
~β’Happy Readingβ’~
Banyak hal terlintas dipikiran Aaric dan harus diselesaikan, saat berbicara dengan Recky.
π±"Hanya itu yang mau katakan kepada Papa?" Tanya Aaric, mengingat dia sendiri berencana mau bertemu Recky untuk membicarakannya, tetapi sudah ditelpon terlebih dulu.
π±"Kalau kakak ngga keberatan, tolong tunjukan keberadaan kakak kepada Papa. Jadi walau aku ngga ada, Papa bisa lihat kakak ada di disitu. Bisa menyemangati Papa untuk bertahan dan berjuang." Ucap Recky pelan, sambil berharap kakaknya mau bertemu dengan Papa mereka.
π±"Baik. Kau ngga usah pikirkan Papa. Nanti setelah ini aku akan minta seseorang beritahukan keadaanmu kepada Papa." Ucap Aaric untuk menenangkan Recky.
Dia mulai menyadari apa yang harus dilakukan sebelum semuanya terlambat. Semua yang dikatakan Recky dan melihat Papanya tadi malam, makin membuka semua yang tidak diketahuinya saat meninggalkan rumah belasan tahun lalu.
π±"Iya, Kak. Trima kasih." Ucap Recky dengan pelan dan suara bergetar karena terharu mengetahui kakaknya tidak menyimpan amarah terhadap Papa mereka.
π±"Reckiii..." Panggil Aaric, yang menyadari Recky sedang terharu.
π±"Iya, Kak." Recky tetap menjawab dengan suara pelan.
π±"Tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah dan peganglah pikiran yg memberi kekuatan bagimu." Ucap Aaric serius untuk menguatkan adiknya, sekaligus mengingatkan dirinya.
π±"Iya, Kak. Aku mengerti." Ucap Recky tegas untuk meyakinkan kakaknya, bahwa dia mengerti maksudnya.
π±"Jangan lupa panggil dokter ke rumah untuk periksa tanganmu. Nanti aku ke situ baru kita ke rumah sakit untuk periksa selengkapnya." Ucap Aaric, mengingat tangan Recky lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah mendapat jawaban yang meyakinkan dari Recky.
Aaric melangkah keluar kamar sambil membawa semua perlengkapan kerjanya. Jekob masih serius bekerja di ruang tamu, sehingga tidak menyadari kehadiran bossnya.
__ADS_1
"Bibi. Kalau sudah selesai, tolong ambilkan laundry saya dan boleh tinggalkan kami." Ucap Aaric, saat melihat Bibi sudah santai dan sedang mencari yang bisa dikerjakan.
"Baik, tuan. Sekarang saya turun untuk ambil laundrynya." Ucap Bibi, lalu berjalan keluar apartemen. Aaric mendekati Jekob dan mengeluarkan perlengkapan kerjanya dari tasnya.
"Jekob, mana nomor telpon Papa yang tadi malam? Berikan pada saya." Aaric berkata saat melihat Jekob melihatnya dengan terkejut. Jekob mengeluarkan ponsel dan memberikannya kepada bossnya. Aaric mencatat nomornya di ponsel pribadi dan mengembalikan ponsel Jekob kepadanya.
"Kau tolong ketik pesan ini, lalu kirim ke Papa, ya. Jangan lupa, katakan pesan ini dari orang kepercayaan Aaric. Jika perlu sesuatu, hubungi nomor pribadimu." Ucap Aaric lalu menyerahkan ponselnya yang sudah tertulis pesan Recky untuk Papanya.
Jekob mengambil ponsel bossnya membaca pesan yang ditulis dan melakukan seperti yang diminta. Dia mengerti apa yang dirasakan bossnya setelah melihat Papanya tadi malam. Apalagi saat mendengar apa yang dikatakan Pak Biantra kepadanya. Dia dan Sapta saja sangat terharu.
"Dengan ini, apakah bapak menundah perjalanan ke Sydney?" Tanya Jekob, mengingat yang dikatakan bossnya tadi malam akan memghubungi Papanya setelah bertemu dengan Recky. Sekarang sudah diminta untuk menghubungi, berarti ada yang berubah.
"Minggu depan saya tetap ke Sydney. Ada yang perlu saya selesaikan sebelum berangkat ke Sydeny. Kau tetap mengurus keberangkatan saya. Kau sudah bicara dengan Sapta untuk proses penyerahan Gungun?" Ucap Aaric serius, mengingat semua proses yang akan dilalui kedepan terasa berat.
Dia perlu berbicara dengan Recky, karena bagaimanapun ini menyangkut keluarga mereka berdua. Dia merasa lega, karena Papanya tidak terlibat dalam semua rencana Mamanya dan keluarga besarnya.
