
Semenjak Jaya telah menemukan ingatannya kembali, dia sudah bertekad untuk menemukan lagi pecahan kekuatan nya yang lain di alam ini, meski entah sampai kapan itu akan berlangsung.
Kini dia sudah melesat, meloncat dari satu pohon ke pohon yang lain menuju ke sebuah arah dimana dia pernah membuat janji dengan Narimo.
Luasnya jurang yang sudah berusia ribuan tahun tersebut membuat Jaya yang sudah menggenjot tubuhnya melesat tak juga segera sampai di titik yang di sepakati.
"Aah..andai saja Pusaka itu masih bersamaku aku tak perlu lari lari seperti ini, tapi langsung terbang dengan cepat ke seperti angin," keluh Jaya jika teringat saat kekuatannya masih utuh.
Dia masih melompat lompat dengan cepat hingga tanpa di sadarinya kini di depannya sudah nampak berdiri beberapa orang dengan tatapan tajam menatap nya.
"Hmm..tak disangka orang yang berhasil keluar dari Jurang Kedungpuru hanyalah pemuda bau kencur." kata salah satu orang yang menghadang, menghentikan langkah kaki Jaya Sanjaya.
"Apa maksudmu kisanak...?, kenapa kalian menghadang ku..!.'' Jaya bertanya.
"He.he..he..., Kau bodoh apa pura pura bodoh, Ha..!."
"Jurang Kedungpuru, tempat terpopuler saat ini dengan berita penemuan pusaka, dan satu satunya tempat keluar dari sana jika tak melewati terjalnya jurang yang lembah ini."
"Kau keluar dari wilayah jurang masih pura pura tak tau apa maksud kami..?."
"SERAHKAN PUSAKA ITU...!!??." teriak orang orang itu hampir bersamaan.
Jaya masih tenang berdiri dengan menatap orang orang tersebut tajam.
"Kalian bisa melihat.., aku tak membawa apapun..?, apa yang harus ku serahkan..?."
"Kau bisa memberikan uang mu jika tak berhasil mendapatkan apapun dari sana..!," seru yang lain setelah melihat kantong kantong yang ada di pinggang Jaya selain pedang.
"Huh.. orang-orang macam kalian ini, dimana pun pasti membuat kekacauan, merugikan yang lain dengan perbuatan yang kalian lakukan, aku harus menghentikan kalian..!," balas Jaya Sanjaya yang sudah bertekad untuk selalu menumpas kejahatan.
Orang orang tersebut hanya tertawa mengejek, bagi mereka yang sudah menjadi perampok selama beberapa puluh tahun ancaman satu orang sangatlah mustahil mengalahkan mereka.
Orang orang yang banyak nya hampir dua puluhan itu sudah mengepung Jaya yang masih berdiri dengan tenang.
"Seraaang...!!."
Sebuah teriakan satu kata itu langsung membuat para pengepung bergerak menyerang Jaya Sanjaya.
Pedang dan tombak serta senjata lain kini berseliweran kearah badan Jaya Sanjaya.
Traaang ...! traaang...!!
Hujaman senjata itu di tepis Jaya dengan mudah.
"Baik aku masih ingin bermain main dengan kalian.."
Jaya mulai meladeni perlawanan orang orang tersebut dengan kemampuan nya.
Badannya meliuk liuk, menghindar dari sambaran sambaran senjata lawan, dengan sekali tempo menangkis dan menepis nya.
Wuuuss...! wuusss...!!
"Aah...senangnya..., kekuatanku kembali, meski belum seutuhnya."
Jaya sengaja menguji semua kekuatan yang kini di ingatnya, meskipun tingkat kependekaran lawannya masih di tingkat Raja perunggu paling tinggi tapi jika mereka mengeroyok akan sangat menyulitkan bagi orang biasa.
__ADS_1
"Hiaaaa...!!.''
Kembali orang orang itu makin beringas menyerang Jaya Sanjaya yang masih mencoba bertahan belum sedikit pun melakukan serangan.
Masih ingin bersenang-senang dengan kekuatan nya yang kini sudah mulai meningkat meski baru enam puluh persen.
Wuuuuusss....! wuuusss....!!
Sambaran sambaran senjata berseliweran di badan Jaya yang dengan apik berhasil menghindar, paling paling menangkis sambaran senjata lawan dengan pedang nya.
"Cuiih...!, hanya seperti ini kemampuan begundal macam kalian..?."
Ejek Jaya Sanjaya terhadap orang orang itu, sambil menghindari sebuah tombak yang tiba-tiba menusuk dari belakang.
"Keparaat..!!, jangan hanya menghindar bocah..!!, ayo serang kami...!." Balas salah satu orang tersebut.
Dia berharap dengan Jaya melakukan serangan akan membuka celah mereka untuk balas menyerang.
"Baik jika itu mau mu..!!," teriak Jaya meloncat mundur mulai menyiapkan pukulan Selaksa Ombak Menerjang.
SELAKSA OMBAK MENERJANG..!!
