Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Luka Baru 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pak Biantra terdiam dan melihat Aaric dengan serius. Beliau tidak menyangka Aaric mau membeli sahamnya. "Mengapa Papa harus menjualnya padamu. Saham-saham itu memamg Papa simpan untukmu dan Recky. Jadi itu memang milik kalian berdua." Ucap Pak Biantra serius. Karena memang itu niat gatinya selama ini, memberikan milik pribadinya, buksn dari pemberian istri dan keluargsnya.


"Begitu juga dengan rumah kakek dan nenek dan beberapa petak sawah yang di Malang. Itu milik kalian berdua." Ucap Pak Biantra pelan, tetapi tegas. Apalagi mendengar yang dikatakan Aaric, mau membeli sahamnya. Beliau menyimpan semua dokumen saham dan sertifikat rumah orang tuanya serta tanah di kampung untuk diberikan kepada kedua putranya.


Dengan yang dikatakan Aaric, Pak Biantra berpikir, kini waktu yang tepat untuk menyerahkan apa yang dimilikinya kepada kedua putranya.


"Papa percaya padaku, kan?" Tanya Aaric serius, sambil menatap mata Papanya. Pak Biantra mengangguk kuat untuk menyakinkan Aaric, bahwa beliau mempercayainya.


"Kalau begitu, serahkan semua sahamnya padaku, termasuk yang punya Recky. Setelah ini, baru kita bicarakan, mengapa Papa harus menyerahkan semuanya padaku." Ucap Aaric tegas dan tidak mau dibantah.


Pak Biantra mengangguk lalu berjalan dalam diam menuju kamar. Beliau berpikir, pasti sedang terjadi sesuatu dan sesuatu itu berhubungan dengan sahamnya. Hal itu pasti mendesak, sehingga membuat Aaric begitu marah. 'Apa kedatangan Jekob ada hubungannya dengan ini? Karena tadi saat Aaric berbicara dengannya sebelum tidur sudah santai.' Pak Biantra berpikir dan membatin.


Setelah memgambil semua dokumen yang disimpannya dalam koper, Pak Biantra keluar menemui Aaric yang sedang menunggunya di ruang tamu sambil menelpon. Ketika melihat Pak Biantra mendekatinya, Aaric memutusksn hubungan telpon dan mengajak Papanya duduk di ruang makan.


"Ini semua dokumen yang Papa simpan. Sekarang kau tolong menyimpannya untuk kalian berdua. Karena kau anak tertua, tolong simpan dan atur dengan baik bersama adikmui." Ucap Pak Biantra sambil membuka semua dokumen di atas meja makan di hadapan Aaric.

__ADS_1


"Papa percayakan bagian Recky padamu. Walau nanti dia tidak memerlukan ini, kau tetap berikan padanya. Papa ingin kalian nikmati hasil keringat Papa yang selama ini tidak pernah kalian nikmati." Pak Biantra berkata pelan. Beliau tahu kedua putra sudah tidak mengharapkan apa-apa darinya. Mereka sudah bisa hidup mandiri, malah sekarang bisa menghidupinya.


Selama ini, kedua anaknya bisa hidupi diri mereka sendiri tanpa bergantung padanya atau keluarga besar Mamanya. Tapi sebagai seorang Ayah, beliau ingin memberikan sesuatu dari hasil kerja kerasnya selama ini. Oleh sebab itu, beliau membeli saham sendiri, tanpa sepengetahuan istrinya.


Aaric lebih tertarik memeriksa data saham, karena itu yang akan jadi masalah. Sedangkan sertifikat rumah dan tanah, dia pisahkan tersendiri. Dia memeriksa dengan teliti semua saham Papanya. Ketika melihat jumlah saham yang dimiliki Papanya, Aaric tersentak. Jadi pemilik saham yang dicari Jekob selama ini adalah Papanya. Papanya memiliki saham sebagai pimpinan Biantra, tetapi juga ada saham perorangan yang dimilikinya.


"Ini saham siapa, Pa?" Tanya Aaric melihat dokumen saham perorangan yang dicari Jekob.


"Itu punya kakekmu. Papa membelinya saat kakekmu masih hidup, agar bisa membangun rumah mereka di Malang. Sekarang bisa kau urus untuk kalian berdua." Ucap Pak Biantra, serius.


