
~•Happy Reading•~
Di tempat lain ; Carren keluar dari kamar untuk mandi dan membantu Mamanya menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, dia membersihkan semua perangkat makan dan berbicara sejenak dengan Mamanya.
"Apakah yang Arra kerjakan tadi berjalan dengan baik dan lancar?" Tanya Bu Nancy, ingin tahu. Karena melihat putrinya pulang ke rumah tidak seperti biasanya, langsung masuk ke kamarnya.
"Iya, Ma. Tadi kami sudah tanda tangan surat kontrak kerja dan mereka sudah membayar uang muka. Arra juga sudah pergi bayar uang muka untuk gedung dan catering. Besok baru bicara dengan yang lain untuk persiapan bekerja." Ucap Carren menjelaskan, agar Mamanya tidak kepikiran.
"Ooh syukurlah. Mama kira terjadi sesuatu, sehingga tadi Arra pulang langsung masuk ke kamar." Bu Nancy merasa lega dan bersyukur, mendengar penjelasan putrinya.
Carren tidak menceritakan persoalan yang sedang dihadapi, karena dia tidak mau membuat Mamanya khawatir. Dia akan berusaha semampunya dulu, baru bicara dengan Mamanya untuk mencari solusi yang baik, jika usahanya tidak berhasil atau tidak terselesaikan.
Setelah selesai berbicara dengan Mamanya, Carren masuk ke kamar dan mengambil laptopnya untuk memeriksa konsep dekor yang diinginkan calon pengantin dan menambahkan konsepnya sendiri yang telah disetujui oleh pengantin.
Dia kembali menghitung budget yang diperlukan dan juga semua pengeluaran yang tidak terduga. Begitu juga dengan pembayaran untuk semua yang membantunya. Dia kembali termenung, karena ada kekurangan dana yang dibutuhkan sebelum calon pengantin membayar lunas. Dia tetap masih membutuhkan dana segar untuk mendukungnya sebelum waktu pembayaran calon pengantin.
Untuk menghilangkan keresahan hatinya, Carren mengambil ponselnya dan melihat pembicaraan di grup WA Florens. Ternyata tidak banyak yang dibahas oleh Ichad, Akri dan Rosna. Yang ada hanya cerita tentang hal-hal yang menyenangkan dan saling menyemangati untuk siap-siap bekerja.
Carren tidak ikut berkomentar, karena suasana hatinya sedang tidak baik. Dia meletakan ponselnya dan membaringkan tubuhnya, berusaha untuk istirahat. Saat hendak memenjamkan matanya, ponselnya bergetar ada notifikasi.
Carren mengambil ponselnya lagi dan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya. Semenjak dia mulai bekerja, ponselnya tidak lagi disilent, jika sedang istirahat. Ketika melihat siapa yang mengirim pesan untuknya, Carren langsung bangun dan duduk. Lalu membaca pesan yang diterimanya.
"Malam, Carren. Sudah tidur?" Isi pesan dari Recky.
"Malam, Recky. Sebentar lagi. Apa kabar?" Balasan pesan dari Carren. Recky tidak membalas pesannya, tetapi langsung menelponnya. Karena dia berpikir, chat tidak akan berlanjut jika Carren tertidur.
📱"Alloo, Carren. Semoga ngga mengganggumu." Sapa Recky, saat Carren merespon panggilannya.
📱"Alloo, Recky. Ngga ko'. Gimana kabarmu?" Tanya Carren, karena Recky belum jawab pesannya.
__ADS_1
📱"Lumayan baik, atau kurang baik. Karena ujianku tertunda terus. Aku baru kembali dari Canberra, karena pekerjaan di sana ngga bisa ditunda. Terpaksa ujianku yang ditunda lagi." Recky berkata pelan dan tidak bersemangat.
📱"Ooh, aku pikir, kau sudah ujian. Yaaa... Bagaimana baik menurutmu, saja." Carren tidak bisa berkomentar tentang pilihan yang telah diputuskan oleh Recky, karena dia yang menjalaninya.
📱"Lalu, gimana kabarmu? Apakah kerjaanmu lancar?" Tanya Recky, sudah lebih rileks. Dia mengingat Carren yang tidak kuliah, hanya bekerja. Ketika mendengar pertanyaan Recky, Carren teringat dengan doanya sebelum mandi.
'Ya, Tuhan. Apakah ini jawaban-Mu atas permohonanku?' Tanya Carren dalam hati. Dia memegang dadanya dengan kuat, lalu menjawab pertanyaan Recky.
📱"Lumayan baik, atau kurang baik juga. Hehehe..." Carren berkata, lalu tertawa sendiri mendengar jawabannya.
📱"Hahaha... Kau itu ngga kreatif, Carren. Main copas, saja. Ada apa?" Tanya Recky, sambil tertawa mendengar jawaban Carren.
📱"Mmmm, aku mau minta bantuanmu." Carren menjawab Recky dengan nada pelan dan ragu-ragu.
📱"Oooh, kau mau aku bantu apa?" Tanya Recky terkejut, tapi hatinya senang jika Carren membutuhkan bantuannya.
📱"Kau bisa kirim nomor rekeningmu untukku?" Tanya Carren pelan hampir berbisik, karena khawatir Mamanya mendengar yang dia katakan.
📱"Kau sudah tau? Tolong dikirim sekarang, ya. Aku tunggu." Ucap Carren serius, walau dia tahu Recky sedang menanggapi ucapannya dengan bercanda.
