Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Mengenal.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Carren telah bangun dari istirahat siang dengan kondisi yang lebih baik. Dia melihat sepintas ada banyak pesan di grup WA sekolahnya. Ada namanya juga disebut, tetapi dia mengabaikannya.


Dia merapikan tempat tidur dan turun mencari Mamanya, karena dia merasa lebih baik. Agar Mamanya tidak mengkhawatirkan dirinya. Sebelum melangkah keluar kamar, ponselnya berdering. Ketika melihat siapa yang menelpon, dia menerimannya.


📱"Allooo, Carren. Apa kabar?" Sapa Parry, saat Carren merespon panggilannya.


📱"Allooo, Parry. Kabar baik, makasih. Apa kabarmu juga?" Carren balik bertanya.


📱"Kabar gue, baik juga. Tadi gue lihat info di grup, lu ngga ikut ujian masuk di Wangsa. Kenapa lu ngga jadi ikut? Kenapa ngga bilang ama gue, kalau mau ikut ujian masuk di sana? Kan bisa bareng ama gue." Tanya Parry beruntun.


Dia mempercayai yang dikatakan Ayunna tentang Carren, setelah membaca percakapan di grup WA. Sehingga dia langsung menghubungi Carren untuk mengkonfirmasinya.


📱"Oooh... Tadi ada accident, jadi gue ngga bisa ikut ujian. Sebenarnya, gue mau kasih surprise ama lu saat bertemu di sana. Tapi, sudahlah... Yang itu ngga usah dibahas." Ucap Carren.


📱"Kalau begitu, lu mau kuliah di mana?" Tanya Parry lagi.


📱"Belum tau, Parry. Nanti kalau sudah pasti, baru gue kasih tau. Parry, gue mau bantu Mama dulu, ya, sorry." Ucap Carren, menghindari percakapan selanjutnya tentang masalah kuliah. Karena hatinya masih kecewa dan sedih.


📱"Ok, nanti kabar-kabari gue, ya." Ucap Parry, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Dia tahu, pasti sedang terjadi sesuatu dengan Carren karena dia sedang menghindar berbicara dengannya tentang kuliah.


Setelah selesai berbicara dengan Parry, Carren jadi memperhatikan percakapan di grup WA sekolahnya. Ternyata seperti yang dikatakan Parry. Mereka sedang bertanya-tanya, kenapa dia tidak ikut ujian masuk di Wangsa. Secara itu adalah kesempatan langka yang bisa diperoleh orang-orang yang kurang mampu.


Carren tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya, karena hanya akan membuat makin sedih. Dan juga sudah tidak ada manfaatnya untuk dibicarakan. Dengan mengingatnya saja, air mata tergenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


Dia tidak menyesal lahir di dalam keluarga yang kurang mampu. Dia menyadari perbedaan kondisi keluarganya dengan beberapa teman sebayanya sejak Papanya meninggal.


Ketika menjelang lulus SD, Carren mulai mengerti kondisi keluarganya. Karena melihat Mamanya menjahit sampai larut malam dan tidak bisa membiayainya untuk ikut kursus seperti teman-temannya.


Dia harus belajar sendiri di rumah, atau dari buku-buku yang dipinjamkan oleh tetangga yang anaknya sudah lulus SD. Dia juga sering dibantu oleh teman-teman di Gereja untuk belajar bersama di rumah mereka.


Carren belajar dengan giat dan tekun untuk menyenangkan Mamanya yang telah bekerja keras untuk kehidupan mereka. Karena kadang-kadang dia sudah tidur, Mamanya masih menjahit.


Dia tumbuh dan cara berpikirnya di atas anak-anak seusianya. Karena teman-temannya sedang bermain-main atau berjalan-jalan dengan orang tuanya, dia belajar atau membantu Mamanya di rumah.


Teman-temannya mengikuti berbagai macam kursus atau mendatangkan guru privat ke rumah mereka, Carren belajar secara otodidak di rumah. Karena dia tahu Mamanya tidak akan mampu membayar semua biaya kursus. Kadang-kadang Mamanya ikut mengajarinya.


Sehingga semenjak di SMP, dia tidak menanggapi teman-teman menjulukinya kutu buku atau mengatainya dengan kata-kata yang menghina. Dia menerimanya, karena memang begitulah kondisinya.


Dia hanya fokus belajar dan belajar untuk mendapat prestasi yang baik di kelas atau sekolah. Agar dia tetap menerima beasiswa dari sekolahnya.


