Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Ayah dan Anak 5.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Aaric terkejut mendengar yang dikatakan Papanya. Dia tidak menyangka, adiknya bisa berada dalam kondisi seperti itu. Dia jadi bergidik membayangkan hampir kehilangan adiknya.


"Tuhan masih memberikan kesempatan hidup untuk kami berdua. Jika terjadi sesuatu dengannya malam itu, Papa akan mengikutinya karena untuk apa lagi Papa hidup. Sejak kau pergi dan tidak tahu keberadaanmu, hanya dia yang menenani Papa. Membantu pekerjaan Papa dan selalu menyemangati Papa bahwa masih ada dia, walau kakaknya tidak ada." Pak Biantra mengingat saat-saat Recky menemaninya di rumah sakit saat pulang sekolah. Kadang sampai tertidur, sambil memegang betisnya.


"Kadang dia bersikap cuek, berkata sesukanya atau tidak peduli dengan sekitarnya, hanya untuk menutupi kekosongan di hatinya setelah kau pergi." Pak Biantra bercerita dengan mata berkaca-kaca.


"Kau tau adikmu, selalu mengikutimu kemana saja kau pergi. Mengikuti apa yang kau katakan, tanpa berpikir kau sedang mengerjainya. Papa tidak menyadari, bahwa sebenarnya dia lebih kehilanganmu. Dia masih remaja, belum bisa mengendalikan dirinya untuk mengatasi pergolakan batinnya. Papa pernah memanggulnya di punggung dan melarikannya ke rumah sakit karena dia minum agak berlebihan." Pak Biantra terus bercerita tentang putra bungsunya. Aaric mendengar yang dikatakan Papanya dengan perasaan yang berubah-rubah. Kadang sedih, kadang kesal, kadang marah, berbagai rasa di hatinya.


"Adikmu tidak bisa minum alkohol berlebihan. Dia bisa tidak sadarkan diri. Papa terkejut saat temannya telpon dan mengatakan dia kurang sehat saat mereka sedang minum-minum. Papa harus menunggunya sadar di rumah sakit lebih dari 24 jam." Pak Biantra teringat saat panik melihat putra bungsunya tidak sadarkan diri.


"Papa baru tau dari Recky, alasan Mamamu mau menikahkan dia karena meniduri putri Tarikalla. Padahal saat itu dia habis minum dan mungkin dalam keadaan tidak sadarkan diri, dia dibawa ke kamar hotel mereka. Mana mungkin orang yang sedang pingsan bisa melakukan perbuatan tidak senono. Justru setelah sadar dia merasa jijik, mengetahui telah disentuh oleh wanita itu." Pak Biantra mengingat apa yang dikatakan Recky padanya.

__ADS_1


"Papa sudah katakan itu setelah mendengar penjelasan Recky, bahwa saat itu dia habis minum alkohol yang agak berlebihan di bar hotel itu. Tetapi Mamamu tidak percaya dan tetap mau meneruskan rencananya untuk menikahkan mereka. Belakangan baru Papa tau alasan mereka harus menikah, bukan hanya karena Recky meniduri wanita itu, tetapi karena Mamamu dan Papahnya mau coba menyelamatkan perusahaan dengan bantuan Tarikalla." Ucap Pak Biantra, sambil menarik nafas panjang.


"Entah apa yang ada dalam pikiran Mamamu saat itu. Padahal Papa sudah bilang jangan teruskan rencananya dan berhenti berinvestasi ditempat yang belum jelas. Fokus saja untuk menguatkan Biantra Group. Tetapi Mamamu sama dengan Opamu, sudah melakukan tindakan yang bodoh. Akibat tidak pernah merasa puas dengan yang sudah ada. Padahal mereka tahu, setiap berkeinginan mau yang lebih dengan melakukan berbagai investasi, mereka kehilangan yang ada di tangan." Pak Biantra berbicara sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kuat untuk menghilangkan rasa kesalnya.


"Seperti kata petata lama, mengharapkan hujan dari langit, air ditempayan dicurahkan. Itulah yang terjadi, akibat semua tindakan Mamamu dan Opamu terhadap Biantra Group. Banyak dana segar perusahaan dicurahkan ke tempat yang tidak jelas. Mereka beranggapan akan mendapatkan keuntungan besar dari semua investasi itu."


