
"Hiaaaa...!.' Loraka kembali melesat meloncat, menusukkan tombak trisula pendeknya kearah Jaya.
Menghadapi serangan satu orang adalah mudah bagi Jaya.
TAANG..!!
Dengan tongkat Wesi Kuning di tangan kiri, Jaya menepis tusukan tombak trisula tersebut, lalu menebas dada Loraka dengan pedang Angin Puyuhnya.
BLAAAANG.....!
Dada Loraka bengkah tertebas pedang , badannya terlempar beberapa tombak.
"Aaaauuggh..!," Dewa prajurit itu memekik, sesaat tubuhnya bergulingan dengan luka menganga di dadanya, namun dalam sekejap kembali utuh, pulih seperti sedia kala berkat Raga Abadi anugerah untuk Dewa.
Reksan dari samping kiri melesat, menghantamkan dua tongkat pendek sepanjang lengan secara bergantian. Hantaman itu bertubi tubi mengarah ke badan Jaya.
Sedikit mundur Jaya mengelak dan menangkis serangan tersebut, lalu balik menyerang dengan dua senjata di dua tangannya.
TRAANG...! PRAAAAAK...!!
Serangan Jaya berhasil mengenai kepala dari lawan.
Kepala Reksan pecah, terhantam tongkat Wesi Kuning, badannya langsung terlempar beberapa tombak.
Dawung memutar pedangnya, hawa kuat langsung melingkupinya.
"HIAAAA....!."
Dengan cepat sosok itu menebaskan senjata pedangnya, mencoba membelah badan Jaya.
Sedikit berkelit, Jaya menghindari serangan tersebut, lalu dengan cepat jaya berputar dan menebaskan pedang Angin Puyuh hingga membelah punggung lawannya.
CRAAAK...!
"Aaaaa...!"
Dawung berteriak kesakitan ketika punggungnya terbelah oleh pedang, badannya terhuyung ke depan lalu ambruk, namun tak lama pulih dan bangkit kembali.
Pertarungan masih berlangsung seru di padang luas tanpa penghuni tersebut, tiga Dewa prajurit yang mengeroyoknya masih kesulitan bahkan untuk menyentuh bajunya.
**
Tetua Sarino masih terlihat berbincang dengan para tamunya, sambil menjamu mereka.
"Aku lihat semua aman aman saja, terus kapan mereka akan menyambangi perguruan ini kembali?." Koloireng memecah basa basi tersebut dengan pertanyaan yang masih menggelayuti pikirannya.
Tetua Sarino menghela nafasnya, wajahnya yang tadi sumringah kini sedikit memudar, " Dua hari yang lalu mereka sudah menyerang kemari, bahkan melukai sesepuh kami, dan mereka mengancam akan datang lagi kemari setelah tiga hari dari serangan mereka kemarin."
"Hah..!, mereka sudah menyerang kemari?."
Tetua Tiga Batu Jajar itu hanya mengangguk, membenarkan.
__ADS_1
"Berarti besok mereka akan datang lagi?." tanya Baroto sambil menatap tetua Sarino.
"Benar, apa yang di katakan tuan memang benar, mereka rencananya akan datang kemari besok pagi, jadi kami sangat senang tuan tuan dari Awan Putih hari ini tiba di sini."
Koloireng, Pitu Geni dan Baroto mengangguk, mendengar penuturan tetua Sarino.
"Berapa banyak orang yang mereka bawa?."
"Kemarin mereka membawa kurang lebih lima puluhan orang, dengan kekuatan kependekaran rata rata di atas pendekar Raja perunggu (tingkat kependekaran ada di chap Ingin Memgembara), dan untuk besok kami belum tahu."
Para tamu dari Awan Putih kembali mengangguk, menikmati minuman dan makanan yang di hidangkan
**
"Kami tak takut padamu, meski berkali kali kau tebas dengan senjata mu kami tak bakal mati..!." seru Dawung, berlagak sombong untuk membuat lawan ketakutan dengan keabadian yang di miliki nya.
Selama ini mereka belum pernah mengenai badan Jaya dengan senjatanya, jadi mereka pikir hanya mereka yang memiliki tubuh istimewa, meski mereka juga tahu Raga Abadi ada batasnya, bisa habis dan benar benar mati jika selalu terserang.
Saat mereka mengawasi pertarungan Jaya melawan Iblis, mereka tak benar benar melihat dengan seksama, hanya sekilas saja, lebih banyak berbincang karena baginya keberadaan Jaya bukan ancaman, sampai akhirnya ada perintah dari Kaisar untuk menangkap atau memusnahkan lawan.
"Jadi akan sia sia saja semua serangan mu..!," teriak Loraka, menegaskan perkataan Dawung.
"Benar, seranganmu hanya membuat tenaga mu lemah..!," Reksan pun ikut berkata untuk melemahkan lawannya.
Jaya hanya mendengus saja, "Cuiih, kalian pikir aku tak tahu tentang Raga Abadi?, sehingga kalian bicara seakan aku memang tolol."
