
...~•Happy Reading•~...
Aaric menyadari, apa yang akan disampaikannya akan mengaduk emosi adiknya, karena dia melihat kepada apa yang dia rasakan saat pertama kali mendengar itu dari Jekob. Hal yang berhubungan dengan Pak Biantra, mengguncang perasaan dan hati mereka.
"Wanita itu menceraikan Papa, karena akan menikah lagi. Dan se ..." Aaric tidak bisa meneruskan ucapannya karena Recky tiba-tiba berdiri sambil menekan kedua tangannya ke sofa. Sehingga kaosnya yang sedang dipegang Aaric terlepas dari tangannya. Secara refleks, Aaric berdiri lalu memegang Recky yang menganmuk dan memukul ke sembarang arah.
"Siapa lelaki yang akan dinikahinya? Apa kakak mengetahui lelaki itu? Apa dia kerja di kantor Papa?" Tanya Recky beruntun, sambil melihat kakaknya dengan emosi yang meluap-luap. Aaric yang sudah berdiri dan memegangnya, hanya mengangguk mengiyakan semua yang ditanyakan Recky. Karena itulah jawabannya, iya.
Melihat perubahan wajah Recky, Aaric memeluknya dengan erat, khawatir Recky melakukan sesuatu yang akan menyakitinya. "Memalukan... Benar-benar keterlaluan dan memalukan. Iblis itu melakukannya di belakang Papa. Tidak, dia melakukannya di depan Papa." Recky berontak sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Jika benar lelaki itu ada di kantor Papa, pasti itu dia. Aku sudah curiga saat itu, melihat perubahan Papa. Aaahh... Papaku. Iblis itu benar-benar melukainya." Recky langsung terduduk di lantai sambil menarik rambutnya dengan kesal. Aaric ikut duduk di lantai sambil terus memeluknya.
"Kakak, dia sudah berhubungan dengan lelaki itu, sebelum Papa pergi. Lelaki itu ada di kantor Papa. Aku tau, pasti lelaki itu. Karena Papa tidak tenang jika bertemu dengannya. Aku berpikir saat itu, mungkin dia ada melakukan kesalahan dalam pekerjaan, sehingga Papa tidak senang dengan kehadirannya. Aku akan mencicangnya menjadi makanan cacing." Recky berkata sambil berontak dari pegangan Aaric, tetapi kemudian tertunduk sedih.
__ADS_1
"Mereka sudah sangat menyakiti Papa, kakak. Belakangan aku berpikir, Papa berubah karena masih memikirkan kakak. Tetapi di villa itu Papa bilang, Papa yakin kakak baik-baik saja. Lalu kenapa Papa terlihat lebih kurus. Aaahhh... Mereka benar-benar keterlaluan. Mereka membunuh Papa secara perlahan. Aku akan membunuh mereka berdua." Ucap Recky emosi, geram dan sangat sedih.
"Kau menginginkan kita semua berada di penjara dan meninggalkan Papa sendiri di luar? Apakah terjadi sesuatu denganmu, aku akan diam saja?" Tanya Aaric yang sudah sangat sedih melihat adiknya meletakan kepalanya di antara kedua lututnya sambil memegang rambutnya dengan kuat.
"Aku sudah tau saat datang ke kantor Papa untuk membantunya. Melihat lelaki itu dibelain oleh si iblis itu, saat Papa memarahinya. Dia tidak becus bekerja, tetapi iblis itu tetap mau mempertahankannya dengan berbagai alasan. Saat itu aku curiga hanya masalah penggunaan uang, karena dia dibagian keuangan. Aku tidak berpikir iblis itu ada main rumah-rumahan dengannya." Ucap Recky sambil terus menunduk sedih.
Ketika dia mengepalkan tangannya untuk memukul ubin karena sangat kesal, dia mengingat kakaknya yang telah berusaha menyembuhkan tangannya. Dia kembali menjabak rambutnya dalam penyesalan dan kesedihan yang dalam.
"Pantas dia senang dan tidak perduli saat Papa pergi. Supaya dia bebas main Mama Papa dengan lelaki itu. Aku akan ke kantor Papa untuk memberikan salam tempel kepada lelaki tidak bermoral itu." Ucap Recky dengan emosi.
