Pesona Di Balik Kabut

Pesona Di Balik Kabut
Tentang Hati 2.


__ADS_3

~•Happy Reading•~


Parry terkejut mendengar apa yang dikatakan Riri. Dia baru pernah mendengar dan melihat cara Riri berkomunikasi dengan Leon yang begitu menyentuh hatinya. Hubungan persaudaraan yang sangat hangat dan juga ada rasa hormat di dalamnya.


Parry jadi mengerti, sebenarnya yang berperan penting dalam semua keputusan Riri, adalah kakaknya. Dia jadi teringat ucapan Riri kepadanya saat pertama kali melihat orang tuanya di pesta pernikahan Recky dan Liana. 'Parry, kau harus menolongku, karena kakakku ngga ada.'


Parry secara spontan melihat ke arah Leon yang sedang memandang Riri. Seketika hatinya juga menghangat, melihat tatapan Leon kepada Riri. Sikap Leon sangat berbeda, ketika sedang berbicara tentang bisnis. Ada rasa sayang dan hormat Parry mengalir di hatinya kepada Leon. Parry jadi teringat Almh kakaknya, Naina.


"Baik. Apa yang menjadi pertimbanganmu, akan kita bicarakan di rumah. Karena Riri sudah memutuskan begitu, bagaimana dengan Parry?" Leon tidak menanyakan pertimbangan Riri di depan Parry, karena dia tahu perasaan Riri terhadap Parry. Dia tidak mau membuka kartu adiknya di depan pria yang belum tentu memiliki perasaan yang sama terhadap adiknya. Dia akan membuat malu adiknya sendiri, jika menanyakannya.


"Kalau Kak Leon ijinkan Riri tetap bekerja bersamaku, aku sangat berterima kasih. Setelah ini, aku akan berbicara dengan Papi dan asistennya, bagaimana baiknya." Parry mulai membuka diri terhadap Leon, dengan berbicara lebih akrab. Dia merasa nyaman berbicara hal pribadi dengan Leon.


Riri menatap Parry dengan terkejut, karena mendengar perubahan sikap dan suara Parry kepada kakaknya. Itu suatu tanda bagi Riri, kakaknya termasuk orang yang bisa dekat dengannya. Riri sudah mengenal Parry dengan baik, setelah bekerja bersamanya. Dia baik, tapi dia menjaga jarak sangat jauh dengan orang yang dirasa tidak nyaman baginya.


Walaupun Parry telah menggenggam tangannya saat di pesta Recky dan Liana, dia tidak mau terburu-buru menganggapnya itu tanda Parry menyukainya. Karena situasi malam itu, tangannya sangat dingin akibat semua rasa yang timbul di hatimya.


"Baik. Kau bisa katakan itu kapan saja, jika sudah memutuskannya. Karena Riri masih berkerja bersamamu, aku percayakan dia padamu. Aku berharap, kau tidak mengatakan kepada orang lain, termasuk asistenmu siapa Riri sebenarnya. Biarlah dia seperti ini sampai kau memutuskannya." Leon berkata serius dan tegas, karena dia khawatir ada yang berpandangan negatif terhadap adiknya.


Bisa saja, orang akan menilai dia mengejar Parry. Walaupun niat awalnya memang mau mendekati Parry. Tetapi dalam status bukan seorang putri Piltharen. Tetapi jika ada yang mengetahuinya, pandangan negatif itu akan berpengaruh kepada citra diri adiknya.


"Aku mengerti, Kak. Secepatnya aku akan bicara dengan Papi dan menghubingi kakak. Untuk saat ini, aku akan sangat berterima kasih jika Kak Leon mau bantu memberikan solusi yang baik bagi kami." Ucapan Parry membuat Leon tertegun. Walaupun hanya sebuah permintaan yang sederhana, tetapi Parry telah memposisikan dirinya bersama Riri di hadapannya sebagai adik.

__ADS_1


Terbesit sebuah harapan yang naik untuk adiknya. Walaupun Parry tidak menunjukan sikapnya seolah-olah sedang jatuh cinta, tetapi dia telah memberiksn isyarat bahwa Riri berarti baginya. Bagi Leon itu saja sudah pertanda baik, mengingat adiknya telah jatuh cinta padanya.


"Untuk sementara, seperti yang aku katakan tadi. Kalian tetap seperti sekarang, jangan buka ke publik dulu. Semua ini bukan hanya menyangkut kalian berdua, tetapi juga nama naik perusahaan dan keluarga kita." Ucap Leon serius. Parry dan Riri mengangguk mengerti.


"Sekarang, Riri tolong ke sana pesan makanan untuk kita. Mas mau bicara sebentar dengan Parry." Leon memberikan isyarat, agar Riri meninggalkan mereka berdua sebentar dengan pergi pesan makanan. Padahal sebenarnya, mereka tinggal memanggil pelayan jika sudah siap mau pesan menu.


Riri mengangguk mengerti, lalu meninggalkan mereka berdua. Setelah pesan menu, Riri sengaja ke toilet untuk memberikan lebih banyak waktu untuk kakaknya. Dia sangat percaya, kakaknya akan berbicara untuk membela kepentingannya.


