Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Belum Terbiasa.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Di sisi yang lain ; Parry sedang berusaha menenangkan Carren yang masih bersedih karena berkali-kali harus menolak permintaan Parry. Entah itu pemberian, pekerjaan dan sekarang cintanya. Hal itu membuat mata Carren terus berembun dan tergenang.


"Sudaaaa... Jangan membuatku merasa bersalah karena telah membuatmu bersedih seperti ini. Aku tadinya berharap kau akan senang, tetapi nyatanya seperti ini. Jangan membuatku bersedih kerena semua ini. Makan dessertnya. Aku sudah bilang akan belajar, aku akan belajar." Parry berkata serius.


"Kau juga belajar sabar, karena soal perasaan tidak bisa seperti kita membalik telapak tangan. Bertahun-tahun kau ada di sisiku, susah senang dilalui bersama. Kau dengan perasaanmu, aku dengan perasaanku. Aku tidak pernah melihat wanita lain, selainmu. Karena bagiku, kau adalah kekasihku, walau tidak pernah kuucapkan."


"Untuk merubah perasaanku padamu tidak instan, jadi aku berharap kau bisa mengerti dan memahami semua ini. Bertahun-tahun kita bersama, kau telah membuatku nyaman ada di dekatmu. Sehingga aku tidak pernah berpikir ada wanita lain yang bisa membuatku merasa seperti bersamamu."


"Berikan aku waktu, mencerna semua ini. Harapanku terlalu tinggi, kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku. Kau akan membantuku, jika tidak berubah. Biarlah kau tetap seperti ini, karena aku belum terbiasa kau harus tiba-tiba menghilang dari hidupku."


"Iya, Parry. Kau bisa seperti sebelumnya, menghubungiku berbagi cerita, bercanda, menceritakan semua yang kau alami. Sampai kau menemukan seseorang yang bisa membuatmu nyaman untuk berbagi."


"Aku akan merasa senang dan bersyukur, kalau kau tetap memperlakukanku seperti Kak Naina. Aku sendiri belum terbiasa, jika kau tidak menghubungiku dan menggangguku. Aku akan sangat sedih, jika tiba-tiba kau menjauh dariku karena ini." Carren berkata pelan, dan berusaha menenangkan hatinya yang sedang sedih harus memperlalukan Parry seperti ini.


Carren sangat menyayangi Parry, tetapi kasih sayangnya tidak bisa berubah. Dia tidak bisa memperlakukan Parry seperti seorang kekasih. Dia tidak bisa bersikap munafik, seolah-olah mencintai Parry agar bisa tetap bersama Parry.


"Iya, Carren. Itulah dirimu, tidak berusaha menyenangkan hatiku dengan menerima cintaku. Kau tidak berpura-pura memiliki perasaan yang sama kepadaku. Padahal kau bisa melakukannya, karena aku tidak akan tahu dan tidak bisa membedakannya." Ucap Parry serius.


"Mari, habiskan dessertmu. Aku sudah tidak bisa menikmati dessertku." Ucap Parry, karena hati dan perasaannya seperti berada di roller coaster. Hal itu membuatnya tidak bisa makan lagi. Dia hanya minum air mineral untuk menenangkan hatinya.


"Bolehkah aku tidak menghabiskan ini? Dessert ini tidak bisa turun dari tenggorakanku." Ucap Carren, karena dia sulit menelannya. Semuanya terasa nyangkut di tenggorokannya.


"Iyaa, tidak usah diteruskan. Biarkan begitu saja. Ambil ini, dan minum dulu. Nanti aku minta yang lain." Ucap Parry, lalu memberikan air mineralnya kepada Carren. Air mineral Carren telah habis, karena diminum berkali-kali.


Parry memberikan isyarat kepada waiters untuk mendekati mejanya. Selain meminta air mineral, dia juga minta dibawakan bill, karena mereka akan pulang.


Setelah menyelesaikan semuanya, mereka ke tempat parkir restoran. "Mari, aku akan mengantarmu pulang." Parry mengajak Carren untuk mendekati mobilnya.

__ADS_1


"Aku pulang sendiri saja, Parry. Aku akan pesan mobil online." Ucap Carren menolak permintaan Parry.


"Kita akan tetap di sini, jika kau tidak mau diantar pulang. Kau tidak akan menjadi kekasihku, dengan membiarkan aku mengantarmu pulang." Ucap Parry, tiba-tiba galak. Membuat Carren terkejut dan menurut masuk ke mobil yang pintunya telah dibukakan Parry.


"Ternyata menjadi saudaramu ada enaknya juga, ya." Ucap Parry, jadi tersenyum dan membawa mobilnya keluar dari parkiran restoran.


"Apa maksudmu, Parry? Dan kenapa kau tersenyum begitu?" Carren heran melihat wajah Parry dan mendengar ucapannya.


"Yaaa, aku bisa galak padamu jika ngga nurut. Kalau dulu, walau kesal kau ngga mau diantar, aku nurut saja maumu. Sekarang, ya, ini baru awal. Lihat saja nanti, jika kau ngga mau nurut." Ucap Parry, seakan-akan sedang mengancam.


"Jadi kau mau balas dendam?" Tanya Carren mendengar ucapan Parry.


