
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Sainy telah bangun tidur, tetapi malas untuk turun dari tempat tidur. Dia tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu, setelah apa yang terjadi di pesta pernikahan Recky dan Liana. Hal itu membuat dia berat hati untuk turun dari tempat tidur.
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur, dengan nyenyak. Bayangan Parry berjalan sambil memegang tangan Riri, selalu menghantuinya. Dia tidak tahu mau marah kepada siapa atas semua yang terjadi. Rasa marah dan sakit hati menggagunya sepanjang malam.
Kehadiran Riri di samping Parry membuat dia tidak bisa berlama-lama di acara resepsi pernikahan Recky dan Liana. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa tidak suka dan cemburu melihat kedekatan mereka. Kemeriahan pesta pernikahan tidak bisa menghilangkan rasa kecewa dan sedihnya. Sehingga dengan berat hati dia meninggalkan ballroom tanpa berpamitan dengan seorangpun.
Perjuangannya untuk bisa mendekati Parry, telah berakhir dengan mengecewakan. Dia tidak tahu mau marah kepada siapa atas apa yang terjdi. Mommynya yang tidak mau membantu dan ucapan absrudnya tentang Parry? Atau Riri yang menikungnya? Memikirkan kata nikung, makin membuatnya sedih dan malu. Kata itu tidak pantas disandangkan kepada Riri, karena dia belum berstatus apapun dengan Parry. Jangankan pacar, teman juga belum. Jadi jika marah kepada Riri, adalah suatu perasaan yang konyol. Sama konyol dengan hatinya yang selalu mengharapkan bisa mendapatkan Parry.
Dengan langkah gontai dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu, saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ketika pintu terbuka, Mommynya berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut.
"Sainy, kau baru bangun dan belum mandi? Bukankah hari ini kau akan bertemu dengan teman-teman Mommy di butik?" Tanya Mommynya yang terkejut melihat penampilan Sainy yang tidak seperti biasanya.
"Iya, Mom. Ini Sainy mau mandi. Mommy duluan untuk menemani mereka, nanti Sainy menyusul." Sainy berkata lalu berbalik meninggalkan Mommynya yang terheran-heran melihat sikapnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Sainy melangkah turun ke ruang makan untuk sarapan. Dia merasa sangat lapar, karena dari malam tidak sempat makan di pesta pernikahan Recky dan Liana. Sekarang baru terasa laparnya.
Beberapa waktu kemudian, dia tiba di butik. Teman-teman Mommynya telah memunggu sambil melihat-lihat koleksi terbaru butiknya. Semua yang dilakukan tidak seperti biasa dengan wajah ceria dan senang ketika mempromosikan koleksi di butiknya. Hal itu membuat Mommynya harus ekstra keras bantu mempromosikan koleksi-koleksinya.
Setelah teman-teman Mommynya pulang, Mommy Sainy menemui Sainy di ruang kerjanya. "Sainy, ada apa denganmu? Mommy lihat kau hari ini tidak fokus, tidak semangat berbicara dengan teman-teman Mommy." Sainy terdiam. Dia menyadari apa yang dikatakan Mommynya, benar adanya.
__ADS_1
Butik tidak lagi menarik seperti sebelumnya. Dia berpikir untuk melakukan sesuatu yang baru, agar bisa menghilangkan kegundahan hatinya. Sesuatu yang mungkin bisa membuat dia melupakan Parry dan mengobati luka hatinya.
"Mommy, untuk sementara Mommy tolong kelola butik ini bersama asistenku, ya. Sainy mau ke Paris untuk belajar di sana tentang fahsion, agar bisa lebih mengembangkan usaha ini." Ucap Sainy, setelah tadi berpikir beberapa saat di ruang kerjanya.
"Kalau itu maumu, lakukanlah. Mommy akan bantu mengurus butik, selama kau tidak ada di sini." Mommynya mulai menyadari, Sainy sedang dalam suasana hati yang tidak baik. Oleh sebab itu, Mommynya langsung menyetujui keinginannya. Mommynya juga merasa bersalah atas ucapannya tentang Parry kepada Sainy.
.***.
Di bagian yang lain ; Ayunna sedang berbaring, karena kondisi tangannya yang dipelintir oleh Carren. Dia tidak pulang ke rumah, tetapi langsumg ke tumah sskit untuk periksa tangannya yang sangat sakit saat digerakan. Mengingat Carren, dia menjadi emosi dan marah karena tidak bisa membalasnya.