Dia bisa bersekolah di SMP dan SMU yang bagus, karena prestasinya sehingga mendapat beasiswa di sekolah tersebut. Oleh sebab itu, ketika lulus SMU dan diberi kesempatan untuk bisa kuliah lewat jalur beasisiswa, dia senang sekali. Dia yang tadinya tidak membayangkan bisa kuliah, jadi bersemangat. Karena ada harapan dia bisa kuliah tanpa menyusahkan Mamanya.


Dia mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, siapa tahu dia bisa diterima dan kuliah di Universitas yang bagus. Hal itu telah dipikirkan dengan hati yang gembira, saat diberitahu bisa ikut ujian masuk di Wangsa lewat jalur beasiswa.


Dia percaya kesempatan itu ada, jika berusaha dengan tekun, karena dia penah melaluinya sendiri. Dia bisa bersekolah SMP dan SMU yang bagus seperti Wangsa.


Dia menarik nafas panjang dan menghembuskanya perlahan untuk menenangkan hatinya. Dia menghapus air matanya yang hampir menetes dan meletakan ponselnya di tempat tidur. Kemudian dia keluar kamar mencari Mamanya.


Tenyata Mamanya sedang menjahit di kamar yang selama ini telah menjadi ruang kerja atau tempat menjahit. Sebelumnya, ruang itu adalah kamar yang peruntukan untuk tamu atau keluarga yang datang. Tetapi semenjak Papanya meninggal karena kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja, kamar tersebut dipakai oleh Mamanya sebagai tempat menjahit.

__ADS_1


Mamanya menerima jahitan untuk menghidupi kehidupan mereka sehari-hari. Karena Papanya yang bekerja di pabrik baja, tidak meninggalkan banyak uang untuk mereka.


Papanya telah meninggal hampir delapan tahun yang lalu, saat Carren masih berusia sembilan tahun. Kehidupan mereka yang pas-pasan, makin terpuruk setelah Papanya meninggal.


Oleh sebab itu, Mamanya mengikuti kursus menjahit dan mulai menerima jahitan semenjak tujuh tahun lalu untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka berdua.


Bu Nancy dan Carren bersyukur, mereka memiliki rumah sendiri, walau pun sederhana. Jadi mereka tidak sampai harus berpindah-pindah karena mengikuti rumah yang harus dikontrak.


Dia menyimpan kesedihannya dan mendekati Mamanya. "Mama lagi banyak kerjaan?" Tanya Carren, saat melihat Mamanya sedang menjahit.


"Iya, lumayan. Ini Mama sedang menyiapkan permintaan Tante Florens. Kami mau mendekor Gereja untuk acara Pernikahan." Ucap Bu Carren, sambil memperlihatkan banyak tile dan satin putih yang sedang dijahitnya.


"Apakah itu untuk diletakan di kursi-kursi, Ma?" Tanya Carren, ingin tahu. Karena sering melihat dekorasi saat acara pernikahan di Gereja.


"Iyaa, nanti hari H baru ditambah dengan bunga-bunga. Sekarang Mama siapkan tile, slayer dan pitanya, nanti bersama Tante Florens memasang bunga-bunganya." Ucap Bu Nancy, menjelaskan.


"Apakah Arra bisa bantu Mama membentuk tile dan satin itu menjadi pita?" Tanya Carren, karena dia harus mencari kesibukan. Sedikit banyak bisa membantu Mamanya sementara ini.


"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Bu Nancy, sambil melihat ke arahnya. Kesedihan masih terlihat jelas di mata putrinya.


"Sudah, Ma. Cuma Arra belum berani melepaskan kaos kaki dan sendal ini." Ucap Carren, sambil menunjuk ke arah kakinya.


"Iyaa, jangan lepaskan dulu. Biarkan saja begitu, agar suhu tubuhmu bisa cepat kembali normal. Kalau kau mau bantu Mama, ambil kursi meja makan dan duduk di sini untuk lihat-lihat. Setelah selesaikan ini, Mama akan mengajarimu cara membuat pita dari tile dan satin." Ucap Bu Nancy, sambil menunjuk yang sedang dijahitnya.


"Baik, Ma..." Ucap Carren, lalu keluar mengambil kursi meja makan untuk duduk di ruangan jahit Mamanya. Dia melihat yang sudah dikerjakan Mamanya dan mempelajarinya satu persatu dengan teliti. Bu Nancy terharu melihat semua yang dilakukan putrinya.

__ADS_1


"Arra, jangan kecewa atau bersedih lagi untuk sesuatu yang sudah terjadi dan tidak bisah diubah olehmu. Jika Tuhan berkenan, Dia akan membuat pohon ara berbuah walau pun bukan musimnya berbuah. Jadi jaga hatimu dan yakini itu, jangan pernah mengeluh." Ucap Bu Nancy, sambil mengelus kepala putrinya dengan sayang.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2