"Dia lebih memilih pergi makan siang dengan orang lain dan membiarkan aku dan Papa makan siang sendiri di ruang kerja Papa. Padahal dia tahu, aku baru pulang dari Australia dan akan segera kembali." Mengingat itu membuat Recky mengeram dengan amarah yang meluap.
Membuat tubuhnya terguncang dan kulitnya mulai memerah, karena amarahnya tidak tersalurkan. Melihat hampir seluruh kulit Recky sudah memerah, Aaric melepaskan tangannya dari Recky lalu berjalan cepat ke dapur. Dia mengingat apa yang dilakukan Papanya untuk mencegah kulitnya makin memerah.
__ADS_1
Aaric kembali dengan dua kaleng soft drink di tangannya lalu meletakan itu di tengkuk Recky. Hal itu membuat Recky terkejut dan langsung memegang salah satu kalengnya. Dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan kakaknya dengan kaleng itu, tetapi dia merasa kepalanya mulai kurang berdenyut.
"Reckiii ... tenangkan dirimu. Sekarang sudah tidak berguna kau marah padanya. Jangan menyakiti dirimu untuk apa yang dilakukan oleh orang lain, termasuk orang tuamu." Aaric berusaha menenangkan adiknya yang benar-benar emosi sambil terus mengguling kaleng soft drink di pundak dan belakang leher Recky.
"Kakak membiarkan lelaki itu memperlakukan Papa seperti itu? Kalau mereka sudah pisah lalu mau naik gunung atau manjat pohon, aku tidak perduli. Tetapi dengan kurang ajar, berani melakukan hal seperti itu di depan Papa. Aku akan ajari dia pakai bogem menta, biar tau diri." Ucap Recky yang masih emosi, lalu mengambil kaleng soft drink dari tangan kakaknya.
"Recky, aku tidak perlu mengatakan apa yang sudah aku lakukan untuk membelah kehormatan Papa. Tetapi setelah semua itu terjadi, apa yang aku rasakan? Kesedihan, karena menyangkut orang terdekat dengan kita. Makanya tadi aku katakan, kita tidak bisa mengedalikan tindakan orang lain. Yang bisa kita lakukan, hanya kendalikan tindakan kita. Jadi mari duduk dengan tenang dan dengarkan aku, kakakmu ini." Ucap Aaric sambil menatap adiknya dengan sayang.
Recky telah meletakan kedua kaleng soft drink di lantai. Dia merasa lebih baik, tetapi masih duduk di lantai sambil meletakan dagunya di atas kedua lututnya dan memeluk kedua kakinya. Dia tahu Mamanya suka bersikap seenaknya terhadap Papanya, tetapi tidak menyangka bisa melakukan hal seperti itu terang-terangan di depan Papanya.
"Pantas Papa bisa menemukanku di villa malam itu. Pasti Papa memasang GPRS di mobil iblis itu, karena malam itu aku membawa mobilnya. Saat itu aku merengek seperti anak kecil padanya, padahal Papa sendiri sedang sangat menderita. Aaahhh.... Papaaa..." Recky sangat sedih memikirkan Papanya.
"Semuanya terjadi begitu cepat, karena aku kembali dari Jerman dan tidak sempat bertemu dengannya dan langsung kembali ke Aussie. Kembali ke sini hanya berurusan dengan kedua iblis betina itu. Aku tidak bisa melihat Papa dengan baik di villa malam itu. Hidup Papa sungguh malang berurusan dengan keluarga itu." Ucap Recky sambil terus memikirkan Papanya.
__ADS_1
"Recky, dengarkan aku. Sekarang semuanya ibarat nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah jadi bubur yang menjijikan. Jadi tidak perlu membuang energi untuk mengaduknya. Jika memikirkan apa yang dia lakukan kepada Papa, sama saja kita sedang mengaduk hal yang menjijikan." Ucap Aaric sambil menepuk pelan punggung Recky, lalu kembali mengambil kedua kaleng soft drink dan letakan di belakang leher Recky. Karena warna merah pada kulit Recky belum sepenuhnya memudar.
...~●○♡○●~...