
...~•Happy Reading•~...
Pak Sunijaya melihat asisten Bu Biantra dengan serius sambil berpikir tentang apa yang disampaikan dan juga analisanya. "Kalau begitu kau berikan datanya kepada asisten saya, dan kalian silahkan tinggalkan kami." Ucap Pak Sunijaya kepada kedua asisten. Mendengar pemaparan tersebut, Pak Sunijaya menyadari, posisi mereka di perusahaan bagaikan telur di ujung tanduk. Jika salah menanganinya, merela akan kehilangan kekuasaan di Biantra Group.
Setelah ditinggal oleh asiten mereka, Pak Sunijaya berkata kepada Bu Biantra. "Sampai sekarang kau belum mengetahui keberadaan Biantra? Apakah sulit mencarinya atau kau memang sengaja tidak mencarinya?" Tanya Pak Sunijaya, saat mereka tinggal bedua di ruang keluarga.
"Kami sedang mencarinya, Pah. Yang mau aku bicarakan dengan Papah, rencana rapat pemegang saham yang terus ditunda. Sekarang kita terus mengikuti apa yang diinginkan pemegang saham mayoritas. Hal ini membuat posisi kita tidak pasti." Ucap Bu Biantra mengalihkan pembicaraan dari pertanyaan Pak Sunijaya tentang Pak Biantra.
"Bukankah itu lebih baik untuk kita, jika ditunda? Kita masih punya waktu mencari orang-orang tadi dan mengajak mereka untuk berada di pihak kita, jika mereka tidak mau menjual sahamnya. Apa kau tidak mendengar yang dijelaskan tadi? Jika Elimus bisa mengajak Biantra atau Hutama, jumlah sahamnya sudah di atas 50 %. Itu ancaman untuk kelangsungan posisi kita di perusahaan. Seharusnya kita sebagai pendiri perusahaan memegang saham mayoritas. Tetapi karena investasi gegabah dan ceroboh yang dilakukan, kita kehilangan banyak saham." Pak Sunijaya mulai emosi dan melihat putrinya yang seakan tidak mengerti situasi.
"Aku mengerti, Pah. Sekarang aku sudah menyuruh orang ke Malang, mungkin Mas Biantra ada di Malang. Tidak mungkin dia pergi dengan anak-anaknya, sedangkan anak-anak sampai sekarang belum tahu keberadaannya." Ucap Bu Biantra mencoba menenangkan Papanya, agar tidak terjadi sesuatu dengannya.
"Kebetulan kau bicara tentang anakmu. Apakah kau belum juga menemukan anakmu, Recky? Mengapa sampai selaramg kau tidak membawanya padaku? Apakah kau sengaja menyembunyikannya dariku?" Tanya Pak Sunijaya yang sudah mulai emosi mengingat anak-anak Bu Biantra, cucu-cucunya.
__ADS_1
"Aku belum menemukannya, Pah. Dia tidak kembali ke apartemennya di Sidney. Apa mungkin dia masih di Indonesia dan bersembunyi di Malang bersama Mas Biantra?" Bu Biantra bertanya dan terkejut dengan apa yang terlintas di pekirannya. 'Mungkinkah mereka sudah salah mencari, sehingga menghabiskan banyak dana di tempat yang salah?' Bu Biantra membatin.
"Mengapa baru sekarang kau pikirkan itu? Kita harus membuang-buang uang dengan percuma, menyuruh orang mencarinya di Sidney begitu lama. Sekarang katakan itu kepada keluarga Tarikalla, agar mereka bisa menunggu sambil kau menyeret anak dan bapak itu kemari." Perintah Pak Sunijaya dengan tegas.
"Sudah tidak bisa lagi, Pah. Gugatan cerainya sudah didaftarkan di pengadilan negeri oleh keluarga Tarikalla dan surat panggilan untuk Recky sudah dikirim ke rumah. Jika Recky tidak datang pada sidang nanti, pengadilan akan memutuskan cerai." Ucap Bu Biantra menjelaskan kondisi yang terjadi dengan Recky dan Liana.
"Keluarga Tarikalla juga sudah siap-siap mau menikahkan anaknya dengan orang lain, jadi sepertinya proses perceraiannya akan cepat selesai." Bu Biantra menambahkan informasi lagi, agar Papahnya tidak mengharapkan Recky tetap bersama dengan Liana.
