Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ace.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sesampai di mobil, Recky mengganti pakaiannya yang basa dengan pakaian yang dibawanya. Dia bersyukur membawa tas berisi kebutuhan pribadinya di mobil. Jika bepergian, dia selalu membawa tas berisi keperluan pribadinya, karena kadang dia tidak pulang ke rumah, tapi menginap di tempat wisata saat menikmati libur akhir pekan.


Dengan cepat dia berganti pakaiannya lalu mengikuti ambulance yang membawa wanita itu, agar tidak perlu repot mencarinya di rumah sakit. Dia tidak bisa jauh dari ambulance, karena dia tidak tahu nama wanita itu untuk bisa bertanya kepada pihak rumah sakit. Tanpa disadari, ada mobil yang mengikutinya dari belakang.


Setelah parkir mobilnya di tempat parkir rumah sakit, dia turun dari mobil lalu berjalan cepat ke ruang UGD. Saat sudah di ruang UGD, dia agak bingung, karena di ruangan tersebut tidak ada orang-orang yang ditemuinya di pantai.


Ketika hendak ke tempat perawat yang sedang berjaga untuk menyanyakan pasien yang baru masuk, seseoramg mendekatinya. "Tuan, mari ikut saya." Recky menengok dan melihat orang yang memberikan selimut untuknya di pantai berada di sampingnya. Recky mengangguk lalu mengikutinya dalam diam sambil berpikir, apa yang sedang terjadi.


Dia tidak dibawa ke tempat perawatan pasien di ruang UGD, tetapi berjalan terus ke tempat perawatan di kamar VIP. Recky sangat mengenal tempat tersebut, karena saat dia menjalani perawatan tangannya yang cedera, kakaknya menempati dia di salah satu kamar tersebut.


"Tuan tunggu di sini." Ucap orang yang mengantarnya sebelum mereka tiba di depan kamar VIP, dimana ada beberapa orang berkumpul. Orang yang mengantarnya berbicara dengan salah seorang bapak yang berpakaian resmi, lalu menunjuknya. Recky yang melihat itu, jadi berpikir dan waspada.


Dia lebih fokus memperhatikan bapak berpakian resmi. Alisnya jadi bertaut dan mengingat-ingat, sepertinya mengenal atau pernah lihat. Wajah bapak tersebut sangat familier denganya. Dia terus berpikir, tetapi tidak juga mengingat siapa bapak tersebut.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, orang yang memberinya selimut kembali menemuinya. "Tuan, apa hubungan anda dengan Nona?" Tanyanya membuat alis Recky makin bertaut. Dia berpikir cepat, agar bisa menjawab dengan tepat karena ucapan wanita tadi masih terngiang diingatannya.


"Anda bertanya hubungan saya dengan Nona anda, sedangkan tadi anda melihat saya mengeluarkannya dari dalam laut? Saya ikut ke sini, hanya ingin tau kondisinya. Jika sudah lebih baik, saya akan tinggalkan tempat ini." Ucap Recky serius tapi berkata dengan cuek.


"Kalau begitu, mari tuan ikut saya untuk mengecek kondisinya di ruang pemeriksaan. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan tuan." Ucap orang itu lagi, tidak mau mendesak Recky untuk mengatakan siapa dia dan ada hubungan apa dengan Nona nya. Dia sudah melihat Recky marah di tepi pantai, karena lambat menangani Nonanya.


Dia hendak mengajak Recky untuk pergi ke ruangan lain. "Pak, saya baik-baik saja. Saya hanya ingin tau kondisi nona anda. Jadi biarkan saya menemuinya, supaya saya lekas pulang." Ucap Recky serius, karena selain ingin tau, dia merasa capek dan juga lapar. Tadi sore dia hanya minum soft drink, sedangkan sekarang sudah waktunya makan malam.


Orang itu kembali meminta Recky menunggu karena akan berbicara dengan bapak berpakaian resmi lagi. Recky hanya bisa menangguk dan mengatakan 'sabarrr' dalam hatinya. Dia melihat bapak berpakaian resmi mengangguk. Kemudian orang itu kembali dan memgajaknya masuk ke salah satu kamar VIP yang ada di dekat mereka. Recky berjalan tenang tapi sambil berpikir, untuk mengingat bapak yamg berpakaian resmi tersebut.


