Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Hasebo.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Leon berjalan meninggalkan Sophia dan kembali ke meja makannya untuk bertemu dengan Agra dan Asistennya. Saat melihat mereka telah selesai makan, Leon tidak meneruskan makannya.


"Maaf, Pak Agra. Tadi ada sedikit gangguan yang perlu dibereskan." Ucap Leon, setelah duduk di depan Agra. Dia tidak memperhatikan Sophia yang berjalan keluar dari restoran tanpa melihat ke arah mejanya.


"Tidak mengapa, Pak Leon. Seorang pemimpin muda itu, bukan hanya membereskan masalah perusahaan. Tetapi masalah hati juga perlu diperhatikan dan diberekan." Agra mengatakan dengan wajah tersenyum, setelah melihat wajah Leon kembali hangat. Dia tahu ada masalah, mengingat tadi wajah Leon berubah kaku saat ada wanita yang datang menyapanya.


Leon jadi tersenyum mendengar ucapan Agra. Kemudian Agra pamit meninggalkan Leon dan Asistennya. Dia berpikir, mungkin Leon perlu waktu untuk sendiri atau mau melanjutkan makan siangnya.


Setelah berpisah dengan Agra, Leon langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Riri, adiknya. Dia ingin memberitahukan adiknya tentang perkembangan baru yang diterimanya dari Agra.


📱"Alloo, De'. Lagi di mana?" Tanya Leon saat Riri merespon panggilannya.


📱"Alloo, Mas Leon. Riri lagi di kampus, ngurusin surat-surat. Gimana, Mas?" Jawab Riri dan balik bertanya, karena Kakaknya tumben telpon setelah lewat waktu makan siang.


📱"Apa masih lama ngurus surat-suratnya, De'?" Leon balik bertanya.


📱"Sudah ko', Mas. Ini mau pergi makan dengan teman-teman. Mereka sedang menunggu Riri." Riri menjelaskan, agar Kakaknya bisa mengakhiri pembicaraan mereka.


📱"Kalau begitu, kau minta maaf sama teman-temanmu, karena ngga bisa pergi makan bersama mereka. Mas tunggu sekarang di Goropaku Restaurant, ada hal penting yang mau dibicarakan." Ucap Leon tegas, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


"Kau tolong pesan makan siang untuk di bawa pulang, ya. Dan ini sekalian kau bayar makan siang kita tadi." Leon menyerahkan kartu kepada Asistenya, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.


Dia mengirim pesan kepada adiknya yang lupa disampaikan lewat telpon.


Beberapa waktu menunggu, telponnya bergetar. Melihat Riri yang menelpon, Leon langsung meresponnya.


📱"Tunggu di situ, De'. Ngga usah turun, ini Mas mau keluar." Leon langsung mematikan ponselnya dan memberikan isyarat kepada Asistennya untuk keluar.

__ADS_1


"Nanti kau kembali sendiri ke kantor dengan mobil saya dan tunggu di kantor. Saya akan pergi dengan mobil adik saya." Leon memberikan isntruksi kepada Asistennya, lalu mengambil kantong makan siang yang dibawa oleh Asistennya.


"Lalu bagaimana dengan meeting nanti sore, Pak? Apakah bisa diteruskan atau di tunda?" Asisten mengingatkan Leon tentang agenda kerja pimpinanya.


"Tolong ditunda saja, karena yang akan kami lakukan nanti, tidak pasti waktu selesainya." Ucap Leon, lalu keluar dari restoran karena Riri telah menunggunya.


"Pindah kesebelah, De'. Mas yang akan bawa mobilmu." Ucap Leon, sambil membuka pintu mobil di depan sebelah kanan. Hal itu membuat Riri, tercengang tetapi ikut yang dikatakan kakaknya.


"Ini pegang makan siangmu. Kau bisa makan, sambil jalan. Kita akan melakukan pekerjaan berat, jadi butuh tenaga ekstra." Leon meletakan kotak makan siang di atas pangkuan Riri yang melihatnya dengan tidak mengerti.


"Makan dulu. Nanti selesai makan baru Mas jelaskan. Di mobilmu ada minuman, kan?" Lalu Leon menjalankan mobil Riri perlahan keluar dari restoran.


"Ada minuman ko'. Makasih untuk makan siangnya, Mas." Riri langsung membuka kotak makan siang dan makan dengan nikmat makanan kesukaannya. Leon meliriknya, lalu tersenyum melihat adiknya makan dengan lahap. Dia tetap menjalankan mobilnya dengan perlahan, agar adiknya tidak terganggu makannya.


Saat tiba di parkiran salah satu Mall yang tidak terlalu besar, alis Riri bertaut. "Mas, kenapa kita ke Mall ini? Kita mau ngapain di sini?" Riri merasa heran dengan yang dilakukan kakaknya, sehingga bertanya beruntun. Mereka belum pernah ke Mall yang namanya Mall, tetapi kondisi di dalam bukan seperti Mall pada umumnya.


Saat masuk ke Mall, Leon membawa Riri ke tokoh pakaian wanita. Dia sudah browsing saat menunggu Riri di restoran. Mall dan toko mana yang akan mereka kunjungi untuk membeli kebutuhan Riri untuk interview.


"Mas mau beli apa dan untuk siapa di toko beginian?" Riri tidak tahan untuk bertanya, karena mereka masuk ke tokoh pakaian wanita yang tidak bermerek atau bukan dari butik tertentu yang terkenal.


