
Pertemuan Serikat Pendekar sudah mulai makin dekat, kesiapan semua kelompok kini kian makin matang.
Tak terasa jika saat ini tinggal satu setengah purnama lagi dari waktu pertemuan yang akan di laksanakan.
Beberapa kelompok dari selatan malah sudah mulai bersiap untuk melakukan perjalan yang terbilang sangat panjang, karena jarak yang jauh itu mungkin bisa di tempuh dalam waktu tiga hingga empat pekan perjalanannya.
"Kuda sudah siap guru..!," salah satu murid dari Randu Sembrani berkata kepada tokoh Mata Dewa tersebut.
"Hmm, ya terimakasih."
Randu Sembrani berencana untuk mampir ke markas Awan Putih sebelum bersama sama menuju ke Utara dimana pertemuan Serikat Pendekar di adakan.
Tokoh dari selatan itu rencananya akan datang berdua dengan sang istri, Nyai Nilam Sari.
Karena bukan perguruan yang besar, mereka hanya ingin mengikuti pertemuan tersebut dan sekedar melihat saja, sebagai penambah wawasan tentang kekuatan di dunia persilatan.
"Aku siap Kakang," terlihat nyai Nilam Sari sudah bersiap dengan pakaian pendekar nya, sebuah pakaian yang terlihat ringkas dan nyaman untuk perjalanan.
Di pinggangnya sudah terselip senjata pedang dan juga Cambuk andalan tokoh wanita tersebut.
"Baik, kita berangkat sekarang." sahut Randu Sembrani.
**
"Bagaimana Sesepuh?," tanya Nambi Tosa sang Dewa Api kepada dua sesepuh yang masih mengawasi para anak buah yang tengah bersiap berangkat ke Padang Selayang Pandang.
Padang Selayang Pandang adalah padang luas yang akan di gunakan untuk pertemuan Serikat Pendekar.
Sebuah tempat yang ada di Kerajaan Agung wilayah tengah, Karang Kadempel, berada di bagian utara hampir berbatasan dengan Wilayah Utara Kerajaan Agung Jongka Lengko.
Padang Selayang Pandang tepatnya berada di wilayah kerajaan kecil bernama kerajaan Bulak Sumur, kerajaan ini berada di bawah naungan Kerajaan Agung Karang Kadempel di Wilayah tengah, dan berbatasan dengan kerajaan Muara Padas yang ada di bawah naungan Kerajaan Agung Jongka Lengko Kerajaan besar Wilayah Utara.
"Semua terlihat sudah siap," kata Moncong Putih dan di angguki oleh Raja Api dari Utara.
Nambi Tosa terlihat tersenyum senang, semenjak kekalahan dua legenda Api Suci itu dari penguasa Awan Putih, keduanya masih setia berada di markas mereka, membantu anak buah Api Suci mengembangkan diri.
"Terima kasih Sesepuh, berkat panjenengan berdua kini anak buah Api Suci makin meningkat kemampuannya," Nambi Tosa, mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dua Legenda tersebut.
Kedua sosok itu mengangguk saja, meski dalam hatinya kini merasa kemampuannya sangat jauh jika di banding penguasa Awan Putih.
"Sudah kewajibanku meningkatkan kemampuan pengguna ekement Api."
__ADS_1
**
Hal serupa juga terjadi di kelompok kelompok lain.
Bahkan kini partai Es Abadi sudah memulai perjalanannya.
Kelompok yang bermarkas di wilayah selatan itu kini sudah bergerak menuju ke Utara.
Hampir seluruh anggotanya mengikuti rombongan yang di pimpin langsung oleh Dewa Air/Es Sukat Jaladri, selain tentu saja para sesepuh yang sudah bergabung.
Sebanyak Hampir tiga ribuan orang anggota mengikuti sang Pemimpin Agung menghadiri pertemuan Serikat Pendekar, mereka terdiri dari beberapa ratus orang menungang kuda selebihnya tentu saja berjalan kaki.
Rombongan besar itu mengular beriring iringan menuju ke Utara.
Selain kelompok partai Es Abadi, juga terdapat kelompok Mata Iblis yang sudah nampak mulai ada pergerakan.
Kelompok dengan kekuatan Mata ini sudah menyiapkan hampir dua ribu lima ratus anggota nya mengiringi sang Pemimpin Agung nya menuju ke Utara.