"Ternyata di belakang mereka ada saudara sepupu dan keluarganya. Mereka lebih mendengar dan percaya semua yang dikatakan sepupu Mamamu. Akhirnya mereka diakalin oleh keluarganya sendiri dengan janji-janji keberhasilan bombastis. Kebocoran makin tidak terkendali dan Papa tidak sanggup lagi menutupinya. Mamamu berpikir, mungkin dengan pernikahan Recky, Tarikalla bisa menyelamatkan Biantra. Ternyata makin terjun bebas." Pak Biantra kembali menarik bafas panjang. Aaric tetap mendengar semua yang dikatakan Papanya dan terus berpikir.


"Sekarang apa yang dia dapatkan setelah Recky menikah? Semoga dia sadar, telah mengorbankan kebahagiaan anaknya untuk hal yang sia-sia." Ucap Pak Biantra lagi, dengan wajah sedih bercampur kesal.


Aaric menyadari, sekarang Papanya butuh seseorang, anaknya, untuk mendengarkan keluh kesah yang tidak bisa diungkapkan kepada istrinya. Karena di pikiran istrinya bagaimana mendapatkan cuan, cuan dan cuan untuk mempertahankan kekuasaan keluarganya.


"Mamamu tahu sifat adikmu yang mendengarkan dan menyayangi Papa, jadi dia mempergunakan Papa untuk menjebaknya. Setelah semuanya terjadi, Papa menyadari, benar kata adikmu yang menganggap mereka semua hantu. Termasuk Mamamu, disamakan dengan hantu gentayangan." Pak Biantra meneruskan cetitanya sambil mengingat ucapan Recky saat menunjuk Mamanya.

__ADS_1


"Pa, sekarang Recky tidak mengatakan mereka hantu lagi, tapi iblis. Karena menurutnya, ada yang bilang padanya, sebutan hantu itu untuk orang yang sudah meninggal dan tidak tenang di alam sana sehingga gentayangan di dunia mengganggu orang hifup. Sedangkan orang hidup yang berbuat jahat menggaggu sesamanya, itu iblis berkedok manusia." Ucap Aaric mengingat cerita adiknya. Pak Biantra melihat Aaric dengan terkejut.


"Iya, Aaric. Keserakahan bisa membuat seseorang menjadi iblis untuk merusak hidup orang lain. Berhati-hatilah dalam bekerja. Segala sesuatu ada batasnya, jangan mengambil yang bukan untukmu. Jika demikian, kau adalah seorang pencuri." Ucap Pak Biantra pelan, sambil mengingat istri dan keluarganya.


"Tuhan sudah memberikan kepada setiap orang dengan takaran masing-masing. Terima dan nikmati itu dengan hati bersyukur. Jangan lupa juga untuk berbagi dengan membantu orang lain. Kau akan melihat semua yang kau miliki dari hasil kerja kerasmu akan terus berputar disekitarmu karena Tuhan berkenan akan hidupmu."


"Biarlah semua yang terjadi dengan keluarga Mamamu menjadi pelajaran berharga, agar kau bisa berhati-hati menjani hidup yang Tuhan berikan untukmu." Pak Biantra berkata pelan dan bersyukur, karena bisa memberikan nasehat untuk putra tertuanya dalam suasana yang baik.


"Iya, Pa. Terima kasih sudah memgingatkan. Nanti setelah Papa istirahat, kita akan bicara banyak hal lagi. Sekarang Papa tidak usah pikirkan yang sudah berlalu. Ini kesempatan memperbaiki yang masih bisa diperbaiki. Yang sudah tidak bisa atau tidak mau diperbaiki, biarkan saja. Tidak perlu terbebani dengan keputusan seseorang, termasuk keluarga kita sendiri." Ucap Aaric, lalu menghabiskan hot chocolatenya. Pak Biantra mengangguk, lalu menghabiskan minumannya juga. Pak Biantra mengerti yang dimaksudkan putranya.


"Papa istirahat duluan, aku masih mau bekerja sebentar." Ucap Aaric, lalu berdiri dan mengangkat cangkir minuman mereka yang sudah dihabiskan. Pak Biantra juga ikut berdiri lalu masuk ke kamar dengan hati yang lebih tenang.


Aaric masih mau bekerja, karena di Eropa masih siang dan ada yang perlu diselesaikan. Ketika hendak mengambil perangkat kerja dan ponselnya, Aaric terkejut melihat ada pesan dari Carren. Aaric menepuk dahinya, lalu membaca pesan Carren. Karena kondisi Papanya, dia lupa memberitahukan Carren, bahwa sudah kembali dari Surabaya.

__ADS_1


~●○♡○●~


__ADS_2