
~•Happy Reading•~
Selesai tanda tangan surat kontrak kerja sama, Liana diam tertegun karena tidak tahu harus melakukan apa. Dia masih ingin duduk berlama- lama di kantor Carren untuk membicarakan beberapa hal kecil, tetapi melihat Recky yang sedang menunggu dia keluar, Liana segera pamit pulang.
Setelah mendengar suara mobil Liana meninggalkan tempat parkir di depan kantor Carren, Recky meletakan kepalanya dengan dahi di atas meja dan bernafas lega. Carren melihat yang dilakukan Recky dengan hati terenyu. Dia menyadari, tadi Recky sangat tertekan dan memaksa bersikap galak di depan Liana.
"Carren, kalau kau mau pegang kepalaku, pegang saja. Asal jangan mengacak rambutku. Nanti kau akan jatuh cinta padaku." Recky berbicara asal, karena dia merasa ada sesuatu yang mendekati kepalanya.
Carren merasa ketahuan, jadi malu dan salah tingka. Dia hendak pegang kepala Recky yang sedang tertunduk untuk menenangkannya. Akhirnya dengan kesal, dia mengacak rambut Recky yang sedang berbicara asal padanya.
"Aku sudah bilang, jangan mengacak rambutku. Aku akan terlihat sangat tampan jika rambutku sedang berantakan." Ucap Recky yang sudah mengangkat wajahnya. Hal itu membuat Carren tertegun, karena yang dikatakan Recky benar adanya. Dia terlihat sangat tampan.
Melihat wajah Carren yang terkesima, Recky langsung mengganggunya. "Aku sudah bilang, tetapi kau suka tidak mendengarku. Aku sangat tampan bukan?" Tanya Recky, dan Carren mengangguk mengiyakan.
Ketika melihat suasana sudah mencair, tidak lagi seperti ada Liana, Rosna mendekati Carren dan berbicara. "Kak, boleh kami foto dengan Kakak, ngga?" Tanya Rosna malu-malu kepada Recky. Rosna sangat senang dan mengagumi wajah Recky yang mengalahkan bintang film atau sinetron di Indonesia.
"Kalau kau mau pajang di kantor ini, boleh. Asal jangan untuk nakut-nakutin tikus." Ucap Recky, sambil tersenyum. "Panggil semua karyawan di sini dan kita foto bersama." Ucap Recky lagi. Carren ikut tersenyum mendengar percakapan Rosna dan Recky. Hatinya senang, akan melakukan yang tidak terpikirkannya.
"Rapikan rambutmu." Carren berkata, lalu tangannya hendak merapikan rambut Recky yang berantakan saat semua karyawan sudah berkumpul untuk foto bersama.
"Jangan, nanti aku akan menyisir dengan tanganku. Pasti akan lebih keren jika di foto." Ucap Recky, sambil mengelak dari tangan Carren. Semua karyawan tertawa melihat yang dilakukan Recky.
"Ternyata kau narsis juga, ya." Carren berkata lalu berjalan ke tempat karyawan yang sedang menunggu mereka dekat tangga.
"Bukan narsis, tapi aku sering melakukannya saat selesai main basket. Para gadis di pinggir lapangan langsung minta foto denganku. Hehehee..." ucap Recky tertawa, lalu berjalan mendekati karyawan.
"Ini, pakai ponselku saja, biar hasilnya lebih bagus saat dicetak. Nanti aku email untukmu." Recky memberikan ponselnya kepada salah satu karyawan dan memgajarinya, karena ponselnya keluaran terbaru dari merek terkenal.
__ADS_1
Mereka foto dalam berbagai pose. Setelah selesai, Recky melihat hasilnya dan tersenyum. Kita berdua sangat serasi di foto ini. Sayang ya, kita tidak berjodoh." Recky mulai bicara asal, ketika melihat foto yang sangat bagus saat dia meletakan tangannya di atas bahu Carren dan ekspresi wajahnya yang terkejut.
"Sudah. Aku simpan dulu, nanti aku email. Sekarang kita serius dulu, jangan sampai aku lupa. Siapa yang suka mencatat?" Tanya Recky setelah kembali duduk bersama Carren.
"Ros yang suka mencatat hal-hal yang penting." Carren berkata sambil menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Rosna.
"Ooh, ok. Mari Ros, duduk di sini untuk catat dan kau tolong ingatkan bossmu ini. Supaya jangan lupa dan membuat kesalahan." Recky berkata lalu mempersilahkan Rosna duduk di samping Carren.
"Pertama. Kursi pengantin hanya untuk pengantin, tidak ada untuk orang tua. Carren, jangan protes. Nanti aku lupa yang mau dikatakan. Ros, catat saja yang aku katakan tadi." Recky mengangkat tangannya, untuk menghentikan Carren yang hendak bertanya tentang apa yang dikatakan Recky.
"Kedua. Katakan pada MC, jangan berkata lebay saat kami masuk ruangan. Bilang perlu, ngga usah katakan apapun. Jangan sampai membuatku muntah di tempat itu. Aku harap, kau mengerti maksudku." Recky berkata sambil melihat Carren, lalu Carren memgangguk mengerti.
