Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Luka Baru.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Aaric langsung berdiri dan berjalan dalam kamar sambil berpikir. Dia tidak menyangka ada perkembangan dan persoalan baru. "Benarkah yang kau katakan ini? Kau sudah pegang data, berapa banyak saham yang Papa miliki di Biantra atau Sunijaya?" Tanya Aaric serius. Dia tidak menginginkan saham Papanya jatuh ke tangan Mamanya atau keluargamya.


"Semua sudah ada pada saya, Pak. Ini info yang membuat saya panik, mereka sedang mencari keberadaan Pak Biantra, karena khawatir Pak Biantra akan menjual sahamnya. Dan ...." Jekob ragu-ragu memeruskan yang mau dikatakannya, karena dia khawatir bossnya marah besar.


"Dan apa? Ada info yang tidak mau kau sampaikan pada saya?" Tanya Aaric curiga dengan sikap Jekob.


"Maaf, Pak. Dengan berat hati saya sampaikan ini kepada bapak. Ini bukan isu atau gosip, tapi ini info yang benar. Nyonya akan segera menikah, setelah mendapatkan saham itu dan juga bercerai dengan Pak Biantra." Ucap Jekob pelan dan berhati-hati.


"Makanya sekarang mereka sedang menyewah orang untuk mencari Pak Biantra dan mempercepat proses gugatan di pengadilan." Aaric langsung berjalan tidak menentuh arah saat mendengar yang dikatakan Jekob. Dia terus berpikir sambil mengetuk dahinya.


"Kau yakin dengan info itu? Kau tau Iblis itu akan menikah dengan siapa? Apa ini untuk menyelamatkan Biantra?" Tanya Aaric beruntun, serius dan tidak bisa menahan emosinya.


"Iya, Pak. Setelah mendengar itu, tadi saya langsung menghubungi Sapta dan kami sudah mengecek kebenarannya. Siapa orang yang akan menikah dengan Nyonya, sesuai info orang A1. Tadi bapak telpon, saya sedang menunggu Sapta, makanya saya terlambat datang ke sini." Ucap Jekob mencoba menjelaskan, agar bisa menurunkan level emosi bossnya.


"Nyonya akan menikah dengan salah satu pemegang saham dan juga direkur di Biantra Group, Pak. Ternyata selama ini mereka sudah berhubungan sebelum merencanakan ini. Mereka berhubungan di belakang Pak Biantra,  tetapi sepertinya Pak Biantra tau, sehingga memasang GPRS di mobil Nyonya." Jekob menyampaikan semua yang diketahuinya dari hasil penyelidikan Sapta. Dia berharap bossnya tidak shock atau terluka mengetahui apa yang terjadi dengan orang tuanya.


"Astagaaa... Aku begitu bodoh, sampai tidak memperhatikan apa yang dikatakan Papa, saat menceritakan persoalan Recky. Kenapa Papa bisa tau Recky ada di villa malam itu, karena Recky membawa mobil iblis itu." Ucap Aaric, sambil menepuk dahinya. Dia mengingat ucapan Papanya. 'Papa bersyukur, adikmu membawa mobil Mamamu malam itu, jadi Papa tau keberadaannya. Jika dia membawa mobilnya sendiri, mungkin keesokan harinya Papa akan mengeluarkan dia dari danau.'

__ADS_1


"Benar. Papa pasang GPRS di mobil iblis itu, sehingga tau keberadaan Recky di villa malam itu." Aaric mengulang untuk meyakinkan apa yang ada di benaknya.


"Kau tinggalkan semua data pemegang saham Biantra dan Sunijaya. Jangan lupa tandai nama Direktur itu. Ini dokumen perjalanan Papa. Kau tetap urus keberangkatan kami secepatnya." Ucap Aaric lalu menyerahkan dokumen Pak Biantra kepada Jekob.


"Sekarang kau kembali ke kantor dan tunggu kabar dari saya. Minta Sapta selidiki si direktur kurang asam itu dan segera sampaikan kepada saya." Ucap Aaric sambil berjalan keluar kamar untuk mencari minum dingin untuk menenangkan hatinya yang sudah membara.


