Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Kesedihan.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Keesokan harinya, Carren dibangunkan oleh bunyi nada dering telpon yang lupa disilent olehnya. Sebenarnya dia ingin bangun siang setelah bekerja keras beberapa hari untuk mempersiapkan dan mendekor bersama Mamanya.


Tetapi karena sudah terlanjur bangun karena bunyi nada dering ponselnya, dia membuka matanya perlahan untuk melihat siapa yang menghubunginya pagi-pagi sekali. Ketika melihat nama yang terterah di layar ponselnya, Carren segera meresponnya.


📱"Alloo, Parry. Met pagi." Sapa Carren, dengan suara serak baru bangun tidur.


📱"Alloo, Carren. Met pagi. Maaf, gue bangunin lu pagi-pagi begini." Ucap Parry, merasa tidak enak.


📱"Ngga papa. Ini sudah bangun. Bagaimana?" Tanya Carren, karena dia merasa heran Parry menelponnya pagi-pagi. Mereka masih sering WA atau telpon jika Carren tidak sibuk. Semua itu dilakukan pada waktu-waktu normal, bukan seperti sekarang.


📱"Gue mau infoin, Kak Naina meninggal dan hari ini akan dikremasi. Maafin baru kasih tau sekarang, karena kemarenan kami terkejut dan sangat sibuk." Jawab Parry, membuat Carren terkejut. Dia langsung bangun dan duduk, kesadarannya terkumpul dengan seketika.


📱"Astagaaa. Kak Naina sakit apa, Parry?" Tanya Carren, dengan suara tertahan karena begitu shock begitu mendengar yang dikatakan Parry. Dia memegang dadanya dengan mata membulat. Dia sangat menyayangi dan menghormati Kakak Parry yang baik hati dan hangat itu. Yang selalu menenangkannya ketika grogi saat diundang oleh Parry ke acara ulang tahunnya.


Kakak Parry selalu mengajaknya bicara untuk menghindarinya dari kejahilan teman-temannya. Kadang-kadang mengajaknya membantu mepersiapkan surprise untuk ulang tahun Parry. Karena Naina sangat menyayangi adik laki-lakinya, Parry.


📱"Kak Naina mengalami kecelakaan di Jagorawi. Apakah kau mau datang melihatnya untuk terakhir kali? Kami ada di Rumah Duka Carlo." Ucap Parry dengan suara yang sedih. Carren tahu, Parry sangat menyayangi Kakaknya. Karena mereka hanya dua bersaudara dan jarak usianya hampir enam tahun.


📱Iya, Parry. Aku mohon maaf baru tahu, karena belakangan ini aku ngga lihat info di grup. Sebentar lagi aku jalan ke sana. Nanti aku kabari kalau sudah sampai di sana." Ucap Carren, langsung mengakhiri pembicaraan mereka.


Carren segera bangun, mandi dan mencari Mamanya untuk minta ijin. "Syukur, Mama sudah pulang. Arra mau pamit ke rumah duka ya, Ma. Kak Naina, Kakaknya Parry kecelakaan dan meninggal. Hari ini akan dikremasi." Ucap Carren, saat melihat Mamanya masuk ke rumah, habis belanja dari tukang sayur.


"Oooh... Sampaikan, Mama turut berdukacita. Mari ganti bajumu dengan yang Mama ambil, dan minum teh panas dulu baru ke tempat duka. Supaya Arra tidak merepotkan Parry." Ucap Bu Nancy, lalu masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti untuk Carren.


Carren membuat teh panas untuk dirinya dan Mamanya. Kemudian Mamanya memberikan satu blouse putih tulang yang lumayan bagus untuk dikenakan Carren.

__ADS_1


Bu Nancy mengetahui lingkungan keluarga Parry, karena Parry telah berteman dengan Carren semenjak masih SMP. Beliau tidak ingin putrinya memalukan keluarga Parry jika berada di tengah mereka.


"Baik, Ma. Makasih." Ucap Carren, lalu kembali ke kamar untuk mengganti atasannya dengan blouse yang diberikan Mamanya. Blouse lengan tiga perempat, ada bordir di bagian lengan dan dada. Sangat pas dan cocok dengan tubuhnya.


Carren naik kereta, karena ada yang diinginkan dan direncanakannya. Dia bersyukur, memiliki sedikit uang dari hasil dekornya, jadi dia leluasa merencanakan sesuatu.


Ketika turun dari kereta, Carren mampir ke tempat penjualan bunga segar untuk membeli bunga mawar putih dan sekalian merangkainya. Dia ingin memberikan bunga yang sangat disukai oleh Kakaknya Parry sebagai tanda kasih sayang dan menghormatinya. Kemudian dia naik taksi ke Rumah Duka Carlo.


Parry telah menunggunya di luar ruangan, karena Carren telah mengirim pesan kepadanya. Dia bersyukur, Parry keluar menjemputnya. Karena tempat duka sudah penuh dengan para pelayat.


"Aku dan Mama turut berduka, Parry." Ucap Carren, sambil memeluk Parry dengan berlinang air mata. Dia meletakan rangkaian bunga yang dibawanya di samping foto Naina di kaki peti dan menyalami orang tua Parry yang sedang menangis sedih.


Parry mengajak Carren duduk di dekatnya, diantara keluarganya. Parry tidak memperhatikan banyak mata yang sedang memandangnya, saat duduk berdampingan dengan Carren.


