
Jaya serta rombongan nya masih menikmati makanan yang di bekal kan oleh orang orang pemimpin kota, " Waah nikmat sekali masakan ini," seru Kumala yang memang dalam beberapa waktu jarang menikmati makanan makanan enak dengan bumbu lengkap.
"Benar kan Kakang?"
Jaya mengangguk, membenarkan perkataan Kumala, memang masakan itu sangat lezat di lidah, ayam kampung yang sudah di ungkep lalu digoreng, sambal goreng kentang yang di masak kering tanpa kuah juga aneka lauk lainnya terasa memanjakan lidah Jaya dan rombongan nya.
"Saya tak menyangka pemimpin kota memberi kita bekal ini," kata Narimo.
"Benar, ku kira dia tak tau caranya balas budi," sahut Pitu Geni yang di angguki Baroto.
Kumala hanya tersenyum kecil, dirinya ingat saat dini hari tadi dihampiri oleh istri Pemimpin kota bersama para pembantu nya.
Mereka mengira Kumala istri dari Jaya Sanjaya.
"Nyonya pendekar, kami mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan suami dan anak buahnya kami masih bisa bernafas hingga saat ini," kata Istri pemimpin kota dini hari tadi.
"Sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih mohon terimalah ini," kata istri pemimpin kota, mengangsurkan bungkusan berupa sekantung uang emas dan perhiasan kepada Kumala.
Semula Kumala hendak menolaknya dan mengatakan yang sebenarnya, namun belum juga dia berkata sudah di desak dan di potong perkataan nya oleh istri Pemimpin kota, hingga akhirnya Kumala menerima uang emas serta perhiasan tersebut.
Mengingat itu Kumala tersenyum kembali bahkan sedikit terkikik.
"Jika aku mengatakan yang sesungguhnya apa Kakang marah?" kata Kumala sambil menatap Jaya dan rombongan.
"Memangnya ada kejadian apa Den ayu?" Narimo malah yang bertanya.
Kumala tak langsung menjawab, memandang Jaya sebelum bercerita.
"Kakang..!" seru Kumala.
"Ceritakan saja aku mau mendengarkan," balas Jaya pelan.
"Janji jangan marah..ya" rengek Kumala pura pura, membuat Jaya tertawa dan mengangguk.
"Pagi tadi istri pemimpin kota mendatangiku, mengira aku istri kakang dan memberikan emas dan perhiasan serta makanan makanan ini," kata Kumala sambil tersenyum senang.
"Jadi mereka mengira kau istriku?''
"Heum" Kumala mengangguk tersenyum dan memperlihatkan tas kantung yang di lingkar kan di badannya.
"Ini emas emas itu," kata Kumala menunjukan harta benda tersebut, membuat Narimo, Pitu Geni dan Baroto terbelalak karena menurut mereka itu sangat banyak sekali.
Kumala lalu berniat memberikan emas tersebut kepada Jaya sebagai pemimpin rombongan.
"Simpan saja Dinda, itu rezeki mu" kata Jaya pelan.
"Kakang tidak marah kan, orang menganggap aku istri Kakang?"
Jaya menggeleng dan tersenyum, Kumala makin lebar tertawa, membuat gadis cantik itu makin bersinar wajahnya karena rona bahagia yang memancar dari sana.
"Aku akan membagi emas emas ini dengan Dinda Pelangi," kata Kumala pelan, membuat Jaya sedikit tersadar dan teringat akan gadis tersebut.
Jaya sesaat termenung, sedikit kebingungan bagaimana nanti jika bertemu Pelangi? sedangkan ada Kumala bersama nya, apa nanti yang di pikirkan Pelangi terhadap nya?
Kumala menangkap perubahan di wajah Jaya, ada sedikit rasa aneh yang menjalar di hatinya, dirinya sadar Jaya sudah bersama gadis yang bernama Pelangi sejak lama, Bahkan di pertemuan terdahulu Kumala pernah melihat nya, namun hatinya yang berkhianat dan tak bisa mencegah perasaan aneh itu.
"Terserah Dinda Kumala jika memang mau berbagi emas emas itu dengan Dinda Pelangi" sahut Jaya pelan dengan wajah datar.
Mereka kembali menikmati makanan tersebut dan beristirahat hingga matahari sedikit condong ke barat, saat terlihat beberapa orang berdatangan dan menatap tajam kearah rombongan Jaya.