"Baik, lakukan seperti itu. Aku berharap dia bisa mendapat maaf dari keluarga Hutama, hingga bisa meringankan hukumannya. Kalau untuk keluargaku, biarkan keluarga Hutama yang putuskan. Oleh karenanya aku tidak mau bicara dengan mereka." Ucap Aaric serius, Jekob mengangguk mengerti.
"Pak, mengenai saham Sunijaya yang kita beli selama ini, mereka mulai curiga. Ada desas-desus, mereka sedang menyelediki saya dan Bu Anova." Jekob melapor apa yang telah didengarnya.
"Oooh, bagus. Biar mereka selidiki saja. Posisi kita sudah aman bukan? Setelah Biantra, nanti giliran Sunijaya. Kalian berdua sudah bisa keluar dan hadiri rapat pemegang saham, setelah Biantra ada di tangan kita."
"Sementara ini, katakan untuk Sapta tetap amankan Bu Anova dan keluarganya. Sebelum Biantra jatuh, kita tetap berjaga-haga. Mereka pasti sedang melakukan berbagai cara untuk selamatkan Biantra." Ucap Aaric tegas dan serius.
"Saya tidak menyangka prosesnya begitu cepat. Saya kira akan ambil Sunijaya dulu, baru Biantra. Karena Papa mengurus Biantra dengan baik. Ternyata dengan pernikahan Recky, membuat peluang yang tidak terduga untuk kita. Harga saham anjlok dan banyak pihak menjual sahamnya, membuat kita dengan mudah mengambilnya." Ucap Aaric serius.
__ADS_1
"Sebentar, Pak ada yang menghubungi." Ucap Jekob, saat melihat telpon kantornya bergetar dan melihat salah satu Direktur menghubunginya.
π±"Selamat siang, Pak. Apakah bapak ke kantor hari ini?" Tanya Direktur Elimus di Jakarta, saat Jekob merespon panggilannya.
π±"Selamat siang, Pak. Tidak. Hari ini saya dengan boss tidak ke kantor. Ada apa, Pak?" Tanya Jekob, karena pasti ada perlu sesuatu jika mereka menghubunginya.
π±"Begini, Pak. Perusahaan Biantra menghubungi kami, minta bertemu untuk membicarakan saham yang dibeli. Karena kami tidak tahu, kami minta mereka menghubungi lagi." Direktur Elimus menjelaskan maksud teleponnya.
π±Baik. Saya akan hubungi balik, setelah berbicara dengan boss." Ucap Jekob, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Saat hendak berbicara dengan Aaric, telpon pribadinya bergetar. Ketika melihat siapa yang telpon, Jekob memberikan isyarat kepada bossnya. Melihat anggukan kepala Aaric, Jekob merespon panggilannya.
π±"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Jekob saat merespon panggilan Pak Biantra yang sudah dispeaker agar bossnya bisa mendengar.
π±"Selamat siang, Pak. Maaf, menggaggu. Saya bisa minta tolong?" Tanya Pak Biantra pelan, karena tahu bukan Aaric yang berbicara dengannya. Beliau berharap itu adalah nomor telpon Aaric.
π±"Silahkan, Pak." Jawab Jekob sopan, karena berbicara dengan Papa bossnya.
π±"Tolong katakan untuk Aaric dan Recky, saya sekarang tinggal di rumah peninggalan kakek dan neneknya di Malang. Itu saja, Pak. Terima kasih." Ucap Pak Biantra lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Beliau berpikir, Aaric yang menerima telponnya, agar bisa bicara lebih banyak.
Aaric tertegun mendengar apa yang dikatakan Papanya. "Nanti kau telpon balik dan minta nomor rekening Papa. Kau tolong transfer uang untuknya." Aaric tahu, pasti Papanya telah keluar rumah tanpa bawa apapun.
"Lalu tadi siapa yang menghubungimu?" Tanya Aaric mengingat Jekob terima telpon sebelum Papanya telpon dan membicarakan namanya.
"Ooh, iya Pak. Sampai lupa, karena telpon tadi. Pihak Biantra menghubungi para Direktur, minta bertemu untuk membicarakan pembelian kembali saham Biantra. Mereka tidak tahu, jadi mau bicara dengan kita dulu." Jekob menjelaskan.
"Katakan kepada para Direktur, tidak usah bertemu. Kita tidak akan menjual saham kita, berapapun harga yang ditawarkan. Nanti kau kirim orang ke Perusahaan Biantra untuk melihat siapa yang akan kelolah perusahaan itu. Kita akan cegah yang pimpin dari keluarga Sunijaya." Ucap Aaric yang merasa lebih mudah ambil alih, setelah Papanya pergi.
__ADS_1
~βββ‘ββ~