"Sekarang, Papa telpon ke penjaga rumah di Malang. Katakan padanya, jika ada yang datang menanyakan Papa di sana, katakan saja Papa memang sebumnya tinggal di sana. Tetapi sekarang sudah berangkat ke Jakarta, seperti yang Jekob katakan padanya. Jangan katakan anak Papa datang menjemput. Hanya itu yang harus dia katakan kepada orang yang datang." Ucap Aaric serius. Dia berpikir, biar mereka mengubek seluruh isi Jakarta untuk mencari Papanya.


"Apa sedang terjadi sesuatu?" Tanya Pak Biantra, sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


"Para rubah dan ular beludak sedang mencari Papa. Jadi Papa segera hubungi penjaga rumah, agar jangan sampai dia salah bicara ketika mereka datang. Sementara ini, jangan mereka tau Papa sudah bersamaku. Jika waktunya tiba, biar para rubah itu dilit ular beludak atau rubah meremukan kepala ular itu." Ucap Aaric dengan geram dan rahang yang mengeras.


Setelah itu dia mendengar Papanya bicara dengan penjaga rumah, agar bisa tahu kondisi di sana. Apakah sudah ada yang mendatanginya atau tidak. "Mereka belum datang ke rumah. Papa sudah jelaskan semua yang kau katakan padanya dan dia mengerti." Ucap Pak Biantra ikut serius, membayangkan yang sedang terjadi.

__ADS_1


Pak Biantra lebih mengenal istri dan keluarganya daripada Asric, karena bekerja dengan mereka puluhan tahun. Sehingga saat Aaric berbicara demikian, Pak Biantra bisa mengerti dan memahami situasi yang sedang terjadi.


"Hanya itu yang harus Papa urus, berbicara dengan penjaga rumah di Malang. Karena yang tau keberadaan Papa hanya penjaga rumah, selain kami. Bagian selanjutnya biarkan aku, Jekob dan Sapta yang menanganinya." Aaric tidak menginginkan Papanya tetlibat dalam kerumitan masalah saham perusahaan.


"Sekarang Papa bicara jujur padaku, jika menganggap aku ini anak Papa. Kenapa Papa membiarkan iblis di rumah itu melakukan perbuatan menjijikan di depan Papa." Ucap Aaric, yang masih marah dan geram. Warna kulitnya kembali mulai memerah.


"Apa yang kau maksudkan, Aaric. Tentu saja kau putra tertuaku. Mengapa kau berkata seperti itu? Mengapa kau bertanya hal yang sama seperti adikmu? Kalian berdua meragukan Papa ini sebagai Papa kalian?" Pak Biantra mengingat pertanyaan Recky di tepi danau sambil menangis dalam pelukannya.


"Kalau begitu, Papa tidak perlu menutupi sesuatu yang busuk dari kami, terutama dariku saat ini. Seberapa rapi hal itu ditutupi, bau busuknya akan tercium. Jadi Papa jujur padaku, mengapa membiarkan iblis itu tidak menghormatimu dan mengijnjak-injakmu." Ucap Aaric makin marah. Melihat perubahan warna kulit Aaric, Pak Biantra menyadari. Aaric bukan marah mengenai saham tetapi karena Mamanya.


"Sampai kapan Papa menyimpannya sendiri? Iblis itu mau menggugat cerai Papa, makanya sekarang mereka sedang mencari Papa. Bukan hanya untuk saham itu, tetapi juga untuk bisa bercerai dari Papa." Aaric berkata tegas dengan emosi makin meningkat. Papanya terdiam dan menatapnya dengan nanar, tidak bisa berkata-kata. Ternyata apa yang ditutupi selama ini dari anak-anaknya sudah diketahui oleh Aaric.


"Apa yang harus Papa ceritakan pada kalian berdua? Itu adalah aib keluarga dan dia adalah Ibu kalian berdua. Papa bisa berbuat apa untuk mencegah atau melawwnnya? Dia dan keluarganya memiliki kekuatan dan kuasa. Sedangkan Papa tidak mau jauh dari kalian." Ucap Pak Biantra pelan dengan rasa malu dan sendih.


Kembali teringat kejadian yang ingin dilupakannya. Saat pertama kali mengetahui istrinya main gila di belakangnya dan mereka bertengkar hebat. Pak Biantra sangat marah dan terluka, hendak meninggalkan perusahaan dan rumah. Tetapi langkahnya terhenti saat istrinya mengatakan: 'Jika pergi, kau tidak akan bisa bertemu dengan anak-anakmu lagi.'


...~●○♡○●~...

__ADS_1


__ADS_2