"Aku tak perduli kalian tak bisa mati, selagi aku belum lelah aku akan terus menebas kalian," balas Jaya, "Kalian pikir tak sakit jika dada terbelah atau perut terburai, dasar...naif."
Jaya memang menikmati saat menghajar para Dewa yang tak juga menyadari siapa lawannya tersebut.
Jaya kembali meloncat, menghantamkan tongkat Wesi Kuning ke arah tiga lawan yang kini merapat tak lagi berpencar.
BLEGAAAAARRRTT...!!
Ledakan terjadi, ketiganya menyongsong hantaman Jaya dengan memadukan semua kekuatannya.
Dua pukulan dengan gelombang kekuatan yang belum pernah ada tandingannya di alam ini tersebut, bertemu dan membuat sebuah ledakan yang mampu menggoncang seluruh alam.
Awan dan udara tersibak, membuat pusaran angin yang menyebar ke segala arah dan menimbulkan badai.
Tiga Dewa Prajurit terlempar, Dawung yang memiliki Raga Abadi paling tipis, hanya beberapa ratus lapisan langsung pucat wajahnya karena menyadari lapisan Raga Abadi tinggal beberapa saja, dan itu bisa membuatnya terbunuh beneran.
"Aaarggh..!," Loraka terlempar sedikit ke kanan, sedangkan Reksan beberapa tombak di sebelah kirinya.
Dawung yang kembali menancapkan pedangnya kembali terseret, membuat parit panjang di tengah padang tersebut.
"Bagaimana?, apakah kalian yakin tak bisa mati?," Jaya sudah bersiap kembali menyerang dengan dua senjata tingkat Dewa miliknya tersebut.
Dawung makin pucat wajah nya, dia merasa paling dekat posisinya dengan Jaya, di banding dengan rekan lainnya.
"Uugh sial, aku sudah makin lemah, Raga Abadi ku juga makin tipis, jika dia menyerang lagi maka aku pasti mati," gumam Dawung pelan dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
"Aku akan menghabisimu..!," kata Jaya pelan, lalu melesat menyerang Dawung yang terlihat paling lemah.
Loraka dan Reksan yang sudah mulai pulih terlihat terkejut saat lawan kembali menyerang.
"Kita lindungi Dawung...!," teriak Loraka melesat, di susul Reksan.
Dua Dewa prajurit itu meloncat, menghadang Jaya yang tengah menghantamkan tongkat Wesi Kuning.
WUUUNGG...!!
DUUAAAARRR...!!
Loraka menangkis hantaman itu, membuatnya terpental kembali, terlempar saat terjadi ledakan.
Sedangkan Reksan yang menghantamkan tongkat pendeknya, menyusul Loraka tertangkis senjata Jaya yang lainnya.
BLAAANG...!
Lengan Reksan bergetar hebat, perbedaan kekuatan yang jauh dari keduanya membuat lengan Reksan seakan lumpuh tak mampu lagi di gerakkan untuk beberapa saat.
Jaya masih terus melaju, hadangan dua rekan Dawung tak mengurangi pergerakan Jaya maju menyerang.
Dawung sudah bersiap menyambut serangan, menyilangkan pedangnya mencoba menghadang gempuran lawan tersebut.
TAAAANG....!
DUAAAAARRTT....!!
Pedang Jaya berhasil di hadang Dawung, namun tongkat Wesi Kuning kembali menghantam dada sang Dewa prajurit tersebut, meledaklah dada Dawung dengan isi yang hampir berloncatan keluar.
"Aaaarrgghh...!." Dawung menjerit sangat keras, dadanya pecah dengan Raga Abadi yang langusng berguguran, makin lama makin hilang pendar yang melingkupi raganya, dan aura yang melingkupi Dawung sirna, menandakan pukulan dahsyat itu telah merontokkan Raga Abadi, sehingga kini tak ada lagi kekuatan tersebut di badan Dawung, artinya Dawung kini tak lagi istimewa dan bisa langsung mati jika terkena serangan telak.
"Inilah saatnya...!," teriak Jaya lagi, melesat menghantam Dawung dengan dua senjatanya.
BLAAAAAAARR..!
JDUAAAARRTTTTT...!!
Sosok Dewa prajurit itu terhempas, terlempar cukup jauh, badannya membentur tanah lapang yang keras, menggores dalam permukaan padang Selayang Pandang hingga membentuk anak sungai kering.
Raga Abadinya sudah habis, sehingga kekuatannya langusng hilang, membuat Dawung tak berdaya.
Luka nya kini terlihat sangat parah, karena tak ada regenerasi jaringan dengan cepat seperti sebelumnya.
Nafas Dewa Prajurit itu tersengal, memuntahkan darah hingga membasahi seluruh permukaan tubuhnya.
Miris, melihat seorang dewa meregang nyawa, mati di alam lain dengan orang asing sebagai lawannya.
Dawung akhirnya menutup mata, setelah nyawanya melayang tak terselamatkan lagi.
Dari Jarak cukup Jauh Loraka menyaksikan rekannya tersebut mati di alam manusia.
__ADS_1
__________
Jejaknya.....