
~•Happy Reading•~
Keesokan harinya, mentari telah membangunkan semua yang hidup dengan sinar cerahnya. Begitupun dengan semua penghuni keluarga Piltharen. Riri telah bangun dan menyiapkan semua perlengkapan untuk interview di Hutama.
Selesai mandi, dia masih mengenakan baju rumah untuk sarapan. Karena dia akan bertemu dengan kedua orang tuanya, jadi dia belum mengenakan busana yang disiapkan untuk interview.
Saat turun sarapan, kedua orang tua dan kakaknya telah duduk di meja makan untuk sarapan. Mereka tidak menunggunya sarapan, karena mengira dia belum bangun. Ayah dan kakaknya sudah mengenakan baju rapi untuk berangkat ke kantor.
Ketika melihat Ibunya masih mengenakan baju rumah, alisnya bertaut. "Ibu ngga berangkat kerja hari ini?" Tanya Riri, sambil duduk di samping kakaknya untuk sarapan sambil berpikir cepat. Kejutan yang mengejutkan di pagi hari, karena melihat penampilan Ibunya yang tidak terduga.
"Ibu berangkat agak siang, jadi agak santai hari ini." Jawab Ibunya tenang, sambil terus sarapan.
"De', sebelum pergi ngurus yang lain, mampir ke kantor Mas dulu. Jadi jangan berangkat siang, ya." Leon berpikir cepat dan berkata tegas untuk bisa mengeluarkan adiknya dari rumah tanpa harus bersitegang dengan Ibunya yang masih ada di rumah.
"Kalau begitu, Riri berangkat dengan Mas aja deh. Ini Riri sudah mandi ko', tinggal ganti baju saja." Riri pun berpikir cepat dan mengerti maksud kakaknya.
"Baiklah. Sekarang bersiap-siap dan ngga pake lama." Leon tetap berbicara serius. Agar Ibunya tidak curiga dengan apa yang sedang mereka rencanakan.
"Kalian berdua merencanakan apa hari ini? Kenapa Leon serius sekali pagi ini?" Tanya Ibunya curiga melihat sikap kedua anaknya yang serius. Mendengar yang dikatakan Ibunya, Leon berusaha tenang, sedangkan Riri langsung menunduk seakan menikmati sarapannya.
"Bu Linna. Coba balik ke sini, aku mau lihat wajah Ibu. Sudah hilang berapa helai alis Ibu? Bu Linna ini, kalau aku bercanda, disuruh jaga wibawa. Sekarang aku serius, jadi curiga. Hati-hati Bu Linna, rasa curiga bisa merontokan alis." Leon tersenyum dan sengaja mengganggu Ibunya.
"Setiap kali kalian rencanakan sesuatu untuk ngakali kami, auranya selalu kecium. Ayah, jangan suka dukung Leon, jika dia mau memanjakan adiknya." Ucap Bu Linna sambil melihat suaminya yang sedang sarapan dengan tenang.
"Kenapa Ayah dibawa-bawa, Bu? Ibu larang Ayah jangan dukung Leon, padahal Ibu lagi katakan itu pada diri sendiri. Yang suka dukung Leon siapa, Bu? Mereka berantem, Ibu cemas. Mereka kompak, Ibu curiga. Ibu, Ibu... Mereka sudah dewasa, Bu." Ayah Leon tersenyum, melihat istrinya mendelik kepadanya. Kadang anak tetap menjadi anak-anak bagi Ibunya, walaupun mereka sudah dewasa.
__ADS_1
"Setuju, Ayah. Karena Ibu masih santai di rumah, tolong doakan semua yang kami bertiga lakukan hari ini lancar dan berhasil." Leon berdiri, lalu mencium pipi Ibunya, agar tidak makin curiga. Dia sengaja mengatakan itu, sekaligus memiminta dukungan dan restu untuk adiknya.
"Ayooo, De'. Tunggu apa lagi, nanti Mas kesiangan. Jangan sampai ada yang ketinggalan, ya." Ucap Leon sengaja mengingatkan adiknya.
"Iya, Mas ku sayang. I love you poolll..." Riri berlari naik tangga sambil tersenyum. Leon hanya bisa gelengkan kepalanya, mendengar ucapan adiknya. Untung Ibunya sedang keluar mengantar Ayahnya ke mobil.
Leon memgambil jas dan tas kerjanya, sambil menunggu adiknya turun dari kamar. Ketika melihat Riri memakai pakaian santai sambil membawa paperbag, hatinya merasa lega. Adiknya mengerti situasi yang terjadi. Dia mengambil kunci mobil dari tangan Riri dan pamit dari Ibu mereka yang baru masuk rumah.
"Huuuuu... Melakukan sesuatu yang sembunyi-sembunyi itu, membuat kita senam jantung." Ucap Riri, setelah duduk di mobil di samping kakaknya dengan hati lega.
"Hahahaha... Belum apa-apa tu, De'. Itu baru awal latihan jantungmu. Karena kau akan nyamar di Hutama, nanti bukan senam jantung tetapi jantungmu bisa ajojing." Leon tertawa mendengar yang dikatakan Riri dan dirinya.
