Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Dukungan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Ketika melihat keraguan Recky meminta menu untuk makan malam mereka, Aaric tidak membahasnya. Dia berpikir, mungkin ada hubungannya dengan Carren. Sama-sama sedang menyembuhkan luka, jadi Aaric tidak mau menanyakan atau membicarakan sesuatu yang dapat melukai salah satu diantara mereka. Sedangkan ada persoalan yang masih menunggu untuk di bicarakan.


Aaric tidak memesan masakan padang, karena dia berpikir jangan sampai ada sesuatu yang mengingatkan Recky kepada hal yang buruk. Dia tahu, Recky suka makan fried chiken dan french fries. "Aku akan membeli fast food saja, karena sudah lapar. Setelah makan baru kita berenang atau tidak, tergantung kekuatan perut." Ucap Aaric dan segera memesan makan malam untuk mereka setelah Recky mengangguk.


Setelah makan malam, mereka tidak jadi berenang, karena makanan yang dipesan Aaric membuat mereka kekenyangan. Aaric mengajak Recky duduk di sofa ruang tamu untuk membicarakan apa yang tadi belum sempat dibicarakan dan perlu diselesaikan.


Saat hendak duduk, Recky teringat sesuatu. "Kakak, apakah kakak pernah katakan kepada Carren tentang Kak Naina? Maksudku, menyebut nama Kak Naina kepada Carren?" Tanya Recky, mengingat Aaric mengatakan tentang seseorang yang pernah dicintainya kepada Carren.


"Belum. Aku hanya katakan seseorang dan tidak perlu dia pikirkan, karena orangnya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Ada apa?" Tanya Aaric dengan alis bertaut, karena Recky bertanya dengan tiba-tiba dan dengan wajah yang serius.


"Syukurlah... Kakak tidak usah bicarakan Kak Naina kepada Carren sebelum kakak menikah dengannya. Sepertinya Carren kenal baik dengan Kak Naina. Jadi lebih baik, mencegah saja sebelum terjadi sesuatu." Ucap Recky ragu-ragu mengingat kehadiran Carren di tempat duka saat Naina meninggal.


"Itu yang mau aku tanyakan saat kau katakan tadi, tetapi lupa. Terlalu banyak yang permasalahan, membuat ada yang menguap. Tadi kau bilang Carren datang ke tempat duka bukan? Apakah Carren mengenal Naina secara pribadi, atau karena kenal Parry sebagai teman sekolah?" Tanya Aaric, karena dia mau menanyakan itu sebelum tidur, tetapi lupa karena sudah lelah.

__ADS_1


"Kalau aku lihat, Carren kenal baik dengan Kak Naina. Bukan seperti kami yang datang karena Parry. Karena kedua iblis itu juga ada datang. Tetapi Carren duduk di samping Parry, diantata keluarga berduka." Recky berkata sambil mengingat hari itu, pertama bertemu dengan Carren lagi, dan Carren terkejut melihatnya.


"Jika hanya kenal baik dengan Parry, seharusnya Carren yang menghibur Parry yang sedang berduka karena kehilangan kakaknya. Tetapi terbalik, Kak. Parry yang menghibur Carren, karena terus menangis." Recky bercerita sambil mengingat Parry terus mengelus punggung Carren untuk menghiburnya.


"Carren bersedih, bukan seperti kami yang datang ikut bersedih karena Parry berduka, tetapi memang dia bersedih karena kehilangan." Ucap Recky lagi. Aaric melihat Recky dengan serius. Banyak hal berputar dikepalanya memikirkan semua itu.


"Jadi aku sarankan, kakak segera menikahinya sebelum terlambat dan terjadi banyak drama. Sekarang saja sudah lelah dengan perasaan kita, tambah lagi mikirin perasaan Carren. Aku tidak suka melihatnya bersedih, untuk sesuatu yang bukan karena perbuatannya, tetapi terlalu tenggang rasa terhadap seseorang." Aaric mengangguk, mengerti maksud Recky. Jika benar, Carren kenal baik dengan Naina, apa jadinya jika mengetetahui keluarganya penyebab kematian Naina.