"Tiga. Tdak ada kue pengantin. Walaupun iblis itu meminta atau mengadakannya sendiri. Kau peringati dia, jika aku datang dan melihatnya ada dalam gedung, aku akan melempar ke wajahnya." Recky berkata serius.
"Empat. Cukup pakai orgen tunggal dan seorang penyanyi. Katakan juga kepada mereka, jangan menyanyikan lagu yang membuatku berdiri dan bernyanyi sendiri. Aku harap kau lebih mengerti yang aku maksudkan, karena kau tau acara ini karena apa." Carrem mulai memahami jalan pikiran Recky, lalu mengangguk mengerti.
"Aku rasa, itu cukup sebagai pengambarannya. Kau pasti bisa mengatur sesuai dengan permintaanku." Recky masih berkata serius.
"Iya, aku mengerti. Kami akan menyiapkan sebaik mungkin, supaya kau juga bisa merasa nyaman. Ooh, iya. Tadi aku lupa menanyakan Liana, apakah Gereja perlu didekor? Kami akan melakukannya, jika dia mau. Dan tidak perlu tambah biaya." Tanya Carren, karena baru mengingatnya.
"Tidak ada pemberkatan di Gereja. Aku melarangnya, karena sangat tidak tahu diri, melibatkan Tuhan dalam persengkokolan jahat mereka." Recky berkata dengan geram dan rahang mengeras.
"Baiklah. Jika itu maumu, aku akan ikut saja. Tadi aku baru keingat, tentang dekor Gereja yang tidak dibicarakan. Ada lagi yang mau disampaikan?" Tanya Carren, untuk menenangkan Recky yang mulai emosi.
"Ada... Kau traktir aku makan siang, karena baru terima duit yang banyak." Jawab Recky, mengingat dia sudah mulai rasa lapar. Pertemuan dengan Liana sangat menguras energinya.
"Iyaaa... Aku akan mentraktirmu. Kau mau makan di mana?" Tanya Carren sedikit lega, melihat Recky yang mulai santai.
__ADS_1
"Kita makan di sini saja. Aku pingin makan masakan padang, karena sudah sangat lama tidak memakannya. Kau juga traktir seluruh karyawanmu untuk makan siang hari ini." Recky berkata sambil melihat para karyawan yang masih duduk di lantai bawah. Mereka berlaku seperti sedang melihat seorang Selebritis.
"Ros, tolong bagikan kertas untuk rekan-rekanmu. Biarkan mereka sendiri tulis lauk apa yang diinginkan." Rosna berdiri membawa kertas dan pulpen untuk semua rekannya.
"Recky, kau mau makan dengan lauk apa? Biar aku catat pesananmu bersamaku." Carren berkata sambil memegang kertas dan pulpen di depannya.
"Aku mau semua lauknya, jangan lupa tambah kua hitam." Ucap Recky, lalu meletakan kepalanya di atas meja.
"Apa itu kua hitam?" Tanya Carren yang tidak mengerti maksud Recky. Recky mengangkat wajahnya dan meletakan dagu di atas meja. "Bumbu rendang." Ucap Recky untuk mengganggu Carren.
"Baiklah. Kau tunggu di situ, aku akan ke atas sebentar untuk ambil uang." Carren berdiri dan memberikan isyarat kepada Cindy untuk menyediakan minuman untuk Recky.
Dua karyawan yang pergi beli makan siang telah kembaki, semua karyawan makan di lantai bawah. Sedangkan Recky dan Carren makan di ruangannya. Carren sudah menyiapkan perangkat makan yang mereka sediakan di kantor untuk acara makan bersama.
"Ayooo... Berdoa, lalu mari kita makan karena aku juga sudah mulai lapar." Carren sendiri merasa heran, karena waktu baru mau jam sebelas siang.
Saat mau makan, Carren terkejut melihat tangan kanan Recky yang agak bengkak dan belum diobati. "Kenapa kau tidak mengobati tanganmu? Apakah tidak ada yang retak?" Tanya Carren, sangat khawatir.
"Nanti saja aku ngobatin di Aussie, karena aku tidak lama di sini." Ucap Recky, sambil menggerakan jari-jari tangan kanannya, perlahan. rasanya makin sakit, tapi dia mengabaikannya.
"Kalau begitu, mari aku suapin kau dulu, baru aku makan." Ucap Carren lalu membersihkan tangannya. Kemudian dia memasukan nasi dan lauk ke dalam piring Recky. Semua yang dilakukan Carren, diperhatikan Recky dengan hati terenyu dan mata berembun. Hal pertama dan terakhir yang dilakukan Carren untuknya.
Saat Carren hendak menyuapinya, dia terkejut melihat mata Recky yang sedang memandangnya. Mata coklat mudanya sedang berkaca-kaca . "Jangan melihatku seperti itu, nanti aku tidak bisa menyuapimu." Ucap Carren menunduk untuk meredam rasa hatinya, lalu duduk di depan Recky
"Kita makan bergantian saja. Sepertinya, aku tidak bisa makan dengan cepat." Recky berkata demikian, karena dia sedang merasa terharu atas apa yang dilakukan Carren padanya. Makanan akan sangat sulit ditelannya.
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡
__ADS_1