"Kau ganti pakaian di kantor Mas, dan sopir Mas yang akan mengantarmu ke Hutama dengan mobilmu ini." Ucap Leon, saat mereka telah tiba di kantornya. Riri mengangguk mengerti yang dikatakan kakaknya, lalu mempersiapkan dirinya.
Setelah berganti pakaian, berdandan tipis dan sederhana, Ririn menemui kakaknya yang sedang berdiskusi dengan asistennya. Melihat Riri mendekatinya, Leon tersenyum.
.***.
Saat tiba di lobby Hutama Building, Riri mendekati tempat resepsionis. "Selamat pagi Bu. Saya Ririalle, ada janji bertemu dengan Pak Agra." Ucap Riri kepada resepsionis, lalu mengeluarkan kartu nama Arga yang diberikan Leon dan menyerahkan kepada resepsionis.
Petugas resepsionis melihat Riri dengan seksama, saat dia menyerahkan kartu nama asisten boss besarnya. Tadinya dia meragukan yang diucapkan oleh Riri. Tetapi saat diberikan kartu nama tersebut, dia segera menghubungi asisten Pak Ariand.
"Baik, Mba'. Silahkan naik salah satu lift di sana ke lantai 15, anda telah ditunggu di ruangan HRD." Ucap resepsionis, lalu mengembalikan kartu nama Agra kepada Riri. Riri menerima kartu tersebut, sambil mengucapkan terima kasih lalu berjalan menuju lift.
Riri tidak terlalu terpesona dengan gedung kantor Hutama, karena hampir sama dengan gedung kantor Piltharen. Semua fasilitas yang tersedia hampir sama, hanya struktur dan desain bangunan yang berbeda.
__ADS_1
Saat berada dalam lift, ada dua karyawan bersama dengannya. Ketika melihatnya menekan angka 15, mereka memperhatikannya dari kepala sampai ke kaki. Hal itu membuat Riri menjadi risi, tetapi dia coba mengabaikan pandangan mereka.
Dia turun di lantai 15 dan menanyakan salah satu karyawan yang melewatinya letak ruangan HRD. Setelah diberitahu letak ruangannya, dia berjalan ke ruangan tersebut dengan jantung yang berdetak keras. Walaupun dia seorang putri Piltharen, tetapi saat ini dia bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang sedang mencari pekerjaan.
Dia mengingat apa yang dikatakan kakaknya, dia mengetuk pintu ruangan HRD dan masuk setelah mendengar suara dari dalam mempersilakannya masuk. Hanya ada seorang pria yang ada dalam ruangan tersebut, membuat dia agak panik. Ketika dipersilahkan duduk, dia mencoba tenang sambil melihat orang yang akan menginterviewnya.
Sama-sama memandang dan saling menilai. Ketika melihat yang akan menginterview usianya sedikit lebih tua dari kakaknya, Riri menjadi tenang.
"Selamat pagi. Anda yang bernama Ririalle?" Tanya Agra, setelah selesai menganalisa calon sekretaris putra pimpinannya.
"Saya, Pak. Selamat pagi." Jawab Riri.
"Bisa saya melihat CV anda?" Tanya Agra lagi, sambil terus memperhatikan Riri yang sedang mengeluarkan CV dari dalam tasnya.
"Ini, Pak." Riri menyerahkan CV nya dengan sopan. Setelah melihat CV dan semua nilai akademik Riri yang menakjubkan, Agra terkesan. Agra menginterview Riri dengan pertanyaan standart sebagai calon sekretaris pimpinan. Jawaban dan sikap Riri membuat Agra terkesan.
"Jika anda diminta untuk bekerja hari ini, apakah anda telah siap?" Pertanyaan terakhir dari Agra, karena dia khawatir Riri akan diminta langsung bekerja oleh pimpinannya.
"Siap, Pak." Jawab Riri tanpa ragu, membuat Agra yakin dengan keputusannya.
"Kalau begitu, mari kita menemui calon pimpinan anda. Beliau yang akan memutuskan apakah anda diterima sebagai sekretarisnya atau tidak." Ucap Agra, lalu mengajak Riri keluar ruangan HRD menuju lantai 23. Sambil berjalan keluar, Riri yang sudah lebih tenang memperhatikan karyawan yang ada di ruangan tersebut. Siapa tahu bisa melihat orang yang dicarinya.
Dia berjalan terus dan naik lift bersama-sama dengan Agra. Saat turun di lantai 23, mereka menuju ke suatu ruangan yang cukup luas dan mengetuk pintunya. Setelah dipersilahkan masuk, Agra dan Riri masuk ke ruangan tersebut.
Ketika melihat siapa yang duduk di balik meja kerja dalam ruangan itu, Riri membeku. Dia tidak sanggup melangka dan berkata-kata. "Mari Nona Ririalle, ini Pak Parry calon pimpinan anda. Keputusan selanjutnya ada di tangan beliau." Ucap Agra, setelah berbicara dan menyerahkan CV Riri kepada Parry.
__ADS_1
Riri berjalan mendekati meja Parry, tanpa berani mengangkat wajanya. Selain terkejut, calon pimpinannya adalah Parry, dia juga was-was Parry mengenalnya. Dia teringat dengan apa yang dikatakan kakaknya tentang ajojing jantung. Sekarang jantungnya sedang ajojing dan tidak tahu cara menghentikannya.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