Dia juga sangat kecewa karena tidak tahu akhir dari pesta pernikahan Recky dan Liana yang sangat dibencinya. Apakah Recky sengaja meninggalkan Liana di hari pernikahannya? Apakah mereka bisa menemukan Recky? Semua pertanyaan itu mengganggunya sama mengganggunya dengan tangannya yang sakit.
"Ada gangguan sedikit di pesta tadi malam, Ma. Karena tanganku rasanya agak sakit, jadi ke rumah sakit menemui dokter Hendra." Jawab Ayunna cepat, agar Mamanya tidak bertanya lebih lanjut.
"Gangguan? Jadi bukan saja Liana yang gangguan, tapi kau juga ikut-ikutan alami gangguan. Ada apa antara kau dengan Bu Biantra? Jangan bilang kau penyebab gangguan yang dialami oleh Liana." Mama Ayunna bertanya, mengingat sepanjang pesta, Ayunna dekat dengan Bu Biantra.
"Yaa, ngga lah, Ma. Memangnya ada gangguan apa dengan Liana?" Tanya Ayunna yang sudah penasaran dari pagi saat bangun tidur.
"Mama tidak tau pasti, tapi sepertinya Recky pergi meninggalkan Liana sebelum pesta usai. Hal itu membuat panik kedua keluarga besar. Apakah kau tau kenapa mereka menikah? Apakah mereka dijodohkan?" Tanya Mama Ayunna yang juga penasaran dengan kondisi akhir pesta penikahan. Hal itu membuat mereka segera pamit pulang, karena mulai terjadi kepanikan.
"Ayunna ngga tau cerita yang sebenarnya. Hanya Liana bilang mereka menikah, karena kecelakaan. Jadi kedua keluarga mengharuskan mereka menikah." Cerita Ayunna sedikit dari yang dikatakan Liana.
__ADS_1
"Pantesan Liana tadi malam sangat sedih, saat tahu Recky tidak kembali ke ballroom. Dia hanya duduk diam, saat dimarahi oleh Mamanya." Ucap Mama Ayunna, sambil mengingat peristiwa di ruang resepsi.
Mendengar itu, Ayunna tersenyum riang dalam hati. Hatinya sangat senang, mengetahui Liana tidak berbahagia dengan pernikahannya.
.***.
Di bagian yang lain ; Liana bangun tidur dengan mata yang sembab, karena menangis sepanjang malam. Dia metasa sedih bukan hanya Recky tidak kembali, tetapi juga karena dimarahin Mamanya sepanjang malam dari ruang resepsi sampai di rumah.
Dia turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya, sambil berharap ada kabar tentang Recky dari orang tuanya atau orang tua Recky. Untuk mengharapkan Recky mengabarinya adalah suatu hal yang sangat mustahil.
Dia berpikir sudah menikah, bisa mengikat Recky. Ternyata jangankan mengikat, menyentuhnya saja tidak bisa. Hal itu membuatnya kembali menangis sedih.
"Apa yang kau lakukan di tempat tidur? Cepat bangun." Ucap Mamanya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan membanting pintu. Mama Liana benar-benar marah, saat mengetahui Recky tidak kembali. Sampai pagi beliau tidak bisa menahan emosinya, apalagi yang dikatakan suaminya, Recky tidak ditemukan di bandara.
Mama Liana sangat malu terhadap rekan bisnis keluarganya yang hadir di pesta pernikahan tersebut. "Cepat kau katakan apa yang terjadi sebenarnya. Melihat lelaki seperti Recky, tidak mungkin dia melakukan hal itu, jika tidak punya alasan yang masuk akal. Apakah benar dia menidurimu?" Tanya Mama Liana dengan emosi yang meluap-luap.
Liana yang sudah bangun duduk, makin mengerut melihat kemarahan Mamanya. Dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya, karena bisa membuat Mamanya ngamuk, bahkan mungkin bisa memukulnya.
Melihat Liana tetap diam sambil menunduk, Mama Liana berdiri dan memukul kepalanya dengan bantal yang ada di tempat tidur. "Kau tau berapa banyak uang yang harus kami keluarkan untuk membiayai pernikahan memalukan ini? Apa kau memikirkan dampaknya untuk bisnis orang tuamu, jika semua ini diketahui publik?" Mama Liana berkata dengan marah, karena bukan saja biaya pernikahan, tetapi juga biaya pengamanan yang mereka lakukan untuk mengawasi Recky.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1