📱"Astaga. Baiklah, aku kirim sekarang walau tidak mengerti maksudmu. Kalau mau dikuras, kuraslah..." Ucap Recky, lalu mengirim nomor rekeningnya dengan hati bertanya-tanya, apa maksud dari permintaan Carren.
📱"Makasih, Recky. Sekarang baru aku merasa lega, mau minta bantuanmu. Bisakah kau pinjami aku uang? Aku ..." Ucapan Carren terhenti karena dipotong oleh Recky.
📱"Sabar Carren, sabar... Apa hubungannya kau mau pinjam uang dengan minta nomor rekeningku tadi?" Tanya Recky heran, karena belum bisa mengerti maksud Carren.
📱"Oooh, itu. Supaya aku bisa mudah mengembalikan uangmu." Ucap Carren, karena dia khawatir, Recky tidak memberikan nomor rekeningnya setelah dia meminjamkan uang untuknya.
📱"Oooh, wualaaa... Itu maksudmu, toh. Kalau begitu, kirim nomor rekeningmu dan kau butuh berapa?" Tanya Recky, langsung pada intinya.
__ADS_1
📱"Recky, dengar dulu penjelasanku kenapa aku butuh bantuan pinjaman darimu. Karena..." Ucapan Carren dipotong lagi oleh Recky.
📱Carren, aku ngga minta penjelasanmu. Aku tanya berapa yang kau butuhkan. Kalau kau mau jelaskan juga, silahkan saja. Tetapi aku ngga akan mendengarnya." Ucap Recky tegas. Dia tahu Carren sedang tidak enak hati, karena tiba-tiba meminta bantuan tanpa penjelasan.
📱"Kau menyebalkan. Aku perlu bilang padamu, karena ngga bisa kembalikan uangmu dalam waktu dekat. Paling lambat dua bulan lagi." Ucap Carren kesal, dengan ucapan Recky.
📱"Kau baru tau, kalau aku memang menyebalkan? Kalau kau memaksa untuk menjelaskan juga, aku akan letakan ponselku di balkon. Biar penjelasanmu didengar angin malam Sidney. Hahahaha..." Ucap Recky sambil tertawa, bisa ngeledekin Carren. Dia bisa membayangkan wajah Carren saat bilang dia menyebalkan.
📱"Benar-benar menyebalkan..." Ucap Carren pelan, seakan berbisik khawatir didengar oleh Recky.
📱Carreeenn, yang itu aku bisa dengar, karena ponselku belum pindah ke balkon. Hahaha... Sudaaaa... Bilang angkanya, biar aku transfer sekarang. Karena besok pagi aku sangat sibuk ." Recky berhenti tertawa dan ngeledekin Carren.
📱"Baiklah, kau bisa pinjami aku 20 jt? Dua bulan lagi baru aku kembalikan setelah aku selesai kerja dan dibayar. Mereka baru bayar 50 % dan uangku ngga cukup untuk nyelesain pekerjaannya." Carren menjelaskan dengan suara pelan dan dalam kecepatan tinggi. Kemudian dia mengirim nomor rekeningnya kepada Recky.
Recky membiarkan Carren menjelaskan. Karena Recky menyadari, mungkin ini pertama kali yang dilakukannya. Dia pasti merasa tidak enak meminjam, tanpa menjelaskan alasan kenapa dia meminjam.
📱"Sudah selesai penjelasannya? Itu aku sudah transfer." Ucap Recky, singkat. Dia makin mengerti dan memahami Carren. Mungkin bagi orang lain mudah mengucapkan hal yang demikian, tetapi tidak bagi Carren.
📱"Astaga, Recky. Kenapa kau transfer dua kali lipat? Bagaimana aku bisa mengembalikannya?" Tanya Carren terkejut melihat pemberitahuan dari pihak bank.
📱"Loh, bukannya kau akan bekerja? Carren... Ngga usah pikirkan bagaimana cara mengembalikannya. Tetapi pikirkan, bagaimana cara mengembangkannya. Itu uang pribadiku, bukan pemberian orang tua. Jadi pakai saja untuk mengembangkan usahamu." Ucap Recky, tenang dan serius.
📱"Astaga. Kau memang sangat menyebalkan, karena aku ngga tau mau bilang apalagi kalau kau sudah bilang begitu." Carren tidak menyangka Recky akan berkata demikian.
📱"Sepertinya, malam ini kau sudah bilang aku menyebalkan sampai tiga kali. Berani kau ribut atau mempersoalkan untuk mengembalikan uang itu, aku akan benar-benar menjadi orang yang menyebalkan." Recky mengucapnya sambil tersenyum dalam hati, karena dia berusaha agar Carren tidak terus memikirkan mau mengembalikan uangnya.
📱"Baiklah. Makasih ya, Recky. Bisa membuatku tidur nyenyak malam ini." Ucap Carren, karena satu persoalan telah terselesaikan.
📱"Kalau kau bilang begitu, itu lebih baik. Mari istirahat, karena aku harus bangun pagi. Nanti kalau sudah selesai pekerjaanku, baru kita ngobrol lagi. Kau juga, konsentrasi untuk kerjaanmu. Night." Recky mengakhiri pembicaraan mereka setelah Carren membalas salamnya.
__ADS_1
Carren menarik nafas lega, karena persoalan yang paling berat sudah selesai, tinggal persoalannya dengan Ichad. Sebelum tidur, Carren bersyukur. "Ya, Tuhan. Terima kasih untuk yang terjadi hari ini. Tolong berikan aku kemampuan untuk mengelolah yang telah kuterima dari-Mu."
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