"Mau beli untuk adiknya, Mas. Begini, pilih satu sampai dua baju atau stelan untuk kau pakai. Karena besok pagi jam sepuluh kau ditunggu untuk interview di Hutama." Leon menjelaskan kenapa membawa adiknya ke tempat seperti itu.


"Ngga usah beli lagi, Mas. Riri ada punya baju atau stelan di rumah, kalau untuk itu. Tinggal pilih yang cocok untuk dipakai saja." Riri berkata demikian, karena tidak mau membeli baju yang dimaksud Kakaknya.


"Riri, dengar Mas. Kau mau kerja di Hutama atau tidak?" Tanya Leon serius, membuat Riri tersentak mendengar tekanan suara kakaknya. Riri mengangguk dengan kuat.


"Jika kau pakai bajumu di rumah untuk pergi interview, apakah yang menginterview akan menerimamu bekerja dengan penampilan seperti itu? Mereka tidak akan menerimamu bekerja, karena melihat semua yang kau kenakan, sama atau lebih dari satu bulan gaji karyawannya. Mereka ragu menerimamu, karena ragu dengan besaran gaji yang akan ditawarkan kepadamu."


"Jadi sekarang, kau mengerti maksudku? Pilih satu untuk interview besok. Tetapi jika kau diterima, itu akan menjadi pakaianmu dalam beberapa waktu ke depan saat di kantor. Aku tidak bilang kepada pihak Hutama, adikku yang akan datang inteview." Leon menjelaskan dengan tenang dan jelas.

__ADS_1


"Untuk interview besok, rubah penampilanmu. Baik baju, tas, sepatu, pilih semuanya di Mall ini. Mas akan menemanimu, tetapi kau pilih yang nyaman untuk dikenakan." Leon menjelaskan lagi dan Riri mengangguk mengerti. Dia akan datang interview bukan sebagai putri Ayahnya.


Dengan cepat Riri mengambil sepasang blazer, mencobanya dan menunjukan kepada Kakaknya untuk minta pendapatnya. "Roknya jangan yang di atas dengkul, De'. Kalau ngga ada rok yang agak panjang, pakai stelan dengan celana panjang saja. Tanyakan sama pegawainya, ada rok yang lebih panjang sedikit lagi, ngga?" Leon memberikan pendapat, karena dia akan di interview menjadi sekretaris. Leon khawatir adiknya memberikan kesan pertama yang tidak menguntungkannya.


Riri berbicara dengan pegawai toko sesuai yang dikatakan kakaknya. Karena dia bingung mencari yang dimaksudkan kakaknya. Setelah dibantu pegawai toko, dia bisa mendapatkan tiga stelan blazer dengan rok yang sesuai.


"Jadinya tiga, De'? Mas kira hanya satu. Sudah yakin diterima nih..." Leon ngeledekin adiknya, karena melihat dia memborong tiga stelan blazer dengan printilannya. Begitu juga saat di tempat sepatu dan tas kerja yang sesuai dengan baju yang telah dibeli.


Ketika melewati toko kacamata, Leon mengajaknya juga untuk membeli kacamata yang cocok dengan Riri untuk menyamarkan penampilannya. Riri mengikuti saja yang dikatakan kakaknya, karena dia tahu kakaknya sedang membuat yang terbaik untuknya.


"Karena semua berjalan dengan baik, dan tanpa banyak tanya dan protes, Mas akan mengajakmu makan ice cream yang enak." Leon melingkar lengannya ke pundak adiknya keluar dari Mall menuju tempat parkir. Riri melingkar lengannya ke pinggang kakaknya dengan hati yang senang.


"Pantesan, teman-temanku sangat iri kepadaku." Riri berkata kepada Kakaknya, saat mereka telah tiba di depot ice cream, tempat mereka suka  makan ice cream yang enak.


"Kenapa mereka iri kepadamu?" Tanya Leon heran, karena dia tahu teman adiknya berlatar belakang orang tua yang sama, pengusaha atau pejabat yang kaya. Jadi tidak mungkin iri kalau soal materi.


"Karena aku memiliki kakak, sedangkan mereka tidak. Mereka suka mengatakan, senang sekali bisa memiliki kakak sepertiku. Sekarang Riri jadi mengerti yang mereka maksudkan, jika ada kakak." Riri melihat kakaknya dengan senyum di wajah dan juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Oooh, itu. Mas juga merasa senang punya adik, walaupun kadang merepotkan." Leon berkata dan tersenyum melihat adiknya mendelik.


"Jadi Mas merasa sering direpotkan sama Riri?" Ucap Riri dengan wajah cembetut.


"Yaaa... Apakah yang baru kita lakukan ini, tidak merepotkan? Sangat merepotkan, tetapi juga sangat menyenangkan. Begitulah jika punya adik atau kakak. Kalau ngga begitu, apa gunanya ada adik atau kakak. Yaaa, sama saja dengan yang dirasakan teman-temanmu. 'Hasebo'." Leon mengacak puncak kepala adiknya, membuat Riri tersenyum lagi.


"Apa itu 'Hasebo', Mas Leon." Riri bertanya, karena tidak mengerti dan curiga terhadap kakaknya. Mungkin saja dia sedang dikerjain, karena kakaknya yang suka mengeluarkan kata-kata asal dan ajaib.


"Hasebo? Hambar-Sepi-Bosan. Hahahaha..." Ucap Leon, lalu tertawa melihat adiknya melotot ke kepadanya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡

__ADS_1


__ADS_2