
~•Happy Reading•~
Di sisi yang lain ; Dalam perjalanan saat pulang dari butik Sainy, Riri menghubungi Kakaknya. Dia berencana akan ke kantor menemui Kakaknya. Setelah dihubungi beberapa kali dan tidak merespon, Riri mengirim pesan. "Mas, lagi dimana? Riri mau ke kantor, nih." Isi pesan Riri.
Tidak lama kemudian, ada pesan balasan dari Kakaknya. "Mas lagi meeting, De'. Ngga usah ke kantor. Kita bertemu di rumah saja." Isi pesan Leon, Kakaknya. Setelah membaca pesan Kakaknya, Riri langsung mengarahkan mobilnya ke arah rumah, pulang.
Saat tiba di rumah, hari menjelang sore. Di rumah hanya ada pelayan, karena kedua orang tuanya juga belum pulang. Untuk menghilangkan rasa sepinya, Riri mengganti baju lalu menuju kolam renang. Dia membuka salah satu payung dipinggir kolam renang dan duduk di kursi.
Tidak lama kemudian, pelayan membawa segelas juice tomat kesukaannya. Dia menikmati juice, sambil memikirkan cara mendekati Parry. Karena belum dapat ide yang bagus, dia melepaskan bathrobenya dan masuk ke kolam renang. Dia berenang gaya sesukanya, sampai merasa lelah.
Setelah lelah, dia kembali naik dan duduk di pinggir kolam. Ternyata berenang tidak membantunya untuk mendapatkan ide yang baik. Dia teringat juga pada Carren yang telah menarik perhatiannya. Bukan karena dia pacar Parry, tetapi karena pribadinya yang menarik.
Sekian lama berpikir, belum ada ide untuk bisa berkenalan dengannya. 'Apakah aku ke Wangsa untuk bertemu dengannya?' Riri membantin. Tetapi dia ingat lagi, Ayunna dan Liana bilang mereka teman sekolah, bukan teman kuliah.
Dia memikirkan berbagai cara untuk bisa bertemu dengan Parry dan Carren, hal itu membuatnya lelah dan tertidur di kursi santai di pinggir kolam renang. Hari telah gelap, lampu-lampu sudah dinyalakan, Riri masih tertidur.
Menjelang makan malam, seorang pelayan datang membangunkannya, karena kedua orang tua dan kakaknya telah pulang dan sedang mencarinya. Saat dia tertidur, pelayan tidak ada yang berani membangunkannya. Mereka membiarkan dia tidur, hanya datang melihat, apakah sudah bangun.
Setelah dibangunkan, dia melihat lampu di sekitar kolam renang telah bernyala. Dia langsung masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya untuk mandi. Saat turun ke ruang makan, dia telah ditunggu untuk makan malam oleh Kakak dan kedua orang tuanya.
Setelah selesai makan malam, Leon mengajaknya untuk duduk di ruang keluarga. "De', ada apa tadi telpon Mas?" Tanya Leon, saat telah duduk santai di ruang keluarga.
"Ada yang mau Riri bicarakan dengan Mas Leon." Dia berbicara pelan, khawatir kedua orang tuanya mendengar pembicaraan mereka.
"Harus sekarang bicaranya?" Tanya Leon lagi pelan. Kerena melihat adiknya berbicara tidak leluasa, jadi pikirnya nanti-nanti saja bicaranya.
Riri mengangguk kuat, mendengar pertanyaan Kakaknya. "Kalau begitu, ikut Mas." Ucap Leon, lalu berdiri. Riri juga ikut berdiri mengikuti Kakaknya.
"Kalian berdua mau kemana? Mengapa tidak menemani kami ngobrol di sini? Seharian tidak ketemu, mala mau kabur." Bu Linna protes, melihat kedua anaknya berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju tangga.
"Sebentar ya, Bu. Anak-anak mau cari tempat mojok yang aman dan nyaman untuk berkelahi mulut. Silahkan Ibu dan Ayah juga, waktunya mojok. Kasihan Ayah, seharian sudah berkelahi mulut dengan Asistennya." Ucap Leon sambil tersenyum. Riri ikut tersenyum mendengar ucapan Kakaknya, lalu memberikan isyarat dengan jari 'OK' kepada kedua orang tuanya. Ayahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Riri memukul lengan Kakaknya pelan, lalu mengikutinya naik tangga menuju balkon dan duduk di sana. "Mau bicara apa, De'. Rahasia sekali, sampai harus menghindari Ayah dan Ibu." Leon jadi penasaran karena melihat gaya bicara adiknya.