Rombongan orang orang berpakaian hitam yang nampak di pimpin oleh seorang pria tinggi besar dengan badan penuh dengan rambut di sekujur tubuh nya.
Rombongan yang terdiri dari hampir tiga puluh orang tersebut semakin mendekat dan masih menatap tajam ke arah Jaya dan rombongan yang kini sudah membereskan peralatan nya.
"Dasar tak punya kesopanan," kata Baroto pelan.
__ADS_1
"Benar," sahut Pitu Geni yang sudah berdiri tegak.
Sora Tinampi pria tinggi besar itu sudah makin mendekat menatap ke arah rombongan Jaya.
"Apa kalian dari kota Lembah Emas?" tanya Sora Tinampi tanpa basa basi.
" Memangnya ada apa? bukan urusan mu bukan?" balas Baroto ketus, tak suka dengan sikap tak sopan tersebut.
Sora Tinampi menelisik dan pandangan nya jelalatan seakan memastikan sesuatu.
"Menjadi urusanku jika kalian adalah kelompok yang datang dari kota Lembah Emas dan ikut campur dengan kejadian kemarin malam".
"Apa maksudmu?" Kali ini Jaya menyahut perkataan pria tinggi besar dengan rambut di sekujur tubuhnya.
"Aku mencari kelompok yang sudah ikut campur dalam peristiwa kemarin malam, peristiwa yang membuat saudara ku terbunuh di sana!".
"Kabarnya ada sekelompok orang kurang kerjaan yang membantu pengawalan di sana"
"Hmm, kalian rupanya dari Kelelawar Hitam, mau menuntut balas anggota mu yang menjadi perampok di sana..!" sahut Jaya Sanjaya, sudah maju beberapa langkah dari tempat nya semula.
Mendengar perkataan Jaya, Sora Tinampi makin yakin jika rombongan di depan adalah kelompok yang di carinya.
"Jadi kalian kelompok yang sudah membunuh tetua Bonaga?" bentak Sora Tinampi sambil meloncat turun dari kudanya.
"Huh, aku tak tau siapa namanya dan tak perduli, yang pasti aku memang membunuh perampok yang berniat menjarah rumah pemimpin kota..!"
Sahut Jaya, menatap tajam orang orang Kelelawar Hitam yang sudah mulai turun dari bintang tunggangannya, bergeser sedikit sedikit mengepung rombongan Jaya Sanjaya.
"Keparaat..!, kau harus membayar mahal dengan nyawamu..!" Sora Tinampi berkata sambil menggeram murka, dengan wajah makin terlihat bengis.
"Hancurkan orang orang ini...!" teriak Sora Tinampi kepada pasukan kesepuluh yang di bawanya, sementara itu drinya langsung melesat menghantam ke arah Jaya.
Sebuah pukulan tangan kosong di layangkan oleh Sora Tinampi mengarah ke dada Jaya Sanjaya.
Kecepatan dari tetua Kelelawar Hitam Hitam tersebut sungguh patut di acungi jempol, gerakannya yang seakan terbang itu memang terasa sangat ringan.
Pukulan yang mengandung hawa kekuatan gelombang tenaga tersebut bertubrukan dengan tangkisan Jaya dan terdengar lah ledakan.
Sora Tinampi yang tak menduga lawannya sekuat itu, sedikit kaget saat hawa gelombang kekuatan mendorong balik dirinya.
"Hmm, berisi juga rupanya kau, makanya berani mencampuri urusan orang lain.."
"Aku akan selalu ikut campur jika ada kejahatan di depan mata ku, apalagi kalian kelompok hitam yang wajib di musnahkan.!," seru Jaya membalas ucapan lawannya tersebut.
"Jangan sombong..!, kau belum melihat kekuatan ku yang sesungguhnya..!," sahut Sora Tinampi, sedikit mundur memasang kuda kuda mencari pijakan.
"Hiaaaa...!."
Teriakan panjang Sora Tinampi sambil melesat meloncat dan melakukan serangan dengan tangan membentuk sebuah cakaran.
Wuuusss...!
Wuuusss...!!
Dengan jurus Cakar Kelelawar Iblis Sora Tinampi menggempur Jaya bertubi-tubi.
"Hiaaa...!"
"Hiaaaa...!"