Aaric percaya, Recky lebih mengenal Carren dari padanya, karena mereka telah bersama dalam waktu yang lama. "Aku akan urus secepatnya setelah berbicara dengan Jekob. Ada banyak hal yang akan terjadi di waktu mendatang, dan itu bisa membuatnya berpikir lagi, seperti katamu. Sedangkan aku sudah tidak bisa berpikir lagi untuk mencari jalan keluar." Ucap Aaric, mengingat proses hukum yang akan dijalani Mamanya dan dia sudah berjanji kepada Carren untuk membicarakannya.


"Iya, Kak. Carren tidak terpengaruh dengan banyaknya harta, sehingga bisa menempel terus pada kakak seperti linta, tanpa memperdulikan sekitarnya. Jadi jangan berharap dia akan cuek dan mudah menerima, jika mengetahui iblis di rumah terlibat."


"Apa dia tahu pekerjaan kakak? Atau apa dia tau seberapa tajir melintir tir tir nya, kakak?" Tanya Recky serius. Aaric melihat Recky sambil berpikir.


"Sepertinya, tidak. Mungkin dia tau aku berduit, iya. Karena kita pernah bersama makan dan naik mobilku. Tapi pekerjaan atau yang lainnya, sepertinya, tidak. Dan dia tidak pernah bertanya aku kerja di mana. Tapi dia pasti tau, aku memiliki jabatan, karena punya asisten, Jekob." Aaric berkata sambil berpikir, karena tidak terpikirkan olehnya.

__ADS_1


"Carren pasti tau kakak berduit, karena dia bukan gadis bodoh. Dia sangat cerdas di sekolah. Tidak pernah tidak rengking 1 dan murid teladan. Dia mengusai beberapa bahasa, karena dia sangat rajin belajar. Tetapi dia tidak pernah melihat seseorang karena berduit atau tidak. Dia berteman dengan Parry, karena Parry tulus menolongnya."


"Kakak jangan berpikir, karena kakak berduit dia tidak akan mundur. Dia akan mundur, jika tau iblis itu melakukan sesuatu yang jahat terhadap Kak Naina." Ucap Recky serius, tapi tiba-tiba tersenyum.


Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kau senang, jika dia meninggalkan kita?" Tanya Aaric tidak mengerti melihat sikap dan wajah Recky.


"Aku lagi teringat hal yang lucu, saat dia memintaku untuk tidak kembali ke sini tetapi harus selesaikan kuliahku. Saat itu, oooh ... saat aku mimpi itu, aku  bilang mau pulang ke sini untuk bertemu dengannya. Dia bilang, 'fokus untuk ujian, tidak usah pikirkan mau pulang. Jika sudah selesai, sudah wisudah, baru pulang, biar orang tuamu bangga.' Aku jadi terkejut mendengar yang dia katakan. Seakan-akan dia tidak tahu dan beranggapan, pulang balik Aussie bermasalah buat kantongku atau kantong orang tuaku."


"Aku berkata padanya: 'Carren, kau sedang berbicara dengan siapa? Ini Recky Biantra.' Aku sering pulang ke situ untuk bantu Papaku, tapi tidak memberitahumu, karena harus segera kembali ke Aussie.' .... Tidak mungkin dia tidak tau Gedung Biantra yang begitu besar di segitiga emas. Kakak tau dia bilang apa? Ooh, iya, maaf. Aku lupa, kau anak sultan. Hahaha..." Recky jadi tertawa mengingat percakapan mereka. Aaric jadi tersenyum mendengar cerita Recky.


"Kakak sudah lihat, dia tidak melihat aku ini seorang Biantra saat berteman denganku. Jadi sama dengan Parry, dia tidak melihat Parry dari kekayaan orang tuanya. Jika dia mau hidup enak, dia bisa nempel terus saja sama Parry. Tetapi malah menolak cinta putra tunggal Hutama. Padahal orang tua Parry tidak bermasalah kedekatannya dengan Parry." Ucap Recky, mengingatkan kakaknya, agar lebih mengenal Carren dan bertindak hati-hati.


Aaric mengangguk, karena dia sendiri sudah alami, Carren tidak mempergunakan black card yang diberikannya, malah mau mengembalikannya. Jika wanita lain, mungkin sudah digunakan untuk berbagai keperluan atau keinginan hati. Aaric jadi berpikir, mungkin Carren menerima black card yang dia berikan, untuk menghindari berdebat dengannya.


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2