Setelah berada dalam kamar perawatan, dia melihat wanita tersebut masih belum sadar. Ada dokter dan perawat bersamanya. "Dokter, tolong periksa tuan ini, karena tadi menolong Nona keluar dari laut." Ucap orang yang mengantarnya kepada dokter yang sedang berjaga. Recky jadi bingung melihat perlakuan mereka, tetapi menurut saja karena hanya periksa dalam ruangan tersebut.


Dia diminta berbaring di tempat tidur yang diperuntukan bagi menjaga pasien, lalu dokter memeriksa kondisi tubuhnya dengan teliti. Setelah selesai, dokter berbicara dengan orang yang mengantarnya. "Tuan baik-baik saja. Sekarang tuan bisa melihat Nona." Ucapnya sambil mempersilahkan Recky mendekati tempat tidur pasien.


"Apakah Nona anda sudah siuman?" Recky bertanya pelan, cendrung berbisik. "Nona sudah lewati masa kritis. Sekarang tuan bisa melihatnya." Katanya lagi, lalu Recky mengangguk mengerti.

__ADS_1


Ketika sudah di dekat ranjang tempat wanita tersebut dirawat, Recky sedikit lega karena wajah wanita tersebut sudah mulai normal. Tidak pucat lagi seperti di pinggir pantai. Recky mendekatinya lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dekat ranjang. Sedangkan yang lain menjauh dari ranjang pasien lalu duduk di sofa yang ada dalam ruangan tersebut, termasuk dokter dan perawatnya.


Recky memegang tangan wanita tersebut yang tidak diinfus dan bersyukur, tangannya sudah mulai hangat dan lembut. "Hei, ini aku yang tadi menolongmu. Jika mendengarku, tolong jawab. Siapa namamu. Aku tidak bisa menolongmu, jika nama saja, aku tidak tau." Ucap Recky pelan sambil berbisik. Dia khawatir ada yang mendengar ucapannya dan tidak bisa menolong wanita tersebut.


Pasti ada sesuatu yang terjadi, sehingga wanita itu melakukan tindakan nekad seperti itu. Dan kenapa antara sadar dan tidak, dia meminta tolong padanya. Itu yang Recky pikirkan sepanjang perjalanan dari pantai ke rumah sakit.


Ketika melihat wanita tersebut ingin berbicara, Recky mendekatkan telinganya ke bibir wanita tersebut. "Siapa namamu?" Bisik Recky. "Ace." Jawab wanita itu pelan dan lemah. "Aku Recky." Kembali Recky berbisik lalu duduk.


Recky terkejut, saat melihat ada butiran air mata mengalir di pinggiran matanya. Dengan cepat, Recky menghapusnya dengan jarinya. "Hei, tenanglah... Aku akan menolongmu. Cepatlah sembuh, agar aku tau, bagaimana bisa menolongmu." Bisik Recky sambil menghapus air mata Ace yang mengalir.


Bapak berpakaian resmi yang baru masuk ke ruangan terkejut melihat keakraban Recky dan putrinya. Beliau berdiri terdiam sambil melihat mereka berdua sedang berkomunikasi dengan cara yang sangat pribadi. Hatinya makin bertanya-tanya, siapa sebenarnya pria yang ada bersama putrinya.


"Ace, aku mau pulang dulu, besok aku kembali lagi. Jadi tidak usah pikirkan apa yang bisa membuatmu sedih. Aku berharap, saat kembali nanti, kita tidak berbicara seperti ini lagi. Cara berkenalan yang sangat aneh." Ucap Recky masih pelan dan berbisik, tapi tersenyum sendiri mendengar ucapannya.


Recky jadi lega, melihat ada semburat senyum di wajah Ace, walaupun air matanya masih mengalir di pinggiran matanya. Sambil menghapus air matanya, Recky menepuk pelan tangannya. "Aku pamit dulu, aku berharap saat kembali nanti, kau sudah membuka mata untuk melihatku." Bisik Recky lalu menepuk kembali tangan Ace.

__ADS_1


Kemudian Recky pamit kepada semua orang yang ada dalam ruangan untuk pulang, sebelum mereka mendengar nyanyian sumbang dari perutnya. Semua orang dalam ruangan itu hanya bisa mengangguk. Mereka terkejut dengan sikap Recky yang santai dan cuek saat berpamitan. Mereka jadi berpikir, siapa dia yang bisa berbicara akrab dengan Ace dan bersikap santai di depan Papanya.


...~●○♡○●~...


__ADS_2