Jekob segera berdiri dan berjalan cepat mengikuti bossnya dengan membawa dokumen Pak Biantra di tangannya. Dia khawatir dengan kondisi bossnya, karena pasti sangat shock mendengar apa yang dilakukan Mamanya.


"Kau segera kembali ke kantor sebelum Papa bangun dan melihatmu. Nanti kau akan tertahan di sini. Saya serahkan kasus ini kepadamu dan Sapta. Saya yang akan bicara dengan Papa." Ucap Aaric pelan. Jekob bersyukur melihat bossnya masih bisa mengontrol emosinya, tapi tetap cemas melihat kulit bossnya mulai memerah.


Seperti yang Jekob pikirkan, Aaric berusaha tenang dan mengontrol emosinya, karena Pak Biantra ada bersamanya dan dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, menurut Aaric. Sehingga dia tidak mau menambah beban pemikiran Papanya.


Menjelang sore, Pak Biantra keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu mendekati Aaric yang sedang berpikir, sehingga tidak menyadari Papanya sudah bangun. "Ada apa, Aaric." Tanya Pak Biantra melihat putranya tidak menyadari kehadirannya.


"Ooh, Papa sudah bangun. Papa mau minum sesuatu?" Tanya Aaric untuk mengalihkan perhatian Papanya.


"Papa mau minum hot chocolate, kalau masih ada." Jawab Pak Biantra, lalu berjalan ke ruang makan.


"Aku akan buatkan untuk kita berdua. Aku juga ingin minum itu." Ucap Aaric, mencoba bersikap biasa.

__ADS_1


"Dimana Jekob? Apakah dia tidak jadi datang?" Tanya Pak Biantra, karena Aaric katakan Jekob akan datang.


"Tadi sudah datang, tapi dia ngga bisa lama karena harus kembali ke kantor." Aaric menjelaskan, agar Papanya tidak bertanya lagi. Pak Biantra terkejut melihat Aaric yang telah berdiri di dekatnya.


"Apa sedang terjadi sesuatu? Kau tidak bisa membohongi Papa. Itu kulitmu sudah menceritakanya." Ucap Pak Biantra melihat kulit tubuh Aaric memerah. Pak Biantra tahu, kedua putranya jika memahan marah, kulit mereka akan memerah.


Aaric yang berjalan mengikuti Papanya, tidak menyadari kulitnya sedang memerah. Pak Biantra membuka kulkas, untuk mencari sesuatu. Kemudian meletakan sebotol air mineral dingin ke tengkuk Aaric. "Pegang ini dan duduk di situ saja. Papa yang akan membuat hot chocolatenya." Ucap Pak Biantra sambil menunjuk kursi meja makan.


Aaric secara refleks memegang botol dingin yang diletakan Pak Biantra di tengkuknya. Lalu duduk di kursi meja makan sambil menunduk dan meletakan kepalanya di meja makan. Tangan kanan dan kirinya bergantian menggulung botol dingin di tengguknya. Dia lakukan itu sampai botol sudah tidak terasa dingin lagi.


Pak Biantra meletakan dua cangkir hot chocolate yang sudah dibuatnya di meja makan lalu duduk di depan Aaric. Beliau bersyukur dan sedikit tenang melihat kulit tubuh Aaric perlahan mulai normal. Aaric yang melihat Papanya sedang memperhatikannya, dia meletakan botol mineralnya dan mencoba seruput hot chocolatenya.


Dia membiarkan Papanya minum hot chocolate sampai habis lalu mulai bertanya dengan suara pelan. "Papa membawa semua dokumen kepemilikan saham Papa?" Aaric sudah tidak sabar untuk memunda bertanya tentang persoalan yang baru didengarnya dari Jekob.


"Iya, semua Papa bawa.... Apa sedang terjadi sesuatu dengan saham perusahaan? Papa memperhatikan beberapa waktu belakangan ini sudah membaik." Pak Biantra curiga mendengar pertanyaan Aaric dan melihat Aaric bernafas lega, mendengar jawabannya.


"Kalau begitu, sekarang Papa tunjukan dokumennya padaku dan Papa harus menjual semuanya padaku." Ucap Aaric serius dan tegas. Dia berpikir, harus bertindak cepat sebelum didahului oleh para iblis itu. Pak Biantra makin terkejut mendengar Aaric mau membeli semua sahamnya.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2