"Begini, Mas. Saat ini Riri butuh pendapat, nasehat dan juga bantuan Mas." Riri berkata sambil melihat Kakaknya dengan serius. Tetapi Leon melihat adiknya dengan wajah tersenyum.
"Sekali bicara, butuhnya borongan. Ada apa sampai berderet begitu?" Leon tetap tersenyum, melihat wajah adiknya yang tidak seperti biasanya, serius.
"Riri mulai dari mana, ya." Dia mengetuk jari telunjuknya ke dagu, seakan berpikir. Leon makin tersenyum, melihat yang dilakukan adiknya tapi tidak berkomentar.
"Begini, Mas. Kalau Riri sekarang bekerja, apakah boleh?" Riri bertanya, membuat senyum di wajah Kakaknya sirna dan berganti serius.
__ADS_1
"Apa maksudmu, De'. Kenapa tiba-tiba minta mau kerja? Kemana pergi semangat kuliah yang kemarenan meluap-luap itu?" Leon melihat adiknya dengan alis bertaut, karena belum mengerti maksud adiknya.
"Yaaa, karena ada yang diincar, Mas. Yang ini membuat semangatku meluap seperti lahar gunung Semeru. Hehehe..." Riri tertawa sendiri, mendengar yang dikatakannya.
"Oo ooh... Siapa dia?" Leon langsung mengerti, adiknya sedang jatuh cinta sehingga enggan pergi kuliah di luar negeri.
"Loh, ko' Mas tau?" Riri menatap Kakaknya, heran.
"Mas sudah menempuh jalan itu duluan. Jadi kau mau kerja di mana? Di kantor Mas atau Ayah?" Leon senang mendengar adiknya tidak jadi kuliah. Dia sebenarnya berat mengijinkan adiknya kuliah sendiri di luar negeri.
"Ngga dua-duanya, Mas. Kalau Mas bisa bantu, Riri mau kerja di kantor pusat Hutama N & P Corp. Hitung-hitung, cari pengalaman." Riri tersenyum mendengar alasannya.
"Kau sedang mencari pengalaman kerja, atau pengalaman pacaran? Apakah dia kerja di Hutama?" Tanya Leon penasaran, siapa yang sudah bisa membelokan niat kuliah adiknya.
"Dia kerja di Hutama, tetapi Riri tidak tau dia dibagian apa. Riri ingin bertemu dan minta maaf, karena pernah menyenggolnya dengan keras." Lalu Riri menceritakan pengalaman pertama bertemu dengan Parry, tanpa menyebut namanya dan anak siapa.
"Astaga, pria itu bukan saja membuatmu terpesona, tetapi telah membuatmu kehilangan rasa malu. Mas jadi penasaran dengan pria yang sudah membuatmu lupa, kalau kau putri Ayahmu. Seperti apa dia, Mas akan mencarinya di Hutama." Leon berkata serius sambil melihat adiknya.
"Sabar, Mas. Riri cari dulu, ya. Nanti sudah ketemu baru Riri kenalin. Jadi sekarang, Riri tau bisa kerja di Hutama, ya." Ucap Riri meyakinkan dirinya dan Kakaknya.
"Iya, nanti Mas atur setelah tanda tangan kontrak kerja sama. Kau tinggal pilih, mau mewakili perusahan kita di sana, atau bekerja di kantor Hutama. Tadi Mas sudah meeting dengan mereka, tapi yang datang bukan Pak Hutama. Hanya Asisten dan stafnya. Kita tunggu Pak Hutama kembali dari Bandung untuk tanda tangan." Leon menjelaskan dan meyakinkan adiknya.
"Ok, kalau begitu Riri tunggu keputusan Mas saja. Yang berikutnya..." Riri melihat Kakaknya, sambil tersenyum dalam hati.
"Ini menyangkut Mas Leon. Apakah hubungan Mas dengan Mba' Sophia lancar?" Karena Riri tahu, Ibunya tidak setuju Leon berpacaran dengan Sophia.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang wanita itu? Mas sudah ngga ingin bicara tentangnya." Ucap Leon dengan wajah kesal.