"Parry. Aku bicara ini berdua denganmu, selain karena menjaga adikku juga mungkin kau bisa sedikit mengerti. Ketika aku mengijinkan dia ikut interview di Hutama, aku dan dia tidak tahu akan menjadi sekretarismu. Bagi dia saat itu yang penting bisa bekerja di Hutama. Sebenarnya dari awal, orang tua kami tidak setuju. Tapi aku meyakinkan mereka untuk memberikan kesempatan bagi Riri cari pengalaman kerja di luar Piltharen. Walaupum dengan berat hati, mereka ijinkan."


"Jadi, jangan kau menilai rendah adikku karena kejadian ini. Dia hanya melakukan apa yang sesuai dengan keinginan hatinya saat itu, tanpa berpikir imbasnya kepada banyak hal. Semoga kau bisa mengerti yang aku maksudkan." Leon berkata dengan pelan dan serius, agar Parry tidak salah menafsirkan apa yang dilakukan Riri. Bagaimanapun Riri adalah adiknya, sehingga dia harus menjaga kemormatan adiknya dan juga martabat keluarganya.


"Aku memgerti Kak Leon. Riri selama bekerja denganku, sangat profesional sebagai sekretaris. Sehingga ketika melihatnya malam itu, membuatku terkejut. Apalagi saat mengetahui dia putri keluarga Piltharen."


"Itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku percaya padamu. Jadi kalau ada hal pribadi yang ingin kau bicarakan, kau bisa menghubungiku atau datang ke rumah." Leon berkata dengan tulus, melihat pribadi Parry yang sangat polos dan terbuka. Itu juga merupakan tanda bagi Parry, Leon telah memberikan lampu hijau baginya untuk mendekati Riri.


Setelah berbicara, mereka bertiga makan dengan hati lega. Terutama Riri, karena saat kembali melihat roman wajah kakaknya dan Parry yang cerah.


"Riri, nanti langsung pulang, ya. Mas hari ini pulang agak sore. Jadi kita bisa bicara sebelum Bu Linna pulang." Ucap Leon sebelum mereka naik ke mobil masing-masing.


"Siapa yang dimaksudkan Kak Leon dengan Bu Linna?" Tanya Parry, saat mereka sudah dalam mobil untuk kembali ke kantor.

__ADS_1


"Ooh, itu Ibu. Mas Leon suka memanggilnya begitu." Ucap Riri sambil tersenyum membayangkan wajah Ibunya, saat dipanggil demikian oleh kakaknya.


"Nanti kalau hari libur dan kedua orang tuaku sedang di luar negeri, aku bisa main ke rumahmu?" Tanya Parry, ragu-rsgu. Sambil terus memperhatikan jalan di depannya. Dia tahu, Riri sedang melihatnya.


"Iya, boleh. Kalau kau libur dan mau main, kasih tau saja. Nanti aku bilang Mas Leon agar kalian bisa lomba berenang. Mas Leon suka berenang, jadi kalau hari libur dia akan berenang berjam-jam sampai cape' baru berhenti." Riri menjelaskan dengan riang. Parry mengangguk mengiyakan, dengan hati lega.


.***.


Selesai jam kantor, Riri langsung pulang seperti yang diminta kakaknya. Saat tiba di rumah, dia terseyum senang melihat mobil Leon telah parkir di halaman rumah. Dia langsung masuk ke kamar, lalu mandi sebelum mencari kakaknya.


Ketika menemukan kakaknya di balkon, dia makin tersenyum senang karena mereka akan mojok. "Mas sedang mikirin apa, sampai ngga tau kalau Riri sudah pulang?" Tanya Riri, melihat kakaknya sedang duduk diam.


"Mas tau, kau sudah pulang. Memangnya mobilmu bisa jalan sendiri sampai di halaman itu?" Tanya Leon sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah samping.


"Ayoo, minum, lalu katakan sebelum Ibu pulang. Apa yang menjadi pertimbanganmu untuk tetap bekerja di Hutama, agar aku bisa bicara dengan Ayah dan Ibu." Leon tidak membuang waktu, karena kedua orang tuanya bisa pulang sewaktu-waktu.


"Begini, Mas. Parry itu, tidak mudah dekat dengan orang. Dia sangat tidsk nyaman dan terganggu dengan orang yang belum dikenalnya. Jadi berikan waktu sebentar, Riri mempersiapkannya." Riri berkata pelan dan berat.


"Kalau itu pertimbanganmu, aku bisa menerimanya. Tetapi jika kau tetap mau bekerja karena ingin mengawasinya, aku tidak setuju. Biarkan dia menyayangimu dengan caranya sendiri. Tidak perlu diawasi atau dijaga dari banyak mata wanita yang menginginkannya." Leon tahu, melihat penampilan dan juga jabatan Parry, pasti banyak wanita tertarik kepadanya.


Kau bersyukur, sudah bisa mendekatinya dengan cara yang baik." Leon meyakinkan adiknya, agar bisa percaya diri dan berpikir dari arah yang berbeda.

__ADS_1


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡


__ADS_2