Cakar cakar dari tangannya mencoba merobek badan Jaya yang dengan gesit, meliuk menghindari nya.
Sesekali Jaya menangkis cakaran itu yang sudah tak mampu di hindari.
Deees..!!
__ADS_1
Plaaakk..!!
Jaya menangkis cakaran itu dengan tangan kiri, kemudian saat ada celah sebuah serangan tangan kanan Jaya lepaskan.
"Yeaa..!"
Bouugh...!
Pukulan sangat keras dengan jarak cukup dekat mendarat di dada Sora Tinampi.
"Aaarch..!"
Sora Tinampi terpelanting kebelakang, memegang dadanya yang seakan jebol oleh pukulan yang di lakukan lawannya.
"Bajingaan.. keparat...!!," racau Sora Tinampi dengan muka merah makin marah, dadanya terasa mau meledak, buru buru di alirkan tenaga dalam kearah sana untuk melindungi organ tubuh nya.
Sora Tinampi kembali bersiap setelah menghisap udara sebanyak banyaknya, lalu mengeluarkan nya perlahan menyimpan sebagian oksigen untuk menambah daya gempur kekuatan nya.
Kini di tangan Sora Tinampi sudah ada senjata sepasang tongkat pendek dengan ujung Cakar.
Sementara itu tiga puluhan orang tepatnya tiga puluh empat orang sudah menyerang ke arah empat rombongan Jaya yang lain.
Pitu Geni sudah mencabut golok Wiso Geni yang kini berkobar menyerang lawan yang mendekat ke arahnya, begitu juga dengan Baroto Sarkawi si Tinju Baja sudah menghajar siapapun yang berada di depannya.
Tak mau kalah Narimo yang kemampuan nya paling rendah, memanfaatkan celah sisa sisa serangan Pitu Geni, Baroto maupun Kumala, saat lawan sedikit oleng karena gempuran tiga orang itu, Baroto langsung menebaskan pedangnya.
Craaass...!!
"Aarghh..!!"
Satu demi satu anak buah Kelelawar Hitam dari kelompok khusus itu bertumbangan.
Meski tak mudah bagi Kumala, Pitu Geni dan Baroto serta Narimo melawan pasukan yang menyerang dengan rapi itu, namun keempat orang tersebut sudah memakan korban pelan tapi pasti.
Siang yang mendekati sore itu menjadi saksi pertempuran sengit dua kelompok tersebut.
Sora Tinampi mengayunkan tongkat cakar andalan nya, menyerang Jaya dengan mengandalkan kekuatan dan kecepatan nya.
Gelombang gelombang gempuran yang di lancarkan Sora Tinampi yang selama ini menjadi kekuatannya kini seakan tak berarti, saat semua itu kandas tertangkis perisai Wojo Digdoyo.
"Edaan tenan...kekuatanku tak berarti bagi bocah ini..!," gumam geram Sora Tinampi setelah menyadari tak satu pun serangannya mampu menembus pertahanan lawannya.
Sora Tinampi mundur mencoba menciptakan celah dengan harapan mencoba memulai serangan baru lagi, namun sayangnya kini lawan sudah balik melesat maju menusuk kan tombaknya.
Siiing...!!
CRAAAKK..!!
Suara keras terdengar saat dua ujung cakar Sora Tinampi di silangkan membentuk tameng melindungi tubuhnya.
Akibat kuatnya tusukan itu Sora Tinampi terdorong kebelakang, saat itu Jaya merubah gerakan serangan dengan gebukan tombak memutari kepalanya menghantam kepala lawan.
Hantaman tombak kyai Seto Ludiro yang di lambari Badai Matahari langsung menghujam.
BLEGAAAART...!!
Meski Sora Tinampi berhasil menahan dengan menyilangkan kedua tongkat cakarnya namun kuat dan dahsyat nya gempuran itu membuat dirinya terpental dan terlempar bergulingan hingga cukup jauh.
"Aaarch...!!."
Pekik Sora Tinampi menggelegar, membuat mau tidak mau anak buah Kelelawar Hitam sedikit menoleh, mereka tak percaya salah satu tetuanya di hajar sedemikian rupa hingga hampir tak di kenali karena kini pakaian nya sudah compang camping robek di sana sini.
"Bagaimana..?, lihatlah kehebatan Pemimpin kami..?" ejek Pitu Geni membuat para anak buah itu pucat pasi wajahnya.
____________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....