Pak Sunijaya terdiam dan mulai berpikir serius, karena kedua anak Bu Biantra tidak bisa diatur dan diharapkan. "Lalu bagaimana dengan rencanamu? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah Haiman bisa dipercaya untuk tetap berada di pihak kita?" Tanya Pak Sunijaya, kembali serius mengingat kondisi mereka di perusahaan, sehingga mengabaikan keberadaan cucunya yang tidak jelas keberadaannya.
"Apa dia sudah selesaikan persoalan rumah tangganya? Panggil dia ke sini, aku mau bicara dengannya. Sekalian mau mendengar rencananya tentang kalian. Dan kau secepatnya cari Biantra, agar bisa segera selesaikan ini." Ucap Pak Sunijaya kembali emosi. Kondisi kesehatannya menurun saat mengetahui Bu Biantra bermain api dengan salah satu Direktur di perusahaannya.
Bu Biantra mengangguk lalu menghubungi Pak Haiman yang sedang memunggu di mobil. Setelah Pak Haiman masuk keruang keluarga dan berbicara dengan Pak Sunijaya, beliau mulai merasa tenang. Pak Sunijaya menjamin jabatannya tetap di Biantra, asalkan segera selesaikan persoalan diantara dirinya dengan Bu Biantra, serta persoalan rumah tangganya.
__ADS_1
"Persoslan rumah tangga saya sudah mau selesai, Pak. Karena istri saya sudah mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan dan saya sudah terima surat panggilan dari pengadilan." Pak Haiman menjelaskan persoalan rumah tangganya. Bu Biantra yang sudah mengetahuinya duduk tenang di samping Pak Haiman.
"Baik. Kau tetap bekerja seperti biasanya sambil menyelesaikan persoalan masing-masing. Kau juga Suni, segera cari Biantra untuk selesaikan masalah kalian, agar bisa fokus urus masalah perusahaan." Ucap Pak Sunijaya yang sudah tidak bisa mencegah keinginan anaknya untuk menikah lagi.
Sebelum Pak Haiman berdiri meninggalkan ruangan, sepupuh dan ponakan Bu Biantra telah tiba dan masuk ke ruang keluarga. Mereka sangat terkejut melihat Pak Haiman ada juga di dalam ruang kekuarga Sunijaya.
Sepupuh Bu Biantra tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya kepada Pak Haiman. Karena beliau berpikir, dengan perginya Pak Biantra, mereka bisa mendapatkan bagian yang lebih besar dan posisi yang lebih tinggi dari Pak Sunijaya. Tetapi belum apa-apa, sudah ada tikus yang mau mengambil bagian itu juga. Beliau mulai berpikir cepat dan menyusun strategi agar minimal bisa tetap seperti sekarang berada di perusahaan Biantra.
Ketika Pak Haiman pamit untuk meninggalkan ruang keluarga, mereka menatap Pak Hainam dengan tidak suka, bahkan rasa benci tersirat di mata mereka. Tetapi Pak Haiman mengabaikan rasa benci mereka, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu. Semua sikap yang diperlihatkan sepupuhnya tidak luput dari penglihatan Bu Biantra.
Hal yang sama juga ada dalam pengamatan Pak Sunijaya. Melihat sikap ponakan dan anak-anaknya terhadap Bu Biantra dan Pak Haiman, Pak Sunijaya mencium ada yang tidak beres. Beliau segera berbicara dengan mereka untuk fokus pada persoalan perusahaan dan masalah yang akan mereka hadapi.
Baik dengan Komisaris baru dan kebijakannya, atau dengan pemegang saham mayoritas yang mungkin akan beralih dari tangan Pak Sunijaya. Semua itu akan mereka ketahui saat menjelang dan di rapat pemegang saham nanti. "Kalian harus bantu berpikir, mencari solusi yang baik, agar posisi kalian tetap aman di Biantra. Dalam kondisi sekarang ini, kekuasanya ada di tangan pemegang saham mayoritas, jadi kalian juga harus siap-siap jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Makanya saya memanggil kalian untuk berkumpul di sini." Pak Sunijaya memberi peringatan kepada ponakan dan anak-anaknya.
__ADS_1
"Kalian mau hidup enak seperti sekarang, bantu berpikir untuk mendapatkan kembali perusahaan ini. Jangan kalian malah fokus memperebutkan sepotong roti yang tinggal sedikit." Ucapan Pak Sunijaya merupakan tamparan bagi ponakannya yang menganggap Pak Haiman bagaikan tikus. Tetapi mereka pun dianggap sama oleh Pak Sunijaya, tikus-tikus kecil yang menggerogoti sepotong roti kecil.
...~●○♡○●~...