
~•Happy Reading•~
Recky dan Liana telah melakukan akad nikah di catatan sipil sebagaimana yang diinginkan oleh keluarga Tarikalla dan Biantra. Kedua keluarga tersebut tersenyum senang setelah acara akad nikah selesai diselenggarakan. Terutama Liana dan Bu Biantra merasa sangat lega, karena Recky datang sesuai waktu yang telah ditentukan.
Tetapi Pak Biantra tertunduk sedih melihat wajah putranya yang tidak bisa digambarkan. Dia bagaikan tidak bernyawa, hanya diam tidak berinteraksi dengan seorangpun, termasuk dirinya.
Ketika melihat tangan kanan putranya berbalutkan gips, Pak Biantra teringat peristiwa malam itu. Jari-jarinya masih terlihat bengkak, belum pulih seluruhnya. Hatinya sangat hancur melihat ketidak bahagiaan putranya.
Setelah acara akad selesai diselenggarakan, kedua keluarga tertegun, karena Recky berjalan dengan cuek kearah mobilnya. Dia tidak berjalan ke arah mobil pengantin mewah yang telah disediakan oleh keluarga Tarikalla.
Dia bersama sopir yang disewanya langsung meninggalkan tempat akad nikah. Bu Biantra yang menyadari Recky telah meninggalkan tempat akad, segera menghubunginya untuk kembali naik mobil bersama Liana, istrinya.
Berulang kali mereka menghubunginya, tetapi tidak direspon, karena Recky telah menonaktifkan ponselnya sejak acara akad berlangsung. Dia sudah dalam perjalanan kembali ke hotel untuk tidur, karena masih merasa lelah dan mengantuk.
Saat tiba di tempat parkir hotel, dia membayar sopir yang mengantarnya untuk membawa mobil tersebut ke alamat rumah Carren. Dia tahu alamat rumah Carren dengan baik, karena pernah mengantarnya pulang saat mereka dari vila keluarganya.
Sebelum tidur, Recky mengatur waktu untuk membangunkannya sebelum acara resepsi diselenggarakan. Dia hanya menyalakan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Carren, bahwa mobil sudah dikirim ke rumahnya. Dia memberitahukan juga, dia ada di kamar hotel untuk tidur. Agar Carren tidak panik mencarinya, menjelang acara resepsi.
.***.
Di sisi yang lain ; Riri telah bersiap-siap untuk berangkat ke acara resepsi Recky dan Liana. Kedua orang tuanya sudah berangkat terlebih dahulu, karena tidak tahu Riri akan pergi ke tempat yang sama dengan mereka.
Bu Linna berpikir, Riri akan pergi ke acara teman-temannya. Sehingga beliau tidak menanyakan lebih lanjut acara putrinya. 'Apalagi saat ini Leon sedang tidak ada di tempat, Riri pasti tidak akan berlama-lama di luar.' Itu yang dipikirkan oleh Bu Linna.
Setelah melihat penampilannya seperti yang dia inginkan, dia turun menemui sopir Leon yang telah menunggunya. Dia telah berbicara dengan Kakaknya, bahwa dia akan menggunakan mobil kakaknya ke acara resepsi temannya dan telah diijinkan oleh Leon.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Riri melihat notif dari Parry. "Alle, aku sudah di lobby hotel. Kau masih lama?" Isi pesan Parry. Riri tersenyum senang, mengetahui Parry sudah berada di tempat pesta. Jadi bukan dia yang akan menunggu Parry.
"Baik, Pak. Ini saya sudah dalam perjalanan, sebentar lagi sampai. Bapak tolong tunggu saya di depan lobby, ya." Balasan pesan Riri untuk Parry.
Tidak berapa lama, Riri melihat Parry sedang berdiri di depan lobby sambil melihat ponselnya. Itu adalah kebiasaan Parry, jika tidak mau diganggu atau terganggu dengan sekelilingnya. Riri sudah mengenal dengan baik, kebiasaan Parry jika dia sedang tidak nyaman.
Mobil yang mengantar Riri, tiba di depan lobby hotel. Riri turun perlahan agar baju panjang yang dikenakannya tidak kotor atau rusak. Parry sempat mengangkat wajahnya, saat melihat ada mobil mewah berhenti di dekatnya. Tetapi kembali dia fokus pada ponsel di tangannya.
Riri berjalan dengan anggun di atas karpet mendekati Parry dan menyapanya. "Maaf, Pak. Harus menunggu lama." Ucap Riri, saat berdiri di depan Parry. Hal itu membuat Parry terkejut dan melihat ke arah Riri dengan tidak senang, karena merasa terganggu.
"Maaf, anda mengenal saya?" Tanya Parry, agak kesal. Dia tidak terlalu nyaman dengan orang yang tidak dikenalnya, walaupun itu seorang wanita cantik seperti Riri.
Riri mendekati Parry lebih dekat dan berbisik. "Pak, ini Alle." Mendengar yang dikatakan Riri, Parry memandang dengan wajah yang tidak percaya. Karena Alle yang dikenalnya sangat berbeda 180 derajat dengan Alle yang ada di depannya.