"Parry, kenapa cepat sekali kremasinya." Tanya Carren, setelah duduk di sampingnya dengan air mata berlinang.


"Karena tubuh Kak Naina lumayan rusak, waktu kecelakaan. Jadi Mami minta dikremasi saja hari ini." Jawab Parry.


"Sudah beberapa bulan ini, Kak Naina kembali ke Indonesia dan bekerja bersama Papi. Kemarenan sedang ke Bandung untuk urusan kantor menggantikan Papi." Ucap Parry, menjelaskan. Carren hanya bisa mengangguk, saat Parry menceritakannya.


"Aku sangat menyesal tidak tahu, Kak Naina sudah ada di sini dan tidak sempat bertemu dengannya. Apakah Kak Naina masih ingat denganku?" Tanya Carren dengan mata berlinang.


"Kak Naina masih ingat denganmu, dan pernah minta aku mengundangmu. Tetapi aku bilang sabar sedikit lagi, kau akan datang saat ulang tahunku. Karena aku mau membuat surprise untukmu. Aku tidak tau akan terjadi seperti ini." Ucap Parry sedih dan menyesal. Apa yang disampaikan membuat matanya berkaca-kaca mengingat Kakaknya.


"Ternyata Kak Naina membuat surprise buatku seperti ini." Ucap Carren, sambil menangis terseduh. Parry mengelus punggungnya, karena Carren terus menunduk. Melihat Carren terus menangis, Mama Parry mendekati.


"Parry, ini siapa? Apakah pacarmu?" Bisik Mami Parry pelan, karena melihat Carren yang sangat bersedih. Dia terus menunduk dan hidungnya memerah serta wajahnya berlinang air mata.

__ADS_1


"Bukan, Mam. Dia temanku dan juga telah dianggap adik oleh Kak Naina. Kak Naina sangat menyayanginya dan juga sebaliknya." Bisik Parry pelan, menjelaskan. Karena Maminya belum pernah bertemu Carren.


Setiap kali Carren datang ke rumah Parry, hanya bertemu dengan Naina dan Parry. Karena kedua orang tuanya sedang berada di luar negeri. Semenjak Naina kuliah di luar Inggris, Carren tidak pernah datang lagi ke rumah Parry.


Sejak Naina tidak ada, Parry merayakan ulang tahunnya di restaurant atau cafe. Karena yang suka menyiapkan acara ulang tahun di rumah adalah kakaknya, Naina. Sehingga Carren hanya datang ke restaurant atau ke cafe tempat Parry membuat acaranya.


"Ooh, berikan minum untuknya. Mami tidak menyangka, ada yang dekat dengan kakakmu di sini." Bisik Mami Parry, pelan. Kemudian kembali duduk di samping suaminya dan menceritakan tentang Carren kepada suaminya yang terus memperhatikan Carren saat masuk bersama Parry.


"Carren, mari kita minum dulu, karena sebentar lagi mau Ibadah. Kau mau ikut ke tempat kremasi?" Tanya Parry.


"Nanti saja minumnya, aku sudah minum dari rumah. Bolehkah aku ikut juga ke tempat kremasi?" Tanya Carren, pelan.


"Boleh. Nanti ikut dengan mobilku, hari ini aku pakai sopir. Karena aku belum PD bawa mobil sendiri setelah yang dialami Kak Naina." Ucap Parry, dan Carren mengangguk mengerti.


.***.


Di sisi yang lain ; ada empat pasang mata memperhatikan dengan terkesima kehadiran Carren di tempat duka. "Ayunna, bukannya itu wanita kampung?" Tanya Liana yang memperhatikan Carren dari mulai kedatangannya. Karena penampilan Carren sedikit berubah.


Dia tetap cantik, tetapi terlihat lebih dewasa. Penampilannya juga sudah tidak seperti gadis kampung yang mereka maksudkan. Rambut ikal lebat dan hitam legam, diikat ke belakang begitu saja. Tetapi sedikit helaian rambut yang jatuh di samping wajahnya membuat dia terlihat lebih menarik dan sangat cantik.


Terutama dia sekarang lebih percaya diri dan tidak grogi diantara orang banyak yang tidak dikenalnya. Perubahan itu membuat Ayunna dan Liana yang telah mengenal dia sebelumnya sedikit tercengang.


"Iya, benar. Ternyata dia masih berhubungan dengan Ikan. Apakah dia mengenal Kakaknya Ikan?" Tanya Ayunna, heran. Karena melihat kesedihan yang ditujukan Carren, bukan hanya sekedar ikut bersedih dengan Parry.


"Iya, yaa. Sepertinya dia mengenal keluarga Ikan." Ucap Liana, karena Carren duduk di antara keluarga Parry, sedangkan mereka duduk di tempat pelayat. Dan para pelayat, kebanyakan rekan bisnis orang tua Parry. Yang sudah pasti, semuanya dari kalangan sultan.


Carren yang lagi tertunduk sedih tidak memperhatikan semua yang terjadi di sekitarnya. Karena dia benar-benar merasa kehilangan Naina seperti yang dirasakan Parry.

__ADS_1


"Astagaaa... Bukankah itu Recky?" Tanya Liana, melihat Recky yang baru masuk ke tempat duka bersama orang tuanya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2