari, dengan dipadu padankan dengan Selaksa Ombak Menerjang.


Hawa panas langsung menguar dari badan Jaya, kekuatan Badai Matahari yang lebih kuat dari beberapa waktu lalu saat dirinya memainkan jurus tersebut, nampak terlihat dari lengan Jaya yang makin berpendar kekuningan. kali ini Jaya menaikan kekuatan Jurus Badai Matahari tingkat V.


Ronggoliwa memutar pedangnya, hawa dingin di sekitar nya juga menyeruak, butiran halus udara yang menjadi salju mulai nampak terlihat.


Sosok legenda seperti Ronggoliwa memang menakutkan dengan kekuatan "Inti Es" nya.


"HIAAAAA....!!."


Ronggoliwa melesat terlebih dahulu, menghantamkan pukulannya yang di selimuti gelombang kekuatan hawa sangat dingin.


BLAAAAAAARRRR....!!!


Ledakan sangat keras, terdengar hingga di belakang istana.


Membuat yang semua bertempur terhenti sesaat, saling bertanya tanya apa penyebab ledakan keras tersebut.


Ronggoliwa terlempar, lengannya yang semula memutih karena hawa Inti Es Semesta jurus andalannya, kini malah memerah.


Ledakan hebat itu melemparnya hingga beberapa puluh tombak jauhnya.


"Benar benar..kekuatan di luar nalar..!."


Ronggoliwa tersengal sengal, nafasnya memburu mencoba mengeluarkan tenaga lagi, menangkal hawa panas yang di hasilkan pukulan lawan. melirik ke arah lawannya sekilas, ingin mengetahui reaksi dari pukulannya.


Matanya terbelalak ketika menyadari lawannya masih berdiri tegak, hanya bergeser beberapa langkah saja.


"Setan alaaas...turunan demit dari mana bocah ini, bisa sekuat itu.."


Menyadari hal tersebut, timbul rasa jerih di hatinya, selama ini sangat jarang ada yang mampu menandingi hebatnya jurus Inti Es Semesta.


"Aku bisa mati konyol jika terus berada disini, masih banyak waktu untuk mempelajari kelemahan anak ini."


Ronggoliwa bangkit berdiri, menetralkan lengan dan dada nya yang terasa panas dan memerah.


Jarak yang cukup jauh dari lawannya tersebut membuatnya mulai berfikir untuk kabur.


Dan tanpa berpikir ulang lagi, Ronggoliwa meloncat melesat pergi.


Laaaap...


Meninggalkan seluruh anggota partai Es Abadi, yang kocar kacir di bantai anggota Awan Putih.


Sugioprano yang menghadapi Pitu Geni, bergetar hatinya melihat sang Legenda meninggal kan palagan perang, kabur tak menoleh lagi.


"Hiaaaaa...!!."


Dengan cepat Sugioprano melesat menyerang Pitu Geni dengan bertubi tubi, setelah itu meloncat dan ikut melarikan diri tak memikirkan apapun lagi.


Kini anak buah partai Es Abadi yang masih tersisa hanya bisa menjerit saat senjata senjata lawan menebasnya tanpa ampun..tak bersisa lagi.

__ADS_1


___________


Jangan lupa tinggalkan jejak nya...


__ADS_2