"Jadi Mas sudah tidak bersamanya lagi? Apakah karena Ibu tidak setuju?" Tanya Riri ragu-ragu.
"Bukan karena itu. Kalau Ibu ngga setuju, Mas tinggal ngerayu Ibu, bablaasss marahnya. Dia berbohong, bilang ngga tau Mas putra dari keluarga Piltharen. Ternyata dia sudah tau dan sengaja mendekatiku. Mas mendengar pembicaraannya di telpon dengan seseorang." Leon menjelaskan dengan rahang yang kaku, karena selama kuliah dia tidak memakai nama belakangnya.
"Waah... Kebetulan yang sangat kebetulan. Eeh... tidak ada yang kebetulan." Riri menutup mulutnya dengan jari.
"Apa maksudmu, De'. Hari ini banyak sekali ucapanmu yang tidak Mas mengerti. Tadi kau habis dari mana dan berkumpul dengan siapa?" Leon curiga dengan sikap adiknya.
"Hanya makan siang dengan teman-teman saja, Mas. Riri mau kenalkan Mas dengan wanita yang sangat-sangat, dua jempol deh." Riri mengangkat kedua jempolnya dengan wajah sumbringa.
"Mas malas berkenalan dengan teman-temanmu itu. Kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang orang tuanya. Beli sendal saja ke Singapura." Leon mengingat cerita Riri, ada temannya yang pergi beli sendal di Singapura, karena belum masuk di Indonesia.
"Ini bukan temanku, Mas. Masih dalam proses jadi temanku. Riri sedang mencari dia, tapi belum ketemu."
__ADS_1
"Bicaramu makin ngga jelas, De'. Sudah sana tidur lagi. Apa tadi siang kau salah makan dengan teman-temanmu?" Dahi Leon ikut berlipat.
"Benar, Mas. Tadi siang saat melihatnya, Riri langsung membayangkan dia menjadi kakak iparku. Orangnya selain cantik, cerdas, pokoknya dua jempol deh." Riri kembali semangat promosi.
"Kau halunya kelewat tinggi dari Monas. Ayooo... masuk tidur." Leon berdiri meninggalkan adiknya yang masih duduk melongo.
"Leonardooo..."
"Iya, Ririalleee..."
"Mimpiiin yaaa..."
"Mimpiin apa?"
"Yang tadiii..."
"Abstraaak..."
"Biar bisa nyataaa..."
"Mimpiiin saja, yang disenggol."
"Pastinyaaa..."
"Kalian berdua sedang melakukan apa?" Bu Linna yang baru naik, menegur kedua anaknya.
"Astagaaa... Ibu bikin kaget saja. Ini buntut dari anak-anak berkelahi mulut. Kalau Ibu mau senam leher, berdiri di tengah, Bu. Nanti lihat saja mulutku dan mulut Riri. Pasti leher Ibu akan senam, tanpa lagu." Leon berucap sambil memegang dadanya, karena terkejut mendengar suara Ibunya.
"Leonardooo..."
"Iya, Bu Linnaaa..."
"Kau sekarang sudah jadi pemimpin perusahaan, jaga wibawamu." Bu Linna serius menegur putranya yang kadang suka berlaku konyol.
"Astaga Bu Linna, ini di rumah. Leon disuruh jaga wibawa di depan anak Bu Linna yang satu itu? Kalau begitu, Ibu siap di bawa tangga, karena dia akan tertawa terguling-guling ikuti tangga." Leon berucap datar sambil menunjuk Riri dengan mata dan alisnya.
"Mas ku sayaaang..."
"Sudaaaa... Aku mau menunjukan wibawaku." Leon berjalan masuk ke kamarnya sebagaimana seorang pemimpin berwibawa di kantor, tetapi agak sedikit berlebihan. Membuat Riri terduduk di lantai dan tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya. Bu Linna tidak bisa menahan tawa melihat kedua anaknya.
《○》
__ADS_1
***.♡.Mohon maaf para pembaca ; Banyak kegiatan tokoh hari ini yang perlu diceritakan. Jadi belum bisa beranjak ke hari berikutnya. Mohon bersabar, ya. Mkasih.🙏🏻.♡.***
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