"Kau Alle, sekretarisku?" Tanya Parry, pelan dan ragu-ragu. Sambil memperhatiksn Riri dengan seksama. Parry seakan tidak percaya, karena dia tahu Riri baru turun dari mobil mewah.
"Tapi kau benar sekretsrisku?" Parry masih ragu-ragu, karena penampilan Riri malam ini sangat mengejutkannya.
"Iya, Pak. Siapa lagi yang memanggil saya dengan Alle, kalau bukan bapak. Ayoo, mari kita masuk, Pak. Saya sudah dingin di luar sini." Ucap Riri, bersikap santai terhadap Parry sambil mengusap lengannya yang tidak tertutup. Karena dia mengenakan baju tanpa lengan.
Mendengar itu, Parry merespon ajakan Riri untuk masuk, karena dia mengenal suara Riri. Walaupun hatinya bertanya-tanya tentang Riri, Parry masuk ke lobby dan menuju ballroom bersamanya.
"Ayooo, pegangan padaku." Ucap Parry, sambil memberikan lengannya kepada Riri. Ketika Riri menggandeng tangannya, Parry terkejut.
"Astaga, kenapa tanganmu dingin sekali? Kau bisa membeku." Ucap Parry, saat merasakan tangan Riri yang dingin menembus jasnya dan menyentuh kulitnya.
__ADS_1
"Sudah Pak, jangan dibahas. Saya lagi merasa takut, grogi dan lainnya karena berjalan dengan bapak seperti ini." Riri tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang campur aduk.
Parry sendiri sebenarnya sangat grogi, karena baru pertama kali berjalan digandeng oleh seorang wanita. Dia sangat bersyukur, mengajak Riri ke pesta. Riri tidak seperti keseharian di kantor, wanita biasa berkaca mata. Dia menjelma menjadi seorang putri yang cantik dan anggun.
Tanpa disadari, Parry memegang tangan Riri di lengannya dan mengusapnya untuk lebih hangat. "Letakan tanganmu yang satu lagi di sini, agar bisa lebih hangat." Ucap Parry, sambil menepuk pelan tangan Riri yang ada di lengannya.
Riri mengikuti yang dikatakan Parry dengan hati senang dan berbunga-bunga. Saat masuk ke ballroom, Parry menurunkan tangan Riri dan menggenggamnya. Banyak mata memandang mereka, saat telah berada di dalam ballroom. Karena mereka terlihat sangat serasi
"Astaga, Parry. Kau harus menolongku. Karena saat ini, kakakku tidak ada di sini." Ucap Riri terbata-bata, dan menyebut nama Parry, saat melihat Ibu dan Ayahnya sudah memandangnya dari jauh.
"Ada apa?" Tanya Parry, saat mendengar ucapan Riri yang tidak dimengerti olehnya. Dia merasakan Riri hendak melepaskan tangannya dari genggamannya, tetapi dia terus menggenggam tangan Riri.
Sebelum Riri menjawab, Ibunya sudah mendekati mereka. Wajah Ibumya sangat serius, saat melihat tangan Riri masih digenggam oleh Parry. "Ririalle, apa ini? Jadi dia yang membuat kau main kucing-kucingan di belakang kami?" Tanya Bu Linna pelan, tapi penuh penekanan. Hal itu membuat Parry bingung, tapi tidak melepaskan pegangannya pada tangan Riri.
"Sudah, Bu. Nanti di rumah saja baru dibicarakan." Ucap Pak Piltharen, sambil mengusap pelan lengan istrinya untuk menenangkannya. Ketika melihat Pak Piltharen, Parry terkejut karena mengenal rekan bisnis papinya.
"Ini siapa, Alle?" Bisik Parry ke telinga Riri.
"Maaf, Parry. Ini orang tuaku." Jawaban Riri membuat Parry terkejut dan jadi tidak tahu bagaimana harus bersikap.
"Kalian malah berbisik-bisik sendiri tanpa menghiraukan kami. Kakak kesayanganmu itu tidak ada, kau mau minta tolong siapa untuk membelamu. Dia...?" Tanya Bu Linna, sambil menunjuk Parry dengan wajahnya. Riri berpindah kesebelah kanan Parry untuk mendekati Ayahnya.
"Ayah, tolong tenangkan Ibu. Masa aku sudah secantik ini, dimarahin 'di depan gebetanku'" Riri berbisik ke telinga Ayahnya, mengatakan Parry adalah gebetannya. Ayahnya mulai mengerti putrinya sedang berjuang untuk mendapatkan pria di sampingnya.
"Ibu, tenang saja. Ayah kenal pria yang bersama putri kesayanganmu ini. Dia bekerja di Hutama, Ayah dan juga Leon pernah beberapa kali bertemu dengannya. Mari kita tinggalkan mereka dulu, nanti di rumah baru dibombardir." Ucap Pak Piltharen tersenyum mengingat ucapan Leon.
__ADS_1
Parry tidak tahu mau berkata apa terhadap orang tua Riri. Tetapi dia tersenyum senang dalam hati saat melihat Mami dan Papinya berjalan mendekati mereka.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