Teriak Jaya setelah memasang kuda kuda dan merapal gerakan dan bacaan nya.
JDUUAAAARRT...!!
Sungguh luar biasa akibatnya, hantaman yang hanya menggunakan setengah tenaga dalam nya itu, terdengar menyentak menggelegar menghempaskan orang orang itu, tanpa sisa terlempar hingga puluhan tombak.
Jaya sendiri terjengit kaget dengan kuatnya pukulan yang beberapa saat lalu sudah di lupakan kedahsyatan nya.
Para penghadang terlempar bergelimpangan tak di gagas lagi oleh Jaya Sanjaya yang langsung meninggalkan tempat tersebut.
**
Hari sudah mulai gelap, saat Narimo masih gelisah menunggu sang Juragan di tempat yang telah di tentukan itu.
Hanya ada satu pintu keluar dari jurang Kedungpuru selain kembali menaiki tebing yang curam yaitu melewati Desa Jati Lawang.
Sebuah desa yang tak terlalu besar namun banyak di kunjungi orang akhir akhir ini, apalagi sejak adanya berita penemuan pusaka di jurang Kedungpuru.
Banyak orang orang baru yang kini ada disana, entah dengan tujuan apa.
"Pesen nasi pecel sama ikan goreng Le'k," kata Narimo karena sudah seharian ini menunggu di sana dan belum ada tanda tanda kedatangan sang Juragan.
"Baik pendekar, minum nya apa ini..?," sahut salah satu pelayan warung makan di pinggiran jalan tersebut.
"Kopi sama gula aren.."
"Baik, di tunggu sebentar."
Kata pelayan itu sambil memberesi sisa sisa alat makan pelanggan yang sudah pergi.
Tak berapa lama Narimo duduk dan memesan makanan, datang serombongan orang orang dengan tampilan mengerikan dengan wajah yang di coreng moreng warna hitam, dengan rambut yang tergerai tak rapi, atau bahkan di pangkas seadanya mereka memasuki warung tersebut.
Mereka yang berjumlah belasan itu mulai mencari tempat duduk di luar warung yang lebih longgar.
__ADS_1
"Berikan kami makanan yang ada di sini..!." teriak salah satu orang tersebut sebelum kembali duduk di sebuah kursi kayu yang ada di sana.
"Baik pendekar.."
Sahut pelayan dengan sedikit gemetaran, karena melihat tampilan mereka bisa di pastikan mereka orang orang jahat.
Ya mereka adalah kelompok Gagak Hitam yang memang ingin ikut mencari kitab pusaka.
Kali ini mereka di pimpin oleh seorang tetua nya yang bernama Suwono, salah satu tangan kanan dari pemimpin Utama kelompok ini yang bernama Lodaya.
Mata orang orang itu tak lepas selalu menatap ke arah pintu keluar dari jurang Kedungpuru, seakan menanti orang yang akan keluar dari sana.
"Ini pesanan nya kisanak..," kata pelayan mengagetkan Narimo, yang kini merasa was was dengan kelompok yang baru datang tersebut.
"Hmm.. terima kasih," balas Narimo menerima makanan dan minuman dan langsung memakannya dengan lahap.
Belum habis makanan itu, nampak dari arah pintu keluar jurang Kedungpuru nampak Jaya Sanjaya melenggang dengan santai nya.
"Nakmas...!!," teriak Narimo tak bisa menyembunyikan rasa senang nya, melihat kemunculan sang Juragan.
Semua mata kini menatap ke arah Jaya Sanjaya yang dengan tenangnya menghampiri Narimo sambil tersenyum riang.
"Ayo kita makan dulu Nakmas sebelum melanjutkan perjalanan," kata Narimo yang sudah memesankan menu makanan untuk Jaya.
**
Keduanya sudah meninggalkan desa Jati Lawang menuju arah Utara.
Sepanjang perjalanan mereka berbincang santai sambil mengendarai kuda nya.
Nampak di belakang beberapa orang terlihat berkuda mengejar dua orang tersebut, namun belum di sadari oleh Jaya maupun Narimo.
Hingga ketika dua orang itu sampai di sebuah hutan Bambu, para pengejar itu berhasil menyusul nya.
BERHENTI...!!
Teriakan keras terdengar menghentikan langkah kuda Jaya dan Narimo.
Para pengejar kini sudah mengepung keduanya.
"Kenapa menghentikan kami..!!."
Nampaknya mereka orang orang Gagak Hitam yang di pimpin Suwono yang sempat memperhatikan Jaya saat di warung makan tadi.
"Bukankah kau yang baru saja keluar dari jurang Kedungpuru..?."
Jaya hanya terdiam mendengar perkataan itu.
"Aku ingin meminta pusaka tersebut..!." bentak Suwono tanpa basa basi.
"Jika kau menyerahnya baik baik, maka nyawamu bisa kau selamatkan, namun jika membangkang kau akan kehilangan kepala mu disini..!," ancam Suwono dengan galak.
Narimo sudah sedikit pucat dan ketakutan
___________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak nya....