"Itu bukan dendam, Carren. Tetapi dulunya itu, rasa tidak berdaya. Sekarang, yaaa, kau lihat saja nanti." Ucap Parry lagi.


"Ooh iya, nanti kau turunin aku di dekat jalan masuk, ya. Tidak usah sampai depan rumah. Aku pingin jalan sebentar, sebelum masuk rumah." Ucap Carren, sambil menunjukan jalan. Dia ingin menenangkan hatinya sebelum bertemu dengan Mamanya.


"Kenapa aku harus menurunkanmu di depan jalan masuk? Kau takut ada yang melihat dan menganggapmu sudah punya kekasih? Justru kalau aku turunin kau di situ, orang akan menilai kau pulang diantar oleh Om-Om."


"Suka-sukamulah." Ucap Carren, lalu menyandarkan punggunya.


"Naah, begitu lebih baik." Parry tersenyum melihat yang dilakukan Carren.


Saat mendekati rumah, Carren terkejut melihat Mamanya sedang berdiri ngobrol dengan tetangga menunggunya pulang. Melihat itu, Carren sudah tidak bisa mundur lagi. "Yang mana rumahmu?" Tanya Parry, karena belum pernah mengantar Carren. Biasanya hanya sopirnya yang mengantar.


"Itu yang ada ibu-ibu berdiri ngobrol." Ucap Carren, sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah Mamanya.


"Mamamu ada berdiri di situ juga?" Tanya Parry, dan terkejut saat melihat anggukan Carren.


"Apa aku harus turun bukakan pintu untukmu?" tanya Parry, karena tidak tahu harus bagaimana bersikap.

__ADS_1


"Jangan coba-coba. Aku bakalan dimarahin Mama." Ucap Carren mengingatkan.


"Baiklah, aku sekarang nurut." Ucap Parry, lalu memarkirkan mobilnya pelan sebelum mendekati depan rumah Carren.


Bu Nancy melihat Carren turun dari mobil dengan wajah bertanya-tanya. Saat Parry melihat itu, dia jadi tidak enak hati jika tidak turun. Dia membuka pintu mobilnya dan turun berjalan di belakang Carren.


Parry mendekati Mama Carren lalu menyapanya. "Selamat malam Tante, saya Parry. Ini ngantar Carren pulang. Tadi ada acara ulang tahun, jadi ngundang Carren." Ucap Parry pelan dan sopan.


Bu Nancy sangat terkejut dan tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Oooh, astaga. Ini Na' Parry? Tante sudah sering dengar namamu, tapi baru bertemu denganmu." Bu Nancy dan tetangga yang ada berbicara dengannya, terkesima melihat wajah Parry yang tampan dan juga mobil mewahnya.


"Mari, mau masuk dulu?" Bu Nancy menawarkan sebagai sopan satun dan rasa terima kasih telah mengantar putrinya.


"Terima kasih, Tante. Ini sudah malam, jadi saya langsung pulang saja." Ucap Parry, sopan.


"Terima kasih juga, sudah antar Carren pulang."


"Sama-sama, Tante. Saya pamit." Ucap Parry, lalu melihat ke arah Carren dan memberikan isyarat, pamit padanya.


Carren kembali berjalan menemani Parry ke mobilnya. "Hati-hati di jalan. Sampai rumah kabari, ya." Ucap Carren, lalu Parry memberikan isyarat dengan jarinya, OK.


Setelah sudah tidak terlihat mobilnya Parry, Carren berjalan kembali ke rumahnya dan pamit dari tetangga dan Mamanya untuk masuk terlebih dahulu. Melihat wajah putrinya yang tidak happy, Bu Nancy tidak ikut masuk. Beliau meneruskan obrolan dengan tetangganya.


Bu Nancy menyadari, ada sesuatu yang terjadi sehingga memberikan kesempatan untuk Carren sendiri. Wajah dan gerakan tubuh Carren menceritakan semua yang sedang dirasakannya.


Carren masuk ke kamar, tanpa membuka baju dia duduk di tepi tempat tidur. Entah kenapa, dia merasa sangat sedih, walaupun pembicaraan diantara dirinya dan Parry telah membaik. Jantungnya berdekat tidak beraturan dan air matanya terus mengalir. Hal itu membuatnya tidak merasa tenang. 'Apakah Parry baik-baik saja dalam perjalanan pulang?' Carren membatin.


Tetapi kesedihan yang dirasakan bukan berhubungan dengan Parry. Tadi saat pamit, Parry sudah lebih baik. Tetapi kesedihan yang dia rasakan saat ini, lebih dari saat menolak cintanya Parry. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Hal itu membuat dia menengadakan wajahnya untuk menahan air matanya.


Sambil memegang dada dengan kedua tangannya untuk menahan gejolak kesedihannya, dia berdoa dalam hati. 'Ya, Tuhan. Aku tidak tau apa yang membuat hatiku seperti ini. Engkau Maha tahu segala sesuatu. Tolong lindungi orang-orang yang menyayangiku. Biarkanlah mereka tetap aman dalam perlindungan-Mu.'

__ADS_1


Kemudian Carren membaringkan tubuhnya, dalam posisi meringkuk untuk menahan kesedihannya.


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2