Jumlah itu hanya berkurang sedikit saat Jambumangli ayah dari Kumala secara terang terangan menyatakan keluar dari kelompok tersebut.
Sengaja Jambumangli keluar dari kelompok ini di saat saat terakhir keberangkatan ke padang Selayang Pandang, semua itu atas usulan Jaya waktu itu, karena saat seperti ini tak memungkinkan kelompok Mata Iblis itu mengejar Jambumangli untuk menghukum nya karena keluar dari keanggotaan.
Sang Pemimpin Agung tengah bersanding dengan Dewi Mata Iblis atau biasa di sapa "Sang Ratu".
Tampak di sekitar kedua Pemimpin Mata Iblis itu ada Lindu Braja, Topan Surya dan Rogo Sakti.
Ketiga Legenda dari Mata Iblis itu terlihat mendampingi dalam perjalanan ke Utara.
Mereka hanya di pisahkan oleh kereta kuda yang berbeda, mengiringi para penunggang kuda dan pejalan kaki anggota Mata Iblis.
**
Jambu mangli kini tengah berkuda bersama anggota nya, terdiri dari sekitar kurang dari seratus lima puluh orang, bergerak sedikit ke arah timur laut menuju ke Markas Awan Putih.
Jumlah tersebut sudah termasuk para wanita yang menjadi istri istri kelompok itu.
Jadi jumlah sesungguhnya pendekar Mata Iblis yang berada di bawah pimpinan Jambumangli kurang dari seratus orang.
"Kita sudah tiba di perbatasan Ngarsopuro Tetua..," kata salah satu anak buah Jambumangli yang menjadi cucuk lampah, atau penunjuk jalan.
"Masih berapa lama lagi kira kira perjalanan ini?.''
__ADS_1
Jika hanya sampai di alas Lirboyo mungkin sore sudah sampai, tapi saya kurang tau letak pastinya markas Awan Putih, jadi mungkin malam kita baru sampai Tetua.''
"Hmm," Jambumangli terlihat menganggukan kepala.
Rombongan itu meninggalkan perbatasan kerjaan kecil Ngarsopuro, mulai memasuki wilayah kerajaan kecil Karang Doplang dimana alas Lirboyo ada di bawah wilayahnya.
Perjalanan rombongan tersebut berlangsung lancar, saat ini mereka sudah tiba di pojok alas Lirboyo.
"Kita sudah memasuki alas Lirboyo tuan."
"Ya..semoga perjalanan tetap lancar seperti ini," sahut Jambumangli.
**
"Kakang..apakah mata mata sudah melaporkan akan keberangkatan Ayah Jambumangli menuju kemari?."
Kumala bertanya saat mereka tengah berada di beranda ruang mereka, menikmati udara sore sambil mengawasi anak buah Awan Putih dari atas lantai tiga tersebut.
Jaya masih selonjoran di atas dipan kayu dengan di lapisi semacam kasur tipis di atasnya.
Kumala dan Pelangi tengah duduk di sampingnya.
"Ya, paman Jambumangli dan seluruh anggota sudah berangkat kemari sejak tengah malam kemarin."
"Rencana nya semua akan pindah kemari, menghindari kejaran dari Pemimpin Mata Iblis."
Kumala mengangguk, ada kecemasan dari raut wajahnya, "Semoga perjalanannya lancar, di hindarkan dari aral melintang."
"Ya, semoga dinda, dan aku kira kelompok Mata Iblis saat ini tak akan mengejar paman Jambumangli karena mereka sibuk sediri menjelang pertemuan Serikat Pendekar."
"Selain Paman Jambumangli, kakek Randu juga sedang menuju kemari," kata Jaya sambil menoleh ke arah Pelangi yang terlihat gembira mendengar berita tersebut.
"Haah..!, benarkah itu Kakang?."
"Iya..Dinda, kemarin mata mata mendapat berita yang dikirim lewat burung pengantar pesan, mengabarkan jika kakek Randu sudah tiga hari berangkat menuju kemari.''
Pelangi tersenyum lebar, senang akhirnya bisa ketemu kembali dengan gurunya tersebut.
Hari makin mendekati gelap, ketika ada anak buah dari Awan Putih yang melaporkan kedatangan serombongan tamu.
"Lapor Tetua ada serombongan orang mau masuk, katanya dari kelompok tuan Jambumangli."
__ADS_